Kentus dan Kementhus

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Ketus dan Kementhus. Kedua kata itu berasal dari bahasa Jawa yang ucapannya hampir sama, tetapi maknanya sangat berbeda. Kentus atau tombong merupakan cikal bakal pembentukan tunas kelapa. Kentus kelapa bentuknya bulat dan terletak di dalam daging buah kelapa yang sudah tua. Waktu kecil zaman tahun 50-an dahulu kalau mengupas kelapa yang sudah tua, maka di dalam dagingnya tadi ada juga daging bulat, dengan tekstur yang sangat lembut, dan itulah namanya kentus. Biasanya menjadi rebutan kami yang masih anak-anak pada waktu itu, dan itu merupakan kebahagiaan tersendiri.

Berbeda lagi dengan Kementhus; dari hasil penelusuran digital ditemukan informasi Kata “kumenthus” dan “kumaki” sering diucapkan “kementhus” dan “kemaki” masih sering kita dengar dalam percakapan bahasa Jawa. Arti umumnya adalah “sombong”. Masih banyak orang yang berbahasa ibu “Jawa” mengerti hal ini. Yang bukan Jawa pun tahu mengatakan “kemaki”.

Kumenthus berasal dari kata “Kenthus”, yaitu sejenis katak yang bisa menggembungkan perutnya. Kataknya kecil-kecil saja, tetapi kalau pas menggelembung dia akan menjadi besar. Tidak hanya besar badannya tetapi suaranya pun menjadi besar. Kita tidak akan menyangka kalau bunyi yang keras itu dikeluarkan oleh makhluk sekecil itu. Orang “kumenthus” adalah orang yang berlagak sok berani sepertinya dia yang paling jagoan.

Tampaknya sekarang sedang banyak para kemethus ini berkeliaran disekitar kita dengan berlagak sok berani mencegat kendaraan berat untuk dimintai uang. Hampir sepanjang jalan raya yang dilalui kendaraan berat, mereka selalu beroperasi dengan cara memintapaksa kepada sopir kendaraan. Itu adalah permintaan yang terang-terangan dilakukan mereka ditengah jalan.

Bagaimana dengan para kementhus yang berbaju petugas dengan teknik “uang keamanan” mereka memeras para sopir kendaraan berat. Walaupun kalau kita telusuri mereka beraksi itu karena ada target yang harus mereka capai guna menenangkan Sang Bos. Persoalannya siapakah Sang Bos ini; ternyata Bos ini bagai multilevel, dimana setiap Bos punya Bos Besar lagi di atasnya; dan seterusnya.

Dunia kementus ternyata tidak hanya ada di jalan, tetapi kementhus berdasi juga tidak kurang; justru ini pada umumnya lebih rakus. Terkadang perilakunya menggelikan, kelihatan sok bersih bahkan sok suci; ternyata menerima storan lebih banyak dan lebih beragam. Kantornya berpendingin, bersih, wangi; walaupun sejatinya bau bangkai. Untuk masuk keruangannya-pun harus melalui lapisan security yang berlapis-lapis; namun manakala berhadapan dengan penyetoran, maka kata orang Palembang…..”lanjak ke”…

Lucunya lagi juga melanda orang yang merasa menjadi tokoh agama, yang seharusnya bisa berkata lebih santun, lembut dan penuh etika. Ternyata saat berhadapan dengan perbedaan sudut pandang; asli kementhusnya keluar; bahkan tidak segan-segan mengkafirkan orang yang alim dan hafal kitab suci yang sama dia yakini, dan belum tentu dia mampu menghafal dan sedalam pemahaman yang dikafirkan. Ternyata kementhus sudah menutupi akal sehatnya sebagai manusia yang merasa diri sebagai ahli.

Dunia kementhus sudah merajalela ke semua sendi kehidupan; hanya tampilannya saja yang membedakan. Ada yang berpola terang-terangan, ada yang malu-malu tapi mau, ada yang sok menolak tapi sebenarnya rakus. Atau gabungan dari ketiganya, dan ini yang sering tampak sekarang, bahkan bisa jadi musang berbulu ayam; tampak sekilas alim alamak ternyata kelakuannya saat sendiri bagai singa lapar yang tujuh hari tidak makan.

Kekementhusan ini tampaknya sudah menjadi “wabah sosial” karena hampir di semua lapisan masyarakat perilaku kementhus melanda. Terlepas apakah itu bawaan lahir, namun tampaknya keacuhtakacuhan masyarakat selama ini akan kondisi sosial sekitar ikut mengkontribusi tumbuh suburnya sikap kementhus. Miskinnya keteladanan dari pemimpin bangsa yang tampaknya akhir-akhir ini makin sulit didapat, diduga juga memberi kontribusi yang signifikan akan tumbuhkembangnya sikap kementhus bagi rakyatnya.

Dagelan kementhus tiap hari ditampilkan dihadapan kita, pertanyaan tersisa sampai kapan sikap kementhus itu akan terus dipertontonkan. Tentu saja jawabannya sampai alam ini digulung oleh malaikat atas perintahNYA. Konon juga kehancuran alam ini diakibatkan oleh sikap kementhus penghuninya. Semoga kita tidak menjadi bagian pengkontribusi timbulnya sikap kementhus.
Salam Waras (SJ)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *