Efek Ekor Naga

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Setiap habis pemilihan apapun jabatan yang ada di negeri ini, mungkin juga di negeri lain, ada sesuatu yang tersisa, yaitu efek lanjut akibat dari pemilihan. Dan, dalam tulisan ini hal tersebut diberi nama efek ekor naga. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang wajar, sebab setiap keputusan yang diambil akan memiliki konsekuensi, dan salah satu di antaranya adalah “ikut barisan atau keluar barisan”. Dalam pengertian ikut menjadi pemenang atau pihak yang kalah, walaupun tidak menutup kemungkinan bisa jadi menjadi pecundang.

Efek ekor naga terutama akan terlihat seru manakala pemimpin yang dilahirkan dari proses pemilihan yang dipenuhi intrik-intrik tajam, dan pemimpin terpilih memiliki sifat kepribadian pendendam, baik tampak dinarasikan maupun tidak tampak. Akan tetapi, jika diperoleh pemimpin hasil pemilih yang memang memiliki jiwa kepemimpinan sejati, maka dia akan berusaha merangkul semua yang berbeda selama ini untuk dijadikan satu kekuatan pendukung program yang dimiliki. Walaupun keputusan ini sering dianggap tidak waras oleh para pendukung fanatik, tetap saja harus diakui bahwa langkah ini memiliki sisi kebaikan.

Ada satu penggalan pengalaman seorang kepala dinas dari satu instansi tertentu yang hampir terkena sabetan ekor naga karena dianggap selama ini tidak loyal dan berseberangan dengan pemenang pemilihan. Maka, yang bersangkutan secara terang-terangan dimuka umum diberitahu bahwa dia akan dipecat manakala sang pemenang telah dilantik. Seiring perjalanan waktu, saat evaluasi program seratus hari kepemimpinan, ternyata satu-satunya kepala dinas yang memiliki program dan kemajuan yang hebat dan tepat dari pemimpin terpilih, hanya dimiliki beliau. Ini pun disajikan dalam forum besar yang dihadiri oleh para pendukung pemenang yang tidak berbuat apa-apa. Walhasil, kepala dinas ini tidak pernah dipecat sampai masa periode kepemimpinan terpilih berakhir. Bahkan beberapa kali mendapat promosi jabatan karena kinerjanya baik, terakhir yang bersangkutan dipromosikan menjadi pejabat kepala daerah tingkat dua, dan tetap merangkap jabatan sebagai kepala dinas instansi tertentu.

Beda lagi di salah satu institusi ilmiah tertentu yang juga menganut sistem pilih-memilih kepemimpinan utamanya. Setelah pelantikan pemimpin terpilih melakukan penyusunan kabinet, semua pendukung diberi “kue” hasil perjuangan sesuai peran dan fungsi waktu berjuang. Ternyata ada di antara anggota kabinet yang menusuk teman seiring, menggunting dalam lipatan, dengan mengambil kebijakkan tanpa seizin pimpinan utama. Terpaksa di tengah perjalanan yang bersangkutan harus diistirahatkan; dengan alasan yang manis diucapkan, tetapi sakit dirasakan.

Semua itu pada level daerah, tentu pada level nasional akan lebih seru lagi soal geser-menggeser, gesek-menggesek, sikut-menyikut untuk mendapatkan posisi dan periuk nasi. Karena berspektrum luas, tidak jarang akan menimbulkan goncangan dalam pemilihan dan penetapan barisan. Bisa dibayangkan dari kursi menteri, dirjen, direktur, kepala unit, dan seterusnya; akan mengalami gonjang-ganjing dalam penetapannya.

Beda lagi yang menjadi “penggembira”, individu pada kelompok ini menjadi pencari selamat dan mencari sisa “nasi kenduri” dari hajatan yang sudah selesai. Ada yang menjauh menyilahkan pemimpin terpilih untuk berekplorasi, walaupun jumlah mereka ini sedikit sekali, da nada juga diantara mereka memiliki harapan dalam hati untuk mendapat hak-hak istimewa. Tetapi ada kelompok yang berharap mendapat tetesan hujan dari hasil sedikit keringat perjuangan, walaupun pada saat pertarungan pemilihan berlangsung hanya bertepuk ikut ramai, berbaris ikut panjang. Kelompok ini mulai memainkan jurus Cina Mabok agar dapat pembagian rejeki, apapun namanya.

Ada lagi yang berperilaku kepala menjadi besar, kaki menjadi kecil; sehingga merasa paling berjasa, dan bersikap yang tidak segaris adalah lawan. Selalu ingin sowan kepada pemimpin terpilih agar mendapat perhatian lebih. Namun jika ada keterplesetan pemimpin dalam bertindak atau berucap, mereka inilah yang akan lari paling depan untuk meninggalkan sang pemimpin terpilih sendirian.

Sebaliknya, yang berada pada posisi atau diposisikan sebagai rival, yang bersangkutan tidak diberi ruang, dan jika perlu tidak dikasih “hidup”. Semua tindakan, pemikiran, saran dari kelompok ini sekalipun mungkin baik, tetap dianggap sebagai penghalang, oleh sebab itu diupayakan untuk disingkirkan, atau biasa dengan bahasa halusnya dieliminasi dengan cara apa pun.

Kelompok terakhir ada pada posisi penikmat; kelompok ini hanya memandang dari jauh saja, dan terkadang sedikit berkomentar, atau tersenyum setengah hati, namun tidak jarang tertawa terbahak-bahak tatkala sendirian. Kelompok ini tidak peduli apa yang terjadi, yang penting baginya keluarga dan dirinya serta bisnisnya selamat sampai tujuan. Hiruk pikuk bukan urusannya, yang penting baginya ada pada zone nyaman; terserah saja orang lain. Saat ada pembagian rejeki, kelompok ini berteriak “atas nama hak”; mereka harus dapat, jika perlu paling besar, karena selama ini meras sebagai penyandang modal.

Efek ekor naga inilah yang mengakibatkan tsunami sosial melanda pada lembaga manapun, dan hal ini sudah menjadi semacam hukum sosial. Bahkan di lembaga atau negara yang mengatakan diri paling demokratis sekalipun, hal serupa ini tidak dapat terhindari. Manakala setelah terjadi pemilihan pucuk pimpinan tertentu, akan disertai peristiwa ini; adapun bungkusnya bisa bermacam-macam, salah satu diantaranya adalah “penyegaran”, pada hal sejatinya penyingkiran.

Sebentar lagi ekor naga di negeri ini akan bergerak, mari kita tunggu effeknya. Semoga dia membawa kemaslahatan bagi semua. Soal puas atau tidak, itulah dunia; mari kita syukuri yang ada dan terima dengan legowo apapun suratan Tuhan untuk kita. Walaupun ada catatan kecil diujung sana yang terbaca …“jangan selalu memaknai kemenangan sebagai suatu keberhasilan, bisa jadi itu ujian”… Hanya Naga Bonar dalam film-lah yang bisa mengocok perut karena tertawa. Sementara selebihnya membuat sakit perut karena larut. (SJ)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *