Begal

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Kata begal sudah sangat familiar di telinga kita. Bahkan sudah menjadi semacam konsumsi sehari-hari. Namun untuk mempersempit pisau analisis dalam bekerja, maka perlu ada pembatasan istilah. Pada tulisan ini begal dimaknai sebagai segerombolan orang yang bekerja sama dalam melaksanakan maksud mereka, mengganggu orang-orang di jalanan, merampas harta benda dan tidak segan-segan membunuh. Di tempat lain, makna begal adalah suatu bentuk atau cara kejahatan dalam perampasan, perampokan atau pencurian yang dapat membahayakan nyawa si korban.

Ternyata dalam pesta demokrasi yang baru saja usai kita menemukan istilah “begal” dalam tanda petik untuk menghilangkan atau merampas suara calon lain guna diimbuhkan k esuara si pembegal atau orang suruhan untuk membegal, sehingga jumlah perolehan suara pembegal menjadi naik. Atau, pembegalan dilakukan untuk mengurangi suara yang dimiliki calon lain agar mengecil jumlahnya atau dimusnahkan. Lebih serunya, korban begal seperti ini tidak tahu harus lapor ke mana, karena laporan tidak dapat mengubah keadaan kecuali ada keajaiban. Korban pembegalan ini melanda siapa saja dengan tidak melihat pemilik. Bahkan sekelas anggota Dewan pun kena begal suaranya.

Ditemukan peristiwa lapangan yang juga dahsyat. Begal membegal ini memisahkan antara kemenakan dan paman. Paman sebagai kepala desa harus menyukseskan pencalonan istri dari yang dipertuan di atasnya. Sementara selama ini yang bersangkutan memperjuangkan kemenakannya yang akan maju sebagai anggota terhormat. Di tengah jalan, sang paman dibegal oleh atasannya dengan ancaman jika tidak mau membantu maka akan dibuka semua boroknya. Dengan amat terpaksa sang paman harus membegal kemenakannya sendiri, demi keselamatan diri dan keluarganya.

Begal membegal ini sekarang sudah masuk ke elemen kehidupan yang lebih luas. Bukan hanya di meja perhitungan suara dari suatu proses pemilihan, tetapi bisa terjadi di pasar pada timbangan dan atau ukuran; di ruang terhormat suatu sidang perhelatan hukum dan atau lain sebagainya. Semua memiliki peluang untuk membegal. Bahkan yang lebih seru lagi saling begal di antara begal, hal itu bisa terjadi. Sebab, begal pertama membegal hasilnya setor ke pemesan, setelah terkumpul akan di setor ke pengepul atasnya, dalam perjalanan hasil tadi dibegal oleh begal lain. Betapa serunya negeri begal seperti ini. Karena justru kehidupan begal ini memberi nafkah kepada banyak orang, terlepas akan ukuran moral apalagi agama yang tentunya sangat mengharamkan cara-cara ini. Namun, kenyataan lapangan sering berbanding terbalik dengan dunia ideal.

Tampaknya ada hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa pesta demokrasi yang baru lalu. Pertama, pembegalan selama ini dimaknai suatu tindakan kriminal berubah menjadi tindakan pecundang untuk memenangkan pertandingan.

Kedua, penguatan pendapat untuk tidak terlalu hirau dengan proses, tetapi yang penting hasil. Ketiga, efek domino yang dibayangkan oleh para intelektual dan kaum terdidik semua kandas di hadapan rakyat jelata yang memerlukan kebutuhan pokoknya terpenuhi untuk hari ini, sementara untuk hari esok itu urusan nanti.

Tampaknya kita harus menonoton sandiwara kehidupan yang mempertontonkan bagaimana kuatnya bantuan langsung atau bantuan sosial (bansos) dan sedikit cuan sebagai tali asih yang meminta untuk berterimakasih. Apakah itu semua hasil korupsi, penggelembungan anggaran, pengalihan bidang identitas anggaran — atau apapun namanya dalam istilah administrasi negara– bagi kebanyakan orang itu tidak penting. Apa yang dirisaukan orang yang paham, justru menurut persepsi orang kebanyakan itu adalah hambatan. Berarti kalau sudah ranah ini disentuh, maka sebenarnya sudah terjadi pembegalan persepsi secara terencana.

Apakah ini suatu pembuktian dari suatu celetukan masa awal reformasi yang memplesetkan menjadi kata repotnasi? Tentu jawabannya terserah pada kita semua. Manakala kita masih berkutat pada kebutuhan pemenuhan akan nasi, maka tesis itu menjadi benar adanya.

Untuk menegakkan demokrasi ternyata tidak terelakan salah satu caranya adalah dengan membegal anak negeri. Tentu penyataan itu sangat sarkastis. Namun, tinggal ada dua pilihan mengubah konsep demokrasinya sesuai kehendak kita sebagai pengguna dengan segala macam dalil dan alasan, atau mencerdaskan anak negeri disemua lini agar paham akan asas demokrasi. Pilihan yang terakhir ini memerlukan waktu yang sangat lama. Juga harus memperperhitungan ongkos sosial yang harus dibayar. (SJ)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *