Kesempatan Emas! Universitas Malahayati Buka Lowongan Dosen Tetap S1 Farmasi Tahun 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Apakah Anda seorang profesional di bidang farmasi yang bersemangat untuk berbagi ilmu dan berkontribusi dalam dunia pendidikan? Inilah saat yang Anda tunggu!

Universitas Malahayati membuka peluang karir sebagai Dosen Tetap Program Studi S1 Farmasi untuk Tahun 2025.
Bergabunglah bersama institusi pendidikan unggulan yang terus berkembang dan berkomitmen mencetak tenaga farmasi yang andal dan kompeten.

Kami mencari individu yang berdedikasi, berintegritas, dan siap berkontribusi dalam mencetak generasi masa depan yang unggul di bidang farmasi.

Tunggu apa lagi? Segera daftarkan diri Anda dan wujudkan karier akademik impian bersama Universitas Malahayati!

Selamat berjuang, semoga sukses! (gil)

Editor: Gilang Agusman

Harimau vs Perambah, Mencari Ujung Kain Sarung Dalam Kawasan Hutan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Tulisan Herman Batin Mangku (HBM) yang apik tentang persahabatan antara “Si Raja Hutan” dengan “Si Raja Negeri” membangkitkan memori masa kecil saya pengalaman “berinteraksi” dengan harimau liar di kebun karet orangtua kami tahun 1950-an.

Pada masa itu, saya dan abang saya diajak ayah kami pergi ke kebun melalui jalan setapak selama enam jam. Selain membawa bekal atau stok makanan, ayah menyelipkan senjata api saat dirinya jadi gerilyawan kemerdekaan RI.

Kami ke kebun untuk menyulam tanaman karet yang mati dengan tanaman baru, istirahat setelah Salat Ashar. Begitu menjelang malam, kami mandi di sungai kecil yang tenang dan jernih, tidak lupa mengambil air dengan bambu.

Malamnya, kami menginap dan tidur di dangau (rumah kecil) dengan tiang yang tinggi sekali. Untuk mencapai selasar, kami naik tangga tempel yang terjal dan serunya tanpa pegangan tangan.

Setelah Salat Isya, sebelum tidur, ayah membakar kayu besar yang kering di bawah dangau untuk penerangan, mengusir nyamuk, dan kehangatan. Kami sudah terbiasa seperti itu.

Namun malam itu, ada sesuatu yang “aneh” di bawah dangau kami. Kami mendengar suara. Dari celah pelepah (dasar lantai dari bambu yang dicacah), dibantu bulan purnama, kami melihat ada apa di bawah tempat istirahat kami.

Betapa terkejut dan merindingnya, ternyata ada “Si Mbah”, sebutan kami untuk harimau. Ayah berbisik agar jangan berisik dan bergerak yang dapat menarik perhatian “Si Mbah”.

Menjelang pagi, suara kokok ayam hutan terdengar dari kejauhan dan kawanan babi yang melintas di bawah dangau. Si Mbah melesat mengejar kawanan babi masuk hutan belantara.

Kisah ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya seumur hidup. Setelah pagi melanjutkan aktivitas, siangnya Ayah mengajak kami pulang.

Dalam perjalanan pulang, Abang bertanya kenapa tidak ditembak saja? Ayah menjawab “jangan ganggu karena kita punya wilayah masing-masing untuk mencari makan”.

Sambil berjalan pulang Ayah menceritakan etika berapa di tengah hutan dan bagaimana harus selalu menjaga hubungan baik dengan apapun yang ditemukan di rimba raya.

Dari sana kami paham, kenapa Ayah jika berburu tidak sembarangan memilih sasaran. Seperti ketika ketemu kawanan rusa, Beliau akan membidik rusa yang telah tua dan membiarkan Induk serta anak-anak rusa untuk lolos dari bidikan senjatanya.

Pada saat mencari ikan, Beliau tidak pernah menggunakan putas (racun ikan yang dibuat dari tumbukkan akar tumbuhan tertentu) agar anak-anak ikan bisa tetap hidup dan keseimbangan lingkungan terpelihara.

Bahkan, Beliau pernah akan menembak seorang warga yang menangkap ikan menggunakan bahan peledak (dinamit). Beruntung, warga tadi mengakui kesalahan dan pergi meninggalkan sungai.

Kembali ke pokok persoalan, apa yang dilakukan HBM untuk menarasikan bagaimana kegagalan para pemangku kepentingan dalam menjaga hutan telah terjadi di daerah ini, Provinsi Lampung.

Tentu menimbulkan pertanyaan, apa kerja para pendahulu yang memiliki banyak fasilitas dan kekuasaan untuk mengatur sampai kecolongan ada ribuan orang merambah hutan terlarang alias register.

Sampai, pada masa Gubernur Poedjono Pranyoto, dia memindahkan ribuan perambah lewat program yang tidak murah demi menyelamatkan lingkungan dan ternyata ada yang kembali lagi masuk kawasan.

Adanya wacana program yang sama saat ini, kelemahan program era Gubernur Poedjono harus menjadi pengalaman agar kawasan hutan TNBBS bisa bebas dari pengrusakan. Jika tidak, sama halnya mencari ujung kain sarung. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Rapat Pimpinan Universitas Malahayati: Sinergi dan Penyegaran Target Kinerja Tri Dharma Perguruan Tinggi Semester Genap 2024/2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati (Unmal) menyelenggarakan kegiatan Rapat Pimpinan bertajuk “Refreshing dan Sinergi Target Kinerja Tri Dharma Semester Genap 2024/2025”, bertempat di ruang rapat Gedung Rektorat Universitas Malahayati. Senin (28/4/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik Prof. Dr. Dessy Hermawan, Ns., M.Kes., Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., serta para Dekan dan Wakil Dekan, Kepala dan Wakil Lembaga, Kepala Biro, Kepala Bagian, Kaprodi, dan Sekprodi di lingkungan Universitas Malahayati.

Prof. Dr. Dessy Hermawan, Ns., M.Kes., selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik, memberikan arahan mengenai peningkatan kinerja Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dalam arahannya, beliau menegaskan pentingnya optimalisasi kinerja pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat melalui perencanaan strategis, budaya akademik yang sehat, dan capaian luaran dosen yang lebih berkualitas dan terukur.

Sementara itu, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., selaku Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama, memberikan arahan terkait sinergi antar pimpinan dalam mendukung pencapaian visi Universitas Malahayati sebagai kampus yang unggul. Beliau menekankan bahwa kolaborasi lintas unit kerja menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para narasumber, yaitu:

Dr. M. Arifki Zainaro, S.Kep., Ns., M.Kep. (Kepala LPMI), membahas instrumen Monitoring dan Evaluasi Tri Dharma serta strategi promosi mahasiswa baru;

Prof. Erna Listyaningsih, S.E., M.Si. (Kepala LPPM), membahas target kinerja penelitian dan pengabdian dosen, peningkatan kualitas luaran jurnal Sinta 1 dan 2, serta pemanfaatan aplikasi Sinta;

Ahmad Iqbal, S.S. (Kepala Biro Akademik), memaparkan pelaksanaan perkuliahan, kelengkapan absensi dan kehadiran, kesesuaian pelaksanaan UTS, serta kelengkapan administrasi peserta UTS;

Ahmad Sidiq, ST., MT. (Kepala Biro Umum), membahas prosedur ajuan kegiatan luar kampus;

M. Ricko Gunawan, S.Kep., M.Kes. (Kepala Biro Kemahasiswaan), membahas kegiatan kemahasiswaan dan pembinaan mahasiswa berprestasi;

Kepala Biro Kerjasama, membahas pengelolaan kegiatan kerjasama dan pelaksanaan kegiatan luar kampus.

Dengan terselenggaranya Rapat Pimpinan ini, Universitas Malahayati memperkuat komitmen dalam membangun tata kelola perguruan tinggi yang berbasis kinerja, sinergi, dan mutu berkelanjutan menuju kampus unggul. (gil)

Editor: Gilang Agusman

katalog MATLAB Otomotif

Judul buku: MATLAB Otomotif

Penulis:

Tyan Tasa, S.Kom., M.Kom.
Fauzi Ibrahim, S.T., M.T.
Yoga Nugraha, S.T., M.T.I.

ISBN: Proses

Sinopsis:

Buku ini disusun sebagai referensi bagi
mahasiswa, peneliti, dan praktisi industri otomotif
yang ingin memahami dan mengaplikasikan MATLAB
dalam berbagai aspek rekayasa kendaraan. Dalam era
modern ini, teknologi otomotif berkembang dengan
pesat, khususnya dalam bidang simulasi, analisis data,
serta perancangan dan optimasi sistem kendaraan.
MATLAB, sebagai salah satu perangkat lunak yang
banyak digunakan dalam dunia teknik dan sains, memiliki
peran penting dalam membantu para insinyur otomotif
dalam memodelkan, mensimulasikan, dan menguji
berbagai sistem kendaraan dengan lebih efisien dan
akurat

katalog Pemanfaatan Limbah Industri Otomotif

Judul : Pemanfaatan Limbah Industri Otomotif

ISBN: Proses

Penulis :

Fauzi Ibrahim, S.T., M.T.
Natalina, S.T., M.Si.
Ahmad Sidiq, S.T., M.T.
Marcelly Widya Wardana, S.T., M.T.
Teuku Marjuni, S.T., M.T.

 

Sinopsis:

Buku ini hadir sebagai upaya untuk
memberikan pemahaman yang komprehensif tentang
pentingnya pengelolaan limbah otomotif yang
bertanggung jawab dan berkelanjutan. Industri
otomotif telah menjadi salah satu sektor yang
berkembang pesat di dunia, termasuk di Indonesia.
Namun, di balik kemajuan tersebut, industri ini juga
menghasilkan limbah dalam jumlah yang signifikan.
Limbah otomotif, yang terdiri dari logam, plastik, karet,
oli bekas, baterai, dan bahan kimia, jika tidak dikelola
dengan baik, dapat menimbulkan dampak serius
terhadap lingkungan dan kesehatan manusia

Katalog Manajemen Industri Otomotif

Judul : Manajemen Industri Otomotif

ISBN: Proses

Penulis:

Fauzi Ibrahim, S.T., M.T.
Emy Khikmawati, S.T., M.M.
Novia Utami Putri, S.T., M.T.
Meilaini Anggraini, S.T., M.Sc.

Sinopsis:

Buku ini disusun
sebagai referensi bagi mahasiswa, akademisi, praktisi
industri, serta siapa saja yang tertarik memahami
dinamika manajemen dalam industri otomotif yang
terus berkembang. Industri otomotif merupakan salah satu sektor strategis
dalam perekonomian global, yang mengalami
perubahan signifikan akibat kemajuan teknologi,
regulasi lingkungan, serta pergeseran preferensi
konsumen

Mahasiswi Universitas Malahayati Raih Gelar Muli Hidup Sehat Kota Bandar Lampung 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Nabila Putri (24320034) mahasiswi Program Studi S1 Ilmu Keperawatan, berhasil meraih gelar Muli Hidup Sehat Kota Bandar Lampung 2025 dalam ajang bergengsi Pemilihan Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung 2025.

Acara ini diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Bandar Lampung dan berlangsung mulai dari 12 hingga 26 Maret 2025 di Gedung Semergou, Pemerintah Kota Bandar Lampung. Pemilihan ini diikuti oleh para pemuda-pemudi terbaik Kota Tapis Berseri yang tidak hanya dinilai dari penampilan, tetapi juga dari wawasan, kepribadian, serta komitmen mereka terhadap promosi budaya dan kesehatan.

Dalam ajang ini, Nabila tampil memukau dengan pengetahuan dan visinya tentang pentingnya pola hidup sehat di tengah masyarakat modern. Lewat berbagai tahapan seleksi ketat, Nabila menunjukkan dedikasi dan kemampuan luar biasa, hingga akhirnya dianugerahi gelar bergengsi tersebut.

Nabila mengatakan bahwa Muli Mekhanai memberikan banyak pengalaman yang memotivasi saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, lebih maju dan lebih berani dalam menghadapi segala sesuatu yang ada di depan mata, ikatan kekeluargaan yang kuat dan saling support satu sama lain membuat saya semakin percaya diri untuk melangkah lebih maju.

“Suatu kebanggan untuk bisa menjadi bagian dari Muli Mekhanai Kota Bandar Lampung, dan Harapan saya bisa lebih memperluas pengetahuan tentang kota Bandar Lampung hingga membanggakan Universitas Malahayati dan kota yang kita cintai ini,” ujarnya.

Prestasi ini menjadi kebanggaan tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Universitas Malahayati yang selalu mendukung mahasiswanya untuk berprestasi di berbagai bidang. Nabila membuktikan bahwa mahasiswa kesehatan tidak hanya mampu di ruang kuliah dan praktik, tetapi juga mampu menginspirasi masyarakat luas untuk menerapkan gaya hidup sehat.

Selamat kepada Nabila Putri! Semoga pencapaian ini menjadi awal dari langkah-langkah besar berikutnya untuk membawa perubahan positif bagi masyarakat. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Hanya Perantara

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Idhul fitri telah lama berlalu, tetapi meninggalkan kenangan dari seorang sohib yang dalam satu acara keluarga beliau berkomentar bahwa kita manusia ini hanya “perantara” dari satu sistem besar yang Tuhan ciptakan. Manusia hanya elemen kecil dari satu sistem dengan tugas tertentu untuk melakukan hal tertentu dalam sub sistem tertentu, dari sistem besar yang ada. Sohib tadi menjelaskan dari berbagai pandangan, yang tidak mungkin diuraikan pada media ini, di samping tidak cukup ruang juga tidak elok tempat. Namun untuk sekedar memahami dari sedikit kulit ari yang ada tentang ini, maka ada beberapa referensi yang dapat kita jadikan tempat berpijak analisis; namun perlu disadari dari awal tentu semua masih bisa diperdebatkan, karena itulah esensi dari filsafat. Adapun pandangan tadi antara lain sebagai berikut:

1. Filosofi Keberadaan dan Keterhubungan
Dalam banyak tradisi filsafat, realitas sering dipahami sebagai sesuatu yang terus berubah dan saling terhubung. Jika sesuatu disebut “hanya perantara”, ini berarti keberadaannya bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari suatu proses yang lebih besar.

2. Epistemologi (Teori Pengetahuan)
Dalam teori pengetahuan, pemahaman manusia sering bergantung pada simbol, bahasa, atau konsep yang bersifat perantara antara realitas sejati dan kesadaran manusia. Misalnya, kata-kata dan konsep dalam bahasa hanyalah alat (perantara) untuk memahami dunia, bukan realitas itu sendiri. Dengan kata lain realitanya itu digambarkan melalui bahasa.

3. Etika dan Tanggung Jawab
Dalam etika, seseorang yang menganggap dirinya “hanya perantara” mungkin merasa tidak bertanggung jawab atas akibat dari tindakannya, karena ia hanya menjalankan peran dalam sistem yang lebih besar. Namun, dalam pandangan lain, kesadaran bahwa seseorang adalah perantara bisa mendorong sikap rendah hati dan pengabdian. Tidak ingin berbuat semena-mena karena dia harus bertanggung jawab kepada sipemberi peran sebagai perantara.

4. Filosofi Keberadaan dalam Konteks Mistis atau Spiritual
Banyak tradisi spiritual percaya bahwa manusia hanyalah perantara antara dunia material dan dunia spiritual. Dalam ajaran Sufisme, manusia sering dianggap sebagai perantara antara Tuhan dan alam, yang bertugas menjaga keseimbangan. Dengan demikian pada sudut pandang ini; “hanya perantara” bisa bersifat pasif (mengurangi tanggung jawab) atau aktif (memahami peran dalam sistem yang lebih besar). Dalam filsafat, ini mengarah pada pemahaman tentang keterhubungan, keterbatasan, dan hakikat eksistensi.

Kalau kita bumikan semua hal di atas dapat menggunakan kerangka berfikir kiyai Maimun Zubaeir yang mengatakan “jangan merasa berjasa bagi orang lain, karena kita hanyalah perantara dikehidupan orang lain”. Konsep filsafat ini bisa dimaknai bahwa manusia bukan pemilik mutlak dari apa yang ia miliki, lakukan, atau capai. Sebaliknya, kita hanyalah saluran atau perantara dari sesuatu yang lebih besar. Dalam kehidupan sehari-hari, ini bisa dibumikan dalam beberapa aspek berikut:

1. Dalam Pekerjaan dan Karier
Alih-alih menganggap keberhasilan sebagai hasil mutlak usaha pribadi, kita bisa melihatnya sebagai amanah yang harus diteruskan untuk kebaikan bersama. Misalnya: Seorang guru menyadari bahwa ilmu yang ia ajarkan bukan miliknya, tetapi titipan yang harus ia bagikan kepada murid-muridnya. Demikian juga seorang pemimpin tidak mencari kemuliaan pribadi, melainkan melihat dirinya sebagai penghubung bagi kesejahteraan orang-orang yang dipimpinnya. Dia tidak lebih sebagai pengatur antara yang membutuhkan dengan yang dibutuhkan.

2. Dalam Harta dan Kekayaan
Filosofi ini mengajarkan bahwa harta bukan sepenuhnya milik kita, melainkan hanya titipan yang harus dikelola dengan bijak dan digunakan untuk berbagi. Misalnya: Sedekah dan berbagi rezeki menjadi bagian dari kesadaran bahwa kita hanyalah perantara kebaikan. Oleh karena itu semakin kita banyak melakukannya, maka kebaikan akan kita tuai sebagai hasil.

3. Dalam Ilmu dan Pengetahuan
Pengetahuan yang kita peroleh bukan untuk disimpan sendiri, tetapi untuk disebarkan dan dimanfaatkan bagi banyak orang. Seorang penulis, seniman, atau ilmuwan harus memahami bahwa karya mereka adalah hasil dari pengalaman, inspirasi, dan kontribusi banyak pihak sebelumnya dan merupakan rangkaian panjang tak terputuskan.

4. Dalam Kehidupan Sosial
Filosofi ini membantu kita tidak merasa sombong atau terlalu melekat pada peran kita. Dalam hubungan sosial: Seorang orang tua harus menyadari dan memahami bahwa anak bukanlah miliknya, tetapi amanah yang harus dibimbing dengan cinta dan kebijaksanaan. Demikian halnya dalam menolong orang lain, kita tidak merasa lebih tinggi, tetapi sadar bahwa kita hanyalah perantara rezeki atau solusi bagi mereka.

5. Dalam Spiritualitas
Banyak ajaran kepercayaan yang menekankan bahwa manusia hanyalah perantara kehendak Tuhan. Ini mendorong kita untuk lebih rendah hati dan berserah diri dalam menjalani hidup.

Pada akhirnya, menerapkan konsep “kita hanya perantara” mengarahkan kita untuk lebih ikhlas, rendah hati, dan tidak terlalu melekat pada ego. Kita berusaha sebaik mungkin dalam hidup, tetapi juga sadar bahwa segala sesuatu mengalir melalui kita, bukan dari kita, dan bukan pula milik kita. pemahaman akan esensi kehidupan ini memang tidak mudah, memerlukan pengalaman batin yang panjang; namun tetap bisa dicapai bagi mereka yang memahami akan proses. Semoga kita mendapatkan kebajikan setelah kita berpuasa ramadhan berikut syawal pada waktu lalu, dan, diberi kesempatan untuk berjumpa dengan ramadhan serta syawal yang akan datang. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Menggugat Moral Akademik

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Saat perkuliahan pertemuan ke tujuh dilaksanakan, ada mahasiswa pascasarjana yang mempertanyakan bagaimana kedudukan filsafat dalam menghadapi gemburan teknologi di dunia akademik berupa penggunaan artificial intelligence (AI) ditandai dengan begitu mudahnya sekarang mendapatkan apapun informasi, termasuk informasi ilmiah di dunia maya. Serta kemudahan mendapatkan referensi pada perpustakaan digital yang berserak juga di dunia maya.

Tentu pertanyaan ini memerlukan perenungan mendalam dan penelusuran literatur baik fisik maupun digital. Filosofi dari menggugat moral akademik berpijak pada pemikiran kritis terhadap peran dan tanggung jawab dunia akademik dalam membentuk manusia dan masyarakat yang beradab. Jika kta renungkan secara mendalam, persoalan ini melibatkan beberapa landasan filosofis utama:

Pertama: Etika sebagai Landasan Ilmu.
Dunia akademik idealnya bukan hanya tempat pencarian ilmu, tapi juga ruang pembentukan karakter dan nilai.

Menggugat moral akademik berarti mengingatkan bahwa ilmu tanpa etika bisa menyesatkan. Ini selaras dengan pandangan para filsuf seperti Immanuel Kant, yang menekankan pentingnya moralitas dalam semua bentuk tindakan rasional. Pembentukan moral, termasuk moral akademik, tidak dapat dilakukan secara mekanistik, akan tetapi memerlukan proses pengendapan berfikir dan penanaman nilai. Oleh sebab itu banyak kalangan meragukan kemampuan AI menjangkau ini. Oleh sebab itu diperlukan tools yang kredibel guna menjaga maruwah akademik.

Kedua: Tanggung Jawab Sosial Ilmu Pengetahuan. Pada posisi ini ilmu tidak netral; ia selalu berada dalam konteks sosial. Menggugat moral akademik berarti menuntut ilmu agar berpihak pada kebenaran dan kemaslahatan umat, bukan sekadar menjadi alat kekuasaan atau pasar. Ini dekat dengan gagasan Paulo Freire, yang menolak pendidikan sebagai proses penjinakan, dan mendorong pendidikan yang membebaskan. Hanya seperti apa dan bagaimana mengejawantahkan atau membumikan pemikiran ini dalam bentuk aturan akademik; tentu ini sesuatu yang mendesak untuk dibicarakan oleh kalangan perguruan tinggi.

Ketiga, Kritik sebagai hakikat akademik.
Pada tradisi filsafat kritis, terutama dari Foucault atau Habermas, kekuasaan dan pengetahuan selalu saling terkait. Moral akademik yang bobrok seringkali berakar dari sistem kekuasaan yang menindas. Maka, menggugat moral akademik adalah upaya memulihkan fungsi kampus sebagai ruang dialog dan emansipasi. Di sini peran para Guru Besar harus mampu membangun ruang-ruang dialog dengan para warga kampus guna menemukenali persoalan yang disebabkan oleh munculnya AI; sehingga dapat termanfaatkan dengan baik dan benar yang tetap berada dalam koridor kaidah moral dan etika akademik.

Keempat, Keaslian dan Kejujuran Intelektual. Filsafat eksistensial, seperti yang diajarkan oleh Søren Kierkegaard atau Jean-Paul Sartre, menekankan otentisitas. Dalam konteks akademik, ini berarti menuntut setiap individu untuk jujur dalam pencarian ilmu, menghindari kepalsuan seperti plagiarisme, gelar palsu, atau manipulasi akademik demi status.

Dengan menyalahgunakan pruduk AI; maka penyimpangan itu menjadi sempurna seolah mendapatkan jalan legalitas, sekalipun itu sebenarnya semu.

Kelima. Pendidikan Hakikatnya sebagai Proses Humanisasi. Pendidikan yang sejati bukan sekadar transmisi pengetahuan saja, melainkan transformasi manusia. Ini adalah gagasan Ki Hadjar Dewantara, yang memandang pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia.

Menggugat moral akademik agar tetap menjaga maruahnya menjadi upaya menjaga agar proses pendidikan tetap mengarah pada cita-cita ini. Pembelajaran sebagai proses internalisasi nilai seharusnya memposisikan AI hanya sebagai tools, bukan sebagai tujuan. Oleh sebab itu diperlukan rambu-rambu penggunaan tools itu agar tepat guna dan berhasil guna.

Menggugat moral akademik adalah panggilan untuk menjaga marwah ilmu dan pendidikan sebagai jalan pencerahan, bukan alat kekuasaan atau komoditas. Dan, itu adalah salah satu bentuk perlawanan filosofis terhadap degradasi nilai-nilai dasar akademika, dan usaha untuk menegakkan integritas, keadilan, serta keberpihakan pada kebenaran yang berkemanusiaan.

Perlu di sadari bahwa dua tahun kedepan perguruan tinggi akan kedatangan generasi baru yang disebut Generasi Alfa; yaitu generasi produk pendidikan digital, sebagai akibat covid yang lalu. Mereka sudah sangat terbiasa dengan penggunaan media digital, dan jika lembaga perguruan tinggi tidak mempersiapkan sistem, serta tenaga pengajar yang ramah digital, termasuk didalamnya AI; maka tidak menutup kemungkinan akan ada benturan budaya, termasuk budaya akademik. Dan, jika tenaga pengajarnya sudah siap berketerampilan digital, pertanyaan lanjut apakah sistem yang mengaturnya sudah dipersiapkan.

Pada sisi lain semua penyelenggara pendidikan, termasuk perguruan tinggi, memiliki tugas diantaranya memperkuat nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kemanusiaan, serta nilai luhur lainnya.

Pertanyaan tersisa adalah adakah cukup waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyongsong datangnya “generasi baru” itu ?. oleh karena itu tidak berlebihan jika kita sekarang melakukan upaya-upaya strategis agar tiba waktunya nanti bisa memberikan pelayanan kepada mereka dengan baik. Adapun cara atau metode yang akan ditempuh tentu berpulang kepada kita semua, baik secara personal maupun kelembagaan. (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Malahayati Siap Jaga Stabilitas Nasional Lewat Implementasi OBE di Mata Kuliah Pengantar Ekonomi Makro

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati terus mendorong inovasi dalam dunia pendidikan tinggi dengan mengadopsi Outcome Based Education (OBE), sebuah metode pembelajaran yang berfokus pada capaian hasil nyata dari peserta didik.

Program Studi (Prodi) Manajemen menjadi salah satu pelopor implementasi OBE yang konsisten, terutama dalam dua semester terakhir, Ganjil dan Genap 2024/2025. Mengawali semester Genap ini, Prodi Manajemen mengadakan kuliah umum melalui mata kuliah Pengantar Ekonomi Makro, mengusung tema “Peran Kebijakan Fiskal dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional” pada Jumat, 25 April 2025 di Gedung MCC Bawah, Universitas Malahayati. Kegiatan ini dipimpin oleh Ayu Nursari, S.E., M.E., dan diikuti oleh 11 dosen serta 220 mahasiswa angkatan 2024.

Menghadirkan Mifti Anisa Wulansari, S.T.P., M.E., yang menjabat sebagai Sekretaris BAPPELITBANGDA Kabupaten Mesuji, kuliah umum tersebut membahas beragam aspek penting, mulai dari pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kebijakan perpajakan, hingga strategi belanja negara untuk menjaga keseimbangan makroekonomi, menanggulangi inflasi, mengurangi tingkat pengangguran, serta mencegah atau merespons potensi krisis ekonomi.

Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif. Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi, terutama saat membahas tantangan perekonomian nasional dan global yang kian kompleks di awal 2025, di tengah eskalasi perang dagang dunia. Pembahasan mengenai kemampuan Indonesia dalam mengantisipasi berbagai dampak global serta pentingnya efisiensi belanja negara menjadi pusat perhatian diskusi.

Ketua Prodi Manajemen, Dr. Febrianty, S.E., M.Si., dalam sambutannya menekankan bahwa universitas memiliki peran vital sebagai sumber kajian akademik dan riset ilmiah yang menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan makroekonomi pemerintah.
“Mahasiswa dan dosen harus menjadi agent of change yang mampu memberikan masukan terhadap penyempurnaan kebijakan publik melalui penelitian, program pengabdian masyarakat, dan literasi ekonomi di berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya.

Lebih jauh, kerja sama riset dan pengabdian kepada masyarakat menjadi kunci agar kebijakan ekonomi yang dihasilkan benar-benar berbasis data lapangan dan kebutuhan riil masyarakat. Literasi ekonomi kepada publik juga menjadi tugas penting universitas dalam membantu masyarakat memahami kebijakan makro dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Kuliah umum ini menjadi bukti nyata komitmen Prodi Manajemen Universitas Malahayati untuk menerapkan OBE dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan berbasis hasil (outcome), bukan sekadar penyelesaian materi. Kurikulum berbasis OBE mendorong proses pembelajaran yang inovatif, efektif, dan interaktif, sehingga mahasiswa mampu mengembangkan keterampilan baru yang relevan untuk bersaing di tingkat global.

Melalui penerapan OBE dalam perkuliahan, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat penerapannya dalam situasi nyata, seperti kebijakan fiskal dan dinamika ekonomi global. Kesadaran kritis mahasiswa terhadap isu-isu ekonomi dan sosial semakin terasah, mendorong mereka untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan ekonomi dan sosial nasional. (gil)

Editor: Gilang Agusman