Mesuji Riwayatmu Kini

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Beberapa hari lalu diundang oleh Organisasi Guru terbesar di negeri ini dan pemerintah kabupaten perbatasan Sumatera Selatan bagian timur yaitu Kabupaten Mesuji; dalam rangka memberikan motivasi atau dorongan kepada para penyelenggara pendidikan. Mereka tumpah ruah memadati Gedung Serba Guna milik kabupaten dengan segala macam corak lakunya, tentu khas pedesaan.

Cuaca yang begitu terik tidak mengurangi niat mereka untuk hadir dari segenap penjuru kabupaten yang tentu sangat jauh untuk ukuran rerata orang kota. Mengapa jadi menarik untuk ditulis; karena ada beberapa fenomena yang tidak ditemukan pada daerah lain; baik dari tingkat pejabatnya terutama pada para guru yang hadir.

Untuk pejabat; ternyata antusiasme pejabat untuk menghadiri acara yang massal, panas, tidak nyaman, ini mereka mau berbaur hadir, tidak sungkan, dan tidak diwakilkan. Pengalaman beberapa tempat, jika acara seperti ini selalu diwakilkan kepada wakil, kemudian menunjuk lagi mewakili, dan terakhir ditugasi. Oleh sebab itu penulis jarang mau hadir pada even yang daerah pejabatnya malas hadir. Untuk Mesuji itu tampaknya tidak berlaku, karena kepala dinas sampai sekretaris daerah, hadir dengan berpeluh-peluh bersama guru jelata; padahal mereka tidak memerlukan pilihan rakyat karena bukan pejabat public yang dipilih rakyat. keseriusaan dan ketelatenan mereka melayani guru sangat luar biasa dan patut diapresiasi.

Untuk panitia; ternyata seluruh panitia adalah para guru dan dibantu beberpa staf pelaksana daerah. Mereka tidak perlu bersusah payah mengatur karena para undangan yang hadir mau mematut diri untuk tertib. Bisa dibayangkan acara dengan lebih dari tigaribu orang yang hadir, dengan beribu kendaraan roda dua dan empat, tumpah ruah di satu tempat; semua bisa berjalan tertib tanpa gesekan apapun. Anehnya lagi jika di kota bunyi klakson kendaraan akan menjadi semacam bumbu masak pada situasi seperti ini; tetapi Mesuji tidak menampilkan perilaku seperti itu. Mereka lebih sopan dan sabar untuk menerima keadaan seperti yang mereka rasakan bersama.

Untuk peserta; ternyata kelompok ini membuat penulis kehilangan kalimat dalam memberikan motivasi kepada mereka; sampai-sampai penulis lupa memberikan salam pembuka karena terkesima; hal ini disebabkan karena mereka sudah memiliki motivasi yang lebih tinggi dari rerata pegawai di negeri biasa. Bayangkan, mereka hadir itu banyak ibu-ibu sambil menggendong anak, menuntun bocah, pada kondisi yang seperti itu. Tanpa kelihatan muka lelah atau mengeluh, justru kita yang menyaksikan hanya decak kagum yang keluar dari mulut.

Hebatnya lagi, banyak diantara mereka yang saling bahu-membahu untuk bisa hadir bersamaan dengan kondisi alam yang tidak bersahabat, karena panas begitu terik dan menyengat. Ibu dan bapak guru tanpa beban mereka bersua sesama, bercengkrama, dan bersendagurau layaknya sahabat lama yang jarang jumpa.

Organisaasi ini berubah menjadi organisasi sosial yang menjadikan wahana pertemuan sebagai ajang silahturahmi sesama. Sehingga pengisi atau petugas yang mengisi acara justru yang harus tahu diri, dengan pengelolaan manajemen waktu; guna menghargai para guru yang begitu bersemangat untuk hadir dalam satu cita-cita maju bersama.

Mesuji, yang beberapa tahun lalu merupakan daerah terpencil, terjauh, dengan sarana prasarana jalan yang sangat tidak memadai, sekarang berangsur berubah menjadi daerah maju yang terhubung oleh prasarana jalan satu wilayah dengan wilayah lain yang sangat memadai. Sekalipun kepala daerahnya berstatus pejabat, namun tampaknya itu tidak mempengaruhi akselerasi pembangunan wilayahnya. Lebih baik ber status pejabat yang bekerja keras, dari pada definitif tetapi diciduk KPK.

Namun demikian ada persoalan menggantung di sana yang itu bukan wilayahnya pemerintah daerah, karena kewenangan pusat; sementara dampaknya justru yang menanggung daerah; yaitu kepastian nasib guru honorer untuk diangkat sebagai ASN, ini adalah hutang pemerintah pusat kepada daerah, termasuk Mesuji yang sangat mengharapkan untuk dapat segera diselesaikan dengan baik.

Dari hasil wawancara tak terstruktur kepada beberapa peserta yang kebetulan guru honorer, mereka sangat berharap penghargaan pemerintah pusat kepada pengorbanan mereka selama ini untuk negeri. Jalan tol boleh terbentang, tetapi nasib honorer tetaplah hutang.
Selamat Berjuang! (SJ)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *