Perbedaan yang tidak Membedakan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Seorang sahabat memberikan informasi bagaimana pola pertukaran budaya yang terjadi antara dirinya yang terlahir sebagai etnik tertentu yang terkenal berkarakter terbuka, keras, dan lugas, dengan temannya yang etnik asli daerah ini yang juga berkarakter khas. Saat beliau mendendangkan lagu daerah tempatan dan disimak oleh teman yang asli tempatan tadi, ia mendapatkan apresiasi yang bagus dari temannya.

Peristiwa itu mengingatkan bagaimana juga orang Jawa yang bermarga Batak di Sumatera Utara bisa berbahasa Jawa berdialek Batak. Bahkan, mereka mendapat sebutan sebagai Jawa Deli atau Jadel, yaitu merupakan suatu kelompok masyarakat yang sejak zaman penjajahan telah diangkut dari pulau Jawa sebagai buruh kontrak di perkebunan-perkebunan Sumatra Utara. Mereka ada yang pandai memainkan alat musik Gondang Batak dan mampu berakulturasi dengan baik.

Orang Jawa yang memiliki stereotype lembut, penyabar; ternyata bisa berakulturasi menjadi lebih terbuka dan juga sedikit keras. Karena pengaruh bentukan lingkungan dapat mewarnai perilakunya. Bahkan mereka yang mencapai karier tertinggi dalam pekerjaannya, menunjukkan kekhasan ini. Di Lampung dulu ada tokoh bernama Bambang Eka Wijaya (alm) adalah tokoh pers yang mewakili kelompok Jawa Deli dengan kekhasan karakter berwarna Jawa Sumatera Utara.

Nun jauh di sana di daerah Minahasa, ada juga perkampungan Jawa Tondano atau disebut JaTon. Berawal dari ditangkapnya Kyai Modjo yang merupakan Penasehat Agama sekaligus Panglima perang dari Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa (1825-1830), pada 1828. kemudian dibawa ke Batavia, selanjutnya Kyai Modjo dan 63 orang pengikutnya diasingkan Belanda sebagai tahanan politik ke Minahasa Sulawesi Utara. Kyai Mojo tiba di Tondano pada tahun 1829 hingga meninggal di sana pada tanggal 20 Desember 1848 dalam usia 84 tahun. Kecuali Kyai Modjo, semua pengikutnya (semuanya pria Jawa) menikahi perempuan Minahasa asli Tondano dan keturunan mereka mendiami kampung yang saat ini dikenal dengan Kampung Jawa Tondano. Tanggal 3 Mei 1830 diperingati sebagai hari lahir Kampung Jawa Tondano.

Kalau untuk Lampung kita tidak perlu lagi menceritakan di sini, karena peristiwa akulturasi sudah begitu melegenda. Tidak jarang kita jumpai etnik Lampung berbahasa Jawa, Palembang, Sunda dengan baik dan benar. Sebaliknya orang Jawa tidak sedikit yang bisa berbahasa Lampung selayaknya asli Lampung; bahkan menguasai tari dan budaya Lampung, dan tidak sedikit yang melakukan amalgamasi dengan penduduk tempatan. Bahkan dari sinilah ada organisasi putra-putri transmigrasi terbentuk, dan sekarang menasional.

Tokoh-tokohnya sudah juga muncul di tingkat nasional bahkan dunia. Sebagai contoh anak muda yang membuat repot pejabat daerah sampai pusat berkaitan dengan sarana jalan di lampung beberapa waktu lalu; adalah anak muda generasi milenial dari lampung, dan sekarang menetap di negara sana.

Masa itu sebentar lagi akan berlalu, karena Indonesia sudah akan berganti dengan generasi “Z”; yang memiliki karakter lintas generasi. Mereka tidak lagi memiliki identitas etnik, namun bertukar dengan identitas global. Mereka sudah kurang menguasai hal-hal yang bersifat local, dan bisa jadi tidak menguasai lagi bahasa etniknya. Mereka bukan berarti tercerabut dari budayanya, akan tetapi mereka sudah berevolusi untuk membentuk budaya baru. Mereka bukan lagi ada pada ranah akulturasi, apalagi asimilasi; akan tetapi lebih kepada bentuk baru dari generasi baru.

Tatanan sosial baru akan terbentuk bersama tumbuhnya mereka sebagai generasi penerus; tentu mereka memiliki kekhasan, namun semua perbedaan itu tidak membedakan mereka. Justru karena perbedaan itu mereka terangkai dalam satu sistem sosial yang saling menguatkan.

Hormat menghormati akan eksistensi perbedaan menjadikan mereka tidak membedakan; oleh karena itu negeri ini termasuk yang beruntung karena didirikan diatas pondasi kebhinekaan yang menyatukan. Banyak negara yang gagal dalam meneruskembangkan generasinya karena kerapuhan pondasi kebangsaannya. Sebagai contoh negara jiran kita sekarang uring-uringan karena generasi Z nya lebih merasa beridentitas lain, dan bukan merasa identitas negerinya.

Semoga pesta demokrasi yang sebentar lagi akan digelar tidak menggoyahkan sendi-sendi persatuan negeri ini. Perbedaan yang ada tidak akan membeda-bedakan kita dalam kelompok, mashab, golongan; atau apapun namanya yang ditengarai menjadi penyebab runtuhnya persatuan negeri. Beda pilihan itu boleh, namun bersatu untuk negeri itu pasti. (SJ)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *