Posts

Minak Gulung, Simbol Perlawanan Dari Tiuh Toho

BAGI masyarakat tulang bawang, nama Minak Gulung sangat familiar, tokoh ini dikenal sakti khususnya bagi warga Tiuh Toho [kampung tua]. Dari penuturan warga setempat, tokoh ini mulai dikenal saat pada peristiwa peperangan antara Minak Gulung dan para tentara dari negeri Cina.

Pasalnya saat itu, para penguasa cina yang ingin menguasai sumber daya alam Menggala saat itu  yang kaya dan merupakan pelabuhan yang strategis, pada saat itu tokoh Minak Gulung hanya sendiri untuk dapat mengalahkan seluruh serdadu cina dengan sendiri tanpa prajurit. Dan korban dari pembantaian yang dilakukan oleh Minak Gulung tersebut dikumpulkan menjadi satu yang tempatnya sekarang disebut sebagai Pulau Daging. Kehidupan pada masa itu sudah mengenal sistem perkampungan yaitu pada masa dahulu perkampungan tertua di daerah Tulang bawang salah satunya adalah Tiuh Toho.

Peninggalan-peninggalan yang dapat dilihat sekarang adalah sebuah tempat pemakaman Minak Gulung yang terdapat di kampung Tiuh Tuho. Ditempat tersebut terdapat petilasan makam dan tempat lainya yang dipercayai oleh masyarakat sebagai tempat dari Minak Gulung.

Selain makam petilasan Minak Gulung, terdapat rumah tua, yaitu rumah yang pada masa dulu telah ada di dekat makam Minak Gulung. Rumah tersebut terbuat asli dari tanaman tanaman seperti rotan, bambu, kayu lama, dan rumput rumput lama sebagai atapnya.

Pohon Besar, disana terdapat pohon besar yang telah berumur puluhan tahun yang lalu, mengapa dikatakan demikian bahwa sekelompok peneliti dari universitas di jakarta pernah mencoba meneliti pohon tersebut tetapi tidak diketemukan.

Tetapi juru kunci makam tersebut mengatakan bahwa anak dari pohon tersebut yang tumbuh dari akar pohon besar tumbuh pada tahun 1987 sampai sekarang pohon tersebut masih berukuran 50 cm.

Ditempat itu juga terdapat sumur yang dianggap sumur suci dimana sumur tersebut telah ada sejak lama. Banyak pengunjung yang selalu datang untuk berziarah dan membasuh muka dengan air sumur tersebut.

Tempat-tempat yang terdapat di makam peninggalan Minak Gulung tersebut terdapat tempat sebagai berikut terdapat mushola, terdapat tempat pondokan bagi kaum laki-laki, terdapat pondokan bagi kaum perempuan dan juga terdapat tempat beristirahat dan tempat untuk makan.

Pada hari Jum’at di pemakaman Minak Gulung ramai dikunjungi oleh masyarakat Tulang Bawang yang memiliki tujuan berziarah dan berdoa demi untuk dapat berhasil dalam usaha maupun dalam pekerjaanya, dalam hal ini pengunjung tidak diharuskan untuk membawa sesuatu sebagai syarat dari berziarahnya tersebut.

Kendati masyarakat Tulang Bawang banyak yang mengkeramatkan dan mempercayai kesaktian Minak Gulung, namun masyarakat setempat tidak mengetahui jelas siapa sebenarnya Minak Gulung, dalam silsilah kerajaan Tulang Bawang pun tidak ada nama tokoh sakti itu, Minak Gulung hanya sebagai tokoh yang memiliki kekuatan dan mampu mengusir gangguan untuk menguasai Tulang Bawang saat itu. ||Sumber: Infolampung.com[]

Pesona dan Sejarah Taman Dipangga Bandar Lampung

SEJARAH adalah sesuatu yang tidak bisa kita lepaskan begitu saja dari setiap kehidupan yang kita jalani. Karena sejarah memberikan pembelajaran yang sangat berharga untuk kita sendiri dan generasi di masa depan.
Kota Bandar Lampung tercinta juga punya sejarahnya sendiri. Sejarah itut bisa kita jumpai di salah satu sudut Kota, Tepatnya berada di Teluk Betung, yakni Taman Dipangga.

Sekilas, tak ada hal istimewa yang bisa kita temukan disini hanya ada halaman luas, dengan pepohonan yang ada serta adanya pedagang asongan yang menjual makanan dan minuman kepada semua orang yang menimati keindahan taman di pangga. Tetapi, banyak yang tidak tahu bahwa disinilah salah satu saksi bisu perjalanan Sai Bumi Ruwa Jurai sejak musibah melutusnya gunung krakatau yang diikuti gelombang pasang tsunami dari Selat Sunda.

Taman Dipangga didirikan pada 1981 dengan luas areal 800 meter persegi. Di sini terdapat monumen dengan mercusuar atau lampu kapal di atasnya yang dibangun untuk mengenang dahsyatnya letusan Gunung Krakatau 1883. Lampu kapal ini terdampar saat terbawa arus tsunami letusan Krakatau.

Di tengah taman yang di kelilingi patung gajah, beruang, badak, dan juga rumput dan pepohonan nan hijau itu berdiri monumen sederhana yang terbuat dari marmer. Di atas monumen terdapat sebuah pelampung lampu rambu kapal terbuat dari besi yang konon terpental ratusan mil jauhnya dari Selat Sunda hingga Telukbetung

Pada dinding monumen terdapat relief yang menggambarkan aktivitas masyarakat sebelum kejadian dan kepanikan yang tiba-tiba menimpa masyarakat seketika Gunung Krakatau mengeluarkan erupsi berupa debu vulkanik dan membawa gelombang tsunami besertanya. Terdapat juga relief yang menggambarkan masyarakat yang berbondong-bondong mengungsi dengan membawa barang-barang di atas kepala. Ada juga gambar relief Krakatau yang meletus, hingga kehidupan masyarakat di pesisir.

Taman Dipanggaa Monumen Patung GajahMonumen Taman Dipangga

 

||Dari berbagai sumber.[]

Sejarah Tarian Bedana Khas Lampung

TARIAN Bedana. Tarian ini merupakan tarian asal Lampung bagi pemuda-pemudi daerah Lampung. Tari ini biasanya dibawakan oleh anak-anak muda di dalam acara adat yang ada di daerah lampung dan acara tidak resmi lainnya sebagai suatu ungkapan rasa kegembiraan. Selain tari cangget yang berasal dari Lampung, baik suku Pepadun maupun juga Lampung Sebatin. Masing-masing juga memiliki ciri khas, baik dari segi alat musik yang dipakai maupun gerak tariannya.

Berdasarkan informasi yang telah ada, Tarian Bedana di masyarakat Lampung khususnya Pepadun mempunyai warna musik dan juga gerakan yang lebih beragam.

Hal ini dikarenakan watak atau perilaku khas dari masyarakat ini lebih menerima perubahan atau terbuka dan juga berani dibandingkan dengan masyarakat suku Lampung Sebatin. Masyarakat ini juga dikenal lebih halus sikap atau perangainya, dan cenderung lebih membatasi dirinya. Tetapi pada umumnya masyarakan sebatin ini, mereka semua ramah dan juga sangat baik hati.

Tarian Bedana ini merupakan suatu perwujudan suatu luapan sukacita yang dilakukan dengan gerak badan untuk menggapai suatu ekstase, dalam batas tertentu dan saat menari ini juga diiringi music gamelan khas, jiwa yang melihat dan mendengarnya seperti mengembarai suatu lembah yang hijau di bawah kaki suatu Gunung di Lampung dan semuanya berubah menjadi indah dan Riang.

Estetik dari tarian bedana ini membuat perasaan serasa selalu muda dan Penuh antusias. Di kesempatan lainnya, ketika melihat secara langsung tarian bedana yang dipertunjukkan dengan sunggingan senyuman manis dari muli-mekhanai atau pemuda pemudi Lampung, penonton akan serasa diguyur air dari pegunungan yang segar. Dan secara otomatis akan terpancing dan akan larut di dalam tarian ini.

Tari bedana adalah suatu tarian daerah yang dipercayai bernapaskan ajaran agama Islam dan merupakan tarian daerah atau tradisional dan mengambarkan tata kehidupan dan budaya masyarakat di Lampung yang ramah dan juga terbuka. ini menyimbolkan persahabatan dan pergaulan. dalam tarian ini tercerminkan nilai gabungan antara tata cara hidup dan pranata sosio-kebudayaan adat persahabatan muda mudi Lampung dengan berkomitmen kepada agama.

Menutut sejarah di dalam masyarakat, Tari Bedana telah hidup dan juga berkembang di masyarakat Lampung seiring juga dengan telah masuknya ajaran agama Islam. Pada awal mulanya Tarian Bedana dilakukan oleh laki-laki saja secara berpasangan atau berkelompok dan hanya bisa dilihat oleh keluarga masing-masing saja. Tarian Bedana ini ditarikan ketika seorang anggota keluarga ada yang khatam Al-Qur’an. Dengan berkembangnya zaman sekarang ini Tari bedana juga dapat dilakukan oleh laki-laki dan juga perempuan secara berpasangan atau berkelompok dan juga dapat ditonton oleh masyarakat pada umum.

Tari Bedana adalah tarian tradisional rakyat Lampung yang menggambarkan tata kehidupan di masyarakat Lampung. Ini sebagai perwujudan simbol dari adat istiadat dan etika serta agama yang telah bersatu di dalam kehidupan bermasyarakat di Lampung. ||Dari berbagai sumber.[]

Peninggalan Arkeologis di Harakuning, Lampung Barat

SITUS Harakuning ini terkenal karena keberadaan prasasti Hujung Langit yang terletak di dusun Harakuning Jaya, Desa Hanakau, Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat. Situs dengan luas 27 ha ini dikelilingi oleh parit. Peninggalan di situs ini berupa prasasti dan budaya megalitik.

Peninggalan budaya megalitik terdapat di bagian tenggara area situs. Peninggalan megalitik tersebut berupa batu datar, arca megalitik, dan batu bergores. Terdapat beberapa arca di situs ini. Arca megalitik yang ditemukan pada tahun 1995 berukuran tinggi 60 cm dengan lebar 26 cm. Arca digambarkan bermata bulat memanjang, mulut berbentuk garis, kaki dalam posisi jongkok. Arca yang ditemukan pada tahun 2014 cenderung lebih kecil. Arca tersebut berukuran tinggi 28 cm dan diameter dasar 16 cm. Secara keseluruhan, arca tersebut membentuk bagian menyerupai tubuh manusia dengan pahatan sederhana, yakni bagian kepala, badan dan kaki. Detail bagian wajah, tangan dan kaki tidak terlihat dengan jelas.

Tinggalan lain, yakni batu datar yang berbentuk batu monolit dengan bagian atasnya berupa bidang datar. Penemuan batu bergores ini terletak 50 meter di sebelah timur laut batu datar. Batu bergores merupakan batu alam tanpa ada pengerjaan manusia. Goresan yang terdapat pada batu bergores merata di seluruh permukaan batu, dengan jumlah goresan 19.

harakuning-mei

Peninggalan prasasti Hujung Langit ini dipahatkan pada sebongkah batu andesit, dimana bagian atas lebih kecil daripada bagian bawah. Sebagian batu bagian bawah terpendam di dalam tanah. Prasasti terdiri dari 18 baris tulisan yang digoreskan pada permukaan batu yang menghadap ke utara. Kondisi tulisan sudah sangat aus. Berdasarkan hasil penelitian dari L.C. Damais, N.J. Krom, dan Boechari, diketahui bahwa prasasti tersebut berhuruf Jawa Kuna dan berbahasa Melayu Kuna. Berdasarkan bentuk hurufnya, diperkirakan prasasti tersebut berasal dari sekitar abad ke-10 M.

prasasti hujung langit

Berdasarkan beberapa kata yang masih dapat terbaca, diduga bahwa isi prasasti adalah mengenai penetapan sebidang tanah di Hujung Langit sebagai sima oleh Pungku Haji Yuwarajya Sri Haridewa, untuk dipergunakan membiayai pemeliharaan suatu bangunan suci.[]

Sejarah Hari Kesetiakawanan Nasional yang Diperingati Setiap 20 Desember

PERANG mempertahankan kemerdekaan yang terjadi dari tahun 1945 hingga tahun 1948 mengakibatkan permasalah sosial semakin bertambah jumlahnya.Kementerian Sosial menyadari bahwa untuk menanggulangi dan mengatasi permasalahan sosial tersebut diperlukan dukungan menyeluruh dari unsur masyarakat. Oleh sebab itu, maka pada bulan Juli 1949 di kota Yogyakarta, Kementerian Sosial mengadakan Penyuluhan Sosial bagi tokoh-tokoh masyarakat dan Kursus Bimbingan Sosial bagi Calon Sosiawan atau Pekerja Sosial, dengan harapan dapat menjadi mitra bagi pemerintah dalam menanggulangi dan mengatasi permasalahan sosial yang sedang terjadi.

Para Sosiawan atau Pekerja Sosial telah bekerja dengan jiwa dan semangat kebersamaan, kegotongroyongan, kekeluargaan serta kerelaan berkorban tanpa pamrih yang tumbuh di dalam masyarakat dapat diperkokoh, sehingga masyarakat dapat menanggulangi dan mengatasi permasalahan sosial yang timbul saat itu dalam rangka mencapai kesejahteraan sosial bagi masyarakat.

Nilai kesetiakawanan sosial yang telah tumbuh didalam masyarakat perlu dilestarikan dan diperkokoh.Begitu juga dengan kinerja dan persatuan para sosiawan atau pekerja sosial perlu ditingkatkan. Untuk hal tersebut,maka Kementerian Sosial berinisiatif membuat Lambang Pekerjaan Sosial dan Kode Etik atau Sikap Sosiawan. Lambang Pekerjaan Sosial dan Kode Etik Sosiawan diciptakan pada tanggal 20 Desember 1949, tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan peristiwa bersejarah bersatunya seluruh lapisan masyarakat untuk mengatasi permasalahan dalam mempertahankan kedaulatan negara, yaitu pada tanggal 20 Desember 1948, sehari setelah tentara kolonial Belanda menyerbu dan menduduki ibukota negara Yogyakarta.Maka tanggal tersebut oleh Kementerian Sosial dijadikan sebagai HARI SOSIAL.

Hari Sosial atau Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) diperingati pada tanggal 20 Desember setiap tahun sebagai rasa syukur dan hormat atas keberhasilan seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam menghadapi ancaman bangsa lain yang ingin menjajah kembali bangsa kita.

Peringatan Hari Sosial atau Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) tersebut merupakan upaya untuk mengenang, menghayati dan meneladani semangat persatuan, kesatuan, kegotongroyongan dan kekeluargaan rakyat Indonesia yang secara bahu membahu mengatasi permasalahan dalam mempertahankan kedaulatan bangsa atas pendudukan kota Yogyakarta sebagai Ibu Kota Republik Indonesia oleh tentara Belanda pada tahun 1948.

Adapun sejarah lahirnya Hari Sosial yang pada akhirnya berubah menjadi Hari Kebhaktian Sosial, dan berganti lagi menjadi Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional adalah sebagai berikut :

  1. HARI SOSIAL ke I atau pertama kali diperingati pada tanggal 20 Desember 1958 dicetuskan oleh Menteri Sosial, H Moeljadi Djojomartono.
  2. Peringatan yang ke XIX tanggal 20 Desember 1976 oleh Menteri Sosial, HMS Mintardja SH. Nama HARI SOSIAL diubah menjadi HARI KEBAKTIAN SOSIAL.
  3. Dan pada Peringatan yang XXVI tanggal 20 Desember 1983 oleh Menteri Sosial, Nani Soedarsono SH. Nama HARI KEBAKTIAN SOSIAL diubah lagi menjadi HARI KESETIAKAWANAN SOSIAL NASIONAL.

Jiwa dan semangat kebersamaan, kegotongroyongan, kekeluargaan dan kerelaan berkorban tanpa pamrih yang tumbuh di dalam masyarakat tersebut harus dikembangkan, direvitalisasi, didayagunakan dalam kehidupan berbangsa.

Pada saat ini bangsa Indonesia masih berhadapan dengan berbagai masalah kesejahteraan sosial yang meliputi kemiskinan, keterlantaran, ketunaan, keterpencilan dan kebencanaan yang jumlahnya tidak kecil. Sementara pemerintah memiliki kemampuan terbatas, sehingga diperlukan peran serta masyarakat.

Kesetiakawanan sosial masa kini adalah instrumen menuju kesejahteraan masyarakat melalui gerakan peduli dan berbagi oleh, dari dan untuk masyarakat baik sendiri-sendiri maupun secara bersamaan berdasarkan nilai kemanusiaan, kebersamaan, kegotongroyongan dan kekeluargaan yang dilakukan secara terencana, terarah dan dan berkelanjutan menuju terwujudnya Indonesia Sejahtera (INDOTERA).

Peringatan HKSN diharapkan dapat menjadi “alat pengungkit” untuk menggerakkan kembali nilai-nilai kesetiakawanan sosial yang ada dimasyarakat, yang dilaksanakanditingkat pusat, propinsi dan kabupaten/kota dengan berdasarkan pada tiga prinsip, yaitu :

  1. Prinsip dari, oleh dan untuk masyarakat,yang berarti bahwa kegiatan Peringatan HKSN memerlukan peran aktif seluruh unsur masyarakat, antara lain TNI dan Polri, organisasi sosial/lembaga swadaya masyarakat, unsur generasi muda, lembaga pendidikan, dunia usaha, media massa, pemuka masyarakat dan agama, relawan sosial dan masyarakat secara umum yang didayagunakan untuk kepentingan masyarakat.
  2. Prinsip Tri Daya, yaitu bahwa penyelenggaraan HKSN diharapkan dapat memberdayakan manusia, usaha, dan lingkungan sosial sebagai satu kesatuan.
  3. Prinsip berkelanjutan, bahwa kegitan-kegiatan dalam rangka Kesetiakawanan Sosial Nasional hendaknya dilaksanakan secara terus menerus sepanjang tahun (No Day Without Solidarity) dengan berdasarkan pada kedua prinsip tersebut di atas.

Peringatan Hari Kesetiakawanan sosial Nasioal saat ini dilaksanakan dalam bentuk Gerakan Indonesia Setiakawan yang dimaksudkan sebagai upaya mengarahkan percepatan gerakan Indonesia Peduli menuju terwujudnya Indonesia baru, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran dan tanggungjawab sosial masyarakat untuk mengkristalisasikan kesetiakawanan sosial serta meningkatkan jumlah masyarakat peduli dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Peringatan HKSN diharapkan mampu mengatasi berbagai permasalahan sosial yang ada, dengan mengacu pada parameter kesejahteraan :

  • Terpenuhinya kebutuhan dasar setiap warga negara Indonesia (sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan).
  • Terlindungi hak sipil setiap warga negara (hak memperoleh KTP, Akte Kelahiran, hak berorganisasi, hak mengemukakan pendapat dll).
  • Terlindunginya setiap warga negara dariberbagai resiko yang bertautan dengan siklus hidup, ketidakpastian ekonomi, resiko kerusakan lingkungan dan resiko sosial maupun politik (kecacatan, konflik, bencana, pengangguran).
  • Terdapatnyakemudahan memperoleh berbagai aksespelayanan dasar (pendidikan, kesehatan, ekonomi/keuangan, politik dll).
  • Terpenuhinya jaminan keberlangsungan hidup bagi setiap warga negara (asuransi, jaring pengamanan sosial, bantuan sosial dan lain-lain).

Nilai moral yang terkandung dalam kesetiakawanan sosial diantaranya sebagai berikut:

  • Nilai moral Tolong menolong. Nilai moral ini tampak dalam kehidupan masyarakat, seperti: tolong menolong sesama tetangga. Misalnya membantu korban bencana alam atau menengok tetangga yang sakit.
  • Gotong-royong, misalnya menggarap sawah atau membangun rumah.
  • Kerjasama. Nilai moral ini mencerminkan sikap mau bekerjasama dengan orang lain walaupun berbeda suku bangsa, ras, warna kulit, serta tidak membeda-bedakan perbedaan itu dalam kerjasama.
  • Nilai kebersamaan. Nilai moral ini ada karena adanya keterikatan diri dan kepentingan kesetiaan diri dan sesama, saling membantu dan membela. Contohnya menyumbang sesuatu ke tempat yang mengalami bencana, apakah itu kebanjiran, kelaparan atau diserang oleh bangsa lain.

Sebagai bagian dari unsur nilai, maka kesetiakawanan Sosial dijadikan nilai dasar penyelengggaraan kesejahteraan sosial. Nilai sosial ini terus digali, dikembangkan dan didayagunakan dalam mewujudkan cita-cita Indonesia mewujudkan Indonesia sejahtera. Sebagai nilai dasar kesejahteraan sosial, kesetiakawanan sosial harus terus direvitalisasi sesuai dengan kondisi aktual bangsa dan diimplementasikan dalam wujud nyata dalam kehidupan masyarakat. Jiwa dan semangat tersebut telah teruji dalam berbagai peristiwa sejarah, dengan puncak manifestasinya terwujud dalam tindak dan sikap berdasarkan rasa kebersamaan dari seluruh bangsa Indonesia pada saat menghadapi ancaman dari penjajah yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan berkat semangat kesetiakawanan sosial yang tinggi.

||Dari berbagai sumber.[]

Menandai Hari AIDS Sedunia

PADA 1 Desember setiap tahunnya, masyarakat di banyak negara memperingati Hari AIDS Sedunia. Tepat pada 2015 ini, menjadi tahun ke 27 peringatan hari AIDS sedunia. Hal itu dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS di seluruh dunia.

Sejatinya, Hari AIDS Sedunia pertama kali dicetuskan pada Agustus 1987 oleh James W. Bunn dan Thomas Netter, yang merupakan dua pejabat informasi masyarakat untuk Program AIDS Global di World Health Organization (WHO) milik PBB di Jenewa, Swiss.

Namun, konsep untuk memperingati hari menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS itu digagas pada Pertemuan Menteri-Menteri Kesehatan Sedunia yang membahas mengenai program-program untuk pencegahan AIDS pada 1988.

Sejak saat itulah, organisasi-organisasi internasional dan yayasan amal di seluruh dunia mulai memperingati Hari AIDS Sedunia setiap tanggal 1 Desember.

Seperti dilansir dari Daily Times, Selasa 1 Desember 2015. Peringatan Hari AIDS Sedunia dilakukan dengan berbagai aksi dan kegiatan sosial yang dilakukan oleh berbagai komunitas di seluruh dunia.

Kegiatan sosial itu biasanya meliputi kampanye di jalan-jalan ibukota masing-masing negara. Hingga melakukan kegiatan amal untuk membantu meringankan beban materi maupun psikologis pada penderita virus HIV AIDS, atau yang dikenal dengan ODHA (Orang Dengan HIV AIDS).

Hingga kini, ilmuwan di seluruh dunia belum ada yang menemukan cara untuk mengobati HIV AIDS. Jadi, seluruh komunitas internasional merasa penting untuk selalu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya virus ini. Namun, juga tidak mengucilkan para penderita yang sudah terkena virus mematikan itu.[]

Ini Dia Sejarah Singkat Hari Guru Nasional

HARI Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda di setiap negara. Di Indonesia sendiri peringatan Hari Guru Nasional jatuh pada tanggal 25 November. Hari Guru Nasional bukan merupakan hari libur resmi, tetapi dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa kepada guru, kepala sekolah, dan perangkat sekolah lainnya.

Hari Guru Nasional diperingati bersamaan dengan perayaan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Ini bermula dengan perjuangan para guru Tanah Air melalui Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada 1912. Organisasi unitaristik ini beranggotakan para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Umumnya mereka bertugas di Sekolah Desa dan Sekolah Rakyat Angka Dua. Di masa yang sama, berkembang juga organisasi guru dengan beragam latar belakang seperti keagamaan, kebangsaan, dan lainnya.

Sekitar dua dekade kemudian Nama PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Penambahan kata “Indonesia” mengejutkan pemerintah Belanda. Pasalnya, kata tersebut mencerminkan semangat kebangsaan.

Kesadaran kebangsaan dan semangat perjuangan mendorong para guru pribumi memperjuangkan persamaan hak dengan pihak Belanda. Secara bertahap, jabatan Kepala HIS (Hollandsch Inlandsche Schoo atau sekolah Belanda untuk bumiputera) mulai diambil alih orang Indonesia. Akhirnya, terbitlah cita-cita kesadaran bahwa perjuangan para guru Indonesia tak lagi tentang perbaikan nasib maupun kesamaan hak dan posisi dengan Belanda, tetapi memuncak menjadi perjuangan nasional.

Pemerintah Jepang melarang semua organisasi dan menutup semua sekolah dan membungkam PGI Pada masa tersebut.

Barulah setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, PGI kembali menggeliat.Kongres Guru Indonesia digelar pada 24–25 November 1945 di Surakarta.Para peserta kongres sepakat menghapuskan semua organisasi dan kelompok guru berlatar belakang perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku. Inilah cikal bakal bersatunya guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk.

Mereka akhirnya meresmikan kelahiran Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945. Dan sejak saat itu, pemerintah menetapkan hari lahir PGRI sebagai Hari Guru Nasional dan menjadikannya momentum penghormatan kepada para pahlawan tanpa tanda jasa di Tanah Air.

SELAMAT HARI GURU, WAHAI PAHLAWAN TANPA TANDA JASA.