Prof. Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
HERMAN Batin Mangku (HBM) melalui media ini lagi-lagi “berulah” dengan menampilkan bagaimana dahsyatnya banjir yang melanda kota ini beberapa waktu lalu. Penulis menanggapi tulisan jurnalis senior ini harus “angkat topi” karena rasanya HBM melalui berbagai cara mengingatkan para pemangku kepentingan, sudah tidak kurang-kurang. Tetapi kondisi dari tahun ke tahun masih gegoh gawoh.
Itulah HBM yang tidak kenal lelah mengingatkan dan mengingatkan kita semua melalui caranya berapa bahayanya banjir itu. HBM sadar betul bahwa setiap kali hujan turun di Bandarlampung, kekhawatiran warga seolah menjadi ritual yang tak pernah usai.
Air yang semestinya membawa berkah justru berubah menjadi ancaman yang perlahan merayap ke halaman rumah, masuk ke ruang-ruang kehidupan, melumpuhkan sejenak aktivitas sehari-hari, hingga meminta “tumbal” nyawa manusia.
Fenomena ini bukan lagi kejadian luar biasa, melainkan sesuatu yang nyaris dapat diprediksi. Hujan deras sebentar saja cukup untuk membuat sejumlah titik terendam, jalanan berubah menjadi sungai dadakan, dan masyarakat kembali menjadi korban dari persoalan yang seharusnya bisa dicegah.
Penulis sependapat dengan HBM bahwa masalah banjir yang terus berulang ini mencerminkan adanya kegagalan dalam pengelolaan kota yang mendasar. Bukan semata-mata karena faktor alam atau curah hujan tinggi, tetapi lebih pada lemahnya sistem drainase, buruknya tata ruang, serta minimnya keseriusan dalam perencanaan jangka panjang.
Saluran air yang sempit, tersumbat, atau bahkan hilang karena alih fungsi lahan menjadi penyebab utama air tidak dapat mengalir dengan baik. Di sisi lain, pembangunan yang terus berlangsung sering kali mengabaikan keseimbangan lingkungan, sehingga memperparah kondisi yang sudah rentan.
Ironisnya, respons yang muncul dari pihak pemangku kebijakan kerap kali bersifat reaktif dan tidak menyentuh akar masalah. Setiap kali banjir terjadi, langkah-langkah yang diambil cenderung berfokus pada penanganan sementara, seperti pembersihan drainase secara mendadak, pembagian bantuan, atau kunjungan lapangan yang lebih menonjolkan sisi simbolis daripada solusi nyata.
Upaya ini mungkin memberikan kesan bahwa sesuatu sedang dilakukan, tetapi tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Lebih jauh lagi, pendekatan yang mengandalkan pencitraan justru memperlemah kepercayaan masyarakat.
Ketika warga melihat bahwa masalah yang sama terus berulang tanpa perubahan signifikan, muncul rasa skeptis terhadap komitmen yang disampaikan. Janji-janji perbaikan yang digaungkan setiap kali banjir datang seolah menjadi siklus tahunan yang kehilangan makna.
Pada akhirnya, masyarakat merasa dibiarkan menghadapi risiko yang sama tanpa adanya perlindungan yang memadai.
Ketiadaan perencanaan jangka panjang menjadi salah satu akar persoalan yang paling krusial. Kota yang terus berkembang seharusnya memiliki blueprint yang jelas dalam mengantisipasi perubahan lingkungan dan peningkatan kebutuhan infrastruktur.
Sistem drainase harus dirancang dengan kapasitas yang memadai, ruang terbuka hijau perlu dipertahankan sebagai area resapan air, dan pembangunan harus mengikuti prinsip keberlanjutan. Tanpa langkah-langkah ini, banjir akan terus menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Selain itu, pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan juga menjadi faktor penting yang sering terabaikan. Tidak jarang, proyek-proyek yang berkaitan dengan pengendalian banjir dilakukan tanpa pengawasan yang ketat, sehingga hasilnya tidak optimal atau bahkan tidak sesuai dengan perencanaan awal.
Dalam beberapa kasus, anggaran yang seharusnya digunakan untuk perbaikan infrastruktur justru tidak memberikan dampak yang signifikan di lapangan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas dan transparansi dalam pengelolaan sumber daya.
Di sisi lain, masyarakat juga sering kali menjadi korban sekaligus pihak yang disalahkan. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan memang perlu ditingkatkan, seperti tidak membuang sampah sembarangan atau menjaga kebersihan saluran air.
Namun, tidak adil jika seluruh beban tanggung jawab dialihkan kepada warga, sementara sistem yang seharusnya mendukung justru tidak berfungsi dengan baik. Perubahan perilaku masyarakat harus diiringi dengan perbaikan sistem yang nyata, sehingga keduanya dapat berjalan beriringan.
Banjir bukan hanya soal genangan air, tetapi juga tentang dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan. Aktivitas terganggu, usaha terhenti, kesehatan terancam, dan kerugian material menjadi konsekuensi yang harus ditanggung oleh warga.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup dan memperlebar kesenjangan, terutama bagi mereka yang berada dalam kondisi rentan. Oleh karena itu, penanganan banjir seharusnya menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
Diperlukan keberanian untuk keluar dari pola lama yang hanya mengandalkan solusi instan. Perencanaan yang matang, berbasis data, dan melibatkan berbagai pihak harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang ada perlu dilakukan untuk mengetahui titik-titik lemah yang selama ini diabaikan.
Selain itu, komitmen untuk menjalankan program secara konsisten jauh lebih penting daripada sekadar menunjukkan aktivitas sesaat.
Pada akhirnya, banjir yang terus terjadi bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Ini adalah hasil dari serangkaian keputusan, atau bahkan ketidakmampuan dalam mengambil keputusan yang tepat.
Selama pendekatan yang digunakan masih berfokus pada pencitraan dan penanganan sementara, maka siklus ini akan terus berulang. Dan seperti yang selalu terjadi, masyarakatlah yang harus menanggung dampaknya.
Hujan akan selalu datang, tetapi bencana tidak harus selalu mengikutinya. Dengan keseriusan, perencanaan yang tepat, dan komitmen yang nyata, kota ini seharusnya mampu keluar dari bayang-bayang banjir yang selama ini menghantui.
Pertanyaannya bukan lagi apakah solusi itu ada, melainkan apakah ada kemauan untuk benar-benar mewujudkannya.
Semoga HBM tidak kehabisan “napas” untuk selalu mengingatkan terus menerus kepada kita semua; bahwa banjir tidak bisa diselesaikan dengan retorika, apalagi janji palsu, dan marah-marah, bahkan lempar tanggungjawab.Tetapi harus mencari solusi bersama: dari jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Dan, harus maju berkelanjutan.
Salam Waras
Air Hujan Semakin Meluap, Harapan Semakin Surut
Prof. Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
HERMAN Batin Mangku (HBM) melalui media ini lagi-lagi “berulah” dengan menampilkan bagaimana dahsyatnya banjir yang melanda kota ini beberapa waktu lalu. Penulis menanggapi tulisan jurnalis senior ini harus “angkat topi” karena rasanya HBM melalui berbagai cara mengingatkan para pemangku kepentingan, sudah tidak kurang-kurang. Tetapi kondisi dari tahun ke tahun masih gegoh gawoh.
Itulah HBM yang tidak kenal lelah mengingatkan dan mengingatkan kita semua melalui caranya berapa bahayanya banjir itu. HBM sadar betul bahwa setiap kali hujan turun di Bandarlampung, kekhawatiran warga seolah menjadi ritual yang tak pernah usai.
Air yang semestinya membawa berkah justru berubah menjadi ancaman yang perlahan merayap ke halaman rumah, masuk ke ruang-ruang kehidupan, melumpuhkan sejenak aktivitas sehari-hari, hingga meminta “tumbal” nyawa manusia.
Fenomena ini bukan lagi kejadian luar biasa, melainkan sesuatu yang nyaris dapat diprediksi. Hujan deras sebentar saja cukup untuk membuat sejumlah titik terendam, jalanan berubah menjadi sungai dadakan, dan masyarakat kembali menjadi korban dari persoalan yang seharusnya bisa dicegah.
Penulis sependapat dengan HBM bahwa masalah banjir yang terus berulang ini mencerminkan adanya kegagalan dalam pengelolaan kota yang mendasar. Bukan semata-mata karena faktor alam atau curah hujan tinggi, tetapi lebih pada lemahnya sistem drainase, buruknya tata ruang, serta minimnya keseriusan dalam perencanaan jangka panjang.
Saluran air yang sempit, tersumbat, atau bahkan hilang karena alih fungsi lahan menjadi penyebab utama air tidak dapat mengalir dengan baik. Di sisi lain, pembangunan yang terus berlangsung sering kali mengabaikan keseimbangan lingkungan, sehingga memperparah kondisi yang sudah rentan.
Ironisnya, respons yang muncul dari pihak pemangku kebijakan kerap kali bersifat reaktif dan tidak menyentuh akar masalah. Setiap kali banjir terjadi, langkah-langkah yang diambil cenderung berfokus pada penanganan sementara, seperti pembersihan drainase secara mendadak, pembagian bantuan, atau kunjungan lapangan yang lebih menonjolkan sisi simbolis daripada solusi nyata.
Upaya ini mungkin memberikan kesan bahwa sesuatu sedang dilakukan, tetapi tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Lebih jauh lagi, pendekatan yang mengandalkan pencitraan justru memperlemah kepercayaan masyarakat.
Ketika warga melihat bahwa masalah yang sama terus berulang tanpa perubahan signifikan, muncul rasa skeptis terhadap komitmen yang disampaikan. Janji-janji perbaikan yang digaungkan setiap kali banjir datang seolah menjadi siklus tahunan yang kehilangan makna.
Pada akhirnya, masyarakat merasa dibiarkan menghadapi risiko yang sama tanpa adanya perlindungan yang memadai.
Ketiadaan perencanaan jangka panjang menjadi salah satu akar persoalan yang paling krusial. Kota yang terus berkembang seharusnya memiliki blueprint yang jelas dalam mengantisipasi perubahan lingkungan dan peningkatan kebutuhan infrastruktur.
Sistem drainase harus dirancang dengan kapasitas yang memadai, ruang terbuka hijau perlu dipertahankan sebagai area resapan air, dan pembangunan harus mengikuti prinsip keberlanjutan. Tanpa langkah-langkah ini, banjir akan terus menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.
Selain itu, pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan juga menjadi faktor penting yang sering terabaikan. Tidak jarang, proyek-proyek yang berkaitan dengan pengendalian banjir dilakukan tanpa pengawasan yang ketat, sehingga hasilnya tidak optimal atau bahkan tidak sesuai dengan perencanaan awal.
Dalam beberapa kasus, anggaran yang seharusnya digunakan untuk perbaikan infrastruktur justru tidak memberikan dampak yang signifikan di lapangan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas dan transparansi dalam pengelolaan sumber daya.
Di sisi lain, masyarakat juga sering kali menjadi korban sekaligus pihak yang disalahkan. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan memang perlu ditingkatkan, seperti tidak membuang sampah sembarangan atau menjaga kebersihan saluran air.
Namun, tidak adil jika seluruh beban tanggung jawab dialihkan kepada warga, sementara sistem yang seharusnya mendukung justru tidak berfungsi dengan baik. Perubahan perilaku masyarakat harus diiringi dengan perbaikan sistem yang nyata, sehingga keduanya dapat berjalan beriringan.
Banjir bukan hanya soal genangan air, tetapi juga tentang dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan. Aktivitas terganggu, usaha terhenti, kesehatan terancam, dan kerugian material menjadi konsekuensi yang harus ditanggung oleh warga.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan kualitas hidup dan memperlebar kesenjangan, terutama bagi mereka yang berada dalam kondisi rentan. Oleh karena itu, penanganan banjir seharusnya menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda.
Diperlukan keberanian untuk keluar dari pola lama yang hanya mengandalkan solusi instan. Perencanaan yang matang, berbasis data, dan melibatkan berbagai pihak harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang ada perlu dilakukan untuk mengetahui titik-titik lemah yang selama ini diabaikan.
Selain itu, komitmen untuk menjalankan program secara konsisten jauh lebih penting daripada sekadar menunjukkan aktivitas sesaat.
Pada akhirnya, banjir yang terus terjadi bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Ini adalah hasil dari serangkaian keputusan, atau bahkan ketidakmampuan dalam mengambil keputusan yang tepat.
Selama pendekatan yang digunakan masih berfokus pada pencitraan dan penanganan sementara, maka siklus ini akan terus berulang. Dan seperti yang selalu terjadi, masyarakatlah yang harus menanggung dampaknya.
Hujan akan selalu datang, tetapi bencana tidak harus selalu mengikutinya. Dengan keseriusan, perencanaan yang tepat, dan komitmen yang nyata, kota ini seharusnya mampu keluar dari bayang-bayang banjir yang selama ini menghantui.
Pertanyaannya bukan lagi apakah solusi itu ada, melainkan apakah ada kemauan untuk benar-benar mewujudkannya.
Semoga HBM tidak kehabisan “napas” untuk selalu mengingatkan terus menerus kepada kita semua; bahwa banjir tidak bisa diselesaikan dengan retorika, apalagi janji palsu, dan marah-marah, bahkan lempar tanggungjawab.Tetapi harus mencari solusi bersama: dari jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Dan, harus maju berkelanjutan.
Salam Waras
TAKDIR SELALU MENEMUKAN JALANNYA
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Ada satu titik dalam perjalanan hidup ketika seseorang mulai memahami bahwa tidak semua hal yang diinginkan harus dimiliki, dan tidak semua yang dimiliki akan tetap tinggal. Pada titik ini, hidup tidak lagi dilihat sebagai rangkaian kebetulan, melainkan sebagai proses yang memiliki arah, meskipun sering kali tidak langsung terlihat. Ungkapan bahwa apa yang tidak ditakdirkan akan menemukan jalannya untuk pergi, dan apa yang ditakdirkan akan menemukan jalannya untuk datang, menjadi semakin masuk akal ketika seseorang telah melalui berbagai pengalaman yang membentuk cara pandangnya.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang ingin mempertahankan hal-hal yang ia anggap berharga. Ketika sesuatu terasa nyaman, menyenangkan, atau penuh harapan, ada dorongan kuat untuk menggenggamnya erat-erat. Namun, tidak semua yang terasa baik itu memang ditakdirkan untuk menetap. Ada hal-hal yang hanya hadir sebagai bagian dari proses, bukan sebagai tujuan akhir. Ketika hal-hal tersebut mulai menjauh atau bahkan hilang, perasaan kehilangan sering kali datang tanpa bisa dihindari. Rasa sedih, kecewa, bahkan marah bisa muncul silih berganti, seolah-olah hidup sedang berjalan tidak adil.
Padahal, jika direnungkan lebih dalam, kepergian itu sering kali membawa makna yang lebih besar daripada sekadar kehilangan. Sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk kita memang tidak akan pernah benar-benar bisa dipertahankan, sekuat apa pun usaha yang dilakukan. Kehidupan memiliki caranya sendiri untuk menyaring apa yang sesuai dan apa yang tidak. Dalam proses penyaringan ini, hal-hal yang tidak tepat perlahan akan dilepaskan, baik dengan cara yang halus maupun dengan cara yang terasa menyakitkan. Namun, di balik itu semua, selalu ada ruang yang sedang disiapkan.
Ruang tersebut sering kali tidak langsung terisi. Ada jeda yang terasa kosong, sepi, bahkan membingungkan. Dalam fase ini, seseorang diuji untuk tidak terburu-buru mengisi kekosongan hanya karena takut merasa kehilangan. Justru di sinilah proses pendewasaan terjadi. Seseorang belajar untuk berdamai dengan keadaan, memahami dirinya sendiri, dan menyadari bahwa tidak semua kekosongan harus segera diisi. Ada kalanya ruang kosong itu memang perlu dibiarkan sejenak, agar ketika sesuatu yang baru datang, ia benar-benar siap untuk menerimanya.
Apa yang ditakdirkan untuk seseorang tidak akan tertukar. Ia mungkin tidak datang sesuai dengan harapan, tetapi ia akan hadir pada waktu yang paling tepat. Sering kali, hal-hal terbaik justru datang ketika seseorang sudah berhenti memaksakan, ketika ia mulai fokus memperbaiki diri, dan ketika ia belajar untuk ikhlas terhadap apa yang telah pergi. Dalam kondisi seperti ini, hati menjadi lebih terbuka, dan seseorang bisa melihat peluang yang sebelumnya tidak disadari.
Kepercayaan memainkan peran yang sangat penting dalam proses ini. Tanpa kepercayaan, setiap kehilangan akan terasa seperti akhir dari segalanya. Namun dengan kepercayaan, seseorang bisa melihat bahwa setiap kejadian adalah bagian dari rangkaian yang saling terhubung. Kepercayaan ini bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan keyakinan bahwa usaha yang dilakukan tidak akan sia-sia, meskipun hasilnya tidak selalu sesuai dengan keinginan awal. Ada ketenangan yang muncul ketika seseorang percaya bahwa hidup tidak berjalan secara acak.
Selain kepercayaan, penerimaan juga menjadi kunci penting. Menerima kenyataan bukan berarti berhenti berusaha, melainkan memahami bahwa ada hal-hal yang berada di luar kendali manusia. Penerimaan membantu seseorang untuk tidak terjebak dalam penyesalan yang berkepanjangan. Ia mengajarkan bahwa melepaskan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk melanjutkan hidup tanpa terus-menerus terikat pada masa lalu. Menariknya, banyak hal yang pada awalnya dianggap buruk justru menjadi titik balik menuju sesuatu yang lebih baik. Kegagalan yang dulu terasa menyakitkan, pada akhirnya membuka jalan untuk kesempatan yang lebih besar. Perpisahan yang dulu sulit diterima, pada akhirnya membawa seseorang bertemu dengan hal yang lebih sesuai. Dalam banyak kasus, apa yang dilepaskan bukan karena tidak berharga, tetapi karena ada sesuatu yang lebih tepat yang sedang menunggu untuk datang.
Proses memahami hal ini tentu tidak instan. Tidak semua orang bisa langsung menerima kenyataan bahwa kehilangan memiliki tujuan. Ada yang membutuhkan waktu panjang untuk benar-benar mengerti. Namun seiring berjalannya waktu, pengalaman demi pengalaman mulai membentuk pemahaman yang lebih dalam. Seseorang mulai melihat pola, bahwa setiap hal yang datang dan pergi selalu meninggalkan pelajaran.
Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menyikapi apa yang datang dan pergi. Ketika seseorang mampu melihat kepergian sebagai bagian dari proses, dan kedatangan sebagai bentuk anugerah, ia akan menjalani hidup dengan lebih tenang. Tidak lagi terlalu takut kehilangan, dan tidak lagi terlalu cemas tentang masa depan. Dengan pemahaman ini, ungkapan tersebut tidak lagi sekadar menjadi kata-kata yang terdengar indah, tetapi menjadi prinsip yang menguatkan. Bahwa setiap yang pergi membawa alasan, dan setiap yang datang membawa makna. Bahwa apa yang tidak ditakdirkan akan menemukan jalannya untuk hilang, dan apa yang ditakdirkan akan menemukan jalannya untuk datang. Dan pada akhirnya, semua yang terjadi akan membawa seseorang menuju tempat yang memang telah disiapkan untuknya, pada waktu yang paling tepat.
Salam Waras
Rapat Koordinasi Peningkatan Standar Mutu: Universitas Malahayati Masuki Tahap “Peningkatan” dalam Siklus PPEPP tahun 2026
Mahasiswa Universitas Malahayati Ikuti Pemeriksaan Kesehatan Bersama Puskesmas Kemiling
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) — Universitas Malahayati melalui program Health Promoting University (HPU) menggelar kegiatan pemeriksaan kesehatan yang bekerja sama dengan Puskesmas Kemiling, pada Jumat (17/4/2026) di Bandar Lampung.
Program pemeriksaan kesehatan ini merupakan bagian dari upaya kampus dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini, khususnya di kalangan mahasiswa. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan dasar seperti pengecekan tekanan darah, gula darah, IMT, dahak, serta konsultasi kesehatan langsung dengan tenaga medis dari Puskesmas Kemiling.
Wakil Rektor IV dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah nyata Universitas Malahayati dalam mewujudkan lingkungan kampus yang sehat dan produktif. “Kesehatan adalah fondasi utama dalam menunjang aktivitas akademik. Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa semakin peduli terhadap kondisi kesehatannya,” ujarnya.
Kerja sama antara Universitas Malahayati dan Puskesmas Kemiling ini juga diharapkan dapat terus berlanjut dalam berbagai program kesehatan lainnya, guna menciptakan generasi mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga sehat secara fisik dan mental.
Dengan antusiasme peserta yang tinggi, kegiatan ini dinilai sukses dan memberikan manfaat langsung bagi seluruh civitas akademika Universitas Malahayati.
Editor : Chandra Fz
Universitas Malahayati rapat Koordinasi Persiapan Penerimaan Mahasiswa RPL
Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Prof. Dr. Dessy Hermawan selaku Wakil Rektor I, Dr. M. Arifki Zainaro selaku Kepala LPMI, Dr. Weka Indrawan selaku Dekan FT, Dr. Lolita Sari Dekan FIK, perwakilan Ketua PMB yaitu Mahfudin, M.Kes, seluruh kaprodi serta tim RPL.
LPPM Universitas Malahayati Gelar Rapat Koordinasi Bersama BPPM untuk Penguatan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Universitas Malahayati melalui LPPM Universitas Malahayati menggelar rapat koordinasi strategis bersama BPPM Universitas Malahayati dalam rangka meningkatkan kualitas dan arah pengembangan bidang penelitian serta pengabdian kepada masyarakat di lingkungan kampus.
Rapat yang berlangsung dalam suasana penuh sinergi ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antarunit, menyelaraskan program kerja, serta mendorong peningkatan capaian kinerja tridharma perguruan tinggi, khususnya pada aspek penelitian dan pengabdian masyarakat.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan pengelola strategis, di antaranya:
Wakil Rektor I Bidang Akademik
Prof. Dr. Dessy Hermawan.,M.Kes
Ketua LPPM Universitas Malahayati, Prof. Erna Listyaningsih.,SE.,M.Si.,P.hD
Wakil LPPM Universitas Malahayati, Eka Yudha Chrisanto.,S.Kep.,Ners.,M.Kep
Sekretaris LPPM, Dewi Avianti, SE.,S.Psi
Turut hadir pula Kepala BPPM Universitas Malahayati terpilih, yaitu:
1. Dr. Mala Kurniati, S.Si.,M.Biomed
2. Arif Setiajaya, S.T., M.Si
3. Ana Mariza, S.ST.,M.Kes
4. Dwi Arassy Aprillia RS.,SH.,M.H
5. Muhammad Irfan Pratama, S.E.,M.E
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Dr. Dessy Hermawan menekankan pentingnya peningkatan motivasi dan kualitas penelitian serta pengabdian kepada masyarakat di setiap program studi. Beliau menyampaikan bahwa seluruh dosen dan civitas akademika harus mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya memenuhi target kinerja, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Setiap program studi harus memiliki roadmap penelitian yang jelas, terukur, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Selain itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat harus mampu menjadi solusi atas permasalahan nyata di lapangan serta mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU),” ujarnya.
Beliau juga mendorong agar kolaborasi antarprodi dan lintas disiplin ilmu terus ditingkatkan, serta memaksimalkan peluang hibah penelitian baik dari tingkat nasional maupun internasional. Dengan demikian, kualitas luaran penelitian seperti publikasi ilmiah, HKI, serta inovasi dapat terus meningkat.
Dalam rapat tersebut juga dibahas berbagai strategi peningkatan mutu penelitian, optimalisasi hibah penelitian, serta penguatan program pengabdian kepada masyarakat yang berdampak langsung bagi masyarakat. Selain itu, sinergi antara LPPM dan BPPM juga difokuskan pada peningkatan indikator kinerja utama (IKU) serta persiapan akreditasi institusi dan program studi.
Ketua LPPM menegaskan bahwa kolaborasi lintas unit menjadi kunci dalam mendorong produktivitas dosen dan mahasiswa dalam menghasilkan penelitian yang inovatif dan pengabdian yang solutif. Sementara itu, Kepala BPPM terpilih menyampaikan komitmennya untuk memperkuat sistem penjaminan mutu serta mendukung tata kelola penelitian yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Melalui rapat koordinasi ini, diharapkan tercipta langkah strategis yang terintegrasi guna menjadikan Universitas Malahayati sebagai institusi unggul dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di tingkat nasional maupun internasional.
Editor : Chandra Fz
Arah yang Mulai Dipertanyakan
Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
DAMPAK dari kebijakan ini tidak hanya berhenti pada ranah persepsi, tetapi juga merambah ke aspek yang lebih konkret, seperti ketahanan energi. Ketegangan geopolitik di kawasan strategis dunia, termasuk jalur distribusi energi global, dapat berdampak langsung pada ketersediaan dan harga energi di dalam negeri. Ketika pasokan minyak terganggu akibat konflik atau ketegangan politik, dampaknya dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk kenaikan harga bahan bakar, biaya transportasi, dan harga kebutuhan pokok. Dalam situasi seperti ini, kebijakan luar negeri tidak lagi menjadi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan menjadi faktor yang memengaruhi kesejahteraan secara langsung.
Ketika masyarakat mulai merasakan dampak ekonomi yang negatif, kritik terhadap pemerintah cenderung meningkat. Kebijakan yang sebelumnya mungkin hanya diperdebatkan di kalangan elit kini menjadi bahan pembicaraan luas di ruang publik. Media sosial mempercepat penyebaran opini, baik yang berbasis fakta maupun yang bersifat emosional. Dalam kondisi seperti ini, pemerintah menghadapi tantangan ganda: menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meredam ketidakpuasan publik. Jika tidak ditangani dengan baik, situasi ini dapat berkembang menjadi krisis kepercayaan yang lebih dalam.
Selain tekanan domestik, persepsi di tingkat internasional juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Negara yang sebelumnya dikenal memiliki posisi independen dan berprinsip kuat dapat kehilangan kredibilitas jika dianggap tidak konsisten dalam sikapnya. Dalam diplomasi, konsistensi adalah aset yang sangat berharga. Ketika sebuah negara mampu mempertahankan prinsipnya di tengah tekanan, maka kepercayaan dari negara lain akan meningkat. Sebaliknya, perubahan sikap yang terlalu tajam atau tidak terjelaskan dapat menimbulkan keraguan terhadap komitmen jangka panjangnya.
Kehilangan kredibilitas ini berdampak pada kemampuan negara untuk memainkan peran strategis di tingkat global. Sebagai negara yang memiliki sejarah panjang dalam diplomasi perdamaian, posisi sebagai mediator atau penengah dalam konflik internasional merupakan salah satu kekuatan utama. Namun, peran tersebut hanya dapat dijalankan jika negara dipandang netral dan dapat dipercaya oleh semua pihak. Ketika netralitas itu dipertanyakan, maka ruang untuk berkontribusi dalam penyelesaian konflik menjadi semakin sempit.
Di dalam negeri, kondisi ini menciptakan dilema politik yang kompleks. Pemimpin nasional berada dalam posisi yang sulit karena harus menyeimbangkan berbagai kepentingan yang saling bertentangan. Di satu sisi, ada tekanan untuk tetap menjaga hubungan baik dengan mitra internasional yang memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dan keamanan. Di sisi lain, ada tuntutan kuat dari masyarakat untuk kembali pada prinsip-prinsip dasar yang dianggap sebagai jati diri bangsa. Ketika kedua tuntutan ini tidak dapat dipenuhi secara bersamaan, maka setiap keputusan akan selalu menuai kritik.
Situasi “maju kena, mundur kena” ini mencerminkan keterbatasan ruang gerak dalam kepemimpinan modern. Tidak ada pilihan yang benar-benar bebas dari konsekuensi. Namun, dalam kondisi seperti ini, kualitas kepemimpinan diuji bukan hanya dari keputusan yang diambil, tetapi juga dari cara keputusan tersebut dikomunikasikan dan dijustifikasi. Pemimpin yang mampu menjelaskan alasan di balik kebijakan yang sulit, serta menunjukkan bahwa keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kepentingan nasional secara menyeluruh, memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan kepercayaan publik. Sayangnya, dalam banyak kasus, komunikasi politik sering kali tertinggal dibandingkan dengan kecepatan perubahan situasi global. Ketika pemerintah lambat dalam memberikan penjelasan, ruang tersebut akan diisi oleh berbagai spekulasi dan interpretasi yang belum tentu akurat. Hal ini memperburuk situasi karena opini publik terbentuk bukan berdasarkan informasi yang utuh, melainkan berdasarkan potongan-potongan narasi yang beredar.
Dalam kondisi seperti ini, upaya untuk mengembalikan kepercayaan menjadi jauh lebih sulit. Lebih jauh lagi, dinamika internal pemerintahan juga dapat memengaruhi arah kebijakan luar negeri. Perbedaan pandangan di antara para pengambil keputusan sering kali menghasilkan kebijakan yang tampak tidak konsisten. Ketika satu pernyataan berbeda dengan tindakan berikutnya, publik akan melihatnya sebagai bentuk ketidaktegasan. Padahal, dalam banyak kasus, hal tersebut merupakan hasil dari proses negosiasi internal yang kompleks. Namun, tanpa komunikasi yang jelas, kompleksitas ini justru diterjemahkan sebagai kelemahan.
Faktor lain yang turut memperumit situasi adalah tekanan dari kelompok kepentingan, baik dari dalam maupun luar negeri. Kelompok-kelompok ini memiliki agenda masing-masing yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan nasional secara keseluruhan. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat memengaruhi arah kebijakan, terutama jika tidak diimbangi dengan mekanisme pengambilan keputusan yang transparan dan akuntabel. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan rentan dipersepsikan sebagai hasil kompromi yang mengorbankan prinsip.
Dalam konteks global, perubahan peta kekuatan dunia juga turut memengaruhi posisi negara. Munculnya kekuatankekuatan baru, serta meningkatnya rivalitas antarnegara besar, menciptakan situasi yang semakin sulit diprediksi. Dalam kondisi seperti ini, negara-negara berkembang sering kali berada dalam posisi yang rentan karena harus menghadapi tekanan dari berbagai arah. Pilihan untuk berpihak atau tidak berpihak menjadi semakin rumit, karena setiap pilihan memiliki konsekuensi strategis yang signifikan. Salam Waras n
Tingkatkan Profesionalisme, Universitas Malahayati Gelar Evaluasi Kinerja Dosen Tersertifikasi 2026
BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Bidang Akademik Universitas Malahayati menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Evaluasi Kinerja Dosen Tersertifikasi Tahun 2026” pada Selasa (14/4). Kegiatan yang berlangsung di ruang pertemuan kampus ini bertujuan untuk memperkuat komitmen para dosen dalam menjalankan tugas sesuai dengan regulasi pendidikan tinggi yang berlaku.
Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dan narasumber utama, yakni Ir. R. Agung Efriyo Hadi, M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng, Romi J Utama SE, M.Sos, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, dan Drs. Suharman,M.Pd.,M.Kes. Dalam sesi diskusi, para pimpinan memberikan pengarahan langsung kepada para dosen mengenai pentingnya menjaga integritas dan performa kerja setelah menyandang status dosen tersertifikasi.
“Sebagai dosen yang telah tersertifikasi, tanggung jawab kita bukan hanya sekadar memenuhi administrasi, tetapi juga menjaga kualitas tridharma perguruan tinggi secara berkelanjutan. Melalui kegiatan evaluasi ini, kami ingin memastikan bahwa seluruh dosen tetap konsisten dalam menjalankan beban kerja sesuai regulasi yang berlaku, sekaligus terus meningkatkan mutu pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sertifikasi dosen harus menjadi momentum untuk memperkuat integritas, profesionalisme, dan kontribusi nyata dalam pengembangan akademik di Universitas Malahayati,” ujar Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik.
“Kami dari perwakilan yayasan sangat mendukung penuh pelaksanaan evaluasi kinerja dosen tersertifikasi ini sebagai bagian dari upaya menjaga mutu dan marwah institusi. Sertifikasi dosen bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, kami berharap seluruh dosen Universitas Malahayati dapat terus menunjukkan dedikasi, integritas, serta kinerja terbaiknya, baik dalam pengajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat, sehingga mampu menciptakan lulusan yang unggul dan berdaya saing,” ujar Ir. R. Agung Efriyo Hadi, M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
“Kegiatan ini dilakukan agar para dosen tetap berkomitmen penuh dalam bekerja dan selalu berpijak pada aturan yang ada,” ujar salah satu narasumber di sela-sela kegiatan.
Dalam pertemuan tersebut, terdapat beberapa poin krusial yang menjadi sorotan:
Kepatuhan Regulasi: Memastikan seluruh dosen memahami dan menerapkan aturan terbaru terkait beban kerja dosen (BKD).
Penguatan Komitmen: Memotivasi tenaga pendidik agar tidak hanya sekadar memenuhi kewajiban administratif, tetapi juga meningkatkan kualitas pengajaran.
Akselerasi Akademik: Mendorong dosen tersertifikasi untuk lebih produktif dalam penelitian dan pengabdian masyarakat.
Melalui evaluasi ini, Universitas Malahayati berharap standar kualitas pendidikan di lingkungan kampus tetap terjaga, sehingga mampu mencetak lulusan yang kompetitif. Acara ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama sebagai simbol sinergi antara manajemen akademik dan para pengajar.
Editor : Chandra Fz
Sosialisasi Instrumen Monitoring dan Evaluasi memastikan pelaksanaan Kalender Akademik sesuai jadwal
Kegiatan sosialisasi ini diikuti oleh perwakilan fakultas, program studi, serta unit terkait di lingkungan universitas. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai instrumen Monev yang akan digunakan, termasuk indikator penilaian, mekanisme pelaksanaan, serta sistem pelaporan yang terintegrasi.
Ketua LPMI Dr. M. Arifki Zainaro menyampaikan bahwa sosialisasi ini merupakan tahap krusial sebelum pelaksanaan Monev di lapangan. Dengan pemahaman yang sama terhadap instrumen yang digunakan, diharapkan seluruh unit dapat berpartisipasi aktif dan memberikan data yang akurat serta objektif.
“Melalui kegiatan ini, LPMI berharap proses Monitoring dan Evaluasi yang akan dilaksanakan selanjutnya dapat berjalan efektif, transparan, dan mampu memberikan rekomendasi yang konstruktif dalam meningkatkan kedisiplinan pelaksanaan kalender akademik.”
Sebagai tindak lanjut, kegiatan Monev akan segera dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, guna memastikan mutu penyelenggaraan pendidikan tetap terjaga dan berkelanjutan.
Editor : Chandra Fz
Kilau yang Menipu
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Di negeri ini, paradoks kian terasa nyata: jalan yang tampak terang justru menjadi ruang di mana banyak orang tersesat. Terang, yang seharusnya menjadi simbol kejelasan, kebenaran, dan harapan, kini kerap menjelma menjadi ilusi yang membingungkan arah. Fenomena ini semakin jelas dalam berbagai aspek kehidupan, dari cara berpikir masyarakat, dinamika sosial, hingga arah kebijakan publik, terutama dalam beberapa tahun terakhir.
Kita hidup di era informasi yang berlimpah. Setiap detik, berbagai kabar, opini, dan narasi berseliweran tanpa henti. Sekilas, ini adalah kemajuan: masyarakat memiliki akses luas terhadap pengetahuan. Namun, di sini letak persoalannya. Terang yang berlebihan tanpa penyaring yang bijak berubah menjadi silau. Banyak orang merasa melihat dengan jelas, padahal sebenarnya hanya terpapar pantulan cahaya yang menipu. Kebenaran menjadi relatif, dan persepsi sering kali mengalahkan fakta. Dalam kondisi seperti ini, banyak yang tersesat bukan karena kekurangan informasi, melainkan karena terlalu banyak informasi yang tidak terkelola, sehingga jalan yang terang berubah menjadi labirin tanpa petunjuk arah.
Akibatnya, ruang publik kini dipenuhi dengan kebisingan yang sulit dibedakan mana yang substansial dan mana yang sekadar sensasi. Berbagai narasi saling bertabrakan, dan masyarakat dihadapkan pada dilema antara menerima apa yang tampak meyakinkan atau mempertanyakan kebenarannya. Banyak yang memilih jalan mudah: mempercayai apa yang sesuai dengan keyakinan mereka sendiri, alih-alih mencari kebenaran yang lebih mendalam. Fenomena ini semakin memperlihatkan bahwa tersesat bukan sekadar masalah individu, tetapi juga masalah kolektif. Jalan yang terang bukan lagi simbol pencerahan, melainkan jebakan bagi yang lalai menimbang mana cahaya yang asli dan mana cahaya yang menipu.
Selain itu, budaya instan yang semakin mengakar turut memperparah keadaan. Banyak yang menginginkan hasil cepat tanpa proses yang matang. Dalam terang yang serba cepat ini, kedalaman berpikir sering kali dikorbankan. Nilai-nilai seperti kejujuran, integritas, dan kerja keras tergeser oleh ambisi sesaat. Orang berlomba-lomba tampil di permukaan, membangun citra yang gemerlap, namun rapuh di dalam. Terang yang seharusnya menerangi justru menutupi kekosongan. Fenomena ini terlihat jelas dalam interaksi sosial sehari-hari maupun praktik ekonomi yang mengutamakan keuntungan sesaat dibanding keberlanjutan dan tanggung jawab jangka panjang.
Di ranah sosial, polarisasi menjadi semakin tajam. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi kekayaan justru berubah menjadi jurang pemisah. Masing-masing kelompok merasa berada di jalan yang benar, didukung oleh “terang” versi mereka sendiri. Dialog berubah menjadi debat tanpa ujung, dan empati tergantikan oleh kecurigaan. Banyak yang tidak menyadari bahwa mereka sedang tersesat bersama, merasa benar, namun kehilangan arah kebersamaan. Akibatnya, ruang untuk kolaborasi, inovasi, dan kompromi menyempit, sehingga masyarakat lebih mudah terjebak dalam konflik berkepanjangan yang sebenarnya bisa dihindari jika ada kesadaran kritis dan saling mendengar.
Tidak hanya itu, kepercayaan publik terhadap berbagai institusi juga mengalami ujian berat. Ketika transparansi yang dijanjikan tidak sejalan dengan kenyataan, terang yang diharapkan berubah menjadi bayangan yang membingungkan. Masyarakat menjadi skeptis, bahkan sinis. Mereka melihat, tetapi tidak lagi percaya. Dan ketika kepercayaan memudar, arah kolektif pun menjadi kabur. Dalam kondisi seperti ini, kesesatan bukan lagi sekadar metafora, melainkan realitas yang menghambat kemajuan. Terang yang seharusnya menjadi pemandu justru menjadi cermin yang memantulkan ketidakpastian. Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika kesesatan ini mulai dianggap normal. Ketika standar moral diturunkan, dan penyimpangan dianggap bagian dari realitas yang tak terelakkan. Dalam kondisi ini, terang tidak lagi menjadi tujuan, melainkan sekadar alat untuk membenarkan langkah yang keliru. Banyak orang tidak lagi bertanya apakah mereka berada di jalan yang benar, tetapi hanya apakah mereka terlihat benar di mata orang lain. Kehidupan publik dan pribadi menjadi lebih tentang citra daripada substansi, lebih tentang tampilan daripada kebenaran.
Meski demikian, harapan masih ada. Justru di tengah terang yang menyesatkan ini, kebutuhan akan kejernihan menjadi semakin mendesak. Masyarakat perlu kembali pada kemampuan dasar: berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan berani mempertanyakan apa yang tampak jelas. Terang sejati bukanlah yang paling menyilaukan, melainkan yang mampu menunjukkan arah dengan jujur. Mereka yang mampu memilah mana yang sekadar cahaya palsu dan mana yang benar-benar menuntun akan menjadi kunci agar negeri ini tidak semakin tersesat.
Pendidikan memiliki peran penting dalam hal ini. Bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi pembentukan karakter dan cara berpikir. Generasi yang mampu memilah informasi, memahami konteks, dan menjunjung nilai-nilai kebenaran akan lebih tahan terhadap ilusi terang yang menyesatkan. Mereka tidak mudah terbawa arus, dan mampu menjadi penunjuk arah bagi yang lain. Pendidikan bukan hanya soal akademik, tetapi soal membentuk warga yang kritis, berintegritas, dan mampu berkontribusi pada kebaikan bersama.
Selain itu, penting membangun kembali ruang dialog yang sehat. Perbedaan tidak harus dihapuskan, tetapi perlu dikelola dengan bijak. Mendengarkan menjadi sama pentingnya dengan berbicara. Dalam dialog yang terbuka dan jujur, terang dapat kembali berfungsi sebagai alat untuk saling memahami, bukan untuk saling mengalahkan. Dengan cara ini, masyarakat dapat mulai menemukan arah yang sama, bukan sekadar jalan-jalan terang yang menyesatkan.
Pada akhirnya, tersesat di jalan yang terang adalah peringatan bahwa tidak semua yang tampak jelas adalah benar. Diperlukan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita bisa keliru, dan keberanian untuk mencari arah yang lebih tepat.
Negeri ini tidak kekurangan cahaya, tetapi membutuhkan lebih banyak kebijaksanaan dalam menggunakannya. Terang seharusnya membimbing, bukan membutakan. Ketika kita mampu melihat dengan jernih, barulah kita bisa berjalan dengan pasti; tidak lagi tersesat, meski berada di tengah cahaya yang paling terang sekalipun.