Viral, antara Ilusi dan Prestasi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Akhir-akhir ini jagad dunia maya berkembang begitu pesat, baik isi maupun ragamnya. Teknologi informasi tampaknya sedang tumbuh dan berkembang begitu pesat, karena memudahkan suatu peristiwa menyebar luas tanpa tenggang waktu yang cukup lama. Lima belas tahun yang lalu hal seperti ini baru merupakan mimpi bahkan ilusi; walaupun sudah diberi peringatan dini, banyak pihak tidak percaya bahkan abai akan dekade ini.

Begitu pesat perkembangan teknologi, sehingga dapat dimanfaatkan oleh siapapun, dengan maksud apapun, sehingga menjadikan apa saja menjadi terbuka untuk diketahui oleh siapa saja. Sekat-sekat sosial, jarak, waktu; sudah bukan menjadi hambatan; justru menjadi momentum untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sehingga dari kepala daerah sampai orang biasa, atau bukan siapa-siapa dapat membuat dan kemudian mengunggahnya untuk dapat diviralkan.

Saat ini sedang menjadi “hias layar” Gubernur, Bupati, Pemuka Agama, ahli mekanik, pemerhati, pendidik , menampilkan acara singkatnya dengan harapan apa yang diinginkan cepat menyebar luas di tengah masyarakat melalui dunia maya. Atas nama “mengedukasi masyarakat” mereka mengejar rating sekaligus mendapatkan imbalan dari penyelenggara media. Oleh sebab itu ada diantara mereka mendapatkan penghasilan yang cukup besar dari kegiatan seperti ini.

Lebih jauh kita menelisik tentang ini; bersumber dari berbagai pustaka digital ditemukan informasi secara filosofis sebenarnya makna dari Ungkapan “prestasi apa ilusi” mengandung pertanyaan mendalam tentang makna dan nilai dari apa yang kita sebut sebagai prestasi. Berikut beberapa interpretasi dan makna yang bisa ditarik:

1. Pertanyaan tentang Makna Sejati Prestasi

Ungkapan ini mengajak kita untuk merenungkan apakah pencapaian yang kita raih atau yang dinilai oleh masyarakat benar-benar mencerminkan keberhasilan yang hakiki. Dengan kata lain, apakah apa yang kita anggap sebagai “prestasi” hanyalah suatu konstruksi atau gambaran ilusi, yang pada akhirnya tidak memiliki substansi atau arti mendalam dalam kehidupan?

2. Kritik Terhadap Standar Sosial

Di era modern, standar keberhasilan sering kali diukur dari pencapaian materiil, pengakuan sosial, atau reputasi. Ungkapan ini bisa dilihat sebagai kritik terhadap kecenderungan tersebut, yaitu bahwa:

Nilai Prestasi Relatif: Apa yang dianggap sebagai prestasi bisa berbeda-beda tergantung pada norma sosial dan budaya yang berlaku.

Superfisialitas: Penghargaan dan pencapaian yang terlihat cemerlang di permukaan belum tentu mencerminkan kualitas, dedikasi, atau kebahagiaan sejati seseorang.

3. Refleksi atas Realitas dan Harapan

Ungkapan ini juga mengandung dimensi reflektif, mengajak setiap individu untuk: Pertama, mengevaluasi Tujuan Hidup: Apakah pencapaian yang dikejar hanya untuk memenuhi ekspektasi eksternal atau memang sejalan dengan nilai dan keinginan pribadi?. Kedua, menerima Ketidaksempurnaan: Di balik sorotan gemerlap prestasi, ada realitas kehidupan yang kadang tak seindah penampilannya. Hal ini mengingatkan kita bahwa tidak semua pencapaian bersifat permanen atau benar-benar “nyata.”

4. Mengajak pada Pemikiran Kritis

Dengan mengajukan pertanyaan “prestasi apa ilusi”, kita didorong untuk: Pertama, mempertanyakan Sistem Penilaian: Bagaimana kita mengukur kesuksesan? Apakah melalui pencapaian yang tampak atau melalui proses dan pertumbuhan pribadi?. Kedua, mengutamakan Makna Personal: Mungkin pencapaian yang sejati adalah yang memberi kepuasan batin dan memberikan dampak positif, bukan semata-mata pengakuan dari pihak luar.

Secara keseluruhan, ungkapan “prestasi apa ilusi” merupakan undangan untuk menilai ulang arti sebenarnya dari kesuksesan dan pencapaian. Ini menantang kita untuk berpikir apakah pencapaian yang kita kejar hanyalah bayangan yang dibentuk oleh harapan dan norma sosial, ataukah merupakan realitas yang bermakna dalam konteks kehidupan dan nilai-nilai pribadi. Ungkapan ini membuka ruang untuk diskusi mengenai bagaimana kita mendefinisikan keberhasilan dan apakah kita sebaiknya mencari kepuasan dari dalam diri daripada terpaku pada standar yang dibentuk oleh masyarakat.

Tak terbayangkan sebelumnya bahwa setiap momen peristiwa saat ini dapat seketika diunggahsiarkan kepada khalayak maya; sehingga apapun kejadiannya bisa dengan cepat merambatsebar keseluruh penjuru. Namun sayangnya banyak diantara kita tidak sadar bahwa apapun peristiwanya akan membuat penilaian berbelah tiga; pertama yang mendukung, kedua netral, ketiga antipati. Diksi yang dipilihpun tidak jarang membuat terperangah pembacanya, karena sering dengan pilihan yang fulgar; bahkan seolah tak bernorma. Tetapi itulah kenyataan dunia maya, manakala kita tidak siap menghadapinya, lebih baik cukup membaca dan melihatnya. Pengambilan jarak aman seperti inipun bukan berarti kita terbebas dari emosi. Oleh sebab itu pendewasaan berfikir harus terus kita lakukan agar tidak terjebak kepada kesesatan berfikir; sehingga kita masih waras untuk membedakan mana prestasi dan mana yang hanya ilusi. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Datang dan Pergi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Mendapat kiriman berita duka dari seorang sahabat yang ibunda tercintanya meninggal dunia, atau dalam budaya Jawa dikenal dengan “lelayu”; tentu secara otomatis meluncur doa untuk almarhum semoga surga tempatnya, diampuni segala dosanya, dan dilipatgandakan ganjaran amal sholehnya. Peristiwa itu membangkitkan kenangan mendalam kepada almarhum dan almarhumah kedua orang tua dahulu yang pergi menghadap Sang Khalik beriringan, dengan selisih waktu tiga hari pada tahun 2006 dalam usia 106 Tahun dan 98 tahun.

Ternyata semua itu menunjukkan bukti bahwa dunia ini bagai “bandara besar” yang menampung penumpang datang dan pergi/berangkat. Ada yang harus menunggu lama karena pesawat yang harus ditumpangi belum tiba; namun ada juga yang baru tiba langsung naik pesawat berangkat ke tujuannya. Adapun jeda waktu masing-masing penumpang itu berbeda-beda; juga pesawat yang dinaiki dengan maskapai penerbangan yang tidak sama pula. Ada yang datang dan berangkat dengan “maskapai” yang sama; namun ada juga datang dan pergi dengan maskapai yang berbeda.

Berdasarkan penelusuran literatur digital diksi “datang dan pergi, dunia bagai bandara” dalam filsafat adalah pernyataan yang sangat bermakna dan bisa ditafsirkan secara mendalam. Diantara makna dari kalimat ini ialah:

1. Filsafat sebagai sesuatu yang dinamis
Kalimat ini menggambarkan bahwa filsafat tidak pernah diam—ia datang dengan pertanyaan, pergi dengan jawaban (atau sebaliknya), lalu datang lagi dengan pertanyaan baru. Seperti di bandara, di mana orang-orang datang dan pergi, demikian pula ide-ide filsafat: tak pernah menetap selamanya, selalu berganti, selalu dinamis. Oleh karena itu jika mereka yang sudah ada pada wilayah filsafat, tidak pernah berhenti memikirkan hakekat sesuatu, setiap peristiwa dan kejadian apapun namanya.

2. Dunia sebagai tempat perlintasan
Mengibaratkan dunia sebagai bandara menunjukkan bahwa hidup ini sementara, tempat singgah saja. Dalam konteks ini, filsafat hadir untuk memberi makna dalam “transit kehidupan” ini. Tapi sebagaimana di bandara, filsafat pun tidak permanen; ia bisa datang saat kita sedang mencari arah, lalu menghilang saat kita merasa “sudah sampai”.

3. Keterasingan dan pencarian makna
Bandara juga bisa diartikan sebagai tempat di mana orang asing berkumpul—tidak ada yang benar-benar tinggal di sana. Ini bisa mencerminkan rasa keterasingan manusia di dunia, dan filsafat adalah “penumpang” yang datang menemani dalam waktu tertentu, memberi refleksi atau kejelasan, lalu pergi lagi.

4. Kritik terhadap konsumerisme ide
Kalimat itu juga bisa dibaca secara lebih sinis: bahwa kini filsafat diperlakukan seperti komoditas yang “datang dan pergi”, bukan lagi sebagai jalan hidup, tapi sebagai tren, seperti orang lalu-lalang di bandara—cepat, instan, dan seringkali tanpa kedalaman.
Oleh karena itu tidak heran jika di bandara besar ini “penumpang” nya bertingkah macam-macam; ada yang duduk manis dengan segala perenungannya, ada yang asyik dengan dirinya sendiri, ada yang mengejar barang-barang branded dalam etalase, ada yang bersendagurau, dan masih banyak lagi. Oleh karenanya ada penumpang yang begitu menikmati seolah tidak akan “pergi” dari sana, ada yang ingin sekali cepat berangkat karena sudah lelah ataupun jenuh, ada juga yang biasa-biasa saja; namun tidak sedikit yang tidak tahu harus berbuat apa.

Semua akan menaiki pesawatnya masing-masing setelah ada “panggilan” akan keberangkatannya. Dan, panggilan itu tidak dapat ditunda sejenakpun, karena jadwal yang ada bersifat permanen sekaligus imanen. Tidak ada seorangpun pengantar yang bisa masuk ke dalam “pesawat”; semua persoalan harus diselesaikan sendiri.

Demikian halnya yang dibawa; ada penumpang yang membawa begitu banyak bawaan, namun tidak sedikit yang hanya berlenggang karena merasa diri yakin dengan “kartu sakti” yang ada di sakunya. Merasa “amalnya” sudah cukup sebagai bekal untuk menuju tujuan; namun ada juga yang was-was apakah “kartu”nya bisa menyelesaikan segala persoalan, penumpang yang model begini hanya pasrah akan takdirnya. Dan, masing-masing penumpang akan sibuk dengan dirinya sendiri, sekalipun itu suami istri, kakak adik, saudara. Seolah ada sekat diri pada masing-masing dalam melanjutkan “perjalanan abadi” itu.

Tidaklah salah peringatan dini yang ditulis oleh para winasis terdahulu “jangan terlalu pusing memikirkan dunia, sampai sampai membuat tidak sadar kalau sebenarnya kita sedang antri untuk meninggalkannya”. Kalau sudah begini pertanyaan tersisa “masihkah kita harus berebut dengan isi dunia, yang jelas-jelas akan kita tinggalkan jika waktunya tiba”. Masihkah kita terus mengejar fatamorgana dunia hingga lupa akan darah daging kita yang semua nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

“Sumeleh”

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Beberapa hari lalu ada seorang “piyantun ngayojokarto hadiningrat”  yang sudah cukup lama kenal dan tinggal di daerah ini; pada kesempatan itu beliau mengirimkan satu vidio yang berisi bagaimana sikap hidup “sumeleh” dalam budaya Jawa. Tentu saja media itu sering diputar untuk merenungkan apa esensi pesan yang disampaikan; terutama yang berkaitan dengan pengenalan pandangan hidup sekaligus pandangan batin akan ciptaan Yang Maha Kuasa.

Menarik untuk dicermati apa itu sumeleh dalam pemahaman filsafat manusia. Berdasarkan penelusuran digital ditemukan penjelasan esensial sebagai berikut: dalam filsafat manusia (Jawa), “sumeleh” adalah konsep penting yang menggambarkan sikap pasrah dengan penuh kesadaran dan ketulusan kepada kehendak Tuhan (Gusti Allah), tanpa kehilangan semangat hidup atau tanggung jawab pribadi.

Secara etimologis dan filosofis, sumeleh berasal dari kata dasar seleh yang berarti “meletakkan” atau “menyerahkan”. Maka sumeleh dapat dimaknai sebagai meletakkan diri dalam kepasrahan total kepada kehendak Ilahi, namun tetap berusaha dengan ikhlas dan tidak terikat hasil.

Dengan demikian, esensi dari sumeleh adalah: pasrah aktif – bukan menyerah tanpa usaha, tapi berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Oleh sebab itu dalam pandangan filsafat Jawa, konsep tawakal lekat dengan kesadaran rasa (rasa sejati). Salah satu cirinya adalah mewujudkan inner peace (ketenangan batin) – orang yang sumeleh tidak mudah galau, tidak larut dalam kekhawatiran, karena percaya semua sudah dalam kendali Tuhan. Oleh karenanya diperlukan sikap rendah hati – mengakui keterbatasan diri di hadapan yang Maha Kuasa.

Konsep sumeleh dalam filsafat Jawa memang tidak berdiri sendiri—ia erat kaitannya dengan prinsip-prinsip lain seperti nerima, legawa, dan eling lan waspada. Semuanya saling mendukung dan membentuk satu kesatuan nilai hidup yang dalam.

Hubungan sumeleh dengan nerima, legawa, serta eling lan waspada adalah: nerima (nrimo ing pandum) – menerima dengan ikhlas apa yang diberikan oleh Tuhan. Nerima adalah pondasi dari sumeleh. Orang yang nerima tidak protes terhadap nasib atau takdir, tetapi menerimanya sebagai bagian dari kehendak Ilahi. Tetapi bukan berarti pasif—ia tetap berusaha, hanya saja hatinya tidak ngoyo dan tidak serakah. Hubungannya dengan sumeleh adalah: orang tidak bisa sumeleh kalau belum bisa nerima. Sumeleh lahir dari hati yang nerima.

Sementara legawa (ikhlas lahir batin) – melepaskan dengan lapang dada. Legawa adalah kemampuan untuk tidak terikat, termasuk terhadap hasil, orang lain, bahkan ego sendiri. Oleh karena itu dalam hidup, kita harus siap menerima kehilangan, kegagalan, atau perlakuan tidak adil tanpa dendam. Hubungannya dengan sumeleh: sumeleh butuh legawa agar tidak terbebani oleh kekecewaan atau penyesalan. Dengan legawa, kita bisa menyerahkan segala sesuatu dengan ringan.

Sedangkan eling lan waspada – selalu ingat pada Tuhan dan waspada terhadap godaan duniawi. Penjelasannya eling berarti sadar—bahwa hidup ini fana, bahwa kita hidup dalam skenario Tuhan. Waspada artinya hati-hati, waspada terhadap hawa nafsu, ambisi berlebih, dan ego.

Hubungannya dengan sumeleh: agar bisa sumeleh, seseorang harus punya kesadaran spiritual (eling) dan tidak lengah dalam hidup (waspada). Tanpa ini, sumeleh bisa jadi sekadar alasan untuk malas atau pasrah buta.

Sumeleh = Nerima + Legawa + Eling + Waspada. Keempatnya adalah laku batin yang menuntun seseorang menuju ketenangan jiwa, kebijaksanaan, dan harmoni dengan alam dan Tuhan. Namun bukan berarti sumeleh adalah hasil jumlah dari keempat unsur; tetapi lebih kepada terintegrasinya antarunsur keempat hal tadi diberi nama sumeleh.

Oleh karena itu, sangat salah dalam pandangan filsafat jika konsep di atas dipahamkan sebagai “klenik”, dan itu menunjukkan kedangkalan sekaligus kesesatan berfikir.

Pertanyaannya adalah bagaimana membumikan sumeleh itu dalam laku sehari-hari. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan mendadak atau seketika; akan tetapi lebih kepada proses mengendapnya rasa berserah kepada yang Maha Kuasa saat manembah melalui syariat yang diajarkan agama secara sempurna dan sungguh-sungguh. Di sini posisi shalat kita itu dalam pandangan filsafat adalah tiang agama, dan manakala shalatnya khusuk, maka sejatinya kita sudah sumeleh kepada kodratnya Alloh Sang Maha Pencipta. Tentu pendapat ini masih sangat debateble jika dikaji dari berbagai disiplin ilmu, dan itu sah-sah saja, akan tetapi dengan catatan “tidak perlu merasa benar sendiri”. Karena kebenaran pada wilayah filsafat berbeda dengan wilayahnya ilmu pengetahuan. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Tetap Baik Walau Berbeda

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Sudah menjadi kebiasaan umum saat hari Raya Id Fitri seperti beberapa hari lalu, kita mendapatkan ucapan atau juga mengirimkan ucapan yang berisi permohonan maaf kepada sanak saudara, handai tolan, kerabat dan “teman jauh” sekalipun. Apalagi saat seseorang ada pada posisi puncak karier atau jabatan; tidak aneh jika yang bersangkutan “kebanjiran” ucapan maupun “bingkisan” dari berbagai penjuru. Sampai-sampai Gubernur Jawa Barat harus berkata bahwa sebaiknya “pemberian” itu disalurkan kepada mereka yang berhak untuk mendapatkannya.

Peristiwa seperti itu juga sudah pernah dialami lebih dari dua puluh tahun lalu; dan seiring perjalanan waktu seleksi alami berjalan. Melalui “kematian” dan “pelupaan” dan, pemilahan seperti itu terus berjalan, sampai menyisakan residu sosial yang juga ikut menua. Akan tetapi ternyata “mutiara akan tetap sebagai mutiara, sekalipun dia ada di dalam lumpur hitam pekat”. Demikian juga manusia yang terbalut ahlak mulia, sekalipun memiliki keyakinan yang berbeda; dia tetap muncul sebagai “sinar terang” ditengah kegelapan. Dan, itu sekaligus yang membedakan dirinya dengan yang lain. Ternyata dari penelusuran lieratur yang ada makna filosofi “tetap baik walau berbeda” mencerminkan nilai kebijaksanaan, toleransi, dan kemanusiaan dalam perbedaan. Agar lebih jelasnya beberapa aspek filosofis tadi jika diuraikan akan kita temukan informasi sebagai berikut :

Kesadaran akan Keberagaman

Setiap individu memiliki latar belakang, keyakinan, dan cara pandang yang berbeda. Namun, perbedaan bukan alasan untuk bersikap buruk kepada orang lain.

Toleransi dan Harmoni

Menjaga kebaikan dalam perbedaan menunjukkan sikap toleransi, yaitu kemampuan untuk menerima keberagaman tanpa harus mengubah atau menentang perbedaan tersebut. Walaupun pada tataran praksis persoalan ini tidak mudah dibumikan, karena yang sama saja belum tentu bisa toleran apalagi yang berbeda. Di sini diperlukan kedewasaan sikap dan fikiran yang sehat serta kematangan jiwa yang baik.

Kemanusiaan di Atas Segalanya

Kebaikan adalah nilai universal yang melampaui batasan suku, agama, budaya, atau ideology, bahkan agama. Dengan tetap bersikap baik, kita menunjukkan bahwa kemanusiaan lebih penting daripada perbedaan yang ada.

Kebijaksanaan dalam Berinteraksi

Sikap baik dalam menghadapi perbedaan mencerminkan kedewasaan dan kebijaksanaan. Tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama, namun bukan berarti harus bermusuhan.

Keseimbangan dalam Hidup

Dalam konsep harmoni kehidupan (sering disebut dalam filsafat Jawa atau Timur), menjaga keseimbangan antara perbedaan dan kebersamaan adalah kunci ketenteraman dan kebahagiaan bersama.

Filosofi ini mengajarkan bahwa perbedaan adalah bagian alami dari kehidupan, dan cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan tetap menjunjung nilai-nilai kebaikan. Ternyata kebaikan itu bisa menembus sekat perbedaan apapun, termasuk keyakinan. Oleh sebab itu tidak aneh jika seiring perjalanan waktu mutiara itu muncul dipenghujung dari pendulangan yang lama “digoyang” oleh hempasan peristiwa dan prahara.

Bisa dibayangkan sekian puluh tahun lalu menebar benih kebaikan, ternyata seiring perjalanan waktu pohon yang pada waktu itu tumbuh subur, bisa jadi kini tinggal tidak lebih dari dua batang saja. Demikian halnya “anakkan” yang dulu sumbur berlimpah, ternyata yang tersisa tidak lebih hanya empat anakan yang kini juga baaraau tumbuh dewasa. Tidak salah jika orang bijak pernah berpesan “teruslah berbuat baik, sekalipun kebaikanmu tidak didunia ini tubuh suburnya; namun Tuhan menjanjikan atasnya kelak di alam sana dia akan bersamamu”. Tidak salah juga jika tokoh agama terkenal selalu mewanti-wanti bahwa “ahlak itu sering tidak terkait dengan agama, sekalipun agama selalu mengajarkan akan pentingnya ahlakulkharimah”.

Di samping itu jangan pula berhenti berdoa karena Jalaluddin Rumi pernah berpesan “jangan batasi doa mu dengan nalar pikiranmu, karena yang kau anggap mustahil, bisa dengan mudah Allah mewujudkannya”. Terimakasih orang baik, keyakinan kita bisa berbeda, namun kemuliahan hatimu bisa menembus batas ruang dan waktu. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Nakal

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Dalam filsafat, makna “nakal” dapat ditinjau dari berbagai perspektif tergantung pada konteks dan aliran pemikiran yang digunakan. Berikut adalah beberapa sudut pandang yang bisa digunakan untuk memahami konsep “nakal”:

1. Etika dan Moralitas

Etika Aristotelian: Aristoteles berbicara tentang “keutamaan” (virtue) sebagai jalan tengah antara dua ekstrem. “Nakal” bisa dianggap sebagai perilaku yang menyimpang dari kebajikan, tetapi tidak selalu buruk jika itu merupakan ekspresi dari kebebasan atau keberanian dalam batas yang tepat.

Sementara itu Utilitarianisme (Jeremy Bentham & John Stuart Mill): Tindakan “nakal” dinilai berdasarkan dampaknya terhadap kebahagiaan atau penderitaan. Jika kenakalan meningkatkan kebahagiaan tanpa merugikan orang lain, maka bisa dianggap netral atau bahkan positif.

Dari kacamata Deontologi (Immanuel Kant): Dari perspektif Kantian, “nakal” bisa dianggap sebagai pelanggaran terhadap kewajiban moral yang universal, terutama jika itu bertentangan dengan prinsip moral yang harus dijunjung tinggi oleh semua orang.

2. Eksistensialisme dan Kebebasan Individu.

Jean-Paul Sartre: “Nakal” bisa dilihat sebagai bentuk ekspresi kebebasan individu. Jika seseorang bertindak “nakal” untuk menegaskan keberadaannya (existence precedes essence), itu bisa menjadi bentuk perlawanan terhadap norma sosial yang menekan.

Friedrich Nietzsche: Dalam konsep “Übermensch” (Manusia Unggul), “nakal” bisa menjadi simbol penolakan terhadap moralitas budak dan penciptaan nilai-nilai baru yang lebih sesuai dengan kehendak pribadi dan kekuatan diri.

3. Perspektif Sosial dan Budaya

Dalam filsafat postmodernisme (misalnya Michel Foucault), “nakal” bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap struktur kekuasaan yang mengontrol individu. Apa yang dianggap “nakal” sebenarnya bisa menjadi alat untuk membongkar norma-norma yang menekan kebebasan manusia.

4. Perspektif Mistisisme dan Spiritualitas Timur

Dalam filsafat Timur seperti Taoisme, “nakal” bisa dipandang sebagai ekspresi spontanitas dan harmoni dengan dao (jalan alam). Jika kenakalan dilakukan dengan kesadaran akan keseimbangan, maka itu bukanlah sesuatu yang negatif, melainkan bentuk permainan yang alami dalam kehidupan.

Secara umum, “nakal” dalam filsafat bukan sekadar tindakan melawan norma, tetapi juga bisa menjadi simbol kebebasan, kreativitas, atau bahkan refleksi kritis terhadap aturan sosial. Maknanya tergantung pada bagaimana tindakan itu dipahami dalam konteks moral, sosial, atau spiritual.

Sayangnya tidak semua kita, termasuk penguasa; yang mau memahami eksistensi berfikir nakal. Justru kebanyakan terjebak pada perilaku nakal; padahal keduanya sangat berbeda makhomnya. Oleh sebab itu berfikir nakal adalah karunia keilahian yang dilimpahkan kepada manusia; termasuk kepada sedikit jurnalis , termasuk didalamnya HBM.

Sementara perilaku nakal adalah hasil proses interaksi kehidupan yang salah duduk. Tidak salah jika ada tokoh bihavioris yang mengatakan bahwa “orang pandai itu adalah mereka yang diberi kelebihan oleh Tuhan untuk berfikir nakal”. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

“Kontemplasi” Yang Tersisa Dari Ramadhan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Saat dikejauhan berkumandang takbir penanda berakhirnya bulan suci ramadhan, selepas isya’ duduk seorang diri sambil menikmati lantunan pujian kebesaran yang sayup-sayup terdengar. Jika menilik usia sekarang berarti sudah lebih dari tujuh puluh kali mendengar pujian dahsyat itu. Dan, ternyata sudah banyak teman-teman yang tidak sempat menikmati lagi alunan suci itu.

Berkontemplasi seperti ini membuat jalannya fikir makin jauh; lalu apa itu kontemplasi. Dari kenakalan berfikir ini mendorong untuk menelusuri lorong-lorong filsafat yang membahasnya. Dalam filsafat, berkontemplasi berarti merenung secara mendalam dan penuh perhatian terhadap suatu konsep, realitas, atau kebenaran tertentu. Kontemplasi bukan sekadar berpikir biasa, tetapi melibatkan pemusatan pikiran yang mendalam untuk mencapai pemahaman yang lebih esensial atau transendental.

Makna berkontemplasi dalam berbagai tradisi filsafat:

Filsafat Yunani Kuno – Plato dan Aristoteles menganggap kontemplasi (theoria) sebagai aktivitas intelektual tertinggi yang memungkinkan manusia mendekati kebenaran dan kebijaksanaan. Bagi Aristoteles, kontemplasi adalah bentuk kebahagiaan tertinggi karena menghubungkan manusia dengan aspek ilahi.

Filsafat Timur – Dalam ajaran filsafat timur, kontemplasi sering dikaitkan dengan meditasi dan kesadaran penuh (mindfulness), yang bertujuan mencapai pencerahan dan pemahaman akan hakikat realitas.

Filsafat Abad Pertengahan – Para filsuf seperti Agustinus dan Thomas Aquinas melihat kontemplasi sebagai cara untuk memahami Tuhan dan mencapai kesatuan spiritual dengan-Nya.

Eksistensialisme dan Fenomenologi – Heidegger dan Sartre menekankan kontemplasi sebagai cara untuk memahami keberadaan (being) dan kesadaran diri dalam dunia. Singkatnya, berkontemplasi adalah proses berpikir mendalam yang tidak hanya mencari jawaban rasional tetapi juga pengalaman langsung terhadap makna keberadaan dan kebenaran.

Dalam filsafat Islam, kontemplasi (tafakkur atau muraqabah) memiliki makna yang lebih mendalam, yaitu sebagai proses perenungan terhadap hakikat keilahian, alam semesta, dan diri sendiri. Kontemplasi dalam Islam tidak hanya bersifat intelektual tetapi juga spiritual, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memahami realitas yang lebih tinggi.

Tafakkur (Pemikiran Mendalam). Tafakkur adalah aktivitas berpikir mendalam yang dianjurkan dalam Al-Qur’an. Allah sering kali memerintahkan manusia untuk merenungkan tanda-tanda-Nya di alam semesta. Para filsuf seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina menggunakan tafakkur untuk memahami hubungan antara Tuhan sebagai Wujud Wajib (eksistensi niscaya) dan ciptaan-Nya.

Muraqabah (Kesadaran akan Kehadiran Tuhan). Dalam tasawuf, kontemplasi sering dikaitkan dengan muraqabah, yaitu kesadaran penuh bahwa seseorang selalu diawasi oleh Allah. Tokoh seperti Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kontemplasi membawa manusia pada tingkat ma’rifat (pengetahuan hakiki tentang Tuhan). Melalui dzikir dan meditasi Islam, seseorang dapat mencapai fanā’ (peleburan diri dalam Tuhan) dan baqā’ (kehidupan spiritual yang kekal).

Ishraq (Pencerahan Spiritual). Filsuf Suhrawardi, dalam filsafat iluminasi (Hikmah al-Ishraq), menyatakan bahwa kebenaran sejati dapat dicapai melalui kontemplasi dan pencerahan batin, bukan hanya melalui logika rasional. Proses ini disebut sebagai penyinaran (tajalli), di mana cahaya Ilahi menerangi hati dan akal manusia.

Wujudiyah (Eksistensialisme Islam). Ibnu Arabi dalam filsafat wujud (wahdatul wujud) menyebut bahwa kontemplasi membawa manusia pada kesadaran bahwa segala sesuatu adalah manifestasi dari Tuhan. Kontemplasi dalam konteks ini bukan hanya merenungkan Tuhan sebagai sesuatu yang terpisah, tetapi menyadari keberadaan-Nya dalam seluruh aspek kehidupan.

Kontemplasi dalam filsafat Islam adalah sarana untuk memahami Tuhan, eksistensi, dan hakikat diri. Ia menggabungkan aspek rasional dan spiritual, sehingga menjadi jembatan antara akal dan hati. Melalui tafakkur, muraqabah, ishraq, dan wujudiyah, seorang muslim dapat mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang realitas dan tujuan hidupnya. Oleh karena itu tidak salah jika kita merenungkan secara kontemplatif dari pendapat filosof islam terbesar pada jamannya yang mengatakan “belajar tasawauf bukan untuk menjadi alim; Apalagi merasa diri suci. Belajar tasawuf itu sejatinya untuk lebih mengenal kelemahan dan keburukan hati sendiri, karena tanpa tasawuf kita akan sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain”.

Pertanyaan tersisa apakah puasa yang baru selesai kita laksanakan sudah mencapai tataran seperti pada uraian di atas. Tentu jawabannya sangat subyektif karena hanya Tuhan dan diri-lah yang mengetahui. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Rektor dan Sivitas Akademika beserta Seluruh Keluarga Besar Universitas Malahayati, mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H.

Mari padukan rasa ikhlas untuk saling memaafkan dan meraih kemenangan yang hakiki.

Saling berjabat tangan, satukan hati, dan rangkai indah silaturahmi.

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Karim

Minal ‘Aidin wal-Faizin

Mohon Maaf Lahir dan Batiin. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Suasana Perkuliahan Prodi Psikologi

Suasana pembelajaran di Program Studi Psikologi Universitas Malahayati dikenal hangat, inklusif, dan interaktif. Setiap kelas dirancang untuk menciptakan lingkungan yang mendorong mahasiswa berpikir kritis sekaligus nyaman untuk berdiskusi. Dosen tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membimbing mahasiswa untuk aktif bertanya, berbagi perspektif, dan menghubungkan teori psikologi dengan fenomena nyata di sekitar mereka. Nuansa kekeluargaan antar-mahasiswa dengan dosen namun tetap dalam koridor akademik sangat baik, sehingga proses belajar berjalan lebih menyenangkan dan bermakna.

Model pembelajaran yang diterapkan mengutamakan pendekatan student-centered learning, di mana mahasiswa ditempatkan sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Dosen mendorong mahasiswa untuk mengeksplorasi pemahamannya melalui diskusi kelompok, presentasi, studi kasus, serta problem-based learning yang menekankan pemecahan masalah nyata. Dalam banyak kesempatan, mahasiswa juga diajak melakukan simulasi dan roleplay untuk memahami dinamika perilaku manusia secara langsung.

Selain itu, pembelajaran di Prodi Psikologi Malahayati memperkuat integrasi antara teori dan praktik. Mahasiswa terlibat dalam kegiatan laboratorium, observasi lapangan, dan proyek-proyek berbasis komunitas yang mengangkat isu kesehatan mental komunitas, serta pembelajaran diluar kampus dengan pelaksanaan magang diberbagai instansi.

Prodi Psikologi Universitas Malahayati berkomitmen menciptakan pengalaman belajar yang adaptif, relevan, dan mendukung kompetensi mahasiswa sebagai calon sarjana psikologi yang humanis dan profesional.

Sungkem

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Pada tanggal satu Syawal saat Hari Raya Idul Fitri yang akan datang beberapa jam lagi, pada sebagain masyarakat khususnya Jawa, ada satu acara ritual yaitu sungkem kepada orang tua, atau yang dituakan. Mudik dijalani menjelajah negeri, hanya ingin satu kata berjumpa dengan orang tua untuk melakukan sungkem bersimpuh di hadapannya. Oleh karena itu, orang bijak berkata manakala orang tua sudah tiada, kampung halaman tinggal cerita. Selain itu, ada semacam rangkaian sungkem antara lain setelah kepada kedua orang tua, kemudian istri kepada suami, anak-anak kepada kedua orang tua, dan seterusnya.

Lalu, apa sejatinya sungkem itu? Berdasarkan penelusuran perpustakaan digital ditemukan informasi sebagai berikut: Tradisi sungkem pada hari raya Idulfitri di Indonesia diperkirakan telah ada sejak masuknya Islam ke Nusantara, khususnya melalui penyebaran ajaran Wali Songo pada abad ke-15 dan ke-16. Tradisi ini merupakan akulturasi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal, terutama budaya Jawa yang sangat menjunjung tinggi penghormatan kepada orang tua dan leluhur.

Sejarah dan Perkembangannya:
Sebelum Islam datang, masyarakat Jawa sudah mengenal tradisi penghormatan kepada orang tua dan sesepuh, yang tercermin dalam budaya sembah bakti. Ketika Islam masuk, nilai ini tetap dipertahankan tetapi diberi makna islami, yakni sebagai bentuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua) dan memohon maaf.

Dakwah Wali Songo dan Islamisasi Tradisi
Para Wali Songo menyebarkan Islam dengan pendekatan budaya, tidak menghapus adat istiadat yang baik, tetapi menyelaraskannya dengan ajaran Islam. Dalam hal ini, sungkem menjadi bagian dari tradisi silaturahmi saat Idulfitri sebagai simbol penghormatan, permohonan maaf, dan doa restu dari orang tua atau sesepuh.

Tradisi Keraton dan masyarakat umum di lingkungan Keraton Mataram Islam (abad ke-16 hingga sekarang), tradisi sungkem sudah menjadi bagian dari tata cara penghormatan kepada raja dan orang tua. Tradisi ini kemudian menyebar ke masyarakat umum dan menjadi kebiasaan yang terus lestari, terutama di Jawa, Sunda, dan daerah lain yang memiliki pengaruh budaya serupa.

Pengaruh Kolonialisme dan Modernisasi
Meskipun Indonesia mengalami berbagai perubahan sosial selama masa kolonial dan modernisasi, tradisi sungkem tetap bertahan. Bahkan hingga saat ini, banyak keluarga masih menjalankan sungkem sebagai bagian dari momen Idulfitri, meskipun dengan bentuk yang lebih sederhana atau disesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing.

Beberapa negara lain memiliki tradisi serupa yang juga menekankan penghormatan kepada orang tua atau sesepuh, hanya beda caranya; berdasarkan penelusuran digital begara-negara tadi adalah:

1. KoreaSebae (세배)
Di Korea, saat perayaan Seollal (Tahun Baru Imlek versi Korea), anak-anak dan anggota keluarga yang lebih muda melakukan sebae, yaitu membungkuk dengan posisi duduk (disebut keunjeol, 큰절) kepada orang tua dan sesepuh sebagai tanda penghormatan dan doa untuk kesehatan serta kebahagiaan mereka. Sebagai balasannya, orang tua biasanya memberikan nasihat dan angpao (sebaedon).

2. JepangOjigi (お辞儀)
Jepang memiliki budaya ojigi, yaitu membungkuk sebagai tanda penghormatan. Meskipun tidak dilakukan secara khusus pada momen Idul Fitri atau perayaan keluarga, ojigi digunakan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk meminta maaf, menunjukkan rasa hormat, dan mengucapkan terima kasih—konsep yang mirip dengan sungkem dalam budaya Jawa.

3. TiongkokKowtow (叩头)
Dalam budaya Tiongkok, kowtow (menyentuhkan dahi ke lantai) merupakan bentuk penghormatan tertinggi yang diberikan kepada orang tua, leluhur, atau kaisar pada zaman dulu. Saat perayaan Tahun Baru Imlek atau dalam upacara tradisional, anak-anak biasanya bersujud kepada orang tua dan leluhur sebagai tanda bakti.

4. ThailandWai (ไหว้)
Masyarakat Thailand memiliki tradisi wai, yaitu gerakan menangkupkan tangan di dada dan membungkukkan badan sebagai tanda hormat. Dalam konteks keluarga, terutama saat hari raya atau peristiwa penting, wai dilakukan kepada orang tua sebagai ungkapan penghormatan dan terima kasih, mirip dengan sungkem.

5. IndiaPranāma (प्रणाम)
Dalam budaya India, pranāma adalah gestur penghormatan yang dilakukan dengan membungkuk dan menyentuh kaki orang tua atau guru sebagai tanda bakti. Ini adalah bentuk penghormatan yang umum dalam keluarga Hindu, terutama selama perayaan keagamaan atau acara keluarga penting.

Pertanyaan tersisa adalah masihkah tradisi luhur itu ada pada generasi Alfa sekarang. Dan, ini adalah tugas budaya kita semua untuk melakukan asimilasi dan akulturasi pada generasi penerus, agar terus lestari budaya bangsa ini. Melalui tulisan ini secara pribadi penulis mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin mohon maaf lahir batin kepada seluruh staf redaksi dan sidang pembaca yang saya muliakan. Jika ada tulis yang tak berkenan mohon dimaafkan. Dan, semoga kita masih diberi kesempatan untuk ketemu Ramadhan yang akan datang. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Kalah Tidak Sakit, Menang Merasa Terbantu

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Subuh sepulang dari melaksanakan ibadah di musholah dekat rumah, melihat caption komentar dari seorang doktor pendidikan yang sekarang menjadi petinggi di daerah ini; dengan satu kalimat seperti judul di atas, setelah beliau membaca tulisan beberapa waktu lalu. Sontak semua itu membuat ingin menelusurinya secara filosofis dari hakekat diksi yang bijak itu.

Berdasarkan penelusuran literature digital ditemukan informasi sebagai berikut: Filosofi “Kalah tak tersakiti, menang merasa terbantu” mencerminkan sikap mental yang bijak dan harmonis dalam menghadapi persaingan atau konflik. Maknanya bisa dijabarkan sebagai berikut: Kalah tak tersakiti → Jika mengalami kekalahan, seseorang tidak merasa sakit hati, dendam, atau terpuruk. Kekalahan diterima dengan lapang dada sebagai pelajaran dan pengalaman untuk berkembang lebih baik.

Menang merasa terbantu → Jika menang, seseorang tidak merasa sombong atau merendahkan lawan, melainkan menyadari bahwa kemenangan tersebut juga berkat adanya pihak lain, termasuk lawan yang memberikan tantangan dan pembelajaran.

Filosofi ini menanamkan semangat sportivitas, kesadaran diri, dan kebijaksanaan dalam berkompetisi. Baik menang maupun kalah, yang utama adalah proses dan pembelajaran yang didapat. Ini selaras dengan prinsip “menang tanpa ngasorake” dalam budaya Jawa, yang berarti menang tanpa merendahkan atau menyakiti lawan.

Filosofi ini mengajarkan bahwa tindakan individu tidak terjadi dalam ruang hampa, tetapi berpengaruh pada keluarga dan masyarakat. “Kalah tak tersakiti, menang merasa terbantu” juga menekankan bahwa kemenangan atau kekalahan bukan hanya urusan pribadi, tetapi terkait dengan hubungan sosial dan bagaimana seseorang dihormati oleh orang lain. Oleh sebab itu filosofi ini juga mengandung pemaknaan kesadaran akan konsekuensi tindakan dan pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain filosofi ini mengajarkan kita juga untuk tetap berjiwa besar dalam kekalahan dan rendah hati dalam kemenangan.

Namun pada tataran praksis topic di atas tidak mudah untuk dibumikan, apalagi disederhanakan; karena seperti disinggung di atas bahwa perilaku individu itu bukan berada pada ruang hampa; banyak variabel yang berkelindan di sana. Salah satu diantaranya adalah adanya kelompok petualang yang berperilaku pecundang. Karena kelompok ini salah satu karakternya adalah hidup di dua alam; alam konflik dan alam damai. Jika konflik terjadi mereka harus mendapat keuntungan, jika damai terjadi mereka harus dapat kedudukan.

Oleh sebab itu agar kelompok pecundang tidak berkembang, perlu dibangun: ruang diskusi yang sehat tanpa saling menyalahkan. Gunakan pihak ketiga sebagai mediator jika perlu. Fokus pada solusi, bukan pada siapa yang benar atau salah. Akan tetapi semua ini pada tataran teori; sementara pada tataran praksis ialah ada pada kesadaran diri, atau kedewasaan diri untuk menyelesaiakan persoalan apapun dengan pola” menang bersama”. Dan, jika itu dapat diwijudkan maka akan terjadi dinamika yang sehat, tidak ada dendam diantara pelaku.

Negeri ini tidak bisa dibangun dengan cara apapun jika para penyelenggara negerinya hanya sibuk mencari kesalahan fihak lain, karena ingin menyalurkan hasrat untuk membalas dendam. Padahal sudah seharusnya menyudahi pertikaian dan mencari kesamaan untuk membangun beradaban. Menang wasyukurilah, kalah alhamdullilah; adalah perwujudan dari ketinggian dan keteguhan akan keimanan dalam menjalankan syareat ketuhanan.

Kita tidak perlu mengirimkan kepala binatang kepada orang yang mengkritik kita, karena bisa jadi apa yang dikatakan benar adanya. Namun juga kita tidak perlu terlalu jumawa menjadi pengkritik paling keras, kalau kita tidak pernah juga memberikan solusi yang bijak. Dengan kata lain di dalam hak itu ada kuwajiban; dan, di dalam kuwajiban itu ada hak yang harus ditunaikan. Semoga diujung bulan suci ramadhan ini kita dapat menemukenali kembali diri kita, siapa kita, dari mana kita, akan kemana kita; apakah bekal perjalanan kita menuju kemana kita sudah mencukupi. Bisa jadi selama ini kita hanya mengejar fatamorgana kehidupan yang tidak pernah berakhir. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman