Posts

Potret Temu Alumni Teknik Lingkungan Universitas Malahayati

Acara temu alumni Teknik Lingkungan diadakan pada 30 Maret 2018. Acara ini bertujuan untuk mengaktifkan kembali IKA alumni Teknik Lingkungan yang telah lama vakum dan mempererat tali silaturahmi sesama alumni. Acara ini berlansung di cafe Wiseman yang berada didaerah Pahoman dan di hadiri oleh perwakilan alumni dari angkatan 1994 sampai angkatan 2013.

Berikut potret temu alumni teknik lingkungan:

 

|Khairan.

Acara Temu Alumni Teknik Lingkungan Malahayati dI Cafe Wiseman Pahoman

ACARA temu alumni Teknik Lingkungan Universitas Malahayati diselenggarakan di Cafe Wiseman Pahoman pada Jum’at, 30 Maret 2018. Acara ini dihadiri oleh beberapa perwakilan alumni teknik lingkungan dari angkatan 1994 sampai angkatan 2013. Silaturrahmi sekaligus rapat reorgansasi IKA (Ikatan Alumni) ini berlansung lancar dari pukul 14.00 – 17.00 WIB.

Acara temu alumni ini bertujuan untuk mengaktifkan kembali organisasi IKA (Ikatan Alumni Teknik Lingkungan) yang telah lama vakum dan untuk mempererat tali silaturrahmi sesama alumni. Acara ini membahas tentang reorganisasi dan peninjauan opsi untuk pelaksaan temu alumni  yang akan dilaksanakan pada 01 Mei 2018 atau 20 Juni 2018. Persetujuan jadwal dan tempat akan divoting dari suara alumni terbanyak melalui whatshap. “Alumni memiliki peran penting bagi perkembangan jurusan Teknik Lingkungan ke depannya jadi harus tetap berkonstribusi untuk kampus”, kata Natalina selaku dosen serta alumni Teknik Lingkungan.

Harapan Natalina, “Semoga organisasi IKA ini terus berkonstribusi untuk kelancaran dan perkembangan jurusan Teknik Lingkungan Universitas Malahayati”.[]

Potret Suasana Liburan Nezla Ke Kota Tua

SEORANG Mahasiswi Teknik Lingkungan asal Banten, Nezla Anisa Ningrum ingin menceritakan pengalaman liburan panjang semester genapnya ke Kota Tua, Jakarta. Kali ini aku berangkat bersama teman ku, destinasi yang kita ambil adalah Kota Tua dan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Namun yang akan dibahas kali ini adalah destinasi Kota Tua. Sebuah Peninggalan Belanda yakni Kota tua atau Oud Batavia adalah kawasan kecil yang memiliki luas 1300 m2, melintasi utara dan barat Jakarta, yang sarat dengan peninggalan penjajahan Belanda. Gedung-gedung tua dimanfaatkan sebagai museum dan resto.

Kita berangkat dimulai dari Merak, Banten pukul 10.30. Kita melewati jalan tol menuju Jakarta memerlukan sekitar dua setengah jam untuk sampai ke tujuan. Tidak ada hambatan macet saat perjalanan.  Memasuki wilayah kota tua, pemandangan eksotis mulai terasa dari bangunan-bangunan tua nan kokoh peninggalan Belanda yang dibangun sekitar abad ke-19 dan 20. Kita memasuki Museum Sejarah Jakarta. Bangunan besar bergaya Barok ini lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah. Banyak koleksi pameran yang tidak boleh disentuh, apalagi diduduki atau ditiduri. Di dalamnya terdapat perabotan tua, lukisan, patung, batu-batu. Setelah lelah berkeliling lalu kita ke taman belakang. Tak lupa juga kita pun berkeliling di halaman Museum Sejarah Jakarta menggunakan sepedah.

Berikut Potret saat berlibur ke destinasi Kota Tua Jakarta:

IMG_20160714_133440 IMG_20160714_140347 IMG_20160714_144127IMG_20160714_134529 (1)IMG_20160714_145542IMG_20160714_143307IMG_20160714_143127

Potret Saat Berkunjung Ke Kota Tua Jakarta

SEORANG Mahasiswi Teknik Lingkungan asal Banten, Nezla Anisa Ningrum ingin menceritakan pengalaman liburan panjang semester genapnya ke Kota Tua, Jakarta. Kali ini aku berangkat bersama teman ku, destinasi yang kita ambil adalah Kota Tua dan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Namun yang akan dibahas kali ini adalah destinasi Kota Tua. Sebuah Peninggalan Belanda yakni Kota tua atau Oud Batavia adalah kawasan kecil yang memiliki luas 1300 m2, melintasi utara dan barat Jakarta, yang sarat dengan peninggalan penjajahan Belanda. Gedung-gedung tua dimanfaatkan sebagai museum dan resto.

057895600_1458186808-20160317-Bersepeda-di-Kota-Tua-Fatahillah-Jakarta-FRS1IMG_20160714_133307IMG_20160714_133313

Kita memasuki Museum Sejarah Jakarta. Bangunan besar bergaya Barok ini lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah. Banyak koleksi pameran yang tidak boleh disentuh, apalagi diduduki atau ditiduri. Di dalamnya terdapat perabotan tua, lukisan, patung, batu-batu.

sejarah-makassar-di-gedung-bergaya-eropa-005-yacob-billioctaOLYMPUS DIGITAL CAMERAIMG_20160714_135927IMG_20160714_135948IMG_20160714_140025IMG_20160714_135031IMG_20160714_134702IMG_20160714_134442musuem-fatahillah-01_large

Setelah lelah berkeliling lalu kita ke taman belakang. Di sana kita dapat melihat penjara tua bawah tanah tempat di mana Pangeran Diponegoro pernah ditahan. Kita pun dapat duduk santai di bawah pohon rimbun, menikmati patung dewa Hermes yang merupakan lambang keberuntungan bagi kaum pedagang, sekaligus Dewa Pengirim Berita. Patung ini adalah tanda terima kasih atas kesempatan untuk berdagang di Hindia Belanda masa dahulu.

IMG_20160714_140214IMG_20160714_140216100_4442

 

Pengalaman Berlibur Nezla Sekaligus Mengenal Sejarah

JUMPA lagi di pengalaman Nezla selanjutnya, Nezla Anisa Ningrum Mahasiswa Teknik Lingkungan asal Banten akan menceritakan pengalaman liburan panjang semester genapnya ke Kota Tua, Jakarta. Kali ini aku berangkat bersama teman ku, destinasi yang kita ambil adalah Kota Tua dan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Namun yang akan dibahas kali ini adalah destinasi Kota Tua. Sebuah Peninggalan Belanda yakni Kota tua atau Oud Batavia adalah kawasan kecil yang memiliki luas 1300 m2, melintasi utara dan barat Jakarta, yang sarat dengan peninggalan penjajahan Belanda. Gedung-gedung tua dimanfaatkan sebagai museum dan resto.

Kita berangkat dimulai dari Merak, Banten pukul 10.30. Kita melewati jalan tol menuju Jakarta memerlukan sekitar dua setengah jam untuk sampai ke tujuan. Tidak ada hambatan macet saat perjalanan.  Memasuki wilayah kota tua, pemandangan eksotis mulai terasa dari bangunan-bangunan tua nan kokoh peninggalan Belanda yang dibangun sekitar abad ke-19 dan 20. Taman Fatahillah, taman ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua yang sekarang digunakan sebagai Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, juga Kantor Pos Indonesia. Berdiri juga sebuah restoran, Café Batavia, yang menjadi favorit untuk melepas penat setelah menjelajah kota tua.

Kita memasuki Museum Sejarah Jakarta. Bangunan besar bergaya Barok ini lebih dikenal dengan sebutan Museum Fatahillah. Banyak koleksi pameran yang tidak boleh disentuh, apalagi diduduki atau ditiduri. Di dalamnya terdapat perabotan tua, lukisan, patung, batu-batu. Setelah lelah berkeliling lalu kita ke taman belakang. Di sana kita dapat melihat penjara tua bawah tanah tempat di mana Pangeran Diponegoro pernah ditahan. Kita pun dapat duduk santai di bawah pohon rimbun, menikmati patung dewa Hermes yang merupakan lambang keberuntungan bagi kaum pedagang, sekaligus Dewa Pengirim Berita. Patung ini adalah tanda terima kasih atas kesempatan untuk berdagang di Hindia Belanda masa dahulu.

Disepanjang liburan hari raya sekaligus liburan semester genap, Taman Fatahillah tidak hanya dipadati pengunjung, tetapi juga penjaja makanan dan minuman ringan, tempat penyewaan sepeda ontel, serta para seniman yang mempertunjukkan atraksi. Kalian dapat menyewa sepeda untuk dapat berkeliling disekitaran kota tua.[]

Destinasi Kampung Lamteuba Sebagai Tempat Wisata Aceh

KEINDAHAN tiada dua, bagaikan lukisan dari Sang Maharaja begitulah destinasi kampung Lamteuba. Paparan sawah bak ambal yang tergerai lepas di alam bebas. Suasana pengunungan dan alam yang masih asri menambah keindahan tempat ini. Suara air yang mengalir di sungai Lamteuba membuat perasaan tenang dan makin terhanyut untuk menikmati keindahan kampung ini. Air yang begitu jernih serta segar siap menghapus dahaga dan penat sehari-hari para pendatang yang berkunjung ke kampung Lamteuba.

Kampung Lamteuba merupakan salah satu kampung yang terletak di kecamatan Seulimeum Aceh Besar. Berdasarkan cerita dari tetua kampung ini mulanya adalah sebuah danau besar yang terletak dikaki gunung Seulawah Agam, danau tersebut kemudian dibelah menjadi dua bagian oleh ulama Aceh Putromerehom. Belahan pertama dari danau itu diberi nama Kuta cot puteng dan belahan danau yang kedua ini kemudian dibuat sebuah lubang (sumur) dengan Lam Tabai oleh Tuan Ta Hasan bersama ulama Aceh lainnya.  kemudian danau tersebut mengering dan menjadi sebuah kampung Lamteuba.

Sedangkan sumur tersebut sampai saat ini masih ada dan di jadikan sebagai tempat wisata yang dikenal dengan nama Mon Tuan Ta Hasan. Mon Tuan Ta Hasan merupakan tempat pemandian bagi kaum perempuan di kampung lamteuba. Selain Mon Tuan Ta Hasan, kampung ini juga memiliki banyak wisata alam diantaranya pemandian air panas, sungai dengan lumpur hitam dan keindahan gunung Selawah dengan panorama alam yang tiada habisnya.

555f3e720423bd1f158b456a

Wisata air panas lamteuba

Pemandian air panas di kampung lamteuba ini adalah pilihan yang sangat tepat untuk berlibur dan merelaksasi tubuh dari keletihan dan air panas ini juga berfungsi sebagai obat. Disinilah anda bisa berendam sambil menikmati pemandangan alam yang begitu indah.

Selain itu, bagi Anda yang senang dunia fotografi atau hobi berfoto, disinilah salah satu tempat yang cocok bagi Anda. Panorama dan pemandangan ini berkonfigurasi pengunungan, persawahan dan sungai. Anda juga bisa camping fun bersama teman dan keluarga di gunung Selawah. Anda juga bisa melihat keunikan dari rumah panggung/ rumah adat Aceh yang dijadikan sebagai tempat tinggal oleh beberapa penduduk kampung lamteuba. Rumah ini didesain berbentuk panggung agar mudah saat ingin pindah rumah.

Berikut beberapa potret tempat wisata dan keindahan kampung lamteuba :

Kolam_Air_Panas_3

Kolam Pemandian air panas Lamteuba

gambar-4-rawa-gambut-indonesia-sumber-840x420

Hutan lamteuba yang begitu asri

pemandian-air-panas-ie-suum-aceh-besar_2

Pemandangan alam dari kolam pemandian air panas Lamteuba

Sungai dengan lumpur hitam

Wisata Sungai lumpur hitam, lumpur yang diyakini bermanfaat sebagai obat

Beginilah destinasi kampung Lamteuba di Aceh Besar sebagai tempat wisata alam yang sangat cocok untuk dikunjungi. |Sumber: wikipedia.com dan dikutip dari berbagai sumber

Kesan Menantang Deska Saat Perjalanan Pulang Ke Jambi

KINI jadwal perkuliahan telah usai, waktunya untuk menghadapi liburan panjang semester genap. Seorang mahasiwa Teknik Lingkungan Universitas Malahayati angkatan 2013, Deska Saputra. Pria yang familiar disapa deska, asal Kerinci, Provinsi Jambi yang juga ingin berbagi pengalaman nya saat mudik.

Deska memulai perjalananya pada Kamis, 30 Juni 2016. Menaiki sebuah travel. Panas terik menyengat hingga dingin merasuk saat sampai di kota Jambi pada Jumat pukul 05 pagi. Menurut deska terdapat sesuatu hal yang menantang dalam perjalanannya yakni melewati lintas Sumatra yang jalannya termasuk ekstrem karena melewati hutan dan perbukitan.

Ternyata sesampainya di kota Jambi, tidak ada mobil dengan jadwal keberangkatan pagi. Terpaksa deska harus menunggu jadwal keberangkatan malam dengan beristirahat di kediaman salah seorang teman. Pengalaman dari kota Jambi ke kerinci memang tidak banyak, terlebih karena perjalanan malam yang hanya terlihat hanyalah langit nan gelap gulita ditemani oleh sepi yang membeku.

Sesampainya dirumah pada Sabtu, 02 Juli 2016 pukul 05 pagi. Lelah dan capek seketika hilang saat sudah berada di rumah. Senang rasanya sudah bertemu sanak keluarga dan bersyukur dapat sampai dengan selamat.

“Siapapun yang ingin melalukan perjalanan mudik, diharapkan untuk menjaga barang-barang berharga. Siapkan makanan dan minuman, karena kita tidak tau kondisi dijalan akan seperti apa,” ujar Deska.[]

Kesan Nezla Saat Mudik Mengesankan Ke Banten

TAK terasa kini sudah dipenghujung Bulan Ramadhan sekaligus awal dari liburan panjang semester genap. Hati ini mulai tak sabar untuk memulai liburan bersama keluarga kecil di kediaman rumah. Aku, Nezla Anisa Ningrum. Salah satu mahasiswi Teknik Lingkungan Universitas Malahayati asal Banten, ingin membagikan sedikit pengalaman saat perjalanan pulang.

Terik sang surya mulai menyinari kota Bandar Lampung. Mulai teramat panas dan haus meyengat. Berpuasa pun tak menjadi suatu halangan untuk tetap pergi di siang hari nan terik. Kini aku pulang bersama Wawan, begitu nama akrabnya. Salah satu mahasiswa asal Banten dari Fakultas Kesehatan Masyarakat yang juga berkuliah di kampus yang sama. Dengan mengendarai sepedah motor, berpakaian lengan panjang dan helm menjadi suatu keharusan saat berkendara jauh.

Saat perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni, kita menyempatkan diri untuk beristirahat dan berbuka puasa di salah satu rumah kawan di Kalianda tepatnya di belakang Gunung Rajabasa. Setelah kami berbuka puasa, Terlihat orang rumah tengah sibuk mengeprek cengkeh, begitu bahasanya. Yakni memisahkan cengkeh dari batang dan daunnya. Cengkeh merupakan hasil sumber daya alam khas lampung. Cengkeh dapat diolah untuk bahan membuat rokok dan bumbu dalam suatu masakan.

Tak terasa setelah membantu, kita pun melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Bakauheni. Ditemani gelapnya malam sepanjang jalan, taburan bintang dilangit dan angin yang terus menerpa kita. Hingga sesampainya dikapal, kita pun dapat beristirahat dibawah atap langit bertabur bintang, tenang dalam alunan ombak senada. Dan kini lelah pun hilang terbawa oleh hembusan angin laut.

Semua lelah dan keringat akan terbayar ketika kita sudah bertemu sanak keluarga di rumah. Peluk cium keluarga ternyata dapat memulihkan energi dalam tubuh. Bersyukur dapat kembali dengan selamat dan bertatap muka. Senyum melebar dari parasnya terlihat sudah merasa lega karena mengkhawatirkan kepulangan anaknya yang jauh merantau.

Aku berharap, untuk selalu menjaga tubuh tetap fit saat berkendara jauh saat perjalanan mudik. Jika lelah istirahat dan pilih kendaraan yang aman saat mudik. Gunakan pakaian dan peralatan untuk menjaga kesehatan karena cuaca dan terhindar dari bahaya. Yang wajib diingat adalah jangan lupa berdoa sebelum berkendara dan bersyukur jika selamat sampai tujuan.[]

C360_2016-06-25-17-45-17-499 C360_2016-06-25-17-45-08-197 C360_2016-06-25-17-45-34-135

Potret Suasana Saat Pembagian Takjil Di Lampu Merah PKOR Way Halim (Part 2)

HIMPUNAN Mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Malahayati gelar Pembagian Takjil. Pembagian takjil berupa kurma dilaksanakan di Lampu Merah PKOR Way Halim pada Jumat 24 Juni 2016. Pembagian takjil dilakukan secara ramdom yang sedang melintasi lampu merah PKOR Way Halim.

Pembagian ini dilakukan oleh bupati periode 2015-2016, bupati 2016-2017, dan beberapa mahasiswa/i teknik lingkungan angkatan 2013, 2014, dan 2015. Semua terlihat begitu semangat membagikan takjil. Acara ini langsung diketuai oleh mahasiswa teknik lingkungan angkatan 2014, Muhammad Sidiq Al Fikri.

Berikut potret suasana saat pembagian takjil di lampu merah PKOR Way Halim:

IMG_9955 IMG_9918 IMG_9921 IMG_9922 IMG_9924 IMG_9931 IMG_9935 IMG_9936 IMG_9937 IMG_9947 IMG_9951

Potret Suasana Buka Puasa Bersama HMTL di PKOR Way Halim

HIMPUNAN Mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan Universitas Malahayati gelar Pembagian Takjil. Pembagian takjil berupa kurma dilaksanakan di Lampu Merah PKOR Way Halim pada Jumat 24 Juni 2016. Pembagian takjil dilakukan secara ramdom yang sedang melintasi lampu merah PKOR Way Halim.

Pembagian ini dilakukan oleh bupati periode 2015-2016, bupati 2016-2017, dan beberapa mahasiswa/i teknik lingkungan angkatan 2013, 2014, dan 2015. Semua terlihat begitu semangat membagikan takjil. Acara ini langsung diketuai oleh mahasiswa teknik lingkungan angkatan 2014, Muhammad Sidiq Al Fikri. Seusai pembagian takjil, HMTL melajutkan untuk buka puasa bersama di PKOR Way Halim.

Berikut potret suasana buka puasa bersama HMTL di PKOR Way Halim:

IMG_9996 IMG_9973 IMG_9974 IMG_9975 IMG_9978 IMG_9979 IMG_9982 IMG_9987 IMG_9989 IMG_9991 IMG_9992