Posts

Ini Kata Orang Tua Wisudawan Tentang Prosesi Sungkeman

Sebanyak 721 Wisudawan/i melakukan sungkem kepada orangtua. Sungkem merupakan tradisi yang dilakukan setiap wisuda di  Universitas Malahayati. Prosesi sakral ini berlangsung di Gedung Graha Bintang, Sabtu 05 Maret 2016.

Prosesi sakral ini merupakan bentuk rasa terima kasih mahasiswa terhadap orang tua yang sebenarnya takkan bisa terbalas. Hal ini bertujuan untuk mengajarkan mahasiswa agar terus berterima kasih kepada orang yang sangat berjasa.

Rohimah, Salah satu orangtua mahasiswi ini mengatakan kekagumannya dengan prosesi sungkem tersebut. “Saya memiliki 4 anak semuanya sudah wisuda, tapi hanya di Malahayati yang memiliki prosesei sungkem,” ujar Rohimah.

Ibu dari Partini Eka putri, wisudawati D4 Kebidanan ini merasa terharu kala putrinya melakukan prosesi sungkem sembari berterima kasih dan memohon restu agar kedepannya ia tidak mengalami kesulitan. “Terharu sekali waktu anak saya Eka sungkeman, Sedih bahagia juga iya,” ujar Rohimah.

Tradisi Sebambangan pada Masyarakat Lampung

SEBAMBANGAN sering kali disalah artikan dengan istilah “Kawin Lari”. Sehingga citra adat lampung ini menjadi kurang baik dimata masyarakat diluar suku lampung yang jelas kurang memahami makna sesungguhnya dari arti adat Sebambangan.

Sebambangan atau Larian adalah adat Lampung yang mengatur pelarian gadis oleh bujang ke rumah kepala adat untuk meminta persetujuan dari orang tua si gadis, melalui musyawarah adat antara kepala adat dengan kedua orang tua bujang dan gadis, sehingga diambil kesepakatan dan persetujuan antara kedua orang tua tersebut. Ini merupakan tradisi di masyarakat asli Lampung, budaya yang sudah mengakar sejak jaman nenek moyang Pepadun dan Saibatin. Kendati demikian sebambangan ini pun akan berujung pernikahan sebagaimana biasa jika kedua pihak keluarga menyetujuinya. Pihak laki-laki juga tetap memberikan mahar atau pemberian kepada pihak perempuan.

Namun disejumlah daerah Lampung saat ini Sebambangan sudah jarang dilakukan, tetapi dibeberapa daerah seperti Kabupaten Lampung Utara, Lampung Timur, Lampung Tengah, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat dan Way Kanan masih dilakukan, hampir sebagian besar berada di wilayah Lampung Pepadun.

Beberapa proses setelah pasangan muda-mudi melakukan Sebambangan biasa di sebut dalam bahasa Lampungnya Rasan Sanak perkawinan rasan sanak ini terjadi atas kehendak kedua muda-mudi (muli-meghanai) dengan cara berlarian (sebambangan) dimana si gadis dibawa oleh pihak bujang kepada adatnya, kemudian diselesaikan dengan perundingan damai diantara kedua belah pihak. Perbuatan mereka ini disebut “mulei ngelakai”. Apabila gadis yang pergi berlarian atas kehendak sendiri maka disebut “cakak lakai/ nakat”.

Dalam acara pelarian ini terjadi perbuatan melarikan dan untuk si gadis dipaksa lari bukan atas persetujuannya, perbuatan ini disebut “Tunggang” atau “ditangkep”. Perbuatan itu merupakan sebuah pelanggaran muda-mudi dan dapat berakibat dikenakan hukuman secara adat atau denda. Tetapi pada umumnya dapat diselesaikan dengan cara damai oleh para penyimbang kedua belah pihak.

Tata cara adat berlarian sampai dengan penyelesaiannya adalah sebagai berikut:

  • Tengepik
  • Ngattak Pengunduran Senjato atau Ngattak Salah
  • Bepadau atau Bebalah
  • Manjau Mengiyan dan Sujud
  • Peggadew Rasan dan Cuak Mengan

Penjelasan:

Tengepik
Tengepik artinya peninggalan, yaitu benda sebagai tanda pemberitahuan kepada sigadis. Seorang gadis yang melakukan berlarian, biasanya meninggalkan tanda tengepik, yaitu berupa surat dan sejumlah uang. Setelah si gadis sampai ditempat keluarga pemuda, maka orang tua atau keluarga si bujang segera melaporkan kepada penyimbangnya.

Penyimbang segera mengadakan musyawarah menyanak untuk menunjuk utusan yang akan menyampaikan kesalahan kepada keluarga si gadis tersebut “Ngattak Pengunduran Senjato atau Ngattak Salah”.

Ngattak Pengunduran Senjato atau Ngattak Salah
Pengunduran Senjato atau Tali Pengunduran atau juga disebut Pengattak Salah adalah tindakan yang dilakukan pihak kerabat bujang yang melarikan gadis dengan mengirim utusan dengan membawa senjata (keris) adat dan menyampaikan kepada kepala adat pihak gadis.

Ngattak Pengunduran Senjato ini harus dilakukan dalam waktu 1×24 jam (bila jarak dekat) dan 3×24 jam dalam jarak jauh atau diluar kota. Pengunduran Senjato harus diterima oleh kepala adat gadis dan segera memberitahukan keluarga gadis serta menyanak wareinya, bahwa anak gadisnya telah berada ditangan kepala adat pihak bujang. Senjata punduk atau keris ditinggalkan ditempat keluarga gadis dan senjata ini akan dikembalikan apabila terdapat kesepakatan antara kedua belah pihak.

Bepadu atau Bebalah
Biasanya setelah pengunduran senjato disampaikan, beberapa orang penyimbang dan kerabat dari pihak bujang datang kepada pihak keluarga gadis atau penyimbangnya dengan membawa bahan-bahan makanan dan minuman atau mungkin hewan untuk dipotong/disembelih.

Apabila didapat berita bahwa pihak gadis bersedia menerima, pihak bujang untuk segera mungkin mengirim utusan tua-tua adat pihak bujang untuk menyatakan permintaan maaf dan memohon perundingan guna mencapai kemufakatan antara kedua belah pihak serta agar sebambangan dapat diselesaikan dengan baik menuju kearah perkawinan.

Dalam perundingan itu biasanya pihak keluarga gadis mengajukan syarat-syarat perundingan, misalnya pihak keluarga gadis meminta agar dipenuhinya jujur atau sereh pembayaran atau penurunan denda dan biaya-biaya lainnya.

Manjau Mengiyan dan Sujut
Dari pertemuan yang diadakan kedua pihak, maka apabila tidak ada halangan akan diadakan acara manjau mengiyan (kunjungan menantu peria), dimana calon mempelai peria diantar oleh beberapa orang penyimbangdan beberapa orang anggota keluarga lainnya untuk memperkenalkan diri kepada orang tua gadis dan penyimbangnya. Kemudian diadakan acara “Sujut” (sungkem) yaitu sujut kepada semua penyimbang tua-tua adat dan kerabat gadis yang hadir. Biasanya dalam acara sujut ini dilakukan pemberian amai-adek / gelar oleh para ibu-ibu (bubbai) dari pihak keluarga gadis.

Peggadew Rasan dan Cuak Mengan
Acara peggadew rasan yaitu mengakhiri pekerjaan, melaksanakan acara akad nikah dan cuak mengan (mengundang makan bersama), dimana pada hari yang telah ditentukan diadakan acara akad nikah kedua mempelai dan pihak keluarga bujang mengundang para penyimbang, semua menyanak warei serta para undangan lainnya baik dari pihak keluarga bujang maupun dari pihak keluarga gadis, untuk makan bersama sekaligus sebagai pemberitahuan bahwa telah terjadinya pernikahan.

Pada saat yang sama pihak keluarga gadis menyampaikan atau menyerahkan barang-barang bawaan atau sesan mempelai wanita. Namun ada kemungkinan dikarenakan ada permintaan dari pihak gadis, maka acara menjadi besar, dimana mempelai wanita “dimuleikan” (digadiskan kembali), artinya diambil kembali oleh pihak orang tuanya untuk melaksanakan acara Hibal Serbo atau Bumbang Aji.

|Dikutip Dari Berbagai Sumber.

Tradisi Pernikahan Adat Lampung Melinting

Suku Melinting, adalah salah satu suku di provinsi Lampung yang beradatkan Pepadun yang secara administratif berada di kabupaten Lampung Timur. Kekhasan masyarakat Lampung Melinting di antaranya terdapat pada ritual pernikahan. Dalam ritual tersebut terdapat tiga jenis sistem perkawinan, yaitu  mesukum (bumbang aji), ngakuk majau (sebumbangan), dan ngibal serbou (mupakat tuha).

Mesukum (bumbang aji) merupakan pernikahan ketika si gadis dibawa ke keluarga pria untuk ditanya kesediaannya menikah. Jika setuju, si gadis diantar kepada keluarganya. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pertunangan.

Ngakuk majau (sebumbangan) adalah pernikahan ketika si gadis dibawa secara diam-diam ke keluarga pria, kemudian keluarga pria mengabarkan maksudnya untuk menikahkan kedua mempelai dengan prosesi berlangsung di tempat keluarga pria.

Ngibal serbou (mupakat tuha) adalah pernikahan ketika kedua pihak keluarga telah saling mengenal dan didahului pertunangan. Pernikahan diawali prosesi adat dengan keluarga pihak laki-laki mendatangi pihak perempuan dengan membawa kelengkapan adat (kanago) tertentu.

Biasanya sesuai agama Islam, menjelang akad nikah, kedua mempelai melakukan prosesi ngarakbetamat (khatam Quran) – kedua mempelai membaca ayat-ayat Al-Quran. Selanjutnya kedua pihak keluarga saling bersalaman sebagai permohonan maaf jika ada yang kurang berkenan biasanya prosesi ini di sebut sabaian. 

Lalu dilanjutkan sengan prosesi pemberian gelar kepada kedua mempelai, mempelai pria diberi gelar Adok sementara mempelai perempuan diberi gelar Inai. Terakhir adalah ritual musek, yaitu para tetua dari keluarga menyuapkan makanan kepada kedua mempelai.

Pasangan mempelai juga mengenakan aksesoris berupa siger atau mahkota pengantin bercabang lima, dengan setiap cabang memiliki rumbai yang menutupi wajah sang mempelai wanita. Sementara, mempelai laki-laki menggunakan kopiah emas sebagai penghormatan. Kedua pasangan pengantin melinting juga menggunakan kalung buturan, kalung papan jajar, gelang burung, dan gelang kano.

Untuk busana, pengantin perempuan mengenakan kain tapis cekil, baju kurung dari bahan brokat putih, selendang jungsarat, selapai, bulu serti, dan selop. Sedangkan pengantin laki-laki menggunakan celana pantalon, kemeja putih, kain tumpal, kekat akin, kerembung, punduk (keris), dan selop. |sumber: Indonesiakaya.com

Tradisi Sekura, Kemeriahan Hari Raya di Balik Pesta Topeng khas Lampung

TOPENG merupakan salah satu ragam kesenian yang tidak dapat dipisahkan dari khazanah budaya tradisional Lampung. Seni topeng asli Lampung telah berkembang sejak provinsi paling timur di Pulau Sumatera ini berada di bawah Kesultanan Banten. Secara garis besar, ada beberapa jenis seni topeng yang berkembang di Lampung. Salah satunya adalah tradisi sekura yang berasal dari daerah pesisir barat Lampung.

Sekura merupakan bahasa Lampung yang digunakan untuk menyebut topeng yang digunakan dalam perhelatan pesta sekura. Seseorang dapat disebut ber-sekura ketika sebagian atau seluruh wajahnya tertutup. Penutup wajah dapat berupa topeng dari kayu, kacamata, kain, atau hanya polesan warna. Untuk menambah kemeriahan acara, sekura bisa dipadukan dengan berbagai busana dengan warna-warna meriah atau mencolok.

Pesta sekura merupakan perhelatan rutin yang diadakan oleh masyarakat Kabupaten Lampung Barat. Pesta rakyat ini selalu diadakan ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri. Dalam acara ini, peserta acara diwajibkan mengenakan topeng dengan berbagai karakter dan ekspresi. Pesta sekura merupakan wujud ungkapan rasa syukur dan suka cita menyambut hari yang suci.

Dalam pesta sekura, berbagai kalangan ikut terlibat aktif dan berbaur menjalin kebersamaan. Setiap peserta dapat membawa berbagai makanan yang didapat dari hasil silaturahmi berkeliling dari rumah ke rumah. Makanan ini kemudian disantap secara bersama-sama dengan para peserta lainnya dalam suasana yang hangat. Pesta sekura menjadi ajang silaturahim dan menjalin keakraban antartetangga. Tradisi sekura lahir sekitar abad ke-9 Masehi. Tradisi yang masih hidup hingga saat ini itu merupakan bagian sejarah masuknya ajaran dan agama Islam di Lampung.

Saat itu terjadi perang antara penganut animisme pimpinan Ratu Sekerumong melawan penganut Islam pimpinan Maulana Penggalang Paksi Bersama empat putranya, Maulana Nyerupa, Maulana Lapah Liwai, Maulana Pernong, dan Maulana Belunguh. Mereka berperang menggunakan sekura untuk menutupi wajah mereka karena mereka akan berperang melawan kerabat mereka sendiri.

Kendati perang telah lama berakhir, tradisi sekura masih tetap hidup. Anton mengatakan, sekura selalu digelar setelah umat Islam berpuasa selama 1 bulan penuh. Saat puasa itulah, umat Muslim di Lampung Barat juga berperang. Mereka melawan rasa haus dan lapar serta berjuang mengalahkan hawa nafsu selama bulan puasa.

Ada dua jenis sekura yang biasa dikenakan, yakni sekura kamak dan sekura betik.

Sekura kamak biasa dipakai pria dewasa. Sekura ini biasanya terbuat dari kayu yang dipahat atau pelepah pohon pinang. Sebagai aksesori, kadang mereka menambahkan daun-daunan sulur yang menjuntai. Pakaian mereka compang-camping dan kotor. Mereka berpenampilan kotor karena sesuai namanya, kamak, berarti buruk atau kotor.

Adapun sekura betik biasa dipakai laki-laki remaja. Topeng mereka terbuat dari kain. Kacamata hitam biasa melengkapi dandanan mereka untuk menutup wajah. Dalam bahasa Lampung, ”betik” berarti bersih.

|sumber: nationalgeographic.co.id, indonesiakaya.com

Tradisi Sekura Masyarakat Lampung Barat

TOPENG merupakan salah satu ragam kesenian yang tidak dapat dipisahkan dari khazanah budaya tradisional Lampung. Seni topeng asli Lampung telah berkembang sejak provinsi paling timur di Pulau Sumatera ini berada di bawah Kesultanan Banten. Secara garis besar, ada beberapa jenis seni topeng yang berkembang di Lampung. Salah satunya adalah tradisi sekurayang berasal dari daerah pesisir barat Lampung.

Sekura merupakan jenis topeng yang digunakan dalam perhelatan pesta sekura. Seseorang dapat disebut ber-sekura ketika sebagian atau seluruh wajahnya tertutup. Penutup wajah dapat berupa topeng dari kayu, kacamata, kain, atau hanya polesan warna. Untuk menambah kemeriahan acara, sekura bisa dipadukan dengan berbagai busana dengan warna-warna meriah atau mencolok.

Pesta sekura merupakan perhelatan rutin yang diadakan oleh masyarakat Kabupaten Lampung Barat. Pesta rakyat ini selalu diadakan ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri. Dalam acara ini, peserta acara diwajibkan mengenakan topeng dengan berbagai karakter dan ekspresi. Pestasekura merupakan wujud ungkapan rasa syukur dan suka cita menyambut hari yang suci.

Dalam pesta sekura, berbagai kalangan ikut terlibat aktif dan berbaur menjalin kebersamaan. Setiap peserta dapat membawa berbagai makanan yang didapat dari hasil silaturahmi berkeliling dari rumah ke rumah. Makanan ini kemudian disantap secara bersama-sama dengan para peserta lainnya dalam suasana yang hangat. Pesta sekura menjadi ajang silaturahim dan menjalin keakraban antar tetangga.

Berikut foto tradisi sekura masyarakat Lampung Barat: