Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Hampir disetiap senja daerah ini selalu mendapatkan limpahan rahmat berupa hujan, walaupun terkadang rintik, namun tidak jarang juga deras, sehingga berakibat banjir dibeberapa ruas jalan masuk komplek. Seperti biasa senja itu hujan juga datang, ternyata benar yang dikatakan ajaran agama “hujan adalah rahmat”; karena pada saat itu kita dapat dengan bebas membaca tanpa harus berucap, melihat kemudian meresapi fenomena alam yang ada. Sedang asyik mengikuti jalannya pikiran yang menelisik fenomena alam yang sedang terjadi dengan memandang titik air hujan, tiba-tiba ada pesan masuk dari sahabat karib seorang jurnalis senior; maka diskusi virtual berlangsung; dan jadilah judul di atas mewakili suasana kebatinan kami berdua saat itu.
Makna filosofis dari “membaca tanpa kata” bisa ditafsirkan dalam beberapa lapisan makna yang dalam dan reflektif. Frasa ini mengandung nuansa kontemplatif yang membuka ruang tafsir lebih luas dari sekadar aktivitas membaca secara literal. Berdasarkan literatur digital ditemukan informasi beberapa makna filosofis yang bisa dimunculkan:
Pertama. Membaca dengan Hati, Bukan Hanya Mata
Artinya, kita menangkap makna, pesan, atau suasana dari sesuatu tanpa harus ada kata-kata tertulis atau terucap. Misalnya, membaca ekspresi wajah seseorang, suasana alam, atau getaran perasaan—itu semua adalah “teks” yang tak tertulis tapi bisa “dibaca” oleh jiwa yang peka. Oleh karena itu dalam konsep filsafat manusia ada diksi yang terkenal bertulis “kadang, diam lebih lantang daripada kata.” Jadi tidak salah jika banyak ulama menganjurkan untuk banyak diam mengingat Allah dari pada bicara tidak berguna.
Kedua. Pemahaman Mendalam Melampaui Bahasa
Bahasa kata itu terbatas. Tapi realitas, pengalaman, dan makna hidup seringkali tak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata. Oleh karena itu “membaca tanpa kata” adalah menyentuh makna dengan kesadaran langsung, tanpa harus melalui perantara simbol bahasa. Oleh karena itu filsuf terkenal pada zamannya berkata “dimana pencerahan datang bukan dari logika verbal, tapi dari keheningan batin”. Dalam istilah Jawa posisi ini sering disebut dengan “mesu budi”.
Ketiga. Belajar dari Alam dan Kehidupan
Alam semesta, kejadian sehari-hari, bahkan keheningan, semuanya menyampaikan pelajaran. “membaca tanpa kata” di sini bisa berarti belajar dari alam, merenungi hidup, atau menyimak hikmah dari segala sesuatu tanpa harus dijelaskan secara eksplisit. Oleh karena itu “pohon tidak berbicara, tapi ia mengajarkan keteguhan.”
Keempat. Intuisi dan Kebijaksanaan Batin
Kadang, kita tahu sesuatu bukan karena kita membacanya dalam buku, tapi karena intuisi dan pengalaman batin. Itu adalah bentuk “membaca tanpa kata” – sejenis pemahaman yang datang dari kesadaran terdalam. Kalau dihubungkan dengan konteks budaya Jawa atau filosofi Nusantara, ini bisa sejalan dengan konsep seperti rasa, hening, atau ilmu tanpa tutur. Ada kebijaksanaan yang hanya bisa dipahami dalam keheningan dan perasaan halus. Oleh karena itu tidak salah dalam tataran tertinggi dari aras pendidikan itu adalah pendidikan kontemplatif.
Filosofi pendidikan kontemplatif dalam konteks “membaca tanpa kata” merupakan ajakan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk logika dan kata-kata, lalu masuk ke ruang hening tempat makna sejati berbicara dalam diam. Filosofi ini punya akar dalam banyak tradisi spiritual dan budaya, secara lebih runtut dpat dijelaskan:
1. Pengetahuan Sejati Tidak Selalu Berbentuk Kata
“Kata hanya bungkus, makna tinggal dalam rasa.” Filosofi ini berpijak pada gagasan bahwa ada pengetahuan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dihayati. Pendidikan kontemplatif mengajak kita untuk mengalami langsung kebenaran melalui pengamatan batin, keheningan, dan intuisi, bukan sekadar membaca atau mendengar penjelasan.
2. Diam Adalah Gerbang Pemahaman
“Hening bukan hampa, tapi penuh jawaban.” Dalam keheningan, pikiran tak lagi bercabang, dan hati menjadi lebih peka. Melalui diam, menyimak, dan hadir sepenuhnya, seseorang bisa menangkap pesan-pesan halus dari dunia, manusia lain, atau semesta. Oleh sebab itu pendidikan kontemplatif menempatkan hening sebagai metode, bukan sekadar suasana. Ini adalah cara belajar yang tidak terburu-buru mengejar jawaban, tapi menunggu hingga makna menyatakan dirinya sendiri.
3. Kesadaran Adalah Guru Sejati
“Pendidikan kontemplatif tidak memberi ilmu, tapi membangkitkan kesadaran.” Filosofi ini tidak menekankan pada pemindahan pengetahuan, melainkan pada penyalaan cahaya batin. Guru bukan pusat segala tahu, tapi pendamping laku. Murid tidak pasif menerima, tapi aktif menyimak dunia dengan mata batin.
4. Membaca Rasa, Isyarat, dan Tanda
“Tidak semua yang penting terucap; tidak semua yang benar tertulis.” Membaca tanpa kata berarti belajar menangkap makna dari isyarat, rasa, atau peristiwa. Ini adalah pendidikan tentang membaca kehidupan sebagai teks yang tak tertulis. Sebagai contoh menangkap maksud di balik diamnya seseorang, atau memahami pesan dalam alam yang berubah.
5. Pendidikan Sebagai Jalan Spiritual, Bukan Sekadar Proses Akademik
“Belajar adalah ibadah batin menuju pulang ke dalam.” Pendidikan kontemplatif menyatukan pikiran, rasa, dan jiwa. Ia bukan sekadar mendidik agar “tahu” atau “cerdas”, tetapi agar bijak dan sadar. Pendidikan ini membawa kita lebih dekat ke jati diri dan ketenangan dalam memahami hidup.
Oleh sebab itu, prinsip kunci Filosofi Pendidikan Kontemplatif adalah: “Rasa lebih utama daripada logika – Diam lebih penuh daripada kata – pengalaman lebih dalam daripada teori – Kehadiran lebih penting daripada hafalan – Transformasi batin lebih utama daripada nilai angka”. Pertanyaan tersisa apakah lembaga pendidikan kita, terutama pada jenjang doktoral sudah mencapai tingkat ini. Jawabannya ada pada relung hati kita masing-masing, terutama para doktor dan calon doktor yang sedang bergiat. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Selamat Hari Kartini 2025 “Perempuan Hebat, Pilar Kemajuan Bangsa”
Selamat Hari Kartini 2025. Semangat Kartini adalah semangat kemajuan, pendidikan, dan kesetaraan. Mari terus kita gelorakan semangat tersebut dalam setiap langkah, agar perempuan Indonesia terus maju, tangguh, dan menjadi pilar penting dalam pembangunan bangsa.
“Perempuan Hebat, Pilar Kemajuan Bangsa”. Momen Hari Kartini ini dapat menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan tidak pernah berhenti, dan setiap langkah kecil hari ini adalah bagian dari perubahan besar di masa depan.
Universitas Malahayati berkomitmen untuk terus menciptakan ruang yang aman dan setara bagi perempuan untuk belajar, tumbuh, dan berkarya. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Maksiat versus Taubat
Muslih, S.H.I., M.H
Dosen Agama dan Dosen Ilmu Hukum Universitas Malahayati
–
Maksiat merupakan kelompok orang yang melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT dan kelompok orang yang enggan melakukan perbuatan yang diperintah Allah SWT. Maksiat adalah perbuatan yang melanggar perintah Allah SWT, bertentangan dengan ajaran agama, dan bertentangan dengan hukum moral. Maksiat dapat berupa dosa besar atau kecil. Secara definisi maksiat ialah Perbuatan yang melanggar ketentuan syariat Islam.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ ١١
Al Baqarah :11. Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”
Perbuatan maksiat dapat kita telaah lebih dalam pada diri kita masing masing,maksiat yang langsung kepada Allah atau melalui perantara manusia. Maksiat dapat juga berupa secara dzohir maupun maksiat secara batin. Dosa atau maksiat dzohir yang Nampak lisan menyakiti, mencaci, berdusta.Dosa maksiat mata dipergunakan memandang aurat orang lain, Memata-matai orang, Mengintip rumah orang lain tanpa izin, Memandang lawan jenis yang bukan mahram. Dosa maksiat tangan, seperti memukul orang lain, mengambil barang yang bukan haknya, dan bersentuhan laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya.
Maksiat telinga mendengarkan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti perkataan buruk atau bisikan setan. Imam al-Ghazali berpesan agar telinga dilindungi dari hal-hal tersebut.
Alasan mewaspadai maksiat telinga
Jenis maksiat dapat berupa ucapan, hati, perbuatan individu, perbuatan sesama yang memberikan dampak merugikan diri sendiri maupun dapat merugikan orang lain, menahan hak oranglain, mendzolimi dan lain sebagainya
Peruntukan bagi kelompok yang bermaksiat kepada Allah SWT akan mendapatkan dampak Mendapat dosa, terhalang dari rahmat Allah, berurusan dengan hukum,
وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُۥ يُدۡخِلۡهُ نَارًا خَٰلِدٗا فِيهَا وَلَهُۥ عَذَابٞ مُّهِينٞ ١٤
Beberapa hal dapat menghindari perbuatan maksiat Menjauhi segala bentuk maksiat, menjalankan tauhid dengan sempurna, menjauhi kesyirikan dan perbuatan zalim dan terutama melakukan taubat nasuha. Taubat nasuha adalah taubat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, ikhlas, dan tanpa cacat, dengan tujuan untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Taubat nasuha dapat dilakukan untuk dosa-dosa yang menyangkut hak Allah maupun hak manusia. Demikian syarat-syarat taubat:
Taubat nasuha dapat dilakukan dengan taubat dzohir dan taubat batin mengaku salah dihadapan Allah atas perbuatan maksiat mata telinga tangan badan mengaku salah dan mohon ampun atas dosa hati atas kesyirikan, sombong dengki dan penyakit hati lainnya. Disamping itu juga berupaya untuk berbuat baik. Sebagaimana firman Allah
…..ۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّئَِّاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ ١١٤
Hud 114. ……Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itu lah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
Taubat nasuha diperintahkan oleh Allah SWT sebagaimana dalam quran surat Attahrim ayat 8
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ تُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ تَوۡبَةٗ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمۡ سَئَِّاتِكُمۡ وَيُدۡخِلَكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ يَوۡمَ لَا يُخۡزِي ٱللَّهُ ٱلنَّبِيَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥۖ نُورُهُمۡ يَسۡعَىٰ بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٨
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا ٤٨
Editor: Gilang Agusman
Rektor Universitas Malahayati Hadiri Halal Bihalal Ilmu Keperawatan, Ciptakan Momen Kebersamaan dan Spiritualitas Pascaramadhan
Acara ini menjadi istimewa dengan kehadiran Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH, yang turut menyapa dan memberikan pesan inspiratif kepada seluruh civitas akademika yang hadir.
Turut hadir pula dalam kegiatan ini, Wakil Rektor I, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, serta Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Dr. Lolita Sary, SKM., M.Kes, menambah kekhidmatan dan kemeriahan momen silaturahmi ini.
“Kegiatan seperti ini perlu dilestarikan sebagai bentuk kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan kampus. Ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang ingin kita tanamkan di Universitas Malahayati,” ujar Rektor.
Tak hanya itu, Rektor juga menyampaikan pentingnya menjaga semangat spiritualitas pasca-Ramadhan. Ia mengimbau mahasiswa untuk membiasakan diri rajin mengaji, bahkan memberikan reward khusus kepada mahasiswa yang berhasil khatam Al-Qur’an selama bulan Ramadhan serta yang menjalankan puasa Syawal secara penuh.
“Kami ingin memotivasi mahasiswa untuk tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi insan yang berakhlak mulia dan religius. Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai awal yang baik untuk terus menumbuhkan budaya positif di kampus kita,” lanjutnya.
Rektor juga berpesan agar seluruh mahasiswa senantiasa menjaga semangat gotong royong, saling menghargai, dan aktif berkontribusi dalam kegiatan organisasi maupun sosial di lingkungan kampus. Hal ini sejalan dengan visi Universitas Malahayati dalam mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga memiliki integritas dan kepedulian sosial tinggi.
Editor: Gilang Agusman
Membaca Tanpa Kata
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Hampir disetiap senja daerah ini selalu mendapatkan limpahan rahmat berupa hujan, walaupun terkadang rintik, namun tidak jarang juga deras, sehingga berakibat banjir dibeberapa ruas jalan masuk komplek. Seperti biasa senja itu hujan juga datang, ternyata benar yang dikatakan ajaran agama “hujan adalah rahmat”; karena pada saat itu kita dapat dengan bebas membaca tanpa harus berucap, melihat kemudian meresapi fenomena alam yang ada. Sedang asyik mengikuti jalannya pikiran yang menelisik fenomena alam yang sedang terjadi dengan memandang titik air hujan, tiba-tiba ada pesan masuk dari sahabat karib seorang jurnalis senior; maka diskusi virtual berlangsung; dan jadilah judul di atas mewakili suasana kebatinan kami berdua saat itu.
Makna filosofis dari “membaca tanpa kata” bisa ditafsirkan dalam beberapa lapisan makna yang dalam dan reflektif. Frasa ini mengandung nuansa kontemplatif yang membuka ruang tafsir lebih luas dari sekadar aktivitas membaca secara literal. Berdasarkan literatur digital ditemukan informasi beberapa makna filosofis yang bisa dimunculkan:
Pertama. Membaca dengan Hati, Bukan Hanya Mata
Artinya, kita menangkap makna, pesan, atau suasana dari sesuatu tanpa harus ada kata-kata tertulis atau terucap. Misalnya, membaca ekspresi wajah seseorang, suasana alam, atau getaran perasaan—itu semua adalah “teks” yang tak tertulis tapi bisa “dibaca” oleh jiwa yang peka. Oleh karena itu dalam konsep filsafat manusia ada diksi yang terkenal bertulis “kadang, diam lebih lantang daripada kata.” Jadi tidak salah jika banyak ulama menganjurkan untuk banyak diam mengingat Allah dari pada bicara tidak berguna.
Kedua. Pemahaman Mendalam Melampaui Bahasa
Bahasa kata itu terbatas. Tapi realitas, pengalaman, dan makna hidup seringkali tak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata. Oleh karena itu “membaca tanpa kata” adalah menyentuh makna dengan kesadaran langsung, tanpa harus melalui perantara simbol bahasa. Oleh karena itu filsuf terkenal pada zamannya berkata “dimana pencerahan datang bukan dari logika verbal, tapi dari keheningan batin”. Dalam istilah Jawa posisi ini sering disebut dengan “mesu budi”.
Ketiga. Belajar dari Alam dan Kehidupan
Alam semesta, kejadian sehari-hari, bahkan keheningan, semuanya menyampaikan pelajaran. “membaca tanpa kata” di sini bisa berarti belajar dari alam, merenungi hidup, atau menyimak hikmah dari segala sesuatu tanpa harus dijelaskan secara eksplisit. Oleh karena itu “pohon tidak berbicara, tapi ia mengajarkan keteguhan.”
Keempat. Intuisi dan Kebijaksanaan Batin
Kadang, kita tahu sesuatu bukan karena kita membacanya dalam buku, tapi karena intuisi dan pengalaman batin. Itu adalah bentuk “membaca tanpa kata” – sejenis pemahaman yang datang dari kesadaran terdalam. Kalau dihubungkan dengan konteks budaya Jawa atau filosofi Nusantara, ini bisa sejalan dengan konsep seperti rasa, hening, atau ilmu tanpa tutur. Ada kebijaksanaan yang hanya bisa dipahami dalam keheningan dan perasaan halus. Oleh karena itu tidak salah dalam tataran tertinggi dari aras pendidikan itu adalah pendidikan kontemplatif.
Filosofi pendidikan kontemplatif dalam konteks “membaca tanpa kata” merupakan ajakan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk logika dan kata-kata, lalu masuk ke ruang hening tempat makna sejati berbicara dalam diam. Filosofi ini punya akar dalam banyak tradisi spiritual dan budaya, secara lebih runtut dpat dijelaskan:
1. Pengetahuan Sejati Tidak Selalu Berbentuk Kata
“Kata hanya bungkus, makna tinggal dalam rasa.” Filosofi ini berpijak pada gagasan bahwa ada pengetahuan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dihayati. Pendidikan kontemplatif mengajak kita untuk mengalami langsung kebenaran melalui pengamatan batin, keheningan, dan intuisi, bukan sekadar membaca atau mendengar penjelasan.
2. Diam Adalah Gerbang Pemahaman
“Hening bukan hampa, tapi penuh jawaban.” Dalam keheningan, pikiran tak lagi bercabang, dan hati menjadi lebih peka. Melalui diam, menyimak, dan hadir sepenuhnya, seseorang bisa menangkap pesan-pesan halus dari dunia, manusia lain, atau semesta. Oleh sebab itu pendidikan kontemplatif menempatkan hening sebagai metode, bukan sekadar suasana. Ini adalah cara belajar yang tidak terburu-buru mengejar jawaban, tapi menunggu hingga makna menyatakan dirinya sendiri.
3. Kesadaran Adalah Guru Sejati
“Pendidikan kontemplatif tidak memberi ilmu, tapi membangkitkan kesadaran.” Filosofi ini tidak menekankan pada pemindahan pengetahuan, melainkan pada penyalaan cahaya batin. Guru bukan pusat segala tahu, tapi pendamping laku. Murid tidak pasif menerima, tapi aktif menyimak dunia dengan mata batin.
4. Membaca Rasa, Isyarat, dan Tanda
“Tidak semua yang penting terucap; tidak semua yang benar tertulis.” Membaca tanpa kata berarti belajar menangkap makna dari isyarat, rasa, atau peristiwa. Ini adalah pendidikan tentang membaca kehidupan sebagai teks yang tak tertulis. Sebagai contoh menangkap maksud di balik diamnya seseorang, atau memahami pesan dalam alam yang berubah.
5. Pendidikan Sebagai Jalan Spiritual, Bukan Sekadar Proses Akademik
“Belajar adalah ibadah batin menuju pulang ke dalam.” Pendidikan kontemplatif menyatukan pikiran, rasa, dan jiwa. Ia bukan sekadar mendidik agar “tahu” atau “cerdas”, tetapi agar bijak dan sadar. Pendidikan ini membawa kita lebih dekat ke jati diri dan ketenangan dalam memahami hidup.
Oleh sebab itu, prinsip kunci Filosofi Pendidikan Kontemplatif adalah: “Rasa lebih utama daripada logika – Diam lebih penuh daripada kata – pengalaman lebih dalam daripada teori – Kehadiran lebih penting daripada hafalan – Transformasi batin lebih utama daripada nilai angka”. Pertanyaan tersisa apakah lembaga pendidikan kita, terutama pada jenjang doktoral sudah mencapai tingkat ini. Jawabannya ada pada relung hati kita masing-masing, terutama para doktor dan calon doktor yang sedang bergiat. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Prodi dan HIMA Keperawatan Universitas Malahayati Gelar Kuliah Pakar: Kupas Strategi Komunikasi Efektif dalam Keperawatan di Era Digital
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, serta civitas akademika Universitas Malahayati. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kaprodi S1 Keperawatan dan Profesi Ners, Aryanti Wardiyah, Ns., M.Kep., Sp.Kep.Mat. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya penguasaan strategi komunikasi yang humanis dan adaptif di tengah tantangan era digital.
“Komunikasi efektif menjadi kunci utama dalam pelayanan keperawatan. Tidak hanya komunikasi secara klinis, tetapi juga bagaimana perawat mampu membangun hubungan baik dengan pasien dan keluarganya melalui pendekatan public relations yang tepat,” ujar Aryanti.
Sesi kuliah pakar menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya. Narasumber pertama, Razie Razak, M.I.Kom., CIQaR., CIQnR. dari Telkom University, memaparkan tentang konsep dan peran Public Relations dalam dunia keperawatan. Ia menekankan bahwa PR bukan hanya milik dunia bisnis atau pemerintahan, tetapi juga menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan modern.
“Public Relations dalam keperawatan adalah upaya membangun citra positif layanan, memperkuat kepercayaan publik, dan menciptakan keterhubungan emosional antara tenaga kesehatan dan masyarakat. Semua itu dimulai dari komunikasi yang tulus dan strategis,” terang Razie.
“Perawat adalah garda terdepan pelayanan kesehatan. Maka kemampuan public speaking, personal branding, serta komunikasi digital menjadi kebutuhan yang tak bisa diabaikan,” ungkap Prima.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga membuka wawasan mahasiswa untuk lebih siap menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif dan serba digital. Mahasiswa diajak untuk melihat profesi keperawatan dari sudut pandang yang lebih luas: sebagai profesi pelayanan sekaligus representasi institusi kesehatan di mata publik.
Dengan semangat kolaborasi dan pembelajaran lintas disiplin, Kuliah Pakar ini diharapkan dapat menumbuhkan generasi perawat yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga cakap dalam berkomunikasi dan membangun hubungan yang hangat dengan pasien dan keluarga mereka. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Lakukan Rotasi Jabatan Struktur Organisasi Jajaran Rektorat
Acara ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, termasuk Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, Wakil Rektor III Dr. Eng. Rina Febrina, ST., MT, Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, serta para kepala bagian seperti Humas dan Protokol serta Kepegawaian.
Berikut adalah nama-nama pejabat yang dilantik dalam rotasi jabatan kali ini: Dewi Yuliasari, S.SiT., Bdn., M.Kes menggantikan Ledy Octaviani Iqmi, SST., Bdn., M.Kes sebagai Sekretaris Prodi DIII Kebidanan. Dr. Usastiawati Cik Ayu S I, S.Kep., Ns. menggantikan Khoidar Amirus, SKM., M.Kes sebagai Sekretaris Prodi S2 Kesehatan Masyarakat. Fijri Rahmawati, SST., M.Keb menggantikan Vida Wira Utami, SST., M.Kes sebagai Ketua Prodi S1 Kebidanan.Khoidar Amirus, S.KM., M.Kes kini menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, menggantikan Djunizar Djamaluddin, S.Kep., Ns., M.S. Nurul Isnaini, SST., M.Kes menggantikan Vida Wira Utami, SST., M.Kes sebagai Ketua Prodi Profesi Bidan.
Dengan dilantiknya para pejabat baru ini, Universitas Malahayati berharap akan terjadi akselerasi dalam pencapaian visi dan misi institusi, serta pelayanan pendidikan yang semakin berkualitas. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Membakar Suratnya Sendiri
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa waktu lalu saat turun dari kegiatan ritual subuh di mushala, berbincang dengan sesama jamaah dengan topik “ikhlas”. Tentu saja karena beragam pengetahuan dan kedalaman masing-masing pemahaman yang berbeda; maka pendefinisian tentang ikhlas ini beragam. Saat sampai di rumah, lanjut untuk menelusuri makna ikhlas yang sesungguhnya itu seperti apa. Hasil penelusuran digital ditemukan uraian yang sangat menarik jika dilihat dari konsep filsafat.
Imam Al-Ghazali merumuskan tentang ikhlas dengan suatu simbol — “seperti orang yang membakar suratnya sendiri setelah mengirimkannya, agar tak ada yang tahu selain Sang Maha Mengetahui dan tujuan surat itu dilayangkan” — adalah simbolis dan penuh makna batin. Bisa dibayangkan seseorang menulis surat untuk seseorang yang dicintainya. Setelah dikirimkan, kemudian salinan surat itu dibakar, agar tak ada yang tahu isi surat itu — hanya si pengirim dan si penerima.
Jika konteks ini disimbolkan kepada kita saat berdo’a maka, surat itu adalah amal perbuatan atau do’a, dan si penerima adalah Tuhan. Maka, membakar surat sama dengan menghapus jejak niat untuk dipuji, diingat, atau dihargai oleh siapa pun, selain Tuhan. Jika kita maknai secara filosofis, berarti kita sedang menutup ruang ego. Maknanya, jika kita menyimpan salinan surat (amal), bisa jadi kita ingin membanggakannya di masa depan — entah pada orang lain, atau pada diri sendiri. Oleh karena itu Imam Ghazali mengajarkan: “lepaskan semua itu. Jangan mengklaim kebaikanmu”.
Hal ini juga menunjukkan bahwa kita dapat melampaui kesadaran sosial; maksudnya dunia sosial penuh dengan pujian, validasi, suka/tidak suka — tapi ikhlas itu berlaku di ruang batin, sunyi dari keramaian. Dengan kata lain saat kita “membakar surat”, berarti kita menutup pintu dari keinginan dinilai oleh siapa pun kecuali “Dia”.
Hal ini juga menunjukkan totalitas ketulusan; maksudnya Ikhlas itu bukan setengah-setengah. Membakar surat berarti juga kita tidak menyisakan bukti, tidak ingin diakui — bahkan oleh diri kita sendiri. Oleh sebab itu pada posisi ini kita harus hati hati, bisa jadi dimana kita beranggapan bahkan berucap bahwa “aku telah ikhlas”; itupun bisa jadi jebakan ego, sekaligus sesungguhnya menunjukkan ketidakihlasan.
Lebih jauh para sufi mengatakan bahwa ikhlas itu makna spiritualnya: mengandung laku fana (lenyapnya aku) — bahwa dalam amal sejati, “aku tak penting, yang penting adalah Dia”. Oleh karena itu ada ungkapan sufi yang terkenal mengatakan :”Ya Allah, aku berbuat bukan karena aku mulia, tapi karena Engkau pantas menerima segalanya.”
Oleh sebab itu jika kita refleksikan dengan sejumlah pertanyaan: apakah kita benar-benar rela berbuat baik tanpa disadari siapa pun termasuk diri kita?. Bisakah kita tetap berbuat baik walau tak pernah ada yang tahu, mengingat, atau membalas?. Tentu jawabannya sangat subyektif dan sangat personal.
Salah satu nukilan tentang ini adalah satu pernyataan sufi dari Abu Yazid al-Bistami yang mengatakan “orang yang masih melihat dirinya ikhlas, sejatinya belum ikhlas.” Yang maknanya: selama masih merasa bahwa “akulah yang ikhlas”, itu berarti masih ada aku di sana. Ikhlas sejati adalah saat kau beramal dan bahkan lupa bahwa dirinya telah beramal. Dengan kata lain amal yang ikhlas adalah amal yang tak diketahui siapa pun, bahkan oleh diri sendiri.
Oleh karenanya, dalam jalan sufi, seseorang tidak mengejar ikhlas, karena jika kita mengejarnya, berarti kita masih mengejar sesuatu. Sementara yang kita kejar adalah mahabbah (cinta) kepada Allah. Dari cinta yang tulus, muncullah amal yang ikhlas — tanpa dipaksa, tanpa dibuat-buat. Oleh karenanya Rābiʿah al-ʿAdawiyyah berkata “Aku menyembah-Mu bukan karena takut neraka, dan bukan juga karena ingin surga, tapi karena aku mencintai-Mu.”
Ikhlas adalah keadaan batin yang hanya bisa diraih lewat cinta, kehancuran ego, dan kesadaran bahwa tiada daya selain dari-Nya. Oleh karena itu “amalmu bukan milikmu. Bila kau anggap itu milikmu, maka kau telah mengotorinya.” Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Terjebak Pada Pilihan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Selepas hari lebaran Idhul Fitri banyak kerabat kembali ke asal dengan menggunakan sejumlah moda angkutan. Ada pengalaman menarik dari mereka adalah terjebak pada pilihan; yaitu mereka berasumsi bahwa pada saat hari lebaran kendaraan masih jarang dan lalu lintas lancar. Mereka memutuskan untuk berangkat kembali ke rumah dua jam setelah usai sholat Id agar tidak terjebak kemacetan. Ternyata keluarga yang berfikir demikian bukan hanya dirinya; banyak keluarga lain yang berasumsi sama. Akhirnya mereka terjebak pada kemacetan panjang yang memakan waktu lebih lama dari yang mereka duga.
Ternyata asumsi seperti ini tidak hanya saat berkendaraan; banyak jalan kehidupan yang dihadapkan pada pilihan, dan pilihan itu seolah jebakan yang tidak dapat dihindari. Berdasarkan penelusuran digital makna simbolis ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Makna dari “terjebak pada pilihan” bisa dilihat dari beberapa sudut pandang, tapi secara umum, frasa ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa tidak benar-benar bebas dalam memilih, meskipun tampaknya ada opsi yang tersedia. Ada semacam tekanan, kebingungan, atau ketidakpastian yang membuat pilihan itu terasa seperti jebakan, bukan kebebasan.
Beberapa makna diantaranya: Pertama, Kebingungan dan keraguan. Seseorang bisa merasa terjebak karena tidak tahu mana yang terbaik. Semua pilihan punya risiko, dan rasa takut salah membuatnya tidak bisa melangkah. Kedua, Pilihan yang terbatas atau sama-sama buruk. Kadang, semua opsi yang tersedia tidak ideal, sehingga memilih salah satu terasa seperti mengorbankan sesuatu. Maka, walaupun “memilih”, sebenarnya tidak ada pilihan yang benar-benar diinginkan. Ketiga, Tekanan dari luar. Bisa jadi seseorang merasa harus memilih karena tuntutan sosial, keluarga, pasangan, atau pekerjaan. Jadi, meskipun tampaknya ia yang memilih, sebenarnya ia hanya mengikuti arus. Keempat, Konflik batin. Hati ingin satu hal, tapi logika atau realita mendorong ke arah lain; maka, apapun yang dipilih terasa salah atau berat.
Ternyata terjebak pada pilihan jika dilihat dari sudut pandang filsafat tidak sesederhana frasenya. Hal itu dapat diuraikan bahwa: Filosofi dari “terjebak pada pilihan” bisa dikaitkan dengan beberapa aliran atau pemikiran dalam filsafat, terutama yang berkaitan dengan kebebasan, kehendak, dan eksistensi. Ini beberapa pendekatan filosofis yang bisa memberi makna lebih dalam:
1. Eksistensialisme – Jean-Paul Sartre, Kierkegaard, Simone de Beauvoir.
Eksistensialis percaya bahwa manusia bebas memilih, tapi kebebasan itu bukan hal ringan. Justru karena terlalu bebas, manusia sering merasa cemas, takut, dan bahkan “terjebak” dalam pilihan-pilihannya sendiri.
“Man is condemned to be free.” – Sartre.
Maknanya: Kita harus memilih, tapi tiap pilihan membentuk makna hidup kita, dan itu tanggung jawab besar. Saat kita bingung, itu bukan karena tidak ada pilihan, tapi karena semua pilihan menuntut kita untuk menjadi sesuatu.
2. Determinisme vs. Kebebasan
Dari sisi determinisme, ada gagasan bahwa kita tidak sepenuhnya bebas karena semua pilihan kita dipengaruhi oleh faktor luar—kondisi sosial, budaya, sejarah pribadi. Maka, terjebak pada pilihan bisa berarti sadar bahwa kita sedang “dipaksa” memilih dalam batas-batas yang sudah ditentukan.
3. Stoikisme – Seneca, Epictetus, Marcus Aurelius
Stoik percaya bahwa yang bisa kita kendalikan hanya batin dan respons kita. Kalau kita merasa terjebak pada pilihan, itu karena kita mengikat diri pada hal-hal di luar kendali. Filosofinya adalah melepaskan keterikatan dan menerima apa yang terjadi dengan kebijaksanaan.
4. Taoisme – Laozi
Dalam Taoisme, ada ide bahwa terlalu banyak berpikir dan memilih bisa membuat kita kehilangan “aliran alami” kehidupan. Wu wei—tidak memaksa, membiarkan segala sesuatu mengalir—adalah kunci. Saat kita merasa terjebak, mungkin karena kita melawan arus yang seharusnya kita ikuti.
Jika kita ringkaskan kesimpulan Filosofisnya ialah, “Terjebak pada pilihan” adalah momen eksistensial. Ia menyingkap kerapuhan kita sebagai manusia yang ingin kebebasan tapi takut akan konsekuensinya. Ia menguji apakah kita sungguh hidup dengan sadar, atau hanya bereaksi pada tekanan luar.
Banyak peristiwa di dunia ini menggiring manusia terjebak pada pilihan, dan pilihan itu tidak bisa diulang atau dihindari. Akibatnya kita sering menerima akibat dari sesuatu sebab yang tidak kita kehendaki. Dengan kata lain kita berada pada posisi harus memilih dari suatu pilihan yang sejatinya semua tidak kita pilih; akibatnya kita berada pada lingkar pilihan yang tidak mengenakkan. Memang dalam alam demokrasi ada pilihan untuk tidak memilih juga suatu pilihan; akan tetapi itu jika yang dipilih tidak memiliki ikatan dalam bentuk apapun. Berbeda jika pilihan yang harus dipilih itu diajukan oleh mereka yang memiliki ikatan yang bentuknya bisa beragam. Tentu saja keadaan ini akan memposisikan yang memilih masuk ke dalam kondisi terjebak pada pilihan. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Kerja Sama Riset Genetik Forensik Antara Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan BRIN Teken Perjanjian Kolaborasi Penelitian
Penandatanganan perjanjian ini adalah wujud nyata dari kunjungan Tim Pusat Riset Biomedis BRIN yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sunarno pada April 2024. Kunjungan tersebut bertujuan untuk menjajaki peluang kolaborasi riset antara Pusat Riset Biomedis BRIN dan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. Fokus utama dari kolaborasi ini adalah pengembangan riset dalam bidang genetik forensik molekuler, yang nantinya akan digunakan untuk membantu identifikasi individu berdasarkan profil DNA, terutama dalam konteks bencana masal yang sering terjadi di Provinsi Lampung.
Selain itu, Provinsi Lampung sering menghadapi potensi bencana alam, yang dapat menghasilkan jenazah dalam kondisi yang sangat bervariasi, mulai dari yang utuh, sebagian utuh, hingga yang telah membusuk, terbakar, atau terkubur. Oleh karena itu, penelitian ini akan sangat berguna dalam mengidentifikasi individu yang tidak dikenal, khususnya dalam situasi bencana masal.
Dari pihak Pusat Riset Biomedis BRIN, Dr. Abdul Hadi Furqoni, S.Kep., M.Si, yang turut terlibat dalam koordinasi teknis penelitian, juga menambahkan, “Penelitian ini akan menjadi milestone penting dalam riset forensik di Indonesia, khususnya dalam menangani identifikasi korban bencana di wilayah yang sangat beragam secara genetik seperti Lampung.”
Kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan Pusat Riset Biomedis BRIN ini bukan hanya membuka peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang genetik, tetapi juga diharapkan dapat memberikan solusi praktis dalam menghadapi tantangan identifikasi jenazah pasca-bencana. Penelitian ini juga berpotensi untuk menghasilkan database profil DNA personal yang dapat digunakan untuk keperluan identifikasi di masa mendatang, baik dalam konteks hukum maupun sosial.
Ke depan, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan instrumen identifikasi DNA yang khusus ditujukan untuk masyarakat Suku Lampung. Hal ini tentu akan memberikan kontribusi besar terhadap keamanan dan kemajuan riset forensik di Indonesia.
Dengan adanya kerja sama ini, Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan BRIN membuka babak baru dalam riset biomedis dan forensik di Indonesia. Diharapkan, kolaborasi ini akan membawa manfaat yang lebih luas, tidak hanya bagi masyarakat Lampung, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan dalam menghadapi berbagai tantangan bencana dan identifikasi personal. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Rektor Universitas Malahayati Gelar Halal Bihalal Bersama Pimpinan Organisasi Kemahasiswaan dan Alumni, Satukan Langkah Menuju Kampus Unggul
Hadir dalam kegiatan ini Wakil Rektor I Prof. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., Wakil Rektor III Dr. Eng. Rina Febrina, ST., MT., serta Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes. Acara tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menyelaraskan visi dalam membangun Universitas Malahayati yang lebih maju dan unggul.
“Halal bihalal adalah momen sakral yang menyatukan kita dalam semangat kebersamaan. Kita tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir dengan hati yang bersih, untuk kembali merajut komunikasi, memperbaiki hubungan, dan memperkuat kepercayaan antar semua elemen di kampus ini,” ujar Rektor Kadafi.
Ia menegaskan bahwa Universitas Malahayati saat ini terus bergerak meningkatkan mutu pendidikan, kualitas riset, dan pelayanan publik. Tidak hanya itu, ia juga mengungkapkan target besar universitas ke depan, yaitu meraih status sebagai kampus unggul secara nasional dan mampu bersaing di tingkat global.
“Kami memiliki komitmen kuat untuk menjadikan Universitas Malahayati sebagai kampus unggulan. Untuk itu, dibutuhkan sinergi yang solid antara mahasiswa, alumni, dan seluruh sivitas akademika. Roda organisasi kemahasiswaan harus terus berjalan dengan baik. Mahasiswa harus menjadi agen perubahan, sedangkan alumni harus tetap menjadi inspirasi dan mitra strategis dalam pembangunan kampus,” tambahnya.
“Halal bihalal bukan hanya tentang silaturahmi, tapi juga tentang membangun kembali semangat kolektif. Mahasiswa dan alumni adalah dua pilar penting dalam ekosistem kampus. Mahasiswa menjadi motor penggerak organisasi, sementara alumni adalah wajah nyata keberhasilan universitas di masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya organisasi kemahasiswaan sebagai ruang tumbuh yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial. Kepada alumni, ia menyampaikan apresiasi atas segala bentuk dukungan, serta berharap kolaborasi antara universitas dan alumni dapat terus ditingkatkan dalam bentuk nyata — mulai dari mentoring, jejaring kerja, hingga pengembangan program bersama.“Mari kita perkuat sinergi ini, bukan hanya dalam seremoni, tapi dalam aksi nyata. Kampus ini adalah rumah kita bersama,” pungkasnya.
Kegiatan halal bihalal ini diharapkan menjadi awal yang baik untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka, kerja sama yang lebih erat, dan semangat baru dalam menyongsong masa depan Universitas Malahayati yang unggul, maju, dan membanggakan. (gil)
Editor: Gilang Agusman