Menyingkap Tirai Diri

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di sebuah pesantren tua yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan pepohonan rindang, senja turun perlahan. Langit berwarna jingga keemasan, dan sholat magrib baru saja berlalu, menyisakan keheningan yang dalam. Di serambi surau seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiainya. Matanya redup, menatap tanah seolah mencari jawaban dari sesuatu yang tak terucap.
“Yai,” ucapnya perlahan, “aku belajar, berzikir, berdoa, tapi entah mengapa Allah terasa semakin jauh. Bukankah seharusnya aku semakin dekat?”
Sang kiai menatapnya lama, lalu tersenyum dengan sorot mata yang meneduhkan. “Nak,” katanya lembut, “Allah tidak pernah jauh, hanya hatimu yang berjalan menjauh karena engkau mencari di luar, bukan di dalam.”

Santri itu terdiam. Angin membawa suara daun bambu yang berdesir, seperti ikut berzikir bersama mereka. “Lalu, di mana aku harus mencari-Nya, Yai?” tanyanya lirih. Sang kiai memejamkan mata sejenak, lalu berkata pelan, “Carilah di dalam roso sejati. Ketika engkau benar-benar mengenal rasa yang paling dalam itu, engkau akan menemukan ada sejati — hakikat Allah yang bersemayam dalam dirimu sendiri.” Malam pun turun, dan dalam diam, sang santri merasa seolah baru saja membuka pintu menuju perjalanan batin yang sesungguhnya.

Santri tadi mendengarkan wejangan gurunya dengan takzim, yang jika kita sarikan wejangan itu sebagai berikut;
Dalam pandangan tasawuf, jalan menuju Tuhan bukan sekadar perjalanan menuju sesuatu di luar diri, melainkan perjalanan menembus lapisan diri yang semu hingga yang tersisa hanyalah hakikat. Diri manusia yang tampak, dengan segala hawa, keinginan, dan pikirannya, adalah bayangan dari sesuatu yang lebih hakiki. Ketika manusia hidup hanya di tataran bayangan itu, ia akan terjebak dalam keramaian wujud, dalam hiruk-pikuk dunia yang penuh bentuk, nama, dan perbedaan. Namun, ketika ia mulai mendengar getar halus dari dalam, itulah roso sejati; maka tirai-tirai mulai tersingkap satu demi satu.

Roso sejati bukanlah perasaan emosional atau dorongan batin yang sesaat. Ia adalah kesadaran murni yang lahir dari kejernihan jiwa. Dalam diam yang dalam, ketika segala hasrat duniawi terlepas, muncullah pengalaman roso sejati: kesadaran yang tidak menilai, tidak menuntut, dan tidak membeda-bedakan. Di titik itu, manusia tak lagi memandang Tuhan sebagai sesuatu yang jauh di luar dirinya, tetapi sebagai inti yang senantiasa hadir di dalam dirinya sendiri. Tuhan bukan objek pencarian, tetapi sumber keberadaan yang menyinari seluruh wujud.
Ada sejati, pada sisi lain, adalah hakikat dari segala yang ada. Ia bukan sesuatu yang bisa dipahami oleh rasio semata, sebab ia melampaui konsep dan bentuk. Pikiran hanya mampu menggambarkan bayangannya, tetapi tidak dapat menjangkau keberadaannya yang mutlak. Oleh karena itu, perjalanan menuju ada sejati tidak dapat dilakukan dengan berpikir semata, melainkan dengan mengalami yaitu; dengan membiarkan kesadaran menyatu dengan keberadaan tanpa sekat. Dalam kondisi demikian, subjek dan objek melebur; yang mengenal dan yang dikenal menjadi satu dalam keheningan makrifat.

Jalan ini tidak mudah, karena ia menuntut pembubaran ego. Ego adalah bayangan yang menutupi cermin hati, membuat manusia melihat dirinya terpisah dari Tuhan. Selama ego masih menjadi pusat kesadaran, roso sejati tak akan muncul. Namun, ketika ego meleleh dalam cahaya kesadaran, manusia akan menyadari bahwa dirinya tidak lain adalah pancaran dari ada sejati. Segala yang ada bukanlah “lain”, melainkan manifestasi dari satu sumber yang sama. Dari kesadaran inilah lahir makrifat; pengetahuan langsung yang tidak diperoleh dari berpikir, tetapi dari penyatuan.

Makrifat adalah titik pertemuan antara roso sejati dan ada sejati. Ia bukan hasil belajar, tetapi hasil pengosongan. Ketika pikiran diam, ketika hati jernih, maka kebenaran itu menyingkap dirinya sendiri. Seperti mata air yang tidak pernah kering, roso sejati senantiasa mengalir dari sumber ada sejati. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan yang fana dengan yang abadi. Dalam pengalaman makrifat, manusia tidak lagi merasa menjadi pencari, karena yang dicari ternyata adalah dirinya sendiri dalam dimensi terdalam keberadaan.

Dalam kesadaran roso sejati, seluruh perbedaan luluh. Baik dan buruk, tinggi dan rendah, luar dan dalam; semuanya kehilangan maknanya di hadapan keutuhan ada sejati. Manusia menyadari bahwa segala bentuk adalah permainan dari keberadaan yang satu. Dari sinilah lahir cinta yang sejati, bukan sebagai emosi yang bergelora, tetapi sebagai penerimaan total terhadap segala wujud sebagai pancaran dari Tuhan. Cinta menjadi bentuk tertinggi dari makrifat, sebab di dalamnya tak ada lagi “aku” dan “Engkau”; yang ada hanyalah satu kehadiran yang tak terpisah.

Perjalanan ini menuntut keberanian untuk hening di tengah hiruk-pikuk, untuk melihat ke dalam ketika dunia menyeret ke luar. Dalam hening itu, manusia menemukan bahwa Tuhan tidak datang dari luar sebagai cahaya yang menyinari, melainkan sebagai cahaya yang selama ini berdiam dalam diri, menunggu disingkap. Roso sejati adalah kunci untuk membuka tirai itu, dan ketika tirai tersingkap, yang tampak hanyalah ada sejati, yaitu hakikat yang selama ini dicari di luar, padahal bersemayam di inti kesadaran.

Dengan demikian, ada sejati dan roso sejati bukan dua hal yang terpisah, tetapi dua jalan yang saling menyingkap. Roso sejati adalah kesadaran yang bergerak dari dalam menuju kebenaran, sementara ada sejati adalah kebenaran itu sendiri yang menunggu untuk disadari. Dalam kesatuan keduanya, makrifat terjadi; bukan sebagai pencapaian, tetapi sebagai pengingatan kembali atas asal dan tujuan manusia. Pada akhirnya, siapa yang benar-benar mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhan, karena diri sejati bukan lain dari pancaran ada sejati itu sendiri. Pak Yai menutup wejanannya kepada Santri dengan satu kalimat kunci bahwa “Keberadaan “Ada Sejati” itu lebih dekat dari urat lehermu, DIA hanya bisa kau kenali dengan “roso sejati” mu. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly

 

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Jalin Kerja Sama Strategis dengan Hong Sheng Biotech di Taipei untuk Persiapan Pabrik Silver Nanoparticle Patch di Lampung

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam upaya memperkuat kolaborasi riset dan teknologi di bidang bioteknologi medis, Dwi Marlina Syukri, Ph.D, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, melakukan kunjungan kerja ke Hong Sheng Biotech Co., Ltd., Taipei, Taiwan pada 10–14 November 2025. Kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam persiapan pendirian pabrik produksi Biogenic Silver Nanoparticle Patch di Bandar Lampung.

Kegiatan dimulai dengan pertemuan resmi bersama jajaran manajemen dan tim peneliti Hong Sheng Biotech. Dalam diskusi tersebut, kedua pihak membahas perkembangan teknologi produksi biogenic silver nanoparticles untuk aplikasi medis, mekanisme kerja antibakteri, serta standardisasi formula dan stabilitas produk untuk produksi skala industri. Pembahasan ini menjadi landasan penting dalam menyelaraskan kebutuhan industri dengan temuan riset akademik.

Sebagai perwakilan akademisi, Dwi Marlina Syukri, Ph.D memberikan pandangan mengenai aspek klinis serta potensi penggunaan silver nanoparticle patch dalam praktik kedokteran, mulai dari penyembuhan luka akut dan kronis hingga pencegahan infeksi. Pertemuan kemudian berlanjut pada pembahasan teknis pendirian fasilitas produksi di Bandar Lampung, mencakup rencana (Technology Transfer), kebutuhan infrastruktur berstandar Good Manufacturing Practices (GMP), spesifikasi peralatan produksi, alur pengembangan produk, hingga strategi pembentukan rantai pasok bahan baku lokal.

Kedua pihak juga menyusun tahapan implementasi yang meliputi:

  • Pilot production dan validasi proses
  • Penyusunan dokumen registrasi BPOM
  • Perencanaan uji klinis tahap awal di Indonesia
  • Penyusunan MoU dan dokumen kerja sama resmi sebagai dasar keberlanjutan proyek

Kunjungan ditutup dengan tur fasilitas laboratorium Hong Sheng Biotech untuk melihat langsung teknologi dan proses produksi yang menjadi acuan pada pendirian pabrik di Indonesia. Dalam kesempatan ini, disepakati pula komitmen untuk mempercepat persiapan pendirian pabrik Biogenic Silver Nanoparticle Patch di Bandar Lampung dan memperluas kerja sama riset antara kedua institusi.

Melalui kolaborasi ini, Universitas Malahayati diharapkan dapat berperan aktif dalam mendorong inovasi bioteknologi medis nasional dan menghadirkan produk nanopartikel yang efektif, aman, serta berdaya saing.

Kunjungan ini bukan hanya langkah teknis, tetapi juga bukti nyata bahwa kolaborasi antara akademisi dan industri mampu membuka peluang besar bagi kemajuan riset dan teknologi kesehatan di Indonesia. (fkr)

 

 

Dosen Universitas Malahayati Raih Penghargaan Internasional pada The 29th APSR Congress 2025 di Manila

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Universitas Malahayati. dr. Dwi Robbiardy Eksa, M.Kes., Sp.P, dosen Fakultas Kedokteran, berhasil meraih penghargaan internasional pada ajang bergengsi The 29th Congress of Asian Pacific Society of Respirology (APSR) yang digelar pada 10–13 November 2025 di SMX Convention Centre, Manila, Filipina.

Kongres tahunan yang menghimpun para ahli pulmonologi dan respirasi se-Asia Pasifik ini menjadi ruang strategis bagi para peneliti, akademisi, dan praktisi medis untuk berbagi temuan terbaru di bidang kesehatan pernapasan. Pada kegiatan tersebut, dr. Dwi Robbiardy Eksa tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga berkontribusi aktif sebagai peneliti dengan mempresentasikan dua penelitian penting.

Penelitian pertama berjudul:
“Comparison of Lateral Flow Lipoarabinomannan TB Antigen (LF LAM TB-Ag) and Xpert MTB/RIF for Diagnosing Non HIV Pulmonary Tuberculosis in Malnourished Patients.”
Karya ilmiah ini berhasil meraih Assembly Education Award dari APSR sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam upaya pengembangan metode diagnosis penyakit tuberkulosis.

Penelitian kedua berjudul:
“Exon Mutations and D-Dimer Levels in EGFR-Mutant Lung Adenocarcinoma: Correlation with 1-Year Progression-Free Survival at Ahmad Yani Metro General Hospital, Indonesia.”
Penelitian ini turut menegaskan komitmen dr. Dwi Robbiardy Eksa dalam pengembangan ilmu di bidang respirasi dan onkologi paru.

Pada kesempatan yang sama, dr. Dwi Robbiardy Eksa juga terpilih sebagai penerima International Award – Assembly Education Award of APSR 2025, khususnya dalam bidang Infeksi Tuberkulosis. Penghargaan ini diberikan kepada para peneliti yang memiliki kontribusi signifikan terhadap perkembangan riset dan inovasi dalam diagnosis serta penanganan penyakit paru.

Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi Universitas Malahayati dan menegaskan peran aktif dosen Indonesia dalam forum ilmiah internasional. Diharapkan pencapaian ini dapat menginspirasi sivitas akademika untuk terus berkarya, berinovasi, dan menghasilkan penelitian berkualitas di kancah nasional maupun internasional. (fkr)

Prestasi Membanggakan Anugrah Makhtias Rizky Raih Juara 1 Taekwondo di Tingkat Nasional dan Provinsi

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menorehkan prestasi melalui salah satu mahasiswanya, Anugrah Makhtias Rizky, mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, yang sukses meraih penghargaan pada tingkat nasional dan tingkat provinsi.

Sebagai mahasiswa dengan NPM 25320128, Anugrah menunjukkan dedikasi dan kapasitas yang membanggakan dalam kompetisi yang diikutinya. Pencapaian ini menjadi bukti nyata kualitas mahasiswa Universitas Malahayati dalam menorehkan prestasi di berbagai ajang.

Dalam kesempatan wawancara, Anugrah mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian tersebut.
“Saya bersyukur bisa meraih prestasi ini. Semuanya tidak lepas dari doa keluarga, bimbingan dosen, dan dukungan teman-teman. Saya berharap pencapaian ini bisa memotivasi teman-teman mahasiswa lain untuk terus berusaha dan tidak takut mencoba,” ujarnya.

Pihak Fakultas Ilmu Kesehatan dan Program Studi Ilmu Keperawatan menyampaikan apresiasi tinggi atas prestasi yang diraih. Mereka berharap keberhasilan Anugrah dapat menjadi contoh positif bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan potensi diri.

Universitas Malahayati berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan dan pengembangan mahasiswa, baik akademik maupun non-akademik, guna mencetak lulusan yang unggul, percaya diri, dan berdaya saing.

Selamat kepada Anugrah Makhtias Rizky atas capaian yang membanggakan ini. Semoga prestasi tersebut terus mengharumkan nama Universitas Malahayati. (fkr)

 

Cahaya Ilahi di Balik Kesederhanaan dan Kebersamaan Para Jaula Ijtima di Kota Baru

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

TIGA HARI LALU, Herman Batin Mangku (HBM) sebagai jurnalis senior turun meliput persiapan Ijtima Akbar Dunia yang akan dilaksanakan akhir bulan ini. Karya jurnalistik itu terasa sekali “dagingnya”, karena disajikan oleh orang yang memang profesional pada bidangnya. Dan, atas tanggungjawab moral jualah tulisan ini ingin disumbangkan untuk melengkapinya dari sisi lain.

Pertemuan anggota organisasi Islam yang bercirikan jaula dan berjumlah ribuan orang tentu akan menghadirkan suasana yang berbeda dari sekadar kumpul-kumpul biasa. Jaula dalam konteks ini dapat dipahami sebagai sisi manusia yang selalu merasa diri masih perlu dibimbing, diarahkan, dan disempurnakan akhlaknya.

Dan, tentu ini suatu sikap mulia. Ribuan manusia yang akan datang dengan berbagai latar, pemikiran, pengalaman, dan tingkat pemahaman menjadi potret nyata bahwa perjalanan spiritual umat tidak pernah seragam. Justru dalam keragaman inilah terhampar pelajaran bahwa Islam mengajarkan proses, bukan hanya hasil.

Sudah bisa dibayangkan sejak persiapan awal acara, suasana sudah dipenuhi energi spiritual yang kuat. Bisa dibayangkan ribuan suara yang akan menyatu dalam lantunan doa menghadirkan getaran kebersamaan yang tidak mudah dilukiskan dengan kata-kata.

Meski ribuan orang akan berkumpul dalam satu tempat, tentu ketertiban tetap terjaga karena rasa hormat dan kesadaran kolektif bahwa momen tersebut merupakan bagian dari ibadah dan pencarian makna hidup. Setiap langkah yang diambil menuju tempat pertemuan serupa ini seakan menjadi simbol perjalanan menuju cahaya, meninggalkan segala keraguan dan kekeliruan diri yang selama ini menghambat perbaikan jiwa.

Pertemuan besar seperti ini tentu selalu memiliki ciri khas tersendiri. Aroma persaudaraan akan menyebar begitu kuat, membuat setiap orang merasa dekat meski sebelumnya tidak saling mengenal. Banyak yang datang dengan membawa beban kehidupan, ada yang memikul keresahan batin, ada pula yang sekadar ingin memperbaiki diri.

Namun, ketika duduk bersama dalam satu majelis, semua perbedaan itu melebur menjadi satu niat: mempertebal iman dan memperbaiki akhlak. Di sinilah letak keindahan sebuah organisasi Islam; kemampuannya menyatukan hati tanpa memandang kedudukan atau tingkat pemahaman.

Jahula sebagai ciri yang dibawa oleh anggota bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi justru menjadi bagian dari dinamika pembelajaran. Dalam setiap manusia pasti ada sisi yang perlu dihaluskan. Pertemuan ribuan orang ini, akan mencerminkan bahwa mengakui kelemahan adalah langkah awal menuju perbaikan.

Tidak ada yang datang sebagai sosok paling sempurna; semua hadir sebagai insan yang masih belajar mengenal Tuhannya. Hal inilah yang kemudian membuat suasana semakin hangat, karena setiap orang melihat dirinya sebagai bagian dari proses kolektif menuju kebaikan. Dan, ini yang terbaca saat HBM mendatangi lokasi pertemuan.

Salah satu kekhasan lain dari pertemuan tersebut ialah akan adanya dialog batin yang tercipta tanpa harus melalui kata-kata. Banyak yang akan merasa tersentuh hanya dengan melihat ribuan manusia lainnya yang juga tengah berusaha menjadi pribadi lebih baik.

Pesan-pesan moral yang akan disampaikan selama kegiatan, baik melalui kajian maupun renungan bersama, akan terasa masuk lebih dalam karena disampaikan dalam suasana yang penuh ketulusan.

Momen seperti ini membuat setiap individu merasa diingatkan bahwa hidup bukan sekadar mengejar dunia, melainkan memperbaiki diri agar semakin dekat dengan nilai-nilai Ilahiah.

Pada saat pembahasan mengenai pentingnya keikhlasan, tentu suasana majelis akan menjadi sangat hening. Semua mata akan tertuju ke podium, tetapi sesungguhnya perhatian mereka lebih tertuju ke dalam hati masing-masing.

Dalam keheningan seperti itu, akan banyak yang menyadari bahwa ketulusan tidak lahir begitu saja, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan pergulatan batin. Dengan akan melihat ribuan orang yang sama-sama berjuang, seseorang akan merasa lebih kuat karena ia tidak berjalan sendirian. Kesadaran ini akan menjadi bagian dari hikmah pertemuan besar semacam itu.

Selain itu, semangat ukhuwah Islamiyah sudah begitu terasa dari saat persiapan dan akan berlanjut dalam interaksi sederhana, seperti berbagi makanan, saling memberi tempat duduk, hingga menegur-sapa satu sama lain dengan penuh adab.

Semua itu menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan melalui ceramah, tetapi juga melalui tindakan nyata. Justru tindakan-tindakan kecil itulah yang paling mudah membuka pintu hati. Ketika ribuan orang melakukan kebaikan kecil secara serempak, dampaknya akan berubah menjadi gelombang spiritual yang sangat dahsyat.

Pertemuan besar ini juga mengingatkan setiap kita bahwa dakwah tidak harus selalu dilakukan oleh orang yang sudah sempurna. Dakwah yang paling menyentuh justru adalah dakwah yang muncul dari kesadaran bahwa diri sendiri masih penuh kekurangan. Dari sini, terbentuklah rasa rendah hati kolektif yang mendorong setiap orang untuk terus memperbaiki diri tanpa merasa lebih mulia dari yang lain. Sikap seperti ini sangat penting untuk menjaga keharmonisan organisasi.

Pada akhirnya, pertemuan ribuan anggota organisasi Islam yang bercirikan jaula ini akan menjadi cermin bahwa perjalanan menuju kesempurnaan iman adalah perjalanan bersama, bukan perjalanan individu. Dalam kebersamaan tersebut, cahaya persaudaraan memancar begitu kuat, menghapus segala jarak, dan menguatkan tekad untuk terus berjalan di jalan yang diridai.

Pertemuan ini bukan hanya acara, tetapi momentum spiritual yang menyatukan hati-hati yang sedang mencari jalan pulang kepada Tuhannya. Semoga cahaya itu terus terjaga, menerangi setiap langkah menuju kehidupan yang penuh berkah dan kedamaian. Dan, tentu diharapkan akan memberikan dampak positif kepada seluruh warga Provinsi Lampung pada khususnya.

Terimakasih juga disampikan pada HBM yang dengan setia mengawal kegiatan ini secara jurnalistik. Sihat selalu Kolpah. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

LPPM Universitas Malahayati Gelar Coaching Clinic Hibah Kemdiktisaintek untuk Tingkatkan Kualitas Proposal Dosen

BANDAR LAMPUNG (Malahayati.ac.id): Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Malahayati kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas riset dan pengabdian para dosen. Melalui kegiatan Coaching Clinic Hibah Proposal Kemdiktisaintek Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, LPPM menghadirkan forum pelatihan intensif selama dua hari, pada 13–14 November 2025, bertempat di Ruang 1.13 Gedung Rektorat Universitas Malahayati.

Baca Juga: Program Studi Manajemen Universitas Malahayati Gelar Kuliah Umum OBE Bertema Smart Management and Modern Finance

Kegiatan ini diikuti oleh para dosen dari berbagai fakultas yang antusias memperdalam pemahaman mengenai penyusunan proposal yang kompetitif, sesuai standar hibah Kemdiktisaintek. Suasana acara berlangsung interaktif dengan diskusi, evaluasi draf proposal, serta bimbingan langsung dari para narasumber berpengalaman.

Acara resmi dibuka oleh Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes.
Dalam sambutannya, Prof. Dessy menegaskan pentingnya peningkatan kualitas riset dan pengabdian sebagai bagian dari implementasi Tridarma Perguruan Tinggi.

“Coaching clinic ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas dosen dalam menghasilkan proposal penelitian dan pengabdian yang tidak hanya memenuhi standar administratif, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan. Kami berharap kegiatan ini dapat melahirkan lebih banyak proposal kompetitif dari Universitas Malahayati, sehingga peluang memperoleh pendanaan Kemdiktisaintek semakin besar,” ujar Prof. Dessy.

Ia juga menambahkan bahwa universitas terus berkomitmen mendukung pengembangan kompetensi dosen melalui berbagai program pembinaan berkelanjutan.

Ketua LPPM Universitas Malahayati, Prof. Erna Listyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin LPPM untuk memberikan pendampingan menyeluruh kepada dosen.

“Kami ingin memastikan setiap dosen memiliki kemampuan yang memadai dalam menyusun proposal hibah yang kuat, relevan, dan memiliki nilai kebermanfaatan tinggi. Melalui coaching clinic ini, LPPM berupaya menciptakan atmosfer riset yang lebih produktif serta memperluas kontribusi Universitas Malahayati dalam penelitian dan pengabdian di tingkat nasional,” jelas Prof. Erna.

Beliau juga berharap peserta memanfaatkan forum ini secara maksimal dengan membawa draf proposal agar dapat direvisi langsung berdasarkan masukan narasumber.

Coaching clinic menghadirkan dua narasumber utama yang memberikan pendalaman materi sesuai bidang masing-masing: Prof. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kep., – Coaching Clinic Proposal PKM Hibah Kemdiktisaintek. Dr. Febriyanti, S.E., M.Si., – Coaching Clinic Proposal Penelitian Hibah Kemdiktisaintek, dan dipandu oleh moderator Eka Yudha Chrisanto, S.Kep., Ns., M.Kep selaku Wakil Ketua LPPM Universitas Malahayati.

Keduanya memberikan penjelasan mengenai karakteristik proposal yang baik, kesalahan umum yang sering ditemukan, strategi memperkuat novelty penelitian, serta penyusunan luaran wajib dan tambahan sesuai ketentuan Kemdiktisaintek.

Baca Juga: Wakil Rektor II Universitas Malahayati Hadiri BCA Commercial Gathering, Bahas Peluang Kolaborasi Strategis

Para dosen peserta tampak aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan detail, hingga menunjukkan rancangan proposal untuk mendapatkan evaluasi langsung dari narasumber.

LPPM juga mengarahkan peserta untuk mengunggah proposal QR Code yang telah disediakan, serta mengingatkan agar setiap dosem membawa satu judul pengajuan proposal yang telah disiapkan sebelumnya. Peserta juga diimbau membawa hardcopy proposal dan laptop untuk mendukung kelancaran kegiatan.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, LPPM Universitas Malahayati berharap jumlah proposal dosen yang lolos pendanaan Kemdiktisaintek pada tahun mendatang dapat meningkat signifikan. Coaching clinic ini juga menjadi salah satu upaya konkret universitas dalam memperkuat ekosistem akademik yang unggul, berdaya saing, serta berorientasi pada solusi untuk masyarakat.

 

Editor: Gilang Agusman

Program Studi Manajemen Universitas Malahayati Gelar Kuliah Umum OBE Bertema Smart Management and Modern Finance

BANDAR LAMPUNG (Malahayati.ac.id): Program Studi Manajemen Universitas Malahayati kembali menggelar Kuliah Umum Implementasi Outcome Based Education (OBE) dengan tema “Smart Management and Modern Finance: Building a Financially Literate Generation Ready to Compete Globally.” Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (13/11/2025) di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati dan dihadiri 376 mahasiswa Manajemen angkatan 2024 dan 2025.

Baca Juga: Wakil Rektor II Universitas Malahayati Hadiri BCA Commercial Gathering, Bahas Peluang Kolaborasi Strategis

Ketua pelaksana, Ayu Nursari, S.E., M.E., dalam laporannya menyampaikan bahwa kuliah umum ini menjadi salah satu agenda penting Prodi Manajemen dalam memperkuat penerapan OBE serta membekali mahasiswa dengan wawasan keuangan modern. Ia juga menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta yang memenuhi ruangan hingga kegiatan berlangsung dengan sangat dinamis.

Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber dari berbagai lembaga dan industri, yaitu:
• Nur Annisa, S.E., M.E. – BNI
• Hary Febriady, S.E. – FIF Group
• Randi Arfanda Reza, S.Sos., S.E., M.B.A. – BPJS Ketenagakerjaan
• Nani Susanti, S.E. – Kantor Wilayah DJP

Para narasumber memaparkan materi terkait literasi keuangan, manajemen modern, tantangan industri keuangan, serta pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi kompetisi global. Mahasiswa tampak aktif berdiskusi, mencatat poin-poin penting, dan mengajukan pertanyaan seputar pengelolaan keuangan, peluang karier, serta peran manajemen dalam ekosistem ekonomi modern.

Ketua Program Studi Manajemen, Dr. Febrianti, S.E., M.Si, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen Prodi Manajemen untuk terus menguatkan implementasi OBE secara berkelanjutan.
“Semoga ilmu yang didapat hari ini dapat diimplementasikan dengan sebaik-baiknya. Prodi Manajemen akan selalu konsisten menjalankan penerapan OBE. Kami mohon dukungan agar kuliah umum seperti ini tetap kondusif. Catat hal-hal penting dan bertanyalah tentang apa pun yang ingin kalian ketahui,” ujarnya.

Baca Juga: Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati Gelar Terapi Aktivitas Kelompok untuk Lansia di PSLU Tresna Werdha Bhakti Yuswa Natar

Rektor Universitas Malahayati, Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H, tidak dapat hadir dan diwakili oleh Wakil Rektor I, Prof. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes. Dalam sambutannya, Prof. Dessy memberikan apresiasi kepada Prodi Manajemen atas terselenggaranya kuliah umum ini serta menekankan pentingnya pemahaman OBE dalam proses pembelajaran.
“Kegiatan seperti ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi secara nyata sesuai capaian pembelajaran OBE. Kami mengapresiasi langkah Prodi Manajemen yang terus aktif menghadirkan kegiatan edukatif dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.

Dengan terselenggaranya kuliah umum ini, Prodi Manajemen Universitas Malahayati berharap mahasiswa semakin siap menghadapi tantangan global, memiliki literasi keuangan yang kuat, serta mampu bersaing di dunia profesional yang semakin kompetitif. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan pemberian penghargaan kepada para narasumber. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Ketika Hati Menemukan Jalan Pulang

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Suatu sore setelah Ashar di serambi sebuah pesantren yang teduh, seorang santri muda duduk bersimpuh di hadapan kiainya. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah seusai hujan, sementara daun-daun bergesekan lembut di atas genting. Dengan suara lirih, santri itu bertanya kepada Kiai, …“Kiai, mengapa hati manusia sering gelisah meski telah banyak berdoa dan beribadah?”.. Sang kiai menatap wajah santri, lalu memandang jauh ke langit senja yang merona. Ia menarik napas dalam-dalam dan menjawab dengan lembut, …“Karena hatimu, Nak, belum menemukan jalan pulang. Manusia sering tersesat dalam keinginan dan ketakutan, hingga lupa bahwa damai sejati hanya muncul saat hati tertata dan siap menerima setiap ujian, bahkan kematian.”… Hening sejenak menyelimuti keduanya, seolah waktu ikut menunduk, memberi ruang bagi jiwa untuk merenung.

Kalimat yang berbunyi “Ketika hati menemukan jalan pulang”, ini menunjuk pada situasi dimana manusia tidak lagi hidup dalam kegelisahan tanpa ujung. Ia mulai memahami bahwa hidup bukan perlombaan untuk memiliki sebanyak mungkin, melainkan perjalanan untuk memahami arti kehilangan. Dalam pemahaman itu, manusia belajar menata hatinya, diantaranya adalah menerima perubahan, mengampuni masa lalu, dan berdamai dengan ketidaksempurnaan. Penataan hati bukan sekadar upaya moral, tetapi tindakan eksistensial yang lahir dari kesadaran bahwa setiap hal yang datang pasti akan pergi. Dengan menata hati, manusia sedang melatih dirinya untuk tidak gentar menghadapi kefanaan.

Kematian, yang sering dianggap sebagai momok menakutkan, sebenarnya hanyalah kepulangan yang tak terhindarkan. Ketika hati belum tertata, kematian tampak seperti jurang gelap yang menelan segala makna. Namun bagi hati yang tenang, kematian menjadi seperti senja yang lembut, sebagai penutup yang indah bagi hari yang telah penuh cerita. Menemukan jalan pulang berarti menemukan cara untuk menatap kematian dengan damai, karena hati telah memahami bahwa yang berakhir hanyalah bentuk, sementara makna tetap berdenyut di ruang yang tak terjangkau waktu.

Manusia sering tersesat karena terlalu sibuk menatap ke luar, mengejar citra, kedudukan, dan bahkan pengakuan, hingga lupa menengok ke dalam. Padahal, di sanalah jalan pulang sejati berada. Di dalam diri, terdapat ruang sunyi yang tidak tersentuh oleh hiruk-pikuk dunia, tempat segala kebisingan berhenti, dan manusia dapat mendengar suara yang paling jernih: suara hatinya sendiri. Namun untuk sampai ke ruang itu, diperlukan keberanian yang besar, keberanian untuk menghadapi kesepian, luka, dan bayangan diri yang selama ini dihindari.

Menemukan jalan pulang bukanlah perjalanan yang cepat. Ia menuntut keheningan, kejujuran, dan kesediaan untuk melepaskan. Melepaskan bukan berarti menyerah, melainkan membebaskan diri dari hal-hal yang menjerat jiwa. Dalam setiap kehilangan, manusia diajak untuk melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perpisahan. Ia belajar bahwa melepaskan adalah bagian dari mencintai, bahwa dalam setiap akhir ada kesempatan untuk menemukan makna baru. Hati yang mampu melepaskan tidak lagi terbelenggu oleh masa lalu, melainkan terbuka menerima segala yang datang dengan lembut.

Ketika hati tertata, waktu tak lagi terasa sebagai ancaman, melainkan anugerah. Setiap detik menjadi kesempatan untuk hidup sepenuhnya, bukan untuk menumpuk pencapaian, tetapi untuk menebarkan kebaikan. Hidup tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, tetapi sebagai ruang untuk mengalami kehadiran yang sejati. Dalam kesadaran ini, manusia mulai menyadari bahwa jalan pulang bukan terletak di ujung kehidupan, tetapi hadir di setiap langkah yang dijalani dengan kesadaran penuh.

Hati yang menemukan jalan pulang adalah hati yang tidak lagi takut kehilangan. Ia tahu bahwa segala sesuatu yang dicintainya suatu saat akan berubah bentuk, namun tidak benar-benar lenyap. Cinta, kebaikan, dan keikhlasan akan tetap hidup, bahkan setelah tubuh berhenti bernapas. Maka, kematian bukanlah pemisahan, melainkan kelanjutan dari perjalanan menuju bentuk keberadaan yang lain. Dalam pandangan ini, hidup dan mati tidak lagi bertentangan, tetapi saling melengkapi seperti siang dan malam yang bergantian menjaga keseimbangan alam.

Pulang, dalam makna terdalam, adalah kembalinya manusia pada kesadaran akan dirinya yang sejati. Ia tak lagi dikuasai oleh ego yang menuntut pengakuan, tak lagi terikat oleh keinginan yang tak pernah puas. Ia telah belajar bahwa kebahagiaan tidak terletak pada memiliki, melainkan pada menjadi. Menjadi hadir, menjadi damai, menjadi cinta. Dalam keadaan itu, hati tidak lagi berkelana tanpa arah, sebab ia telah tiba di tempat yang paling hakiki: kedamaian dalam diri sendiri.

Mungkin jalan pulang tidak selalu mulus. Ada luka, kecewa, dan penyesalan yang harus dilalui. Namun justru di sanalah makna perjalanan itu tumbuh. Tanpa luka, manusia tidak akan tahu makna penyembuhan. Tanpa kehilangan, ia tidak akan mengerti nilai dari kehadiran. Hati yang matang adalah hati yang telah melewati badai dan tetap mampu mencintai dunia dengan kelembutan. Ia tidak lagi menuntut kehidupan agar sempurna, karena ia tahu bahwa kesempurnaan sejati hanya ada dalam penerimaan total terhadap yang tidak sempurna.

Dan, pada akhirnya, ketika hati benar-benar menemukan jalan pulang, manusia tidak lagi berusaha melarikan diri dari kematian. Ia justru menyambutnya dengan ketenangan yang mendalam, seperti seseorang yang kembali ke rumah setelah perjalanan jauh. Tidak ada lagi kegelisahan, hanya rasa syukur bahwa hidup telah dijalani dengan penuh makna. Di saat itu, kematian bukanlah kehilangan, melainkan kepulangan ke pelukan keabadian.

Ketika hati menemukan jalan pulang, hidup dan mati berhenti menjadi dua hal yang terpisah. Keduanya melebur menjadi satu pengalaman keberadaan yang utuh. Hidup menjadi doa yang berjalan, dan mati menjadi jeda dalam keheningan yang suci. Di sana, manusia akhirnya mengerti bahwa semua pencarian yang panjang di dunia ini sebenarnya hanyalah upaya untuk kembali, yaitu kembali pada hati yang damai, pada diri yang sejati, pada sumber segala kehidupan. Dan ketika hati telah sampai di sana, maka tak ada lagi yang perlu dicari, sebab ia telah benar-benar pulang. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Wakil Rektor II Universitas Malahayati Hadiri BCA Commercial Gathering, Bahas Peluang Kolaborasi Strategis

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Wakil Rektor II Universitas Malahayati, Drs. Nirwanto, M.Kes, menghadiri acara BCA Commercial Gathering yang digelar di Hotel Azana Boutique, Rabu (12/11/2025). Kehadirannya turut didampingi oleh Kepala Humas dan Protokol Universitas Malahayati, Emil Tanhar, S.Kom.

Acara yang diselenggarakan oleh Bank Central Asia (BCA) ini menghadirkan sejumlah pelaku usaha, pimpinan institusi pendidikan, dan mitra strategis BCA dari berbagai sektor di Provinsi Lampung. Turut hadir dan memberikan sambutan Suhardjo Moeliadi, selaku Kepala Kantor Wilayah VI BCA, yang menekankan pentingnya sinergi antara dunia perbankan dengan lembaga pendidikan dan sektor bisnis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Baca Juga: Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati Gelar Terapi Aktivitas Kelompok untuk Lansia di PSLU Tresna Werdha Bhakti Yuswa Natar

Dalam sambutannya, Suhardjo Moeliadi menyampaikan bahwa BCA terus berkomitmen untuk menghadirkan solusi finansial yang inovatif, efisien, dan berbasis teknologi digital. “Kami ingin menjadi mitra strategis bagi berbagai institusi, termasuk universitas, dalam membangun ekosistem keuangan yang sehat, modern, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Drs. Nirwanto, M.Kes memberikan sejumlah masukan konstruktif terkait ide-ide yang disampaikan pihak BCA. Ia menilai bahwa gagasan penguatan kolaborasi antara BCA dan perguruan tinggi seperti Universitas Malahayati sangat relevan, terutama dalam menghadapi tantangan transformasi digital di dunia pendidikan dan manajemen keuangan kampus.

“Universitas Malahayati selalu terbuka terhadap kerja sama yang mendukung peningkatan efisiensi dan transparansi pengelolaan keuangan institusi. Kami melihat potensi besar untuk berkolaborasi, baik dalam hal pengembangan sistem pembayaran digital mahasiswa, literasi keuangan civitas akademika, maupun program edukasi perbankan bagi mahasiswa,” ujar Nirwanto.

Lebih lanjut, Nirwanto menambahkan bahwa sinergi antara dunia pendidikan dan sektor perbankan dapat memberikan manfaat jangka panjang, tidak hanya bagi institusi, tetapi juga bagi mahasiswa sebagai generasi penerus yang perlu dibekali dengan kemampuan finansial dan kewirausahaan yang baik.

Baca Juga: LPPM Universitas Malahayati Laksanakan Monev Program Pengabdian Masyarakat, Dorong Inovasi Ekoenzim Ramah Lingkungan

Acara BCA Commercial Gathering 2025 ini juga menjadi ajang networking dan diskusi interaktif antar peserta. Beberapa isu yang dibahas antara lain transformasi digital perbankan, solusi pembayaran kampus, pengelolaan dana institusi, hingga peluang kerja sama dalam kegiatan sosial dan pendidikan.

Dengan semangat kolaboratif yang terbangun, Universitas Malahayati dan BCA diharapkan dapat segera menjajaki langkah konkret dalam mewujudkan kemitraan strategis, khususnya dalam bidang edukasi finansial, pengembangan digital campus, dan program pemberdayaan mahasiswa. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Malahayati Gelar Terapi Aktivitas Kelompok untuk Lansia di PSLU Tresna Werdha Bhakti Yuswa Natar

NATAR (Malahayati.ac.id): Kepedulian terhadap kesehatan jiwa dan kesejahteraan lansia diwujudkan oleh Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati bersama mahasiswa semester 7 melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Panti Sosial Lanjut Usia (PSLU) Tresna Werdha Bhakti Yuswa Natar, Jumat (7/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung dengan penuh kehangatan ini mengusung tema “Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia.” Melalui kegiatan ini, para mahasiswa memberikan pendampingan langsung kepada para penghuni panti dengan berbagai aktivitas yang dirancang untuk menstimulasi fungsi kognitif, meningkatkan keterampilan sosial, mengurangi depresi dan kecemasan, serta menumbuhkan semangat hidup bagi para lansia.

Baca Juga: LPPM Universitas Malahayati Laksanakan Monev Program Pengabdian Masyarakat, Dorong Inovasi Ekoenzim Ramah Lingkungan

Turut hadir dalam kegiatan ini Kepala PSLU Tresna Werdha Bhakti Yuswa Natar, Iwan Barmansyah, S.H., M.H., beserta jajaran pengurus panti. Dari pihak kampus, kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Program Studi Ilmu Keperawatan, Aryanti Wardiyah, M.Kep., Sp.Mat., yang sekaligus memberikan sambutan pembuka, serta para dosen pendamping: Andoko, S.Kep., Ns., M.Kes. selaku koordinator kegiatan, Rilyani, S.Kep., Ns., M.Kes., Eka Trismiyana, S.Kep., M.Kes., dan Umi Romayati Keswara, S.Kep., M.Kes.

Dalam sambutannya, Aryanti Wardiyah, M.Kep., Sp.Mat., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya peran mahasiswa keperawatan dalam memberikan dukungan psikososial kepada lansia agar mereka tetap produktif dan bersemangat dalam menjalani masa tua.

“Melalui kegiatan Terapi Aktivitas Kelompok ini, kami ingin menumbuhkan empati dan rasa peduli mahasiswa terhadap kesehatan mental lansia. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi penghuni panti, tetapi juga menjadi pengalaman belajar berharga bagi mahasiswa dalam memahami aspek keperawatan gerontik secara langsung,” ujar Aryanti.

Baca Juga: Dosen Teknik Sipil Universitas Malahayati Ikuti Konferensi Nasional Teknik Sipil (Konteks ke-19) dan Munas BMPTTSSI di Mataram

Sementara itu, Iwan Barmansyah, S.H., M.H., selaku Kepala PSLU Tresna Werdha Bhakti Yuswa Natar, menyampaikan apresiasi dan rasa harunya atas kehadiran mahasiswa Universitas Malahayati.

“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan kepedulian dari Universitas Malahayati. Para lansia terlihat sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan ini. Kami berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali secara berkelanjutan, karena dampaknya sangat positif bagi penghuni panti,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan TAK yang dilakukan mahasiswa mencakup permainan kelompok, senam ringan, latihan memori, hingga sesi refleksi dan berbagi cerita antar peserta. Suasana penuh tawa, keakraban, dan kasih sayang tampak mewarnai seluruh kegiatan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengasah keterampilan komunikasi terapeutik dan empati, tetapi juga belajar memahami pentingnya pendekatan holistik dalam memberikan pelayanan keperawatan pada lansia.

Kegiatan pengabdian ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi nyata Universitas Malahayati dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan semangat kampus dalam mencetak tenaga kesehatan yang profesional, humanis, dan berjiwa sosial tinggi. (gil)

Editor: Gilang Agusman