Posts

Jenis Tapis Lampung Menurut Pemakainya

KAIN tapis adalah pakaian wanita suku Lampung yang berbentuk kain sarung terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan bahan sugi, benang perak atau benang emas dengan sistem sulam (Lampung; “Cucuk”).

Dengan demikian yang dimaksud dengan Tapis Lampung adalah hasil tenun benang kapas dengan motif, benang perak atau benang emas dan menjadi pakaian khas suku Lampung. Jenis tenun ini biasanya digunakan pada bagian pinggang ke bawah berbentuk sarung yang terbuat dari benang kapas dengan motif seperti motif alam, flora dan fauna yang disulam dengan benang emas dan benang perak.

Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis (muli-muli) yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi.

Berikut jenis Tapis Lampung menurut pemakainya:

Tapis Jung Sarat

Dipakai oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat. Dapat juga dipakai oleh kelompok isteri kerabat yang lebih tua yang menghadiri upacara mengambil gelar, pengantin serta muli cangget (gadis penari) pada upacara adat. Tapis Raja Tunggal

Dipakai oleh isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara perkawinan adat, pengambilan gelar pangeran dan sutan.

Di daerah Abung Lampung Utara dipakai oleh gadis-gadis dalam menghadiri upacara adat.

Tapis Raja Medal

Dipakai oleh kelompok isteri kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara adat seperti : mengawinkan anak, pengambilan gelar pangeran dan sutan.

Di daerah Abung Lampung Utara tapis ini digunakan oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat.

Tapis Laut Andak

Dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada acara adat cangget. Dipakai juga oleh Anak Benulung (isteri adik) sebagai pengiring pada upacara pengambilan gelar sutan serta dipakai juga oleh menantu perempuan pada acara pengambilan gelar sutan.

Tapis Balak

Dipakai oleh kelompok adik perempuan dan kelompok isteri anak seorang yang sedang mengambil gelar pangeran pada upacara pengambilan gelar atau pada upacara mengawinkan anak. Tapis ini dapat juga dipakai oleh muli cangget (gadis penari) pada upacara adat.

Tapis Silung

Dipakai oleh kelompok orang tua yang tergolong kerabat dekat pada upacara adat seperti mengawinkan anak, pengambilan gelar, khitanan dan lain-lain. Dapat juga dipakai pada saat pengarakan pengantin.

Tapis Laut Linau

Dipakai oleh kerabat isteri yang tergolong kerabat jauh dalam menghadiri upacara adat. Dipakai juga oleh para gadis pengiring pengantin pada upacara turun mandi pengantin dan mengambil gelar pangeran serta dikenakan pula oleh gadis penari (muli cangget). Tapis Pucuk Rebung

Tapis ini dipakai oleh kelompok ibu-ibu/para isteri untuk menghadiri upacara adat.

Di daerah Menggala tapis ini disebut juga tapis balak, dipakai oleh wanita pada saat menghadiri upacara adat.

Tapis Cucuk Andak

Dipakai oleh kelompok isteri keluarga penyimbang (kepala adat/suku) yang sudah bergelar sutan dalam menghadiri upacara perkawinan, pengambilan gelar adat.

Di daerah Lampung Utara tapis ini dipakai oleh pengantin wanita dalam upacara perkawinan adat.

Di daerah Abung Lampung Utara tapis ini dipakai oleh ibu-ibu pengiring pengantin pada upacara adat perkawinan. Tapis Limar Sekebar

Tapis ini dipakai oleh kelompok isteri dalam menghadiri pesta adat serta dipakai juga oleh gadis pengiring pengantin dalam upacara adat.

Tapis Cucuk Pinggir

Dipakai oleh kelompok isteri dalam menghadiri pesta adat dan dipakai juga oleh gadis pengiring pengantin pada upacara perkawinan adat.

Tapis Tuho

Tapis ini dipakai oleh seorang isteri yang suaminya sedang mengambil gelar sutan. Dipakai juga oleh kelompok orang tua (mepahao) yang sedang mengambil gelar sutan serta dipakai pula oleh isteri sutan dalam menghadiri upacara pengambilan gelar kerabatnya yang dekat.

Tapis Agheng/Areng

Dipakai oleh kelompok isteri yang sudah mendapat gelar sutan (suaminya) pada upacara pengarakan naik pepadun/pengambilan gelar dan dipakai pula oleh pengantin sebagai pakaian sehari-hari. Tapis Inuh

Kain tapis ini umumnya dipakai pada saat menghadiri upacara-upacara adat. Tapis ini berasal dari daerah Krui, Lampung Barat.

Tapis Dewosano

Di daerah Menggala dan Kota Bumi, kain tapis ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat menghadiri upacara adat.

Tapis Kaca

Tapis ini dipakai oleh wanita-wanita dalam menghadiri upacara adat. Bisa juga dipakai oleh wanita pengiring pengantin pada upacara adat. Tapis ini di daerah Pardasuka Lampung Selatan dipakai oleh laki-laki pada saat upacara adat.

Tapis Bintang

Tapis Bintang ini dipakai oleh pengantin wanita pada saat upacara adat.

Tapis Bidak Cukkil

Model kain Tapis ini dipakai oleh laki-laki pada saat menghadiri upacara-upacara adat.

Tapis Bintang Perak

Tapis ini dapat dipakai pada upacara-upacara adat dan berasal dari daerah Menggala, Lampung Utara. |sumber: id.wikipedia.org

Kain Tenun Ikat Inuh dan Bidak Galah Napuh, Kain Tenun Tertua di Lampung

TENUN ikat inuh dan bidak galah napuh merupakan tenun tertua di Lampung. Tenun ikat inuh mulanya hanya dipakai perempuan pada acara pernikahan. Perempuan yang memakainya harus istri dari laki-laki tertua dalam keluarga. Di masa itu, tidak semua wanita bisa memakai kain inuh, sedangkan tenun ikat bidak galah napuh dipakai hanya untuk acara adat untuk laki-laki dan perempuan.

Perbedaan kedua kain tenun ini terletak pada motifnya. Tenun ikat inuh memiliki motif lebih beragam berupa tumbuhan, kapal, dan rumah tradisional, sedangkan tenun bidak galah napuh bermotif bintik-bintik kecil yang diambil dari model kulit hewan. Napuh adalah sejenis hewan seperti kancil yang memiliki bintik-bintik kecil pada bagian leher.

Perkembangan dan prospek
Kain tenun ikat Inuh selama ini digunakan dalam acara adat. Namun saat ini sudah mengalami perubahan fungsi, telah digunakan pada berbagai fungsi terutama mengarah keproduk fesen dan telah memperoleh persetujuan dari pemangku adat. Sehingga prospek untuk mengkomersilkan kain tenun ikat Inuh di masa datang lebih terbuka. Dan kain tenun ikat Inuh tidak lagi dipakai sebatas pada acara adat saja, tapi juga dapat dipakai dalam berbagai/bentuk produk termasuk untuk dipakai sebagai pakaian sehari-hari, atau untuk ke kantor. Dengan telah bertambah fungsi dari kegunaan kain tenun ikat Inuh, yang kini bisa dijadikan sebagai peluang bisnis sekaligus melestarikan budaya yang bernilai tinggi ini.

Untuk lebih meningkatkan mutu atau mengkomersialkan kain tenun ikat Inuh, perlu dilakukan langkah-langkah yang kongkrit bisa melalui kerjasama dengan instansi terkait guna membentuk sentra/ unit usaha kain tenun ikat Inuh termasuk memberikan bantuan peralatan, peningkatan skill sumber daya manusia, bantuan pemasaran, penyediaan bahan baku, memberikan pelatihan proses produksi, jasa konsultasi dan teknologi serta membangun outlet guna peningkatan pemasaran termasuk mengikut sertakan produk kain tenun ikat Inuh ke berbagai pameran.

Sejalan dengan bangkitnya kembali kain tenun ikat Inuh sebagai karya intelektual produk budaya yang kreatif, sekaligus untuk menghadapi kompetisi perdagangan lintas kawasan yang makin ketat, perlu diupayakan segera perlindungan HKI bagi produk kain tenun ikat Inuh, karena sangat dimungkinkan terjadinya pengalihan hak atas karya dan kreatifitas masyarakat yang telah terbukti mampu memberikan kesejahteraan bagi perajin dan masyarakat sekitarnya. ||Sumber: ulunlappung.blogspot.com, dedenrachman.blogdetik.com.[]

Bandar Lampung, Kota Tapis Berseri

Kota Bandar Lampung adalah ibu kota provinsi Lampung. Kota ini memiliki luas wilayah daratan 169,21 km² dan terbagi ke dalam 20 Kecamatan dan 126 Kelurahan dengan populasi penduduk 1.167.101 jiwa (berdasarkan data tahun 2014. Menurut jumlah penduduk Bandar Lampung merupakan kota terbesar ketiga di Pulau Sumatera setelah Medan dan Palembang. Secara geografis, kota ini menjadi pintu gerbang utama pulau Sumatera, tepatnya kurang lebih 165 km sebelah barat laut Jakarta.

Pada zaman kolonial Hindi Belanda, wilayah kota Bandar Lampung termasuk wilayah Onder Afdeling Telokbetong. Ibukota Onder Afdeling Telokbetong adalah Tanjungkarang, sementara Kota Telokbetong sendiri berkedudukan sebagai Ibukota Keresidenan Lampung. Kedua kota tersebut tidak termasuk ke dalam Marga Verband, melainkan berdiri sendiri dan dikepalai oleh seorang Asisten Demang yang tunduk kepada Hoof Van Plaatsleyk Bestuur selaku Kepala Onder Afdeling Telokbetong. Pada zaman pendudukan Jepang, kota Tanjungkarang-Telokbetong dijadikan shi (Kota) dibawah pimpinan seorang shichō (bangsa Jepang) dan dibantu oleh seorang fukushichō (bangsa Indonesia).

Tapis merupakan kerajinan khas Lampung yang juga kebanggaan masyarakat Lampung. Tapis adalah bentuk kain wanita yang berupa sarung yang terbuat dari tenun benang kapas dengan motif atau hiasan dari benang emas atau perak dengan cara membuatnya menggunakan sulam.

Dengan slogan yang terpampang di atas gapura di Bandar lampung yang berbunyi “Bandar Lampung Tapis Berseri” (Tertib, Aman, Patuh, Iman, Sejahtera, dan bersih, sehat , Rapih dan Indah) membawa nama kota ini menjadi kota besar terbersih.  Hal ini dibuktikan dengan penghargaan adipura kencana yang menobatkan kota bandar lampung menjadi kota besar terbersih pada tahun 1995 dan tahun 2009.

Selain itu banyak tempat wisata yang wajib dikunjungi apabila segang berada di kota Bandar Lampung, seperti Bumi Kedaton Resort, Lembah Hijau, Wira garden dan lain-lain.

 

Sulam Usus, Sulaman Khas Lampung

Selain memiliki kain tapis sebagai kerajinan khas Lampung, ternyata Lampung masih memiliki satu lagi kerajinan tangan dalam bentuk kain yang juga sangat terkenal disebut sebagai Sulam usus. Sulam usus adalah Sulaman yang berbahan baku kain satin berbentuk usus ayam dengan motif yang khas. Sulam Usus dirajut dengan benang emas dan adapula yang  disertai  dengan kaca dan uang  logam kuno.

Pada awalnya, sulam usus merupakan bagian dari pakaian adat pengantin wanita daerah Lampung, yang berfungsi sebagai penutup bagian dada (bebe) di atas balutan kain tapis. Selanjutnya, sulam usus dikreasikan sebagai baju, kebaya, atau gaun yang dipadu padankan dengan bawahan kain.

Sulam usus juga memiliki beragam model rancangan dan aksesoris. Selain memiliki motif klasik khas Lampung, kain Sulaman Usus ini banyak dicari oleh para wisatawan sebagai salah satu oleh-oleh khas Lampung.

Sulam Usus memiliki nilai jual yang tinggi sulaman ini banyak dipasarkan di daerah; Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Sedangkan pemasaran ke luar negeri mencakup negara ; Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Di dalam negeri nilai penjualan sulam usus sangat tinggi. Sulam usus dihargai dari Rp.70.000; hinggaRp.500.000; per buah. Dan tergantung dengan motifnya. Semakin sulit motifnya, maka akan semakin mahal harganya.

Selain motif dan bentuk yang klasik, sulam usus juga sangat halus. Maka tak heran jika sulam usus diminati banyak orang baik pasar dalam negeri ataupun mancanegara.

Ini Jenis Kain Tapis yang Umum di Lampung

KAIN Tapis memang tersebar hampir seluruh Lampung, namun antar daerah itu ada perbedaan motifnya. Berikut ini, jenis kain tapis yang umum digunakan masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin adalah :

Tapis Lampung dari Pesisir

•Tapis Inuh

•Tapis Cucuk Andak

•Tapis Semaka

•Tapis Kuning

•Tapis Cukkil

•Tapis Jinggu

•Tapis Paksi Pak

Tapis lampung dari Pubian Telu Suku

•Tapis Jung Sarat

•Tapis Balak

•Tapis Laut Linau

•Tapis Raja Medal

•Tapis Pucuk Rebung

•Tapis Cucuk Handak

•Tapis Tuho

•Tapis Sasap

•Tapis Lawok Silung

•Tapis Lawok Handak

Tapis Lampung dari Sungkai Way Kanan

•Tapis Jung Sarat

•Tapis Balak

•Tapis Pucuk Rebung

•Tapis Halom/Gabo

•Tapis Kaca

•Tapis Kuning

•Tapis Lawok Halom

•Tapis Tuha

•Tapis Raja Medal

•Tapis Lawok Silung

Tapis Lampung dari Tulang Bawang Mego Pak

•Tapis Dewosano

•Tapis Limar Sekebar

•Tapis Ratu Tulang Bawang

•Tapis Bintang Perak

•Tapis Limar Tunggal

•Tapis Sasab

•Tapis Kilap Turki

•Tapis Jung Sarat

•Tapis Kaco Mato di Lem

•Tapis Kibang

•Tapis Cukkil

•Tapis Cucuk Sutero

Tapis Lampung dari Abung Siwo Mego

•Tapis Rajo Tunggal

•Tapis Lawet Andak

•Tapis Lawet Silung

•Tapis Lawet Linau

•Tapis Jung Sarat

•Tapis Raja Medal

•Tapis Nyelem di Laut Timbul di Gunung

•Tapis Cucuk Andak

•Tapis Balak

•Tapis Pucuk Rebung

•Tapis Cucuk Semako

•Tapis Tuho

•Tapis Cucuk Agheng

•Tapis Gajah Mekhem

•Tapis Sasap

•Tapis Kuning

•Tapis Kaco

•Tapis Serdadu Baris

sumber: wikipedia

Agar Industri Tapis Lampung Tetap Berseri

Di kawasan Pasar Bambu Kuning, sedikitnya ada 30-an toko yang menjual berbagai jenis tapis dan produk turunnya seperti kopiah, tas, dompet, hiasan dinding hingga gantungan kunci. Harga yang ditawarkan pun relatif lebih murah dibanding harus ke butik atau gallery khusus tapis yang bisa dua hingga tiga kali lipat lebih mahal. Para penjual aneka jenis tapis, tapi lebih banyak jenis Pucuk Rebung, Mata Kibau dan Tenggelam di Laok Muncul di Gunung, itu menjajakan dengan harga bervariasi.

Harga selembar kain tapis di daerah itu bervariasi antara Rp 750 ribu hingga Rp 15 juta. Harga tergantung tingkat kerumitan dan jenis benang emas yang digunakan. Semakin rumit penyulaman dan banyak menggunakan benang emas, harga akan semakin tinggi. Sementara harga souvenir seperti dompet dijual bervariasi antara Rp 40 ribu – Rp 60 ribu, kopiah tapis Rp 35 ribu – Rp 175 ribu, dan gantungan kunci Rp 35 ribu – Rp 50 ribu.

Geliat bisnis aneka kerajinan Tapis itu dimulai pada awal tahun 1980-an. Di era itu, baru satu toko yang dimiliki Yuzbir, 75 tahun, menjual dan membeli tapis. Yuzbir hanya menjual tapis koleksi milik warga. Semakin tua dan terawat, pemilik Toko Ruwa Jurai itu bisa menghargai selembar tapis sangat mahal. “Tidak ada patokan harga. Dia minta berapa, saya menawar. Saat itu belum ada yang memproduksi kain tapis yang kemudian dijual bebas. Tapis masih dibuat untuk dipakai sendiri saat pernikahan,” kata Zulkifli Yuzbir, anak Yuzbir yang kini meneruskan usaha orang tuanya itu.

Pria kelahiran Padang itu mengaku kain tapis masih menjadi pemain utama bisnis kerajinan di Lampung. Kontribusi terhadap toko kerajinan dan batik khas Lampung bisa mencapai 30 persen dari item yang dijual. “Jumlah itu luar biasa mengingat kain tapis berbeda dengan kain songket yang bisa dipakai siapa saja. Kain tapis itu dipakai oleh kalangan dan event terbatas di masyarakat Lampung. Kuncinya pada perkembangan inovasi kain tapis itu sendiri,” ujarnya.

Peluang bisnis itu agaknya ditangkap oleh Aisyah Yakub, warga Natar Induk, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Dia membangun pusat kerajinan tapis dengan mempekerjakan puluhan orang. Bisnisnya sempat melambung seiring masyarakat Lampung yang mulai kehilangan koleksi kain tapis karena telah dijual ke kolektor. “Usahanya lalu redup karena tidak mendapat promosi dan bantuan pemerintah. Para pengrajin beralih profesi yang lebih cepat mendatangkan uang,” kata Nasrudin, salah seorang pengrajin di Desa Natar Induk, Kecamatan Natar, Lampung Selatan.

Sejak awal 2000-an, bengkel tapis yang berada di tepi Jalan Lintas Sumatera itu berhenti beroperasi. Para pengrajin dirumahkan. Suara 40-an alat tenun tradisional yang menghentak-hentak kini tak terdengar lagi. Bisnis Tapis benar-benar suram. “Penyebabnya, cara pandang para pengrajin. Kebutuhan hidup dan harga bahan baku tapis seperti benang emas dan  bahan dasar kain tenun melonjak seiring melejitnya kurs Dolar Amerika. Semua bahan baku diimpor dari India,” kata Nasrudin.

Harga benang emas berada pada kisaran Rp 125 ribu – Rp 150 ribu per gulungnya. Sementara harga selembar kain tenun untuk bahan dasar tapis melambung hingga Rp 90 ribu dari Rp 50 ribu sebelumnya. Padahal untuk membuat selembar kain tapis dibutuhkan dua hingga tiga gulung benang emas. “Di sisi lain, para pengrajin mematok upah cukup tinggi. Mereka minta per lembarnya Rp 800 ribu. Itu wajar karena selembar bisa dikerjakan selama dua hingga tiga bulan,” kata Raswan, salah seorang desainer kain tapis terkemuka di Lampung.

Raswan, 48 tahun, merupakan peneliti dan desainer tapis yang mendobrak kebekuan bisnis tapis. Dia menciptakan banyak motif yang lama mati dan sulit untuk diproduksi kembali. Misalnya, dia kembali mereproduksi kain Tapis Inuh dan Cucuk Andak, yang merupakan jenis kain tapis tertua di Lamung. Kedua jenis tapis itu nyaris punah karena tingkat kesulitan penyulaman yang begitu tinggi.

Untuk membuat tapis yang dikenal di masyarakat Lampung Pesisir, pengrajin harus menyulam kain dengan tanpa bantuan benang lain. Benang emas ditusuk langsung ke kain sehingga resiko benang putus dan keluar dari pola menjadi tantangan tersendiri. “Jarang sekali kedua jenis Tapis itu dikerjakan sangat rapih karena membutuhkan ketelitian cukup tinggi. Masyarakat kita dulu mampu melakukannya. Itu luar biasa,” kata pria bergelar adat Pangiran Setia.

Tapis, kata Raswan, bagi masyarakat Lampung sangat kental dengan filosofi hidup dan keyakinan. Diperkirakan Tapis sudah diproduksi masyarakat Lampung sejak Abad ke-2 Sebelum Masehi. Para gadis atau Muli Lampung, dulu menyulam selembar kain tapis bisa membutuhkan waktu empat tahun. “Biasanya dimulai saat berusia 12 tahun. Selembar kain yang diciptakannya itulah yang akan ia kenakan saat menikah kelak,” katanya.

Meski melewati berbagai jaman mulai dari Animisme dan Dinamisme, era Hindu dan Budha hingga budaya Islam, motif tapis tidak banyak berubah. Di massa pra sejarah dan era Hindu dan Budha, Tapis lebih banyak digunakan untuk upacara persembahan. “Sementara pada era Islam, fungsinya berubah menjadi pelengkap upacara adat. Sehingga jenis tapis yang dikenakan oleh kaum perempuan saat pesta adat menentukan tingkat sosial seseorang di tengah komunitasnya,” ujarnya.

Motif Tapis mempunyai dua kutub utama dengan perbedaan yang mencolok seperti dua kelompok masyarakat di Lampung, Saibatin (Lampung Pesisir, Peminggir) dan Pepadun (pedalaman). Kedua klan itu kemudian lebih dikenal dengan sebutan Khua Jurai (dua keturunan). Orang Lampung Saibatin lebih menyukai motive yang berhubungan dengan laut seperti kapal Nabi Nuh (Tapis Inuh), jung, kepiting, cumi dan ikan karena hidup dan bersahabat dengan laut. Sementara masyarakat Pepadun yang berada di pedalaman lebih menyukai kehidupan  naga (Tapis Gala Naga), gajah (Tapis Gajah Mekhem) dan sebaginya.

Diperkirakan ada sekitar 300-an motif tapis yang berkembang di tengah masyarakat Lampung di massa lalu. Saat ini, para pengrajin baru mampu mereproduksi tidak lebih dari 50 motif dan jenis tapis. “Ketelatenan, kesabaran dan jiwa berkesenian yang tingga membuat nenek moyang kami mampu menciptakan karya seni yang tinggi.  Mereka rela menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk selembar kain tapis,” katanya.

Meredupnya bisnis tapis, kata Raswan, lebih disebabkan oleh sumber daya manusia dan pandangan soal bisnis. Banyak pengrajin yang beralih ke profesi lain karena sangat sulit menggantungkan hidup dengan hanya menjadi penyulam tapis. “Di massa lalu perempuan menyulam karena mempunyai harapan dan keyakinan yang sangat tinggi sementara saat ini hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup atau ekonomis,” katanya.

Perkembangan bisnis tapis yang kemudian diaplikasikan ke berbagai bentuk kerajinan tangan membuat gairah “menapis” kembali membuncah. Selembar kain berukuran 1,6 meter kali 1,2 meter bisa menghasilkan berbagai kerajinan dengan tingkat perputran uang yang cepat. “Itu sangat positif di samping mengancam nilai keluhuran filosofi kain tapis itu sendiri. Bisnis boleh tapi tidak lantas menjadi murahan. Karya seni harus tetap dijaga,” katanya.

Upaya membangkitkan kembali industri tapis agar dikenal ke masyarakat luas seperti manca negara juga dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Lampung. Setiap perhelatan Festival Krakatau yang sudah berlangsung ke dua puluh tiga kali, aneka karya seni kain tapis kerap dipamerkan. Di agenda mengenang letusan Gunung Krakatau itu, tapis selalu menjadi bagian penting dengan digelarnya Tapis Carnival.