Posts

Rusli Bintang, Sang Peduli Anak Yatim

Tulisan Kabul Budiono, Pimpinan di Direktorat Program dan Produksi RRI, tentang Rusli Bintang.

Kami tidak merencanakan pertemuan itu. Berangan angan pun tidak. Namun, kami memang bertemu. Dari pertemuan itu saya belajar banyak tentang kebaikan hati dan keikhlasan luar biasa. Di mana? Di dalam pesawat terbang yang membawa kami ke Banda Aceh. Karenanya, saya percaya Allah lah yang mempertemukan kami. Allah yang berkehendak agar saya mendengar dan melihat apa yang dilakukan laki laki yang bernama Rusli Bintang.

“ Bapak, tinggal di Aceh?” Demikian tanya laki-laki di sebelah saya. Itulah awal perbincangan kami. Sayapun akhirnya tahu bahwa laki-laki berusia 65 tahun itu bernama Rusli Bintang. Saya sesungguhnya sudah melihatnya di depan pintu masuk pesawat Garuda Indonesia. Dari cara dia memalingkan muka, saya berkesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan  lehernya. Pun saya tidak menduga bahwa laki-laki berkaos sederhana itu akan duduk di samping saya di kelas bisnis.

“ Ya Bapak lihat, saya tidak bisa memalingkan muka dengan benar. Ini karena dulu saya sering memanggul beras“. Ya, Rusli Bintang, yang sekarang naik pesawat bersama saya, telah melewatkan hidupnya dengan kerja keras. Ia adalah anak sulung dari 9 bersaudara. Ia dan saudara saudara menjadi anak yatim karena Allah memanggil pulang bapaknya ketika ia masih remaja. Ia pernah menjadi tukang bersih-bersih salah satu kantor.  Ia juga pernah menjadi tukang angkat barang di pasar Ulee Kareeng tidak jauh dari rumahnya.

Namun, kini, apa yang terjadi ? Rusli Bintang yang tidak pernah menamatkan Madrasah Ibtidaiyah yang setingkat SD itu kini pulang ke tanah kelahirannya untuk membagi bagi uang untuk ratusan anak yatim dan ibunya.

“Selama bulan Ramadhan ini, kami jalan terus. Saya langsung datangi anak anak yatim ke rumahnya. Saya bagikan uang untuk beli baju lebaran. Habis dari Aceh kami ke Padang, kemudian ke Ujung Pandang (Makassar). Setiap bulan kami keluarkan uang 2 milyar untuk sedekah anak anak yatim“.

Mengapa demikian? Ia meminta saya mengingat ayat 261 Surat Al Baqarah. “Bapak baca ayat itu,“ demikian pintanya. Ayat 261 Surat Al Baqarah adalah permintaan Allah agar seorang Muslim menyedekahkan hartanya untuk anak yatim. “Coba Bapak hitung. Sekali memberi, akan berlipat tujuh ratus kali. Tetapi Bapak harus yakin, harus ikhlas. Bahagia sekali memberi anak yatim itu… “

Saya menanyakan mengapa ia peduli betul sama anak yatim? Ia bercerita bagaimana derita hidupnya ketika menjadi anak anak yatim ketika ditinggal mati ayahnya saat ia masih remaja. Ia adalah sulung dari adik-adiknya.

“ Saya sedih sekali pak. Adik saya meninggal gara gara uang 1000 rupiah dan saya tidak dapat memberinya. Adik saya itu, mau ujian SMP harus membayar uang untuk ujian. Ia sudah belajar dengan sungguh-sungguh. Tetapi ia tidak bisa ikut karena tidak bayar. Sayapun mencari uang. Tetapi susah sekali. Akhirnya saya dapat uang itu dan saya berikan uang itu untuk bayar uang ujian. Tetapi….”

Tiba tiba suaranya tersendat. Air matanya menetes. “Malam itu adik saya sakit. Ia mencret-mencret. Saya gendong dia ke rumah sakit. Punggung saya belepotan  kotorannya itu. Sampai di rumah sakit. Ia sudah lemah sekali. Akhirnya dia meninggal…… Saya sedih sekali pak. Karena kata dokter ia sakit karena stress. Sedih dan panik karena tidak bisa ikut ujian.“

Rusli pun menyeka air matanya. Saya terhenyak mendengar ceritanya. Karena itulah ia sangat berempati pada anak anak yatim dan berusaha membantunya.

Rusli Bintang sejak muda, sudah membiasakan diri bersedekah untuk anak-anak yatim.  Ketika Allah telah memberi rizki dengan mengubah kehidupannya dari seorang buruh menjadi pengusaha, terus menggelontorkan sebagian hartanya untuk para yatim piatu.

Dari hasil usahanya, di Banda Aceh dia mempunyai perguruan tinggi yang diberinama Abuyatama, yang berarti ayah anak yatim. Di Bandar Lampung berdiri megah Universitas Malahayati, dan di Jakarta perguruan tingginya ada di kawasan Kelapa Gading, yaitu Insititut Kesehatan, dan di Batam ada Universitas Batam.

Selain terhenyak mendengar kisah hidupnya pertemuan saya dengan Rusli menyebabkan kekagetan lain. Ketika saya bercerita bahwa saya ke Banda Aceh untuk membuka Pekan Tilawatil Qur’an tingkat Nasional dan bercerita bahwa tahun lalu ada dermawan yang memberi hadiah umrah untuk juara 1, di atas pesawat itu Pak Rusli bilang, “Kali ini saya yang akan membiayai umrah untuk para pemenang itu.”

Sungguh, saya tidak meyakini apa yang dikatakannya itu. Tetapi begitu sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda, di pintu keluar ia bertemu Mirza Musa Kepala RRI Banda Aceh, pak Rusli Bintangpun bilang, “untuk juara yang lima itu, umrahnya dari saya“. Mirza kelihatan bingung. Ia baru percaya ketika saya menceritakan pembicaraan kami di pesawat.

Dalam mobil yang membawa saya dari bandara Mirza berkata, “Pak Rusli itu dulu bekerja, sama bapak saya. Ia yang membuka pintu pagi pagi dan bersih bersih kantor bapak saya.“

Subhanallah, Allahu Akbar…

Kampus Libur, Penyantunan Yatim Binaan Malahayati Tak Pernah Libur

KEGIATAN rutin penyantunan dan pembacaan Surah Yasin bersama anak yatim binaan Yayasan Alih Teknologi kembali dilaksanakan di Musalla Kampus Malahayati, Sabtu 30 Juli 2016. Hari ini Ustad Muslih, & Ustad Sutikno hadir untuk mendampingi anak-anak yatim binaan ALtek untuk membaca Surah Yasin dan bermunajat bersama agar Malahayati semakin berkembang dan selalu dalam ridho dan lindungan Allah SWT.

Mereka berkumpul untuk bersama-sama berdo’a, mengumandangkan Surah Yasin sebagai ucap syukur mereka terhadap nikmat yang telah diterima. Ritual pengajian berjalan sebagai mana sabtu-sabtu sebelumnya. Kegiatan santunan untuk anak-anak yatim ini memang menjadi kewajiban untuk dosen dan karyawan di Malahayati, mengikuti jejak si pemilik yayasan, Rusli Bintang yang sangat peduli terhadap anak-anak yatim.

Diawali dengan shalat Dzuhur bersama, tausyiah, dilanjutkan membaca alquran, kemudian berdoa bersama. Barulah mereka santap siang bersama di kabara prasmanan. Mereka berjalan kaki beramai-ramai menuju sebuah rumah di dekat gerbang masuk kampus untuk menerima pembagian sembako. []

Selamat Hari Ayah, Ayahanda Rusli Bintang

BERBICARA mengenai ayah, kebanyakan anak akan membayangkan sosok yang berwibawa, pekerja keras, tegas, dan disiplin. Yang lain membayangkan seorang ayah yang selalu memberi kenyamanan, rasa aman dan selalu memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Ya, dibalik sosoknya yang keras dan tegas tak bisa dipungkiri peran ayah yang begitu besar menyokong dan menjadi nahkoda di dalam keluarga.

Hari ayah atau biasa disebut International Men’s Day umumnya diperingati setiap 19 November 2015. Di Indonesia sendiri Hari Ayah Nasional diperingati setiap 12 November. Tapi hanya segelintir orang yang melakukan itu. Kebanyakan masyarakat hanya memperingati hari ibu, tidak hari ayah.

Universitas Malahayati punya sosok ayah yang selalu dikagumi. Keberanian, kerja keras dan semangat pantang menyerahnya dalam menghidupi keluarga selalu lekat dalam sanubari. Beruntung bagi mereka yang setiap hari bisa melihat senyumannya. Ialah H Rusli Bintang, sosok ayah para yatim yayasan alih teknologi yang selalu berjuang untuk mengangkat derajat kehidupan para yatim binaannya. Sosok yang selalu ramah saat bertemu anak-anaknya, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk membahagiakan dan menyayangi yatim di seluruh penjuru negeri. Mengingat kebaikan, perjuangan dan pengorbanannya demi ribuan anak yatim yang ia miliki adalah hal indah yang tak bisa terlukiskan.

Selamat hari ayah untuk Ayahanda kami H.Rusli Bintang, Semoga allah selalu meridhoi apa yang telah ayah kerjakan dan perjuangkan. Sehat selalu ayah, agar kami selalu bisa melihat senyummu ketika engkau melihat kami sukses. Terimakasih telah menjadi ayah yang hebat bagi para saudaraku, para yatim yayasan alih teknologi. Meski engkau tak selalu mendengar, meski engkau tak selalu melihat, aku yakin doa mereka akan selalu mengiringi setiap langkahmu.[]

Profesor Hasriadi: Saya Juga Keluarga Besar Universitas Malahayati

PROFESOR Dr Ir Hasriadi Mat Akin, Rektor Unila yang terpilih untuk periode 2015-2019, kemarin berkunjung ke Kampus Universitas Malahayati. “Saya sudah beberapa kali ke sini. Saya juga keluarga besar Universitas Malahayati,” kata Hasriadi di Danau Cinta Universitas Malahayati.

Hasriadi datang ke Universitas Malahayati untuk bersilaturahmi dengan pendiri Universitas Malahayati, H Rusli Bintang. Selain itu pada hari yang sama juga datang dua pejabat dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd dan Dr Ridwan. Selain itu, ada juga Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH dan Rektor Universitas Abulyatama Ir R Agung Efriyo Hadi PhD.

Hasriadi menyempatkan diri berkeliling kampus bersama para pejabat dari Kemenristek Dikti dan dua rektor itu. Kemudian mereka berkumpul di Danau Cinta Universitas Malahayati. Di sini sudah menunggu seribuan anak-anak yatim. Di sini mereka makan bersama anak-anak yatim, dan menyantuni anak-anak yatim.

Hasriadi mengatakan, sebelum melihat sendiri ia tak menyangka jika begitu banyak anak-anak yatim yang disantuni Rusli Bintang. “Ini sungguh luar biasa. Saya sudah beberapa kali ke sini. Sebelum jadi rektor (Rektor Unila), saya bersama anak-anak yatim berdoa bersama di sini. Alhamdulillah kemudian saya terpilih menjadi rektor,” kata Hasriadi yang disambut tepak tangan anak-anak yatim. []

Prof Sutrisna: Pemerintah Berterimakasih pada Pak Rusli Bintang

DUA pejabat dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyambangi Universitas Malahayati, Sabtu 31 Oktober 2015. Mereka adalah Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd dan Dr Ridwan.

Mereka berkumpul bersama H Rusli Bintang, pendiri Universitas Malahayati dan Marzuki Bintang (penasehat seluruh universitas di bawah manajemen Rusli Bintang) di tepi Danau Cinta Universitas Malahayati.

Bersama mereka ada juga calon Rektor Universitas Lampung yang terpilih untuk periode 2015-2019 Prof Dr Ir Hasriadi Mat Akin, Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH., dan Rektor Universitas Abulyatama-Aceh Ir R Agung Efriyo Hadi PhD.

Prof Sutrisna, tak henti-hentinya menyatakan kebahagiaannya berada di tengah-tengah anak yatim ini. “Di tepi danau yang dingin ditiup angin sepoi-sepoi. Sungguh sejuk. Anak-anakku sekalian, belajarlah yang rajin,” katanya memberi petuah pada anak-anak yatim.

“Saya atas nama pemerintah dan juga kementerian mengucapkan terimakasih kepada Pak Rusli. Beliau telah membantu anak-anak yatim, ini juga membantu pemerintah. Pemerintah memperhatikan pendidikan anak-anak yatim. Ada bea siswanya juga,” kata Prof Sutrisna.[]

Potret Saat Silaturahmi Para Rektor di Acara Penyantunan Anak yatim Malahayati

MAKAN bersama anak yatim menjadi penutup kegiatan penyantunan rutin di Danau Yatim Universitas Malahayati, Minggu 01 Oktober 2015. Acara yang dihadiri Haji Rusli Bintang, Haji Marzuki Bintang, Rektor Universitas Lampung, Abulyatama dan Malahayati ini dilakukan untuk mempererat silaturahmi antar ketiga kampus. Selain itu mereka juga sengaja datang untuk bersilaturahmi dengan anak yatim Yayasan Alih Teknologi Universitas Malahayati.

Selain makan bersama, mereka juga berfoto bersama para anak yatim. Penasaran bagaimana serunya acara penyantunan hari ini?

Chek this out:

Penyantunan Anak Yatim Hari Ini Terasa Begitu Spesial

KEGIATAN penyantunan anak yatim di danau yatim Universitas Malahayati, Minggu 01 November 2015 terasa begitu spesial. Hari ini Pendiri Universitas Malahayati, Haji Rusli Bintang hadir pada kegiatan rutin mingguan ini. Selain Haji Rusli Bintang, Rektor Universitas Lampung, Abulyatama dan Malahayati juga terlihat berkumpul bersama anak yatim Yayasan Alih Teknologi Malahayati.

Shalawat badar  menjadi pembuka kegiatan ini, setelah itu barulah sambutan dari para rektor yang hadir. Setelah itu alunan ayat demi ayat surah yasinpun menggema di danau yatim. Sama seperti para anak yatim, Rektor dari tiga Universitas itu juga terlihat sangat khusuk saat membaca surah yasin.

Pembagian santunan berupa sejumlah uangpun dilakukan setelah pembacaan yasin. Wajah-wajah bahagia para anak yatim saat berfoto dan  diberi santunan langsung oleh Rusli Bintang adalah pemandangan yang begitu indah dimata malahayati.ac.id. Setelah pemberian santunan, barulah acara ditutup dengan makan bersama.[]

22 Tahun Malahayati; Sebuah Renungan Rusli Bintang

UNIVERSITAS Malahayati boleh dikata adalah salah satu perguruan tinggi swasta yang  mentereng di negeri ini. Berada di Jalan Pramuka, Kemiling, Bandar Lampung, kampus berwarna hijau ini berada di atas lahan 84 hektare yang dikelilingi rerimbunan pohon. Di dalam enam blok gedung berlantai delapan bertabur fasilitas akademik yang sangat memadai, bahkan melebihi dari yang dibutuhkan.

malahayatiTak hanya fasilitas akademik, juga ada sarana pendukungnya. Misalnya asrama, sarana olahraga seperti golf, badminton, futsal, hingga kolam renang, pencucian pakaian, hingga kuliner.

Bahkan disediakan fasilitas rumah sakit yang terletak beberapa meter di sebelah kiri gerbang kampus yang diberi nama Rumah Sakit Pertamina – Bintang Amin. Sangat panjang jika meguraikan satu per satu fasilitasnya. (Agar Lebih Jelas, Silahkan Klik; Fasilitas Universitas Malahayati).

Didirikan pada 27 Agustus 1993, berjalanlah universitas ini dimulai dari deretan ruko Jalan Kartini, Bandar Lampung, kini kampus ini sudah menempati lahan puluhan hektare dengan berbagai fasilitas. Pada Agustus ini, Universitas Malahayati kembali merayakan ulang tahunnya. (Klik di sini untuk membaca Profil Universitas Malahayati)

Membandingkan antara fasilitas dan riwayat pendirinya, kenyataan ini hampir-hampir mustahil terjadi, namun begitulah fakta yang kita lihat sekarang ini.

Pendirinya, Rusli Bintang, adalah seorang anak yatim yang mengawali kehidupannya dengan sangat berat.

rusli-bintangRusli kecil lahir pada Jumat 28 April 1950 di Lampoh Keudee, Ulee Kareng, Aceh Besar. Putra sulung pasangan Bintang Amin dan Halimah, berasal dari keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang mantri kampung. Sedangkan ibunya, ya ibu rumah tangga biasa.

Walau masa kecilnya bukanlah dari kalangan berada, ia mengawali kehidupan yang bahagia. Iya ingat, ayahnya yang mantri kesehatan itu hampir setiap hari keluar masuk kampung mengayuh sepeda untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongannya.

Maklum, mantri kesehatan di perkampungan tentu sangat jarang. Bahkan di masa itu dokter pun belum ada. Jadilah Bintang harapan masyarakat. Tanpa perduli waktu, kadang tengah malam, pun ia tetap akan keluar rumah jika warga membutuhkannya.

Kerab kali, Bintang membonceng Rusli untuk menemaninya membantu orang-orang kampung. “Saya pernah bingung melihat ayah saya sering tak mendapat bayaran apa-apa setelah mengobati orang sakit. Saya pernah menanyakan itu, tapi ia malah menasehati saya agar mengisi hidup dengan rasa sosial. Sebab di situlah letak makna kehidupan yang sesungguhnya. Keberadaan kita berguna bagi sesama manusia,” kata Rusli.

Namun Rusli tak bisa mendengar nasehatnya sampai ia dewasa. Allah berkehendak lain. Bintang kembali ke pangkuan Ilahi di masa usia Rusli masih terlalu dini, ia belum sempat menginjakkan kakinya ke sekolah menengah.

Di tengah-tengah kehilangan seorang ayah, Rusli tiada pilihan lain. Ia sebagai anak sulung harus merawat enam adiknya (Darmawan Bintang, Marzuki Bintang, Musa Bintang, Ismail Bintang, Zulkarnain Bintang, dan Fatimah Syam). Maka, ia meminta izin dari ibundanya untuk membantu mencari rezeki buat sekolah adik-adiknya.

Maka jadilah Rusli bekerja serabutan.  Ia membagi waktu, siang mengambil upah memanjat kelapa, malam sampai dini hari memanggul pasir di kali. “Kadang-kadang kuli lain heran mengapa punya saya sudah banyak pas mereka datang. Padahal saya mengangkutnya malam hari, mereka mengangkutnya pagi,” kata Rusli tersenyum mengenang masa pahit hidupnya itu.

Namun senyum Rusli mendadak hilang ketika bercerita tentang kisah selanjutnya. Kendati bekerja keras seperti itu, ia ternyata masih kesulitan dalam memenuhi biaya sekolah salah satu adiknya yang saat itu sedang mau menghadapi ujian akhir sekolah SMP. Padahal yang dibutuhkan adalah uang seribu rupiah.

Rusli meminta pada adiknya bersabar. “Ia adik saya yang pintar di sekolah,” kata Rusli. Bercerita soal ini, Rusli mulai meneteskan air matanya. Sang adik tak bisa ikut ujian jika belum membayar uang sekolah. Maka Rusli pun berusaha mencari uang ke sana ke mari, hingga uang sekolah adiknya didapat.

Namun sang adik sudah terlanjur depresi, ketakutan, dan kesedihan. Si adik ketakutan tidak bisa mengikuti ujian gara-gara belum bayar uang sekolah, kondisi tersebut semakin menyiksanya dan membuatnya sakit. Rusli pun datang ke sekolah membayar uang sekolah itu.

Ketika Rusli pulang ke rumah, ia melihat adiknya sudah tergeletak di atas tikar. Melihat adiknya yang terlanjur sakit parah, Rusli sedih bukan main. Apalagi ketika ia melihat adiknya muntah-muntah.

Sambil menangis, anak yatim ini menggendong adiknya. Ia membawanya ke puskesmas dengan berjalan kaki pada malam hari. Bahkan adiknya yang dalam gendongannya mulai mengeluarkan cairan kotoran sampai berlepotan di punggung Rusli.

Rusli terus berlari agar cepat tiba, namun sesampai di puskesmas, jiwa sang adik tak tertolong lagi. “Dokter mengatakan jika stres, sedih, dan ketakutan tidak bisa mengikuti ujian yang dialami adiknya membuat dia sakit dan meninggal,” kata Rusli. Cerita itu memang membuat hancur hati Rusli. Ia tak mampu melanjutkan kisah hidupnya.

Sejumlah teman-teman dekat Rusli bercerita, sejak itu ia bertekat untuk mendirikan sekolah dan membantu anak-anak yatim. Maka berbagai kerja pun dilakoni. Mulai dari tukang pikul, tukang kebun, menjadi pembersih rumah orang. “Saya juga pernah jualan kopi membuka warung kecil-kecilan,” katanya.

Kerja keras Rusli mengantarnya ke sebuah perusahaan konstruksi. Dari sini ia belajar menjadi kontraktor. Belakangan ia menjadi pengusaha konstruksi. Bahkan, sebuah perusahaan semen PT Semen Andalas (sekarang PT Lafarge) yang pemodalnya dari Prancis, mempercayai Rusli sebagai satu-satunya pengusaha yang mendistribusikan semen.

Belakangan Rusli menjual semua truknya dan asset perusahaan, lalu mendirikan pesantren. Di sini ia mulai menampung anak-anak yatim. Kemudian ia mendirikan Universitas Abulyatama di dekat rumahnya di Lampoh Keudee, Ulee Kareng Aceh Besar. Ini menjadi perguruan tinggi swasta tertua di Aceh.

Setelah itu barulah ia mendirikan Universittas Malahayati di Bandar Lampung pada 27 Agustus 1993, menyusul kemudian Universitas Batam di Batam, dan Institut Kesehatan Indonesia di Jakarta.

Kini puluhan ribu mahasiswa belajar di berbagai kampus yang di dirikannya. Di antara para mahasiswa itu sungguh ramai anak-anak yatim yang mendapat beasiswa. Biaya kuliah digratiskan, biaya hidup pun ditanggung. Setelah selesai kuliah pun mereka ditawarkan pekerjaan di tempatnya.

Anak-anak yatim yang belum masuk bangku kuliah disantuninya. Bahkan, ibu-ibu anak yatim pun dibantu, mereka bekerja dan mendapat gaji bulanan—apapun yang bisa dikerjakan tak masalah— di kampus-kampus yang didirikannya itu.

rusli-bintang2Di setiap bulan ramadhan, tim dari kampus-kampus di terjun ke berbagai daerah untuk menyalurkan santunan. Mereka datang ke berbagai rumah anak yatim. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Rektor Universitas Malahayati Dr Muhammad Kadafi SH MH pada ramadhan tahun ini yang berkeliling dari Aceh, Sumut, Padang, dan Lampung, untuk menyalurkan santunan anak yatim.

Miliaran rupiah per bulan untuk anak-anak yatim di berbagai tempat di negeri ini kini menikmati hasil dari kerja keras Rusli Bintang.

Selamat ulang tahun Universitas Malahayati. Renungkanlah jejak-jejak yang pernah dilalui pendirinya; Rusli Bintang. Sebuah jejak panjang mengurai cerita yang sarat makna kehidupan. []

Dari Tepi Danau Malahayati Surah Yasin Berkumandang

DANAU itu terletak tepat di penurunan bukit Rumah Sakit Pertamina-Bintang Amin, Kompleks Kampus Universitas Malahayati, Bandar Lampung. Diapit dua jalan, kiri menuju gedung rektorat, kanan kompleks perumahan dosen.

Penghuni kompleks kampus sering memancing ikan di danau ini. Biasanya mereka terlihat melempar tali pancing dari tengah-tengah danau yang ada pulaunya.

Selain itu, danau ini juga yang sering dilakukan menjadi tempat latihan Tim SAR Universitas Malahayati.

Nuansa berbeda terjadi di setiap pekan. Seperti ketika penulis dari malahayati.ac.id mengunjungi tempat ini pada Sabtu 23 Mei 2015. Di sini diselenggarakan ritual pembacaan doa dari anak-anak yatim, sekaligus santunan dari kampus untuk mereka.

Di tepi danau yang dikelilingi pepohonan ini terdengar lantunan ayat al-Qur’an, surah Yasin. Puluhan undangan yang hadir mengikuti kegiatan dengan hikmat. Pepohonan yang rindang juga menambah kesejukan di acara yang mendamaikan hati ini.

Kegiatan religi ini diawali dengan shalat zuhur berjamaah, pembacaan surat yasin dan doa serta makan bersama. Acara anak yatim dan ibunya dipersilahkan memancing dan ikan yang didapat diperbolehkan dibawa pulang.

Jika disimak dengan seksama, sungguh jelas anak-anak yatim itu memanjatkan doa kepada Allah agar Universitas Malahayati terus berkembang dan maju.

Di antara anak-anak yatim yang berdoa itu, ada juga yang sudah remaja. Mereka semuanya kini sedang menimba ilmu di Universitas Malahayati. Mereka mendapat bea siswa dari kampus. Selain dibebaskan dari beban biaya, mereka tetap mendapat santunan.

“Acara danau cukup bagus bagi kepribadian anak-anak yang sudah tidak memiliki ayah, karena dengan adanya acara tersebut membentuk kepribadian yang religius, dengan diadakan pengajian dan membaca surat yasin sekaligus anak-anak merasa diperhatikan” ujar Elismawati, salah seorang undangan yang tinggal di daerah Gadingrejo Timur, Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.

Santunan dan pembinaan anak-anak yatim ini memang menjadi kewajiban yang langsung diperintahkan oleh Rusli Bintang. Rusli Bintang adalah pendiri Universitas Malahayati yang saat ini adalah Ketua Dewan Pembina Yayasan Alih Teknologi yang menjadi badan hukum Universitas Malahayati.

Kewajiban menyantuni anak-anak yatim berlaku untuk seluruh pimpinan, dosen, dan staf di Universitas Malahayati. Bahkan untuk mahasiswa juga dikenakan kewajiban yang serupa. []

[Galery] Kedatangan Perawat dari Malaysia ke Malahayati

Kedatangan perawat asal Malaysia dalam rangka pelatihan di RS Pertamina Bintang Amin

 

1

2

3

4

5

6