Berbagi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Berbagi secara harfiah berarti memberi sesuatu barang, cerita, kisah, uang, makanan, dan segala hal yang penting bagi hidup kita. Berbagi juga bisa kepada Tuhan, sesama, alam, dan setiap hal di bumi ini.

Berbagi terjadi karena manusia adalah makhluk sosial. Manusia saling membutuhkan satu sama lain. Kita membutuhkan orang lain. Orang lain membutuhkan kita juga. Kita harus berbagi. Orang lain juga akan berbagi kepada kita juga. Dengan kata lain, berbagi kepada sesama adalah hal penting, karena tanpa berbagi kita sebagai manusia kehilangan arah dan arti dari makhluk sosial itu sendiri.

Kita sebagai mahkluk sosial sudah menjadi kewajiban untuk berbagi.Berbagilah yang kita punya. Berbagi juga tidak perlu kita mendatangi semua tempat orang yang kesusahan, tetapi berbagi di sekeliling kita. Pasti sekeliling kita masih banyak orang yang membutuhkan. Tidak hanya finansial. Kita juga bisa membagikan cinta kasih kepada orang lain yang terlihat sangat jatuh, patah semangat, putus asa. Bisa juga kita memperhatikan orang tua di sekitar kita yang kurang perhatian. Membantu mereka menyeberangkan jalan atau membersihkan dan mengangkat sesesuatu yang berat saat mereka mau pindahan, atau sedang dalam kesulitan.

Betapa mulianya berbagi dalam tataran ideal. Namun, pada tataran praksis ternyata makna berbagi bisa berkonotasi lain. Sebagai contoh setiap konstestasi yang berkaitan dengan “perebutan” kekuasaan, maka akan diakhiri dengan ada yang menang dan yang kalah. Sementara yang menang banyak melibatkan berbagai pihak untuk mendapatkan kemenangan. Dan, sudah menjadi semacam “kesantunan” untuk berbalas jasa dengan cara membagikan kekuasaan kepada para pendukungnya. Paling tidak untuk beberapa waktu atau mungkin dalam waktu yang lama. Semua tergantung dari situasi dan kondisi sebagai pendukungnya.

Hanya saja, yang sering diabaikan adalah apakah si penerima bagian itu menyadari akan kapasitas dan kapabilitas dirinya untuk menerima bagian yang dibagikan. Banyak di antara kita hanya melihat pembagian dalam konteks harfiah, bukan sebagai sesuatu yang hakiki. Akhirnya apa pun yang dibagikan akan diterima sebagai “anugerah”, walaupun sejatinya itu adalah “musibah”.

Bisa dibayangkan jika seseorang yang mampu mengangkat beban hanya lima puluh kilogram, tetapi memaksakan diri untuk mengangkat beban seratus kilogram. Tentu saja bukan kebanggaan atau kebahagian yang didapat, akan tetapi justru musibah yang menimpa. Oleh sebab itu, orang-orang dulu sudah mengingatkan dengan santun dengan tamsil “Kalau kail panjang sejengkal, janganlah laut hendak diduga”. Kecuali kalau kita mau hidup dalam kepalsuan.

Karena berbagi yang kita tampilkan di atas adalah palsu, maka hasilnyapun palsu, walaupun kita mengatakan secara serentak bahwa yang palsu itu adalah asli. Jika ini yang menjadi pilihan kita, maka sebenarnya kita adalah pemain sandiwara yang sempurna karena mampu memperankan yang palsu menjadi begitu tampak asli. Dan, keaslian atas suatu kepalsuan ternyata sekarang banyak disukai orang; oleh sebab itu tidaklah menjadi aneh jika sesuatu yang sejatinya “waras” menjadi “tidak waras” karena berada pada wilayah orang-orang yang tidak waras.

Aspek epistemologis menjadi bukan hanya aspek metodologis semata. Akan tetapi, menjadi lebih luas dan mendalam manakala disinggungkan kepada pesoalan di atas. Hanya saja, mampukah kita menangkap esensi dari persoalan? Di sana harus diakui banyak di antara kita menjadi gagal paham, karena memaknai suatu peristiwa dengan hitam putih semata. Sementara dimensi sekarang sudah begitu berkembang ke segala segi kehidupan. Oleh karena itu, apa yang dipahami oleh generasi terdahulu bisa berbanding terbalik dengan pemahaman generasi sekarang.

Ternyata setiap generasi memiliki tugas sejarahnya masing-masing. Banyak di antaranya menjadi gagal paham manakala memaknai kesinambungan sebagai suatu kemustahilan. Oleh karena itu, mari kita ikhlaskan bahwa hari esok itu terjadi karena adanya hari ini dan hari ini itu terjadi karena adanya kemarin. (SJ)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *