Posts

Mengenal Pusat Polisi Militer Tentara Nasional Indonesia, di Hari POM TNI

Ayo mengenal lebih dekat tentang Pusat Polisi Militer TNI di hari peringatannya yang jatuh setiap tanggal 11Mei. Pusat Polisi Militer TNI atau biasa di singkat (Puspom TNI) merupakan salah satu fungsi teknis militer umum TNI yang berperan menyelenggarakan bantuan administrasi kepada satuan-satuan jajaran TNI AD, TNI AL dan TNI AU sebagai perwujudan dan pembinaan melalui penyelenggaraan fungsi-fungsi Polisi Militer.

POM TNI berada langsung di bawah komando Panglima TNI. Sebelumnya Polisi Militer hanya berada di tiap-tiap kesatuan TNI, seperti Polisi Militer Angkatan Darat (POMAD) untuk TNI AD, Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL) untuk TNI AL dan Polisi Militer Angkatan Udara (POMAU) untuk TNI AU. Saat ini, POM TNI menjadi otoritas pengawasan tertinggi dalam struktur TNI.

Pada tanggal 3 Mei 2015 secara resmi Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko merombak struktur satuan Polisi Militer dari Staf Khusus POM TNI menjadi POM TNI sebagai upaya meningkatkan tata tertib dan penegakan hukum di lingkungan TNI.

Pada tahun 2004, Panglima TNI saat itu, Jenderal TNI Endriartono Sutarto mengeluarkan surat keputusan bernomor KEP/1/III/2004 tentang penyelenggaraan fungsi kepolisian militer di lingkungan TNI, yang dilaksanakan oleh masing-masing angkatan, yaitu Puspomad, Puspomal, dan Puspomau.

Polisi Militer Angkatan Darat (POMAD) merupakan salah satu fungsi teknis militer umum TNI AD dan bagian dari Puspom TNI yang berperan menyelenggarakan bantuan administrasi kepada satuan-satuan jajaran TNI AD sebagai perwujudan dan pembinaan melalui penyelenggaraan fungsi-fungsi Polisi Militer.

Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL) merupakan salah satu fungsi teknis militer umum TNI AL dan bagian dari Puspom TNI yang berperan menyelenggarakan bantuan administrasi kepada satuan-satuan jajaran TNI Angkatan Laut sebagai perwujudan dan pembinaan melalui penyelenggaraan fungsi-fungsi Polisi Militer.

Polisi Militer Angkatan Udara (POMAU) merupakan salah satu fungsi teknis militer umum TNI AU dan bagian dari Puspom TNIyang berperan menyelenggarakan bantuan administrasi kepada satuan-satuan jajaran TNI AU sebagai perwujudan dan pembinaan melalui penyelenggaraan fungsi-fungsi Polisi Militer. |sumber: id.wikipedia.org

Universitas Malahayati Ikut Berduka Atas Musibah Helikopter TNI Jatuh di Poso

Kapten Corps Kesehatan Militer (CKM) dr Yanto yang meninggal dalam kecelakaan helikopter TNI AD di Poso meninggalkan istri yang sedang hamil enam bulan. Yanto diketahui baru menikah delapan bulan lalu dengan Isyana Satya Putri. Saat ini istrinya sedang mengandung anak pertama.

IMG_1670Kapten Yanto merupakan dokter spesialis tulang dan salah satu korban dari 13 korban lainnya atas jatuhnya helikopter TNI AD di Poso, Sulawesi Tengah, sekira pukul 17.55 Wita pada, Minggu (20/3/2016). Kapten Yanto meninggalkan istri bernama Isyana Satya Putri yang kini tengah hamil lima bulan.

Rektor Universitas Malahayati, Dr Muhammad Kadafi SH MH, menyampaikan dukacita yang mendalam atas meninggalnya Kapten CKM dr Yanto. Kadokes Korem Poso ini, adalah salah seorang korban jatuhnya helikopter TNI di Poso, Sulawesi Tengah. “Kapten Yanto adalah salah satu alumni terbaik Universitas Malahayati, kata Rektor Kadafi. Karena itu, seluruh civitas akademika Universitas Malahayati ikut berbelasungkawa atas musibah ini.

“Kami sangat merasa kehilangan. Saya atas nama Universitas Malahayati menyampaikan dukacita, kita berharap keluarga yang ditinggalkannya bisa tabah menghadapi cobaan ini. Semoga beliau juga mendapat tempat yang layak di sisi Allah SWT,” kata Kadafi.

Yanto adalah salah seorang alumni Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. Menurut dr Dahlan Gunawan, dokter Yanto seorang yang cerdas, ramah, dan pandai bergaul. []

Mengenang Pertempuran Ambarawa di Hari Juang Kartika

Setiap 15 Desember diperingati sebagai Hari Juang Kartika TNI Angkatan Darat sebelumnya bernama Hari Infanteri. Untuk mengenang Pertempuran Ambarawa berikut sejarah pertempuran Ambarawa seperti dikutip wikipedia.org.

Pada 20 Oktober 1945, tentara Sekutu dan NICA di bawah pimpinan Brigadir Bethell mendarat di Semarang dengan maksud mengurus tawanan perang dan tentara Jepang yang berada di Jawa Tengah. Mereka disambut baik, Gubernur Jawa Tengah Mr Wongsonegoro menyepakati akan menyediakan bahan makanan dan keperluan lain bagi kelancaran tugas mereka, sedangkan Sekutu berjanji tidak akan mengganggu kedaulatan Republik Indonesia.

Namun, ketika pasukan Sekutu dan NICA sampai di Ambarawa dan Magelang untuk membebaskan para tawanan tentara Belanda, para tawanan tersebut justru dipersenjatai sehingga timbul Insiden bersenjata di kota Magelang. Di Magelang, tentara Sekutu bertindak layaknya penguasa dan mencoba melucuti Tentara Keamanan Rakyat dan membuat kekacauan. Tidak mau berdiam diri TKR Resimen Magelang pimpinan Letkol. M. Sarbini membalas tindakan tersebut dengan mengepung tentara Sekutu dari segala penjuru. Namun mereka selamat dari kehancuran berkat campur tangan Presiden Soekarno yang berhasil menenangkan suasana. Secara diam-diam pasukan Sekutu meninggalkan Kota Magelang menuju ke benteng Ambarawa, Dan Segera dikejar oleh Resimen Kedu Tengah di bawah pimpinan Letkol. M. Sarbini. Tentara Sekutu tertahan di Desa Jambu karena dihadang oleh pasukan Angkatan Muda di bawah pimpinan Oni Sastrodihardjo yang diperkuat oleh pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta.

Tentara Sekutu kembali dihadang oleh Batalyon I Soerjosoempeno di Ngipik. Pada saat pengunduran, tentara Sekutu mencoba menduduki dua desa di sekitar Ambarawa. Pasukan Indonesia di bawah pimpinan Letkol. Isdiman berusaha membebaskan kedua desa tersebut, namun ia gugur terlebih dahulu. Sejak gugurnya Letkol. Isdiman, Komandan Divisi V Banyumas, Kol. Soedirman merasa kehilangan seorang perwira terbaiknya dan ia langsung turun ke lapangan untuk memimpin pertempuran. Kehadiran Kol. Soedirman memberikan napas baru kepada pasukan-pasukan RI. Koordinasi diadakan di antara komando-komando sektor dan pengepungan terhadap musuh semakin ketat. Siasat yang diterapkan adalah serangan pendadakan serentak di semua sektor. Bala bantuan terus mengalir dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto, Magelang, Semarang, dan lain-lain.

Ketika matahari mulai terbit pada 23 November 1945, mulailah pertempuran dengan pasukan Sekutu yang bertahan di kompleks gereja dan kerkhop Belanda di Jl. Margo Agoeng. Tentara Sekutu mengerahkan tawanan-tawanan Jepang dengan diperkuat tanknya, menyusup ke tempat kedudukan Indonesia dari arah belakang, karena itu pasukan Indonesia pindah ke Bedono. Pasukan Indonesia terdiri dari Yon. Imam Adrongi, Yon. Soeharto dan Yon. Soegeng.

Pada 11 Desember 1945, Kol. Soedirman mengadakan rapat dengan para Komandan Sektor TKR dan Laskar. Pada 12 Desember 1945 jam 04.30 pagi, serangan mulai dilancarkan. Pembukaan serangan dimulai dari tembakan mitraliur terlebih dahulu, kemudian disusul oleh penembak-penembak karaben. Pertempuran berkobar di Ambarawa. Satu setengah jam kemudian, jalan raya Semarang-Ambarawa dikuasai oleh kesatuan-kesatuan TKR. Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit. Kol. Soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. Suplai dan komunikasi dengan pasukan induknya diputus sama sekali. Setelah bertempur selama 4 hari, pada tanggal 15 Desember 1945 pertempuran berakhir dan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dan Sekutu dibuat mundur ke Semarang.

Didirikannya Monumen Palagan Ambarawa menjadi kenangan atas Kemenangan pertempuran inidan diperingatinya Hari Jadi TNI Angkatan Darat atau Hari Juang Kartika setiap 15 Desember.