JAGAL

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Minggu yang lalu sebagian besar diantara kita disibukkan dengan penyembelihan hewan kurban. Ternyata untuk menjadi tukang potong kurban atau disebut Jagal; secara berangsur mulai saat ini ditertibkan dengan adanya kuwajiban bersertifikasi bagi petugas pemotong hewan , dan pelaksanaan pensertifikasi-an itu dilakukan oleh unsur atau departemen yang berwenang. Dengan kata lain saat ini untuk menjadi “Jagal” itu tidak bisa sembarangan orang.

Sebelum lebih jauh kita membahas, mari pahamkan terlebih dahulu arti dari “Jagal”; Kata jagal dalam bahasa Indonesia memiliki beberapa arti, tergantung pada konteksnya. Secara umum, jagal dapat berarti: Penjagal atau Tukang Jagal: Orang yang pekerjaannya memotong atau menyembelih hewan untuk diambil dagingnya. Misalnya, penjagal sapi atau penjagal ayam. Namun ada juga makna negative, yaitu: Pembunuh atau Algojo: Orang yang melakukan pembunuhan, terutama dalam konteks kekerasan atau pembunuhan massal. Ini bisa merujuk pada pelaku kejahatan atau eksekutor hukuman mati. Penggunaan kata “jagal” pada konteks ini sering kali memiliki konotasi negatif, terutama ketika merujuk pada pembunuhan atau kekerasan.

Dinukil dari berbagai sumber, ternyata untuk menjadi jagal sapi kurban itu memiliki syarat, di samping syarat formal memiliki sertifikat untuk itu, ada syarat lain diantaranya: Menjadi jagal sapi kurban, terutama dalam konteks Idul Adha, memerlukan sejumlah persyaratan dan keterampilan khusus. Berikut adalah beberapa syarat yang umumnya harus dipenuhi: Pertama, Pengetahuan Agama: Jagal harus memahami tata cara penyembelihan hewan kurban sesuai dengan syariat Islam. Ini termasuk niat yang benar, doa penyembelihan, dan memastikan hewan dalam kondisi yang memenuhi syarat untuk dijadikan kurban. Kedua, Keterampilan Teknikal: Jagal harus terampil dalam teknik penyembelihan yang sesuai dengan syariat Islam, seperti memotong tiga saluran (urat nadi, tenggorokan, dan esofagus) dalam satu gerakan untuk memastikan hewan cepat mati dan tidak menderita. Ketiga, Kesehatan dan Kebersihan: Jagal harus dalam kondisi kesehatan yang baik dan menjaga kebersihan diri serta alat-alat yang digunakan untuk menyembelih. Penggunaan alat yang tajam dan steril sangat penting untuk memastikan proses penyembelihan higienis. Keempat, Etika dan Kemanusiaan: Penting bagi seorang jagal untuk memperlakukan hewan dengan baik dan tidak menyiksa hewan sebelum disembelih. Hewan harus diperlakukan dengan tenang dan tidak melihat hewan lain yang sedang disembelih. Kelima, Pengalaman dan Latihan: Biasanya diperlukan pengalaman atau pelatihan khusus dalam penyembelihan hewan. Jagal pemula seringkali harus belajar dari yang lebih berpengalaman atau mengikuti pelatihan khusus. Keenam, Kepatuhan pada Peraturan Lokal: Di beberapa tempat, ada peraturan khusus yang mengatur penyembelihan hewan kurban. Jagal harus mematuhi semua peraturan ini, termasuk peraturan tentang tempat penyembelihan dan prosedur pengelolaan limbah.

Dengan memenuhi persyaratan ini, seorang jagal dapat memastikan proses penyembelihan hewan kurban berjalan dengan lancar, aman, dan sesuai dengan syariat Islam.

Kegiatan jagal hewan itu secara kasat mata sangat tampak; tetapi sejatinya kita bisa menjadi jagal pada diri kita sendiri, yaitu manakala kita menggibah atau membicarakan keburukan orang lain. Perbuatan menjadi jagal diri ini tidak banyak orang menyadari, sebab kegiatan menggibah seolah sangat ringan dan mudah untuk dilakukan. Padahal Tuhan sudah berpesan manakala kita membicarakan kejelekan atau aib orang lain, itu adalah sama dengan menukarkan amal kita dengan dosa orang lain, dan ini berarti kita menjadi Jagal bagi diri kita sendiri.

Menjadi jagal bagi diri sendiri ini bisa melanda siapa saja, tidak melihat pangkat dan jabatan; oleh karena itu sebaiknya kita selalu waspada karena setan sangat suka bahkan siap menjadi teman bagi mereka yang ahli gibah. Bagaimana untuk menghindari diri dari bergibah; Filsafat Jawa mengajarkan dengan menggunakan “sanepo” Turonggo Catur Narik Kreta Kencana”; maksudnya; Secara harfiah, istilah ini dapat diterjemahkan sebagai “Empat kuda menarik kereta kencana”. Filosofi ini menggambarkan bagaimana berbagai aspek kehidupan harus seimbang dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang mulia, diibaratkan dengan kereta kencana yang merupakan simbol kemuliaan atau tujuan yang tinggi.

Berikut adalah penjabaran dari falsafah ini: Turonggo (Kuda) Catur (Empat): Menggambarkan empat aspek utama yang harus dijaga keseimbangannya dalam hidup. Dalam konteks budaya Jawa, ini bisa diinterpretasikan sebagai: Pertama, Raga (Tubuh/Fisik): Kesehatan dan kekuatan fisik harus dijaga agar mampu menjalankan aktivitas sehari-hari. cara melakukannya adalah makanlah makanan yang halal lagi baik, dengan cara itu badan akan sehat secara lahiriah dan batiniah. Kedua, Rasa (Perasaan/Emosi): Keseimbangan emosi penting untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan batin. Caranya adalah bersibuklah dengan kekurangan diri, bukan menyibukkan membicarakan kekurangan orang lain. Dengan cara inilah kita akan menemukan “sejatinya hidup dan hidup sejati”; karena selalu terhubung dan menghubungkan diri dengan Sang Maha Pencipta. Ketiga, Cipta (Pikiran/Intelektual): Pemikiran yang jernih dan pengetahuan yang cukup diperlukan untuk mengambil keputusan yang bijaksana. Sehingga semua keputusan yang diambil dilakukan secara adil dan dengan tidak melukai perasaan orang lain. Keempat, Karsa (Keinginan/Kehendak): Keinginan dan tekad yang kuat diperlukan untuk mencapai tujuan dan mengatasi tantangan; terutama yang berkaitan dengan keluhuran budi dengan selalu berpegang teguh pada ajaran agama. Kelima, Narik (Menarik): Menggambarkan usaha atau kerja keras yang dilakukan oleh empat aspek tadi untuk mencapai tujuan. Setiap aspek harus bergerak dan berkontribusi secara seimbang untuk menarik kereta kencana menuju syurgaNYA Sang Kholik. Kreta Kencana (Kereta Kencana): Simbol dari tujuan hidup yang mulia, kesuksesan, dan kebahagiaan. Ini adalah pencapaian akhir yang diharapkan dalam hidup, baik dalam aspek material maupun spiritual.

Dengan demikian, falsafah ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan dan sinergi antara berbagai aspek kehidupan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ini merupakan panduan yang holistik dan komprehensif dalam menjalani kehidupan sehari-hari agar dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan yang sejati.

Mari kita untuk tidak menjadi Jagal bagi diri sendiri, apalagi orang lain; karena sebesar biji zarah-pun dosa dan amal kita akan dimintai pertanggungjawaban di depan pengadilan abadi kelak.

Salam Waras. (SJ)

Editor: Gilang Agusman

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *