Posts

Pernyataan Sikap Bersama Soal Vaksin Palsu

Menyikapi temuan adanya kasus vaksin palsu di beberapa fasilitas kesehatan milik swasta, Kementerian Kesehatan, Badan POM, Badan Pengawas RS, dan 9 Organisasi Profesi Kesehatan menyatakan sikap bersama, antara lain:

1. Menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut dan menyampaikan empati kepada orang tua keluarga anak yang telah terindikasi terpapar vaksin palsu.

2. Dalam pelayanan kesehatan semua pihak baik pasien, tenaga kesehatan, dan fasilitas pelayanan kesehatan berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatan dan keamanan. Pelayanan kesehatan termasuk imunisasi harus tetap berjalan dengan mengutamakan prinsip keselamatan pasien dan sesuai standar sehingga masyarakat mendapatkan haknya dalam pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan.

3. Secara ilmiah, kandungan dalam vaksin palsu yang diperiksa Badan POM tidak menimbulkan efek samping pada kesehatan.

4. Berkomitmen sepenuhnya mendukung dan meneruskan seluruh lanjutan upaya pemerintah Pusat dan Daerah dalam penanganan dan solusi terbaik atas kasus vaksin palsu dengan langkah-langkah sebagai berikut:

  • a. Pendataan anak yang terpapar vaksin palsu oleh fasilitas pelayanan kesehatan.
  • b. Verifikasi anak yang telah terpapar vaksin palsu oleh Satga penanggulangan vaksin palsu.
  • c. Melakukan vaksinasi wajib ulang di fasilitas pelayanan kesehatan yang telah ditunjuk oleh Dinas Kesehatan setempat telah berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Vaksinasi wajib ulang yang dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, tidak dikenakan biaya.
  • d. Melakukan pemantauan tumbuh kembang anak.

5. Berkomitmen untuk mendukung berjalannya proses hukum dan penegakan hukum kepada oknum pelaku melakukan upaya evaluasi pelaksanaan regulasi sistem prosedur sistem pembinaan dan pengawasan untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali.

Di hadapan sejumlah media, Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek membacakan pernyataan sikap bersama antara Kementerian Kesehatan dan organisasi profesi tersebut yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Bambang Wibowo; Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Supriyatno; Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Bhakti Pulungan; Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Emi Nurjasmi; Perwakilan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Aprisunadi; Sekretaris Jenderal Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Noffendri Rustam; Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), Sri Rachmani; Ketua Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Susi Setiawaty; Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES), Krishna Jaya; Ketua Eksekutif Komisi Akreditasi Rumah Sakit, Sutoto; Ketua Badan Pengawas Rumah Skait (BPRS), Sumaryono Rahardjo; dan perwakilan Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), Risti Anggriani.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.kemkes.go.id dan email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.

Penemuan Vaksin Baru Ini Akan Bantu Musnahkan Polio

VIRUS Polio kini sudah diambang kepunahan, dengan hanya 74 kasus yang dilaporkan diseluruh dunia pada tahun 2015. Fakta di atas sangat berbanding jauh jika mengingat 3 dasawarsa silam yang mencapai 1000 anak perharinya terjangkit virus mematikan ini. Namun ada kemungkinan kemunculan kembali virus ini  lewat tempat yang menjaga supaya virus yang ada tidak keluar atau menyebar (bicontainment). Meski risikonya kecil, namun tak bisa diremehkan begitu saja. Maka dari itu, para peneliti sekarang mulai mengembangkan sekelompok virus polio untuk digunakan dalam generasi vaksin baru yang dapat membantu memusnahkan penyakit itu sama sekali.

Pengembangan virus Polio ini tidak perlu dikhawatirkan karena, menurut jurnal PLOS Pathogens, para peneliti dari ilmuwan-ilmuwan Belanda melaporkan bahwa galur vaksin itu dapat berkembang biak hanya dalam suhu yang lebih rendah dari suhu tubuh. Organisme dalam vaksin tersebut direkayasa secara genetika supaya dapat tumbuh baik pada suhu 30 derajat Celsius tapi tidak sama sekali pada 37 derajat, suhu manusia normal. Virus itu tidak menular, jadi tidak akan ada wabah jika patogen poliomyelitis ini keluar dari lokasi.

Hal itu berarti bahwa jika ada kebocoran yang tidak disengaja dan seseorang terkena virus polio tersebut, maka virus itu tidak dapat tumbuh dan berkembang biak dalam tubuh orang yang terkena virus.

Selain itu alasan lain mengapa pengembangan vaksin ini dirasa penting karena menurut Jerome Custers, ilmuwan senior vaksin dari Jannsen Infectious Disease and Vaccines di Belanda, stok dari vaksin yang dapat disuntikkan saat ini rendah dan cukup mahal untuk dibuat.
Hanya ada enam negarayang memiliki izin prodkusi vaksin itu seperti Kanada, Belanda, Belgia, Swedia, Swiss dan Perancis. Namun Custers mengatakan adanya vaksin polio yang aman dan mudah direproduksi akan menurunkan biaya obat tersebut karena lebih banyak negara, seperti India, sudah mulai memproduksinya.

|Sumber: voaindonesia.com & http:www.unicef.org.[]

Kemenkes RI: Vaksin Polio Pekan Imunisasi Nasional 2016 Tanpa Bahan Bersumber Babi

Terkait beredarnya gambar bungkus vaksin polio yang bertuliskan pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi di media sosial, perlu kami sampaikan klarifikasi sebagai berikut:

1. Bungkus vaksin polio yang beredar di medsos dengan tulisan pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi adalah vaksin polio suntik. Sedangkan yang digunakan pada Pekan Imunisasi Nasional 2016 adalah Vaksin Tetes.

2. PIN Polio 2016 menggunakan vaksin dengan bungkus bertuliskan Oral Polio Vaccine produksi Biofarma. Tidak ada tulisan apapun terkait bahan bersumber babi.

3. Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara resmi mendukung program imunisasi di Indonesia, termasuk PIN Polio 2016 sebagaimana tercantum dalam fatwa MUI Nomer 4 Tahun 2016 tentang Imunisasi yang ditetapkan pada 23 Januari 2016.

4. Pemerintah menghimbau kepada masyarakat Indonesia agar membawa anak-anaknya usia 0 sd 59 bulan ke Pos PIN terdekat pada tanggal 8-15 Maret 2016. PIN Polio 2016 bertujuan mencegah anak-anak Indonesia tertular virus Polio. Dengan imunisasi polio masyarakat akan mendapatkan kekebalan yang tinggi sehingga dapat mempertahankan status Indonesia Bebas Polio.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.

Ayo Sukseskan PIN Polio Tahun 2016

Pencapaian eradikasi polio (ERAPO) merupakan sebuah komitmen global. Diharapkan, pada tahun 2020 kita akan mewujudkan Eradikasi Polio di seluruh dunia. Jika hal ini dapat kita wujudkan, maka ini adalah sebuah prestasi besar kedua yang dicapai masyarakat dunia di bidang kesehatan setelah pembasmian atau Eradikasi Cacar atau Variolla yang dicapai pada tahun 1974.

Rangkaian strategi menuju pencapaian ERAPO dimulai pada tahun 1988, dan sejak saat itu insidens atau angka kejadian kasus polio di dunia menurun hingga lebih dari 99%. Negara endemis polio telah berkurang dari 125 negara menjadi hanya 2 negara yang tersisa yaitu Pakistan dan Afganistan.

Indonesia, bersama dengan negara-negara di Regional Asia Tenggara telah mendapatkan Sertifikat Bebas Polio dari World Health Organization (WHO) pada tanggal 27 Maret 2014. Namun, meskipun telah dinyatakan bebas polio, risiko penyebaran polio di Indonesia tetap tinggi selama virus polio liar masih bersirkulasi di dunia dan faktor risiko untuk terjadi penularan masih tetap ada oleh karena kekebalan masyarakat yang belum optimal yang disebabkan karena masih terdapatnya daerah-daerah kantong dengan cakupan imunisasi polio rutin yang rendah selama beberapa tahun.

Penularan virus polio yang berasal dari luar negeri (importasi) pernah terjadi di Indonesia pada tahun 2005, padahal sebelumnya sudah 10 tahun Indonesia tidak memiliki kasus polio. Kejadian tersebut dimulai dari kasus di Sukabumi pada Januari 2005, dan kemudian menyebar ke provinsi lain di pulau Jawa dan Sumatera, dengan total kasus 305 anak.

Virus polio import tersebut diduga berasal dari Nigeria yang menyebar melalui Timur Tengah. Penularan tersebut terjadi terutama pada anak-anak yang rentan terhadap penyakit polio oleh karena belum mendapat imunisasi polio sama sekali atau imunisasi polio yang diperoleh belum lengkap.

Berdasarkan keadaan ini, maka Indonesia harus melakukan pemberian imunisasi tambahan polio untuk mendapatkan kekebalan masyarakat yang tinggi sehingga akan dapat mempertahankan status bebas polio yang telah diperoleh dan juga sebagai upaya untuk mewujudkan Dunia Bebas Polio.

Imunisasi tambahan ini dikenal dengan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 s.d 15 Maret 2016 di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di DI Yogyakarta (hal ini dikarenakan DIY tidak lagi menggunakan vaksin polio tetes, sementara PIN Polio menggunakan vaksin polio tetes), dengan target cakupan >95%.

Sasaran kegiatan PIN adalah anak usia 0-59 bulan (balita), yang merupakan kelompok paling rentan untuk tertular virus polio. PIN dilaksanakan di Pos PIN, Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Rumah Sakit serta pos pelayanan imunisasi lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan setempat (mis: sekolah, pasar, terminal, pelabuhan, dan bandara).

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.

Vaksin HPV Jenis Baru telah Dikeluarkan

Vakin baru bernama 9vHPV teelah dikeluarkan oleh Center for Desease Control and Prevention dan American Academy of Pediatrics, dan telah disetujui oleh Food and Drug Administration pada bulan Desember 2014.Vaksin ini dimasukkan ke dalam jadwal vaksin anak dan remaja.

Vaksin adalah senyawa antigen yang berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap virus. Vaksin terbuat dari virus yang telah dimatikan atau dilemahkan dengan menggunakan bahan-bahan tambahan lainnya seperti formaldehid, thimerosal, dan lain-lain.

“Vaksin HPV jenis baru ini memberi perlindungan terhadap lebih dari lima jenis HPV penyebab kanker, terutama kanker serviks.” kata ahli penyakit infeksi pada anak-anak dari Tufts University Dr Cody Meissner.

Selain itu Center for Desease Control and Prevention dan American Academy of Pediatrics, (CDC) juga mengeluarkan rekomendasi jadwal baru untuk vaksin remaja yakni vaksin meningokokus B. Vaksin tersebut adalah perlindungan terhadap penyakit meningitis.

Meningokokus B dianjurkan diberikan untuk anak yang masuk kelompok risiko tinggi. termasuk anak-anak dengan imunodefisiensi tertentu, seperti mereka yang telah kehilangan limpanya. Selain itu mereka yang beresiko tinggi, dianjurkan mendapat vaksin ini di usia antara 16-18 tahun.

1 Februari lalu, Jadwal baru vaksin ini telah dipublikasikan melalui jurnal Pediatrics dan disetujui secara bersama-sama oleh American Academy of Pediatrics, American Academy of Family Physicians, Advisory Committee on Immunization Practices of the CDC, dan American College of Obstetricians and Gynecologists. |sumber: kompas.com