Kresna Duta

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Pada masyarakat pedalangan diwaktu itu, konon hidup semacam mitos bahwa jika Dalang ingin memainkan cerita-cerita tertentu dalam pentas Wayang Kulit harus paham bahwa lakon-lakon itu ada yang “wingit”; dalam bahasa Jawa, jika diterjemahkan walaupun tidak tepat benar disebut sakral. Untuk itu sebelum mementaskan harus puasa terlebih dahulu, termasuk Lakon Wayang Kresno Duto. Tetapi karena ini tidak dipentaskan, akan tetapi dijadikan “irah-irah” atau pengantar dari suatu pesan yang akan disampaikan, maka saya tidak perlu melakukan ritual seperti itu, apalagi dalam perintah agama yang saya anut itu tidak ada. Namun ritual yang melekat dan tidak bisa lepas saat menulis adalah “ngopi panas” agar otak tetap mak jos.

Sahdan, dalam cerita Baratayudha versi Wayang Purwa; dikisahkan Pandawa telah selesai menjalani masa pembuangan dan pengasingan selama 13 tahun ditengah hutan Dandaka, serta menjalani penyamaran selama satu tahun di Kerajaan Wiratha. Oleh karena itu sudah menjadi hak Pandawa untuk kembali mendapatkan Astina dan Amarta yang diambil oleh Kurawa. Untuk itu, para Pandawa meminta bantuan Sri Kresna guna menjadi duta Pandawa dalam menempuh jalan damai antara Pandawa dan Korawa. Kresna diangkat sebagai duta terakhir atau disebut dengan Duta Pamungkas untuk urusan pengembalian negara.

Sementara, tetua dan pembesar-pembesar Astina telah berkumpul di aula kerajaan menunggu kedatangan Duta Pandawa tersebut. Kresna memasuki aula kerajaan dan kemudian menyampaikan maksud kedatangannya yaitu sebagai duta Pandawa. Pandawa yang telah selesai menjalani hukuman, ingin meminta haknya kembali atas Indraprastha (Amarta).

Sejak awal, Kurawa memang tidak ingin mengembalikan Amarta dan Hastina kepada Pandawa. Prabu Duryudana pun menolak permintaan Sri Kresna. Duryudana memberikan berbagai alasan yang memang sudah direnacakan untuk memperkuat alasan mereka mengapa tidak ingin mengembalikan Indraprastha dan Hastina kepada Pandawa.

Singkat cerita semua alasan penolakan Prabu Duryudana itu membuat Sri Kresna memuncak kemarahannya, dan bertriwikrama-lah beliau berubah menjadi Raksasa yang sangat besar serta akan mengobrak-abrik kerajaan Hastinapura. Dari kerajaan para dewa turunlah Dewa Darma yang diutus untuk mendinginkan kemarahan Sri Kresna dengan nasehat yang sangat dalam maknanya secara filosofis tentang kebenaran.

Pada cerita ini intinya penulis ingin menyampaikan sepotong pesan bahwa Kebenaran dan Kesalahan itu sebenarnya ada pada garis yang sama, hanya di ujung garis yang satu posisinya bernama BENAR-BENAR….BENAR; sementara ujung garis lawannya ada pada posisi BENAR-BENAR…..SALAH. titik tengah keduanya dipisahkan pada bagian BENAR dan bagian SALAH, yang membentuk sudut sembilan puluh derajat. Dengan kata lain posisi benar-benar…benar berspektrum 45 derajat; dan posisi benar-benar…salah berspektrum 45 derajat.

Kehidupan yang dijalani manusia selalu ada pada kedua garis mistar tadi, namun tidak akan kita jumpai manusia yang benar-benar….. benar yang mutlak; atau benar-benar …. salah yang juga mutlak; yang ada hanya pada derajat mana tingkat kebenarannya dan atau kesalahannya, pada mistar tadi.

Kita tidak bisa memaksakan kebenaran kepada kesalahan, atau sebaliknya memaksakan kesalahan kepada kebenaran. Namun kebenaran itu diperlukan guna menunjukkan adanya kesalahan; sebaliknya kesalahan juga diperlukan guna menunjukkan adanya kebenaran. Dengan kata lain Kebenaran dan Kesalahan itu bagai dua sisi mata uang, yang satu dengan lainnya berfungsi saling meneguhkan keberadaan masing-masing lawannya. Dengan bahasa sederhanya: kebenaran itu tampak kebenarannya jika ada kesalahan sebagai pembanding, dan juga kesalahan akan tampak jika ada kebenaran sebagai pengukurnya. Perkataan filsafat seperti ini memang memerlukan kontemplasi dalam memahaminya.

Dari sana maka ada adagium Jawa yang mengatakan “Bener durung mesti Pener” terjemahan bebasnya walau kurang pas adalah benar belum tentu tepat, itu seolah menjadi perenungan untuk mendalami secara hakiki dari semua peristiwa sosial yang sedang berlangsung saat ini. Jangan sampai kita terjebak pada Fatamorgana Sosial yang sekarang sedang mendapatkan panggung untuk dimainkan.
Salam Waras dari Penulis yang berangsur sehat. (SJ)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *