Hadir Tidak Menambahi, Absen Tidak Mengurangi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Banyak diantara kita tidak menyadari bahwa filosofi “hadir tidak melengkapi, absen tidak mengurangi” mencerminkan gagasan bahwa keberadaan seseorang tidak secara otomatis membuat suatu situasi menjadi lebih baik atau lebih buruk, begitu juga dengan ketidakhadirannya. Ini menekankan konsep bahwa nilai seseorang tidak hanya terletak pada kehadirannya fisik, tetapi juga pada kontribusi dan pengaruh positif yang mereka berikan ketika mereka ada.

Demikian pula, ketidakhadiran seseorang tidak mengurangi nilai atau kontribusi yang mereka miliki. Berbeda dengan kensep menghadirkan, ini lebih kepada kehadiran hati dan atau rasa terhadap apa yang dikerjakan, walau sering tertukar dengan konsep menjiwai.

Herdian, salah seorang doktor pendidikan dalam disertasinya menemukan hasil penelitian bahwa konsep “hadir” secara batinian berkaitan dengan keberhasilan seseorang dalam pekerjaannya, terutama pada proses penyelenggaraan pembelajaran.

Filosofi ini mendorong orang untuk memahami bahwa pentingnya bukan hanya tentang hadir atau absen secara fisik, tetapi tentang kualitas interaksi, kontribusi, dan dampak yang seseorang miliki dalam suatu situasi. Ini bisa digunakan sebagai pengingat bahwa nilai seseorang tidak hanya terkait dengan kehadiran fisik, tetapi juga dengan kontribusi positif yang mereka berikan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam konteks kesehatan mental, penting untuk mengingat bahwa nilai seseorang tidak hanya terletak pada produktivitas atau aktifitas eksternal. Prinsip “hadir tidak melengkapi, absen tidak mengurangi” bisa mengingatkan individu bahwa mereka memiliki nilai intrinsik yang tidak bergantung pada apa yang mereka lakukan atau seberapa sering mereka terlibat dalam aktivitas sosial.

Dengan menerapkan filosofi ini dalam berbagai aspek kehidupan, kita dapat membangun lingkungan yang lebih inklusif, menghargai keberagaman, dan mempromosikan rasa harga diri yang sehat di antara individu. Sayangnya filosofi ini sekarang banyak tergerus, begitu orang memandang dan atau mengukur sesuatu itu dari nilai kebendaan, bahkan lebih tragis lagi nilai rupiah; akibatnya hal ini menjadi nilai kolektif yang hidup dalam kelompok; sehingga “lupa sosial” menjadi semacam hal yang biasa.

Sisi lain juga harus menjadi keberterimaan kita pada saat berada pada posisi ini, sebab itu akan terjadi kepada siapapun kita, pangkat apapun kita, derajad apapun yang melekat pada kita. Kehadiran kita hanya sekedar meneguhkan jejak sejarah, sementara ketidakhadiran kita hanya menjadi kenangan sejarah. Itulah waktu yang selalu beredar mengikuti gerak porosnya yang selalu membagi pada tiga dimensi, masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Semua kita harus ihlas untuk menjadi masa lalu, karena kita pernah juga berada pada masa depan dan masa kini pada waktu lalu.

Kehausan akan dunia dan isinya, termasuk kekuasaan didalamnya, adalah kesesatan di jalan terang, karena semua yang dilihat menyilaukan mata batinnya, sehingga ingin direngutnya. Ketamakan seperti ini tentu membawa semakin jauh kepada taman labiirin yang takberujung; akibatnya bagai minum air laut, semakin diminum semakin haus.

Pada tataran inilah manusia menjadi lebih rendah dari animal derajatnya, karena akal sehatnya mengalami kebuntuan berfikir. Oleh sebab itu tidak salah jika orang bijak berkata “mari kita membuat sejarah, sebelum kita sendiri menjadi sejarah”. Tinggal warna sejarah seperti apa yang akan kita jadikan sejarah, tergantung posisi mana yang kita ambil. Karena perbedaan sudut pandang, akan juga membedakan penilaian; bisa jadi dari sudut ini seseorang dipandang sebagai pahlawan, namun dari sudut yang berlawanan justru dipandang sebagai pecundang. Hanya mereka yang mampu menangkap esensi keberagaman yang bisa memaknai perbedaan. Berbeda bukan berarti harus bertentangan, apalagi bermusuhan; yang berakhir dengan bubar jalan; sebab bagaimanapun kita, dan siapapun kita, sejatinya setiap hari kita harus berurusan dengan perbedaan, karena dinamika kehidupan ada di sana. Salam Waras! (SJ)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *