Identitas yang Tercerabut

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Kebiasaan penulis jika ada artikel yang terbit ditindaklanjuti dengan membagikan kepada handai taulan, terutama kepada mereka yang memang memiliki minat sama untuk membaca. Asumsi punya minat sama untuk membaca memang tidak selamanya benar. Buktinya, ada yang segera setelah membaca akan merespon dengan komentar atau paling tidak mengirim ungkapan hati melalui media gambar (meme), ada yang hanya membaca kemudian membiarkan, ada juga yang tidak pernah dibaca atau tidak mau membaca. Apa yang menjadi latarbelakang semua itu, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.

Saat mengirim satu naskah kemarin, ada seorang sahabat yang selalu memberikan komentar setiap naskah. Guru besar itu kemarin memberikan komentar yang cukup menggelitik pikiran. Menurutnya, adanya kelompok-kelompok tertentu yang memiliki pandangan berbeda dalam menyikapi tata nilai budaya yang dipersonifikasi oleh produk budaya. Pendapatnya bahkan perilakunya begitu ekstrem yang memposisikan produk budaya bila tidak ada pada ajaran agama, tidak boleh digunakan.

Membaca komentar itu, penulis menjadi teringat apa yang pernah dipesankan oleh tokoh pendiri Republik ini, Ir. Soekarno: “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi Islam jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan Adat-Budaya Nusantara yang kaya raya ini”.

Tampaknya pesan ini sekarang banyak dilupakan, atau bisa jadi merupakan kesalahan sistematis dalam Pelajaran Sejarah Indonesia oleh guru sejarah.

Kecenderungan ini tampaknya sudah melanda di banyak lini kehidupan, dan menyusup sampai relung kehidupan pribadi orang-per orang. Bisa dibayangkan negeri ini jika orang Jawa menolak batik, orang Sumatera Utara menolak ulos, orang lampung menolak tapis, orang Palembang menolak songket, orang Dayak menolak mandau hanya karena benda-benda itu semua diposisikan bukan sebagai simbol agama. Tentu peristiwa ini bisa kita padankan dengan “bencana budaya”. Sebab, pandangan itu memposisikan ketercerabutan yang bersangkutan dari budaya leluhur.

Pemahaman akan lambang yang sempit ibarat kita masuk ke dalam taman sesat. Sebab kesesatan berpikir itu jauh lebih berbahaya dari tersesat jalan dalam pengertian sebenarnya. Kesesatan berpikir dapat berdampak kepada kehidupan seseorang dan generasinya. Sementara sesat jalan bisa putar balik atau minimal bertanya. Menjadi lebih berbahaya lagi kesesatan itu jika dikaitkan dengan sempitnya perspektif akan suatu keyakinan, sehingga menimbulkan sikap sesuatu yang tidak satu keyakinan adalah musuhnya. Sebab itu harus dimusnahkan.

Pemikiran sempit serupa ini memang sudah ada sejak ratusan tahun silam, namun sekarang lebih cepat mengkristal akibat dari kemudahan teknologi, sehingga penyebarannya pun menjadi lebih cepat. Hal lain yang menumbuhsuburkan pemikiran ini adalah dampak kebebasan untuk berpendapat pada era sekarang jauh lebih pesat dibandingkan beberapa waktu lalu. Sayangnya, tidak dibarengi dengan pemahaman akan juga hak-hak orang lain untuk berpendapat yang berbeda, dan itu sah adanya.

Berbeda pendapat tidak sama dengan memaksakan pendapat. Sebab jika memaksakan pendapat di sana ada hegemoni, sementara jika berbeda pendapat ada pada tataran kesamaan atau kesetaraan. Tentu saja konsekuensinya-pun akan sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya. Produk budaya lebih ada pada tataran “berbeda” bukan “memaksa”.Oleh sebab itu, produk budaya tidak diukur menggunakan kuantifikasi, tetapi lebih kepada kualifikasi. Itu pun dalam pengertian hanya mengklasifikasi. Budaya berlabel indah bagi pendukung dan pengagumnya; ukuran indah sendiri adalah relatif dalam makna filsafat.

Siapapun kita, apa pun status yang melekat pada pribadi kita, mari hormati dan lestarikan budaya negeri ini. Karena penjajahan yang hakiki itu adalah penjajah yang menjajah budaya kita, sehingga sistem nilai yang kita anut menjadi berubah; dengan tujuan agar mencerabut kita dari identitas sebagai bangsa. (SJ)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *