Membaca Balik

Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Masa kanak-kanak disekitar tahun 1960-an, kami memiliki kegemaran bersama untuk berucap dengan membalikkan kata; sebagai contoh, Saya diucapkan ayas, makan diucapkan nakam, dan seterusnya. Model beginian segenerasi penulis tentu masih ingat bagaimana dalam berucap harus berfikir baru berucap, karena jika tidak, maka ucapannya menjadi tidak bermakna dan tidak dipahami lawan bicara. Konon menurut informasi yang tidak tertulis, model bicara begini bermula dari masyarakat satu kota di Jawa Timur, dan sampai hari ini bahasa itu dipakai jika untuk membicarakan sesuatu yang bersifat rahasia.

Kita tinggalkan dahulu membalik baca, persoalannya ialah ada pada “Berfikir dahulu sebelum berucap”. Tampaknya hal seperti ini sudah menjadi barang langka, yang berkembang justru bicara dulu, mikirnya belakangan. Hal serupa ini melanda siapapun, tidak peduli status sosial, tingkat pendidikan, kaya-miskin, pimpinan atau bawahan; bisa terjadi kapanpun dimanapun. Bahkan sekelas ilmuwan bergelar Guru Besar-pun masih ada yang berperilaku begini, akibatnya dalam mengambil keputusan didasari atas keemosionalan, tentu saja akibatnya fatal; bahkan berdampak kemana-mana.

Kondisi ini semakin menjadi-jadi saat tahun-tahun politik seperti saat ini, karena seolah-olah mendapatkan lahan subur untuk mikir belakangan, berucap duluan. Anehnya jika yang diucapkan itu tidak benar, dengan sangat ringan memanggil teman-teman jurnalis untuk klarifikasi, paling jauh meminta maaf; semua persoalan dianggap selesai. Jika cara itu tidak mempan, bisa juga menggunakan cara tradisional yaitu menciderai lawan atau menghilangkan dengan caranya.

Kondisi asal bicara tampaknya saat ini mendapat angin segar, apalagi peran seseorang atau golongan menjadi semakin tidak jelas. Lawan bicara bisa merangkap sekaligus teman dan musuh pada waktu yang bersamaan. Bisa dibayangkan pada saat berjabat tangan mulut tersenyum, tetapi hati berbicara kapan orang ini layak untuk dibinasakan.

Maka tidak aneh jika saat pagi bicara A, tetapi saat sore bicaranya B; orang Jawa punya pepatah “Esuk dele sore tempe” terjemahannya pagi masih kedelai, sore sudah jadi tempe; maksudnya orang dengan mudah plin-plan tanpa pendirian.

Bayangkan jika perilaku seperti itu ada pada tataran elite negeri ini, tentu saja yang terjadi rakyat menjadi bingung.

Belum sempurna melaksanakan apa yang diperintahkan, dengan cepat sesaat sudah berubah, dan itu dilakukan dengan seolah tanpa beban. Apalagi pembenarannya berlindung pada atas nama demokrasi, maka seolah semua semakin sempurna, karena hak bicara atau mengeluarkan pendapat dilindungi undang-undang.

Hakekat perbedaan pendapat bukan pada bebas bicara tanpa dipikir, akan tetapi perbedaan pikiran yang dikemukakan dengan pendapat. Keduanya sangat berbeda secara esensial, sebab perbedaan pendapat yang muncul disebabkan dari perbedaan pikir; adalah proses dialogis pikir yang terus menerus bersifat dinamis, sebelum mulut bicara. Sangat berbeda dengan bicara dulu kemudian baru dipikir.

Kita tidak perlu menyalahkan jaman, atau dengan cepat tanpa mikir berucap menggunakan kalimat kunci “Dunia mendekati akhir”. Sebelum ke sana sebaiknya kita berfikir ulang adakah yang salah di negeri ini. Jika ada pada bagian mana, kemudian upaya apa yang harus kita lakukan untuk memperbaikinya. Jika upaya semua sudah kita lakukan, langkah terakhir beralas doa baru kita serahkan kepada Sang Maha Pemilik.

Proses berfikir adalah anugerah dari Sang Pencipta yang hanya diberikan kepada mahluk-Nya bernama manusia, tidak kepada mahluk lain. Upaya manusia untuk membuat intelegensi buatan, mungkin saja berhasil, tetapi ada satu hal yang tidak tersentuh adalah “rasa” dalam pengertian supranatural. Tali penghubung kepada Sang Maha Pencipta ini tidak mungkin untuk dibuat manusia, karena hal ini berkaitan dengan “hidayah”

“Among Roso” adalah laku kontempletif yang hanya dimiliki oleh manusia, untuk sampai pada tingkat itu tentu melalui proses panjang guna mencapai kesempurnaan yang tidak sempurna, karena kesempurnaan itu miliki Yang Maha Sempurna. (SJ)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *