Posts

Shinta Arini: Kestabilan Imunitas Itu Penting di Musim Pancaroba

Pakar Kesehatan dari Universitas Malahayati, Shinta Arini Ayu S Kep NS M Kes mengimbau civitas Malahayati untuk tetap menjaga kesehatan di Musim Pancaroba seperti saat ini. Menjaga kestabilan Imunitas adalah cara efektif agar tidak mudah sakit.

“Di musim pancaroba seperti ini, tubuh kita rentan sekali terkena serangan penyakit. perubahan suhu yang cukup
ekstrem, akan membuat imunitas tubuh terganggu. Alhasil virus dan bakteri mudah sekali masuk dalam tubuh,” ujar Shinta saat ditemui di ruangannya Sabtu, 10 Oktober 2015.

Musim pancaroba yang merupakan musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau. Normalnya pancaroba
terjadi pada bulan Maret-April, saat peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau. Bulan Oktober-
Desember, peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Datangnya musim pancaroba biasanya dibarengi dengan berbagai macam serangan penyakit seperti disentri, tifus, gangguan pernafasan dan penyakit yang ditimbulkan oleh gigitan nyamuk.

Shinta mengatakan, nyamuk akan cepat berkembang biak justru saat musim pancaroba. Telur-telur nyamuk akan
segera menetas ketika ada sedikit aja genangan air. Ironisnya, nyamuk-nyamuk itu berpotensi menimbulkan penyakit Deman Berdarah, Cikungunya dan penyakit lainnya.

“Kebersihan diri dan lingkungan adalah hal utama. Asupan nutrisi juga harus cukup dan seimbang agar imunitas tubuh meningkat. Gunakan lotion anti nyamuk bila dibutuhkan, untuk terhindar dari DBD, Cikungunya dan penyakit lainnya,” ujar Shinta.

Shinta juga mengatakan pola istirahat yang cukup berpengaruh pada kesehatan tubuh. Tidur ideal adalah sekitar 6-8
jam sehari untuk orang dewasa. Menjaga pikiran tetap positif juga penting, karena stres akan berdampak pada
buruknya imunitas tubuh.[]

Shinta Arini Ayu: Dari Malahayati Untuk Malahayati

SHINTA Arini Ayu akrab disapa Chinta adalah dosen Fakultas Keperawatan Universitas Malahayati. Ia lahir di Terbanggi besar, 27 tahun lalu. Ia merupakan lulusan malahayati yang kini mengabdikan diri di kampus tempatnya menimba ilmu dulu.

“Dari Malahayati untuk Malahayati,” kata Chinta sambil tersenyum.

Dengan nada lembut dan wajah ramah ia menyambut kedatangan malahayati.ac.id  di ruang dosen keperawatan Universitas Malahayati. Ia pun bercerita, telah menyelesaikan Program Studi Ilmu Keperawatan dan profesi pada tahun 2011. Sebelum akhirnya mengambil gelar Magister di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Malahayati dan lulus tahun 2015. Sebelum bergabung di Malahayati ia sempat membuka klinik di Arisalah Teluk Betung.

Pada tahun 2013 ia bergabung ke Universitas Malahayati, sambil mengambil gelar Magister Kesehatan. Karena belum bergelar Magister, pada saat itu ia diberi kepercayaan untuk menjadi preseptor klinik. Saat ini ia mengampu mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah, Kegawat Daruratan, Manajemen Pasien Safety, dan Sistem Imun dan hematologi.

Anak sulung dari dua bersaudara ini mengatakan banyak sekali kesan menyenangkan selama berada di Malahayati.

“Sejak lulus SMA, saya menghabiskan waktu di Malahayati dengan sangat menyenangkan. Saat bekerja perasaan sama tetap saya rasakan. Solideritas antar rekan kerja begitu terasa. Istilahnya makanan sebungkus aja kami bagi bersama. Yang penting berbagi,” kata Chinta.

Ia berharap iklim di Malahayati akan tetap sesolid ini, jiwa sosial yang kampus tanamkan kepada mahasiswa mampu diimplementasikan dengan baik.

“Jujur saja, penyantunan anak yatim yang rutin dilakukan Malahayati adalah poin penting bagi saya. Hal itu yang membuat saya yakin bahwa saya berada di tempat yang tepat hingga saat ini,” ujar Chinta.[]