Mendaki ke Lembah, Menurun ke Atas

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Lazimnya orang adalah menuruni lembah, mendaki gunung. Namun kali ini berubah karena ternyata banyak pihak justru melakukan sesuatu secara terbalik, atau dalam bahasa Jawa disebut “sungsang”. Kesungsangan yang lebih seru justru ada pada wilayah sosial, karena seolah wilayah epistemologi dan axiologi akhir-akhir ini begitu banyak mendapat panggung, dan seolah-olah bebas diacak-acak. Mengakhiri tahun 2023 banyak hal yang dapat kita simak sebagai peristiwa sosial, atau lebih spesifik lagi “lakon sosial”. Dimana yang berperan sebagai aktor justru lebih banyak jika dibandingkan dengan pemain pendukung, bahkan penonton.

Saat ini penonton bisa dengan leluasa naik keatas pentas untuk menjadi pemain, bahkan aktor sekalipun. Semula sebagai warga kebanyakan, dan melakukan aktivitas keseharian juga biasa-biasa saja. Namun saat ini mendadak foto dirinya ada di mana-mana, menempel di pohon tepi jalan, di tembok-tembok bangunan, perempatan jalan, dan tempat-tempat keramaian. Foto diri tadi mendeklarasikan diri sebagai pemain sosial baru pada wilayah baru, dan tentu suasana baru. Untuk me-manisfestasi-kan foto diri tadi, maka diubahlah perilaku diri, atau lebih tepatnya mematut diri untuk dapat hadir sebagai pribadi yang patut dipilih. Dan, kondisi ini yang sering dimanfaatkan oleh “calo politik” untuk mendapatkan cuan dengan mudah tanpa keluar keringat. Cara yang dilakukan dari yang paling halus sampai yang paling kasar, bahkan dengan cara menipu-pun jadi.

Beda lagi mereka yang karena perintah undang-undang harus melepaskan jabatan, dan berharap untuk mencalonkan diri lagi kelak. Mendekati garis finish disusunlah strategi, semua barisannya dan atau mereka yang berjasa diberi kekuasaan untuk berkuasa. Menit-menit terakhir dari masa periodesasinya habis, pejabat ini melantik semua yang akan ditanam sebagai aset saat pemilihan yang akan datang, agar memuluskan semua upaya yang dia lakukan.

Namun perilakunya menjadi aneh, semula temperamental; kalau tidak marah rasanya hidup kurang gairah. Semua orang salah kecuali dirinya, dan dirinya adalah komandan yang tidak pernah salah; bahkan wakil pun tidak diperlukan karena semua bisa sendiri. Sekarang berubah menjadi santun, murah senyum, murah sapa, penyanjung dan penyayang dan lain-lain yang semua berbalik seratus persen. Orang akhirnya bertanya …Ada apa gerangan..??. ternyata telunjuk lurus kelingking berkait, ada udang di balik batu: hasrat hati ingin maju untuk dapat kembali kursi yang dulu.

Beda lagi yang satu ini; pejabat tanpa beban, sebab selamanya hanya menjadi Pejabat, terkadang Pelaksana Tugas, bahkan pernah menjadi Pejabat Sementara. Mereka tanpa beban yang ada hanya bekerja dan bekerja, tanpa harus terbebani untuk mencalonkan diri guna “menjadi”. Mereka-mereka ini bekerja tanpa atribut dan tanpa ribut, sehingga apapun yang menjadi tanggungjawabnya mereka selesaikan, selanjutnya terserah kepada yang menilai. Mereka ini selalu mendaki walau jalan sudah melandai, akibat dikira hari masih pagi, tidak tahunya sudah mau berganti.

Tampaknya kelakuan sungsang seperti ini sekarang sedang menjadi trend; manakala manusia ada maunya, apapun bisa dibuatnya. Namun, begitu maksud sudah tercapai terserah anda maunya apa. Tidak jarang semula tampak indah, namun di balik itu ternyata setelah kaca mata berganti hitam, gelaplah dunia dan isinya; jangan harap anda di sapa, dilihat pun jadi barang langka.

Banyak peristiwa sosial saat ini yang tampaknya dari jauh baik-baik saja, namun sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Oleh karena itu banyak hal tampaknya melandai ternyata menanjak; dan, tampaknya naik tetapi sebenarnya menurun. Fatamorgana sosial saat ini sedang berlangsung di sekitar kita, harap maklum manakala nantinya ini berubah menjadi mimpi sosial kolektif; termasuk mimpi untuk hadirnya pemimpin baru yang adil untuk mewujudkan masyarakat adil makmur.

Masa lalu kita kenal dengan mimpi sosial datangnya “ratu adil”; seiring pergeseran harap yang ada dalam masyarakat; tampaknya mimpi itu berubah dalam bentuk baru, walaupun bernafas sama. Banyak orang sekarang sedang menjual mimpi makan keju dan roti, terlepas apakah setelah bangun nanti hanya ada kopi dan singkong yang tersedia; itu adalah resiko yang harus diterima sebagai kenyataan bersama. (sj)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *