Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Senjamenjelang malam, lewat gaget, masuk kiriman berita khusus dari HBM mengenai perdebatan calon wali Kota Bandarlampung antara nomor urut satu Reihana versus nomor urut dua Eva Dwiana. Kebetulan, keduanya emak-emak.
Reihana didampingi calon wakilnya Aryodhia Febriansyah (Yodhi) dan Eva Dwiana didampingi Deddy Amarullah. Sebagai pendamping, Yodhi dan Deddy banyak menyimak dan menjaga sikapsikap santun sambil senyum-senyum tipis.
Wajar, bagi tim sukses dan tim hura-hura, visi dan misi calonnya bak motto produk kecap, selalu yang nomor satu. Jika dalam menyampaikan gagasan pakai intonasi keras dan narasi mengkritisi lawan, tim hore akan sehore-horenya.
Bagi masyarakat, dari debat adu gagasan, kita bisa mengintip isi kepala dan sedikit meraba hati calon pemimpin Kota ini. Masyarakat antusias membicarakannya. Berita debat calon yang dikirim HBM ke whatsapp grup Helo Indonesia agak sedikit “nyeleneh”.
Kepiawaian HBM dalam membungkus berita perlu diacungi jempol: kemasan menjadi menarik, menggelitik, dan kadang-kadang sedikit “nakal”.
Namun demikian ada yang sedikit terlewatkan dalam narasi beliau, yaitu keberanian salah satu pasangan yang ingin membangun tanpa hutang.
Tampaknya fenomena ini menarik dikupas, sebab hampir semua kepala daerah dalam membangun daerahnya bersumber dari “utangan”. Sehingga kepala daerah berikutnya harus menanggung paling tidak bunga yang harus dibayar; bahkan bisa jadi “induk” nya juga harus bayar.
Tidak aneh jika para kepala daerah tingkat dua paling kencang teriaknya saat menagih Dana Bagi Hasil (DBH) ke provinsi sebab mereka dikejar-kejar lembaga keuangan untuk segera membayar hutang atau paling tidak bunga.
Hal lain juga yang menarik, untuk Kota Bandarlampung, ternyata dua kandidat adalah emak-emak semua, bisa dibayangkan perhitungan mereka akan sen per sen sangat mereka cermati. Naluri emak-emak yang piawai mengelola keuangan, tentu saja menjadi heboh jika bicara perdebatan anggaran.
Keduanya “jago” dalam mengkalkulasi, terutama bidang “tambah dan kali”; sementara wilayah “bagi, dan kurang”; biasanya agak sedikit seret.
Persoalan lain adalah berapa banyak warga kota yang peduli akan perdebatan itu, apalagi bicara mutu; untuk saat ini warga hanya ingin cepat pemilihan dan cepat selesai.
Soal apakah mereka mau datang ke TPS atau tidak, ini menjadi persoalan tersendiri. Justru persoalan utama sebenarnya bukan pada calon, akan tetapi pada tingkat partisipasi masyarakat akan acara puncak, yaitu saat berlangsungnya pemilihan.
Terlepas dari semua hal di atas, ternyata jika emak-emak yang sedang mencalonkan diri sebagai kepala daerah mereka akan mengeluarkan sifat aslinya, yaitu selalu irit kalau untuk mengeluarkan cuan.
Jika anggaran yang diajukan oleh tim pemenangan tidak menyentuh langsung pada tingkat elabilitas mereka, maka pengajuan dana itu akan langsung ditangguhkan, kata lain dari di tolak.
Hal ini bisa dilihat dari salah satu indikatornya jumlah baleho atau banner. Pemasangan alat peraga tersebut selalu diperhitungkan dengan cermat, tidak sembarang semua tempat.
Kemudian kendali akan semua pengadaan dan pendistribusian, selalu ada alur dan pertanggungjawaban yang jelas.
Menginat semua yang di atas, justru itu sebenarnya juga sekaligus kendala bagi para calon dari emak-emak; sebab hitung-hitungan pilkada itu tidak sama dan sebangun dengan hitung-hitungan dapur.
Keberuntungan dalam pilkada, selain faktor takdir, jejak perjalanan hidupnya kerap jadi perbincangan di bawah permukaan. Sering kali, saya mencuri dengar percakapan yang justru bikin semangat membahas sisi lain dari sang calon.
Istilah kaum milenial, yang bikin kepo malah bukan visi dan misinya, rumor, isu, malah yang bikin sedap ketika membicarakan sosok calon pemimpin. Sementara, sang calon terus melaju seolah jejak masa lalu itu telah terhapus waktu.
Meminjam “hukum tahu” Imam Al Ghozali: “diri kita tidak tahu, sementara orang lain tahu”. Masyarakat mengetahui adanya rumor rekam jejak dirinya pada masa lalu, sementara diri yang bersangkutan merasa orang lain tidak akan tahu masa lalunya itu.
Kecacatan personal bisa menjadi blunder manakala ketersebarannya secara senyap person by person, sebab terbentuknya opini akibat persepsi dapat membahayakan siapapun kita pada posisi apapun kita.
Memang tidak ada manusia tanpa kekeliruan di muka bumi ini, namun menjadi berbeda persepsi manakala si pelaku dosa itu tukang timbang di pasar, dengan tukang omong di podium.
Oleh sebab itu upaya memperbaiki diri pada setiap kesempatan adalah sesuatu hal yang dianjurkan oleh ajaran agama kepada kita sebagai pemeluknya.
Semoga para calon nanti yang keluar sebagai pemenang bisa menjaga amanah dan marwahnya. Selamat berjuang demi perjuangan. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Kirimkan Delegasi, Hadiri Pendatanganan Kontrak Hibah Insentif Capaian IKU 8 PTS Kemendikbudristek
Penandatanganan kontrak ini dilakukan di hotel sultan Jakarta dan dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi kementerian serta perwakilan dari berbagai PTS yang terlibat. Dalam sambutannya, Plt Sekretaris Jenderal Pendidikan Tinggi Prof. Tjitjik Sri Tjahjandarie, Ph.D menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah konkret untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, terutama di PTS, dengan memberikan dorongan melalui riset dan inovasi pembelajaran yang relevan dan berdampak nyata.
“Kami berharap program ini dapat memberikan motivasi kepada PTS untuk lebih berinovasi dalam pembelajaran sehingga mampu mencapai standar IKU yang ditetapkan,” ujar Plt Sekretaris Jenderal Pendidikan Tinggi.
Insentif ini akan diberikan dalam bentuk insentif berupa pendanaan langsung yang dialokasikan sesuai dengan capaian IKU masing-masing PTS yang telah terverifikasi oleh Kemendikbudristek. Diharapkan, dengan adanya insentif ini, PTS akan termotivasi untuk mencapai target 8 IKU yang meliputi kualitas lulusan, tingkat kemahiran dosen, serta relevansi riset yang dihasilkan.
Sejumlah PTS yang hadir dalam acara penandatanganan ini menyambut baik inisiatif ini. Mereka menganggap program ini sebagai peluang bagi PTS untuk mengembangkan kapasitas riset dan inovasi dalam proses pembelajaran. Perwakilan dari Universitas Malahayati Plt Kepala Lembaga Penjamin Mutu Dr. M. Arifki Zainaro, Ns., M.Kep menyampaikan “insentif ini akan digunakan untuk memperkuat kolaborasi riset antar-dosen dan mahasiswa sehingga berdampak positif terhadap proses pembelajaran secara keseluruhan” ujar Arifki sapaannya.
Dengan adanya program ini, Kemendikbudristek berharap capaian 8 IKU di PTS dapat meningkat secara signifikan, sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia yang terus berkembang. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Kupengan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Setiap daerah punya cara, setiap wilayah punya budaya; demikian halnya pada daerah tempat bertugas. Ada kebiasaan “baru” diwilayah kerja yaitu setiap ada teman yang ulang tahun, maka warga akan merayakan dengan makan bersama membentang “tikar” di ruang kantor untuk makan bersama. Tentu saja sudah bisa dipastikan setiap bulan ada saja yang berulang tahun, oleh sebab itu sudah bisa dipastikan setiap bulan acara seperti ini akan berlangsung. Makan bersama model ini dalam bahasa Jawa disebut “kupengan”. Berdasarkan penelusuran digital istilah kupengan merujuk pada salah satu bentuk bancaan sederhana yang dilakukan secara pribadi atau dalam lingkup kecil dan biasanya tanpa mengundang banyak orang.
Kupengan umumnya dilakukan untuk merayakan ulang tahun seseorang, terutama anak-anak. Tradisinya adalah seorang anak yang berulang tahun duduk di tengah dan dikelilingi makanan sederhana, seperti nasi, telur rebus, dan lauk-pauk lainnya. Biasanya juga ada doa singkat yang dipanjatkan sebagai ungkapan syukur dan harapan baik. Kupengan sedikit berbeda dengan Bancaan; adapaun perbedaannya ialah: terletak pada skala, suasana, dan cara pelaksanaannya:
Kupengan: Dilakukan secara sederhana dan biasanya hanya melibatkan keluarga inti atau beberapa orang saja. Juga biasanya diadakan tanpa tamu undangan, atau hanya mengundang sedikit orang terdekat. Tradisi ini biasanya dilakukan untuk memperingati ulang tahun anak atau momen pribadi. Makanan yang disajikan juga sederhana, seperti nasi dan telur rebus, tanpa tumpeng atau hidangan besar.
Sedangkan Bancaan: Merupakan acara yang lebih besar, sering kali melibatkan keluarga besar, tetangga, atau teman-teman dekat. Diadakan untuk berbagai keperluan, seperti syukuran, ulang tahun, khitanan, pernikahan, dan acara lainnya. Bancaan umumnya melibatkan lebih banyak hidangan, dan sering kali menampilkan tumpeng, jajanan pasar, atau makanan khas lainnya. Acara bancaan biasanya diawali dengan doa bersama, diikuti dengan makan bersama sebagai ungkapan syukur. Jadi, kupengan lebih kecil dan sederhana, sedangkan bancaan lebih besar dan meriah.
Berdasarkan penelusuran digital Filosofi yang terkandung dalam kupengan memiliki makna mendalam dan sederhana. Berikut beberapa nilai filosofis di balik tradisi ini: Pertama, Kesederhanaan dalam Bersyukur: Kupengan mengajarkan pentingnya rasa syukur meskipun dalam bentuk sederhana. Dengan hanya mengundang keluarga inti atau kerabat dekat, kupengan menunjukkan bahwa kebahagiaan dan rasa syukur tidak selalu memerlukan perayaan besar.
Kedua, Keintiman dan Kehangatan Keluarga: Kupengan mempererat hubungan antaranggota keluarga. Tradisi ini mendorong adanya kebersamaan dalam lingkungan kecil, mengutamakan kedekatan dan ikatan batin keluarga yang lebih erat.
Ketiga, Doa dan Harapan yang Mendalam: Acara ini biasanya dimulai dengan doa atau harapan baik. Dalam kupengan, doa menjadi inti acara, menunjukkan bahwa setiap perjalanan hidup, meski sederhana, patut disyukuri dan diberkahi.
Keempat, Pengajaran Nilai Hidup bagi sesama: Kupengan juga mengajarkan kepada kita bahwa makna ulang tahun atau momen tertentu bukan hanya sekadar pesta, tetapi juga momen refleksi dan syukur. Hal ini membantu anak-anak untuk memahami bahwa perayaan tidak selalu membutuhkan kemewahan.
Secara keseluruhan, kupengan mengandung filosofi untuk hidup sederhana, bersyukur atas nikmat yang ada, dan mengedepankan kedekatan kekeluargaan serta doa yang tulus. Karena tanpa itu semua tempat kerja menjadi neraka para anggotanya; oleh sebab itu suasana guyup rukun adalah oase bagi anggotanya; sekalipun mungkin jika diukur dari pendapatan finansial tidak seberapa.
Sayangnya budaya kupengan yang luhur itu akhir-akhir ini berubah makna, karena yang di kupeng bukan makanan yang dijadikan bancaan tetapi berubah menjadi hasil kejahatan bersama, seperti korupsi, uang pelican dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan jika atas nama hukum bisa guru sekolah dasar honorer dijadikan bancakan untuk kupengan bersama. Atau, seharusnya uang untuk kepentingan lembaga tetapi dijadikan kupengan oleh sekelompok orang untuk memperkaya diri sendiri. Lebih sadis lagi yang yang dijadikan ingkung (ayam bakar) dalam kupengan itu adalah musuh politik yang dicari-cari kesalahannya untuk dipermalukan bersama.
Tampaknya negeri ini sedang tidak baik-baik saja; oleh karenanya diperlukan ketegasan pemimpin, dan jangan pula justru pemimpin hanya “tajam ke bawah, tumpul ke atas”. Untuk menyenangkan atasan berbuat apa saja; bahkan politik belah bambu dipertontonkan, mengangkat yang atas, memijak yang bawah. Tentu saja mengorbankan orang kecil tampaknya lebih mudah, namun tolong dipahamkan doa orang teraniaya itu magbul adanya. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Debat Cawakot, Emak-Emak Adu Kecap, Kita Adu Kepo
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Senjamenjelang malam, lewat gaget, masuk kiriman berita khusus dari HBM mengenai perdebatan calon wali Kota Bandarlampung antara nomor urut satu Reihana versus nomor urut dua Eva Dwiana. Kebetulan, keduanya emak-emak.
Reihana didampingi calon wakilnya Aryodhia Febriansyah (Yodhi) dan Eva Dwiana didampingi Deddy Amarullah. Sebagai pendamping, Yodhi dan Deddy banyak menyimak dan menjaga sikapsikap santun sambil senyum-senyum tipis.
Wajar, bagi tim sukses dan tim hura-hura, visi dan misi calonnya bak motto produk kecap, selalu yang nomor satu. Jika dalam menyampaikan gagasan pakai intonasi keras dan narasi mengkritisi lawan, tim hore akan sehore-horenya.
Bagi masyarakat, dari debat adu gagasan, kita bisa mengintip isi kepala dan sedikit meraba hati calon pemimpin Kota ini. Masyarakat antusias membicarakannya. Berita debat calon yang dikirim HBM ke whatsapp grup Helo Indonesia agak sedikit “nyeleneh”.
Kepiawaian HBM dalam membungkus berita perlu diacungi jempol: kemasan menjadi menarik, menggelitik, dan kadang-kadang sedikit “nakal”.
Namun demikian ada yang sedikit terlewatkan dalam narasi beliau, yaitu keberanian salah satu pasangan yang ingin membangun tanpa hutang.
Tampaknya fenomena ini menarik dikupas, sebab hampir semua kepala daerah dalam membangun daerahnya bersumber dari “utangan”. Sehingga kepala daerah berikutnya harus menanggung paling tidak bunga yang harus dibayar; bahkan bisa jadi “induk” nya juga harus bayar.
Tidak aneh jika para kepala daerah tingkat dua paling kencang teriaknya saat menagih Dana Bagi Hasil (DBH) ke provinsi sebab mereka dikejar-kejar lembaga keuangan untuk segera membayar hutang atau paling tidak bunga.
Hal lain juga yang menarik, untuk Kota Bandarlampung, ternyata dua kandidat adalah emak-emak semua, bisa dibayangkan perhitungan mereka akan sen per sen sangat mereka cermati. Naluri emak-emak yang piawai mengelola keuangan, tentu saja menjadi heboh jika bicara perdebatan anggaran.
Keduanya “jago” dalam mengkalkulasi, terutama bidang “tambah dan kali”; sementara wilayah “bagi, dan kurang”; biasanya agak sedikit seret.
Persoalan lain adalah berapa banyak warga kota yang peduli akan perdebatan itu, apalagi bicara mutu; untuk saat ini warga hanya ingin cepat pemilihan dan cepat selesai.
Soal apakah mereka mau datang ke TPS atau tidak, ini menjadi persoalan tersendiri. Justru persoalan utama sebenarnya bukan pada calon, akan tetapi pada tingkat partisipasi masyarakat akan acara puncak, yaitu saat berlangsungnya pemilihan.
Terlepas dari semua hal di atas, ternyata jika emak-emak yang sedang mencalonkan diri sebagai kepala daerah mereka akan mengeluarkan sifat aslinya, yaitu selalu irit kalau untuk mengeluarkan cuan.
Jika anggaran yang diajukan oleh tim pemenangan tidak menyentuh langsung pada tingkat elabilitas mereka, maka pengajuan dana itu akan langsung ditangguhkan, kata lain dari di tolak.
Hal ini bisa dilihat dari salah satu indikatornya jumlah baleho atau banner. Pemasangan alat peraga tersebut selalu diperhitungkan dengan cermat, tidak sembarang semua tempat.
Kemudian kendali akan semua pengadaan dan pendistribusian, selalu ada alur dan pertanggungjawaban yang jelas.
Menginat semua yang di atas, justru itu sebenarnya juga sekaligus kendala bagi para calon dari emak-emak; sebab hitung-hitungan pilkada itu tidak sama dan sebangun dengan hitung-hitungan dapur.
Keberuntungan dalam pilkada, selain faktor takdir, jejak perjalanan hidupnya kerap jadi perbincangan di bawah permukaan. Sering kali, saya mencuri dengar percakapan yang justru bikin semangat membahas sisi lain dari sang calon.
Istilah kaum milenial, yang bikin kepo malah bukan visi dan misinya, rumor, isu, malah yang bikin sedap ketika membicarakan sosok calon pemimpin. Sementara, sang calon terus melaju seolah jejak masa lalu itu telah terhapus waktu.
Meminjam “hukum tahu” Imam Al Ghozali: “diri kita tidak tahu, sementara orang lain tahu”. Masyarakat mengetahui adanya rumor rekam jejak dirinya pada masa lalu, sementara diri yang bersangkutan merasa orang lain tidak akan tahu masa lalunya itu.
Kecacatan personal bisa menjadi blunder manakala ketersebarannya secara senyap person by person, sebab terbentuknya opini akibat persepsi dapat membahayakan siapapun kita pada posisi apapun kita.
Memang tidak ada manusia tanpa kekeliruan di muka bumi ini, namun menjadi berbeda persepsi manakala si pelaku dosa itu tukang timbang di pasar, dengan tukang omong di podium.
Oleh sebab itu upaya memperbaiki diri pada setiap kesempatan adalah sesuatu hal yang dianjurkan oleh ajaran agama kepada kita sebagai pemeluknya.
Semoga para calon nanti yang keluar sebagai pemenang bisa menjaga amanah dan marwahnya. Selamat berjuang demi perjuangan. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Prodi Manajemen Universitas Malahayati Hadirkan OJK Gelar seminar Technology Driven
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati Bandar Lampung, menggelar seminar bertema “Technology Driven – Menghadapi Tantangan Keuangan di Era Gen Z”, Kamis (31/10/2024) di Graha Bintang.
Acara yang mengedepankan pembekalan finansial bagi generasi muda, diikuti 572 mahasiswa Program Studi Manajemen.
Ketua Pelaksana, Ayu Nursari, S.E., M.E., dalam laporannya menyampaikan bahwa seminar ini terselenggara atas kerja sama antara Universitas Malahayati, Program Studi Manajemen, Himpunan Mahasiswa Manajemen, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung.
“Pada kesempatan ini, kami juga memperkenalkan Duta Sekelik (Sarana Efektif Komunikasi Edukasi Literasi) OJK Provinsi Lampung. Proses seleksi untuk menjadi Duta Sekelik sangat kompetitif, dan kami bangga bahwa 2 mahasiswa Program Studi Manajemen berhasil masuk dalam 10 besar Duta Sekelik OJK Lampung,” ujar Ayu.
Dari 34 mahasiswa yang mengikuti tahap awal seleksi administrasi, 12 berhasil lolos ke 50 besar, dan akhirnya 2 mahasiswa terpilih sebagai Duta Sekelik OJK Lampung.
Kaprodi Manajemen, Dr. Febrianty, S.E., M.Si., membuka acara dengan menyampaikan pentingnya tema seminar yang sesuai dengan tantangan generasi Z dalam menghadapi perubahan teknologi yang pesat, terutama dalam mengelola keuangan dan membentuk kemampuan kepemimpinan.
“Harapan kami, kegiatan ini bukan hanya sekadar menambah wawasan, tetapi juga sebagai bentuk penerapan Outcome-Based Education (OBE). Melalui seminar ini, para peserta diharapkan bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat untuk pengelolaan keuangan yang bijaksana serta kepemimpinan yang responsif terhadap perubahan teknologi,” kata Dr. Febrianty. (*)
Editor: Asyihin
Tips Menjaga Tubuh Tetap Sehat di Tengah Panas Matahari
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Cuaca di Bandar Lampung semakin panas meskipun beberapa minggu lalu diguyur hujan lebat. Menurut Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Radin Inten II, Rudi Harianto, posisi matahari saat memasuki Oktober berada di sekitar ekuator dan bergerak menuju selatan.
“Provinsi Lampung yang terletak dekat belahan bumi selatan kini mengalami intensitas sinar matahari yang lebih kuat, membuat suhu siang hari terasa lebih panas,” terangnya pada 19 Oktober 2024.
Panas matahari yang tinggi ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan, terutama jika tubuh tidak dilindungi dengan baik.
Berikut beberapa tips untuk menjaga tubuh tetap sehat di tengah teriknya cuaca:
Minum Air yang Cukup
Saat suhu meningkat, tubuh lebih cepat kehilangan cairan. Pastikan Anda minum minimal 8 gelas air sehari untuk menghindari dehidrasi. Hindari minuman berkafein atau bersoda yang justru dapat memperburuk dehidrasi.
Pakai Pakaian yang Longgar dan Ringan
Kenakan pakaian yang berbahan ringan seperti katun dan berwarna terang untuk membantu tubuh tetap sejuk dan meminimalkan penyerapan panas.
Gunakan Tabir Surya
Sinar UV yang meningkat dapat merusak kulit dan meningkatkan risiko kanker kulit. Gunakan tabir surya dengan SPF minimal 30 setiap kali keluar rumah dan ulangi pemakaiannya setiap dua jam, terutama setelah berkeringat atau berenang.
Konsumsi Makanan yang Menghidrasi
Makanan seperti buah-buahan segar, sayuran berdaun hijau, dan makanan dengan kandungan air tinggi seperti semangka, timun, dan jeruk dapat membantu menjaga cairan tubuh dan memberi nutrisi tambahan.
Batasi Aktivitas di Luar Ruangan pada Puncak Panas
Usahakan untuk melakukan aktivitas fisik di pagi atau sore hari ketika suhu lebih sejuk. Jika harus berada di luar pada siang hari, pastikan untuk sering beristirahat di tempat teduh dan menggunakan topi atau payung.
Perhatikan Tanda-tanda Dehidrasi dan Heatstroke
Gejala dehidrasi seperti pusing, lelah berlebihan, mulut kering, dan jarang buang air kecil harus diwaspadai. Jika Anda mengalami mual, sakit kepala hebat, atau kulit memerah tanpa keringat, ini bisa menjadi tanda heatstroke yang memerlukan perhatian medis segera. (*)
Kuat Tunggak, Apa Kuat Gagak?
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pagi itu menjelang masuk ruangan kantor, mendadak teringat adik perempuan yang kebetulan cucunya masuk pada fakultas favorit di salah satu universitas negeri di kota ini. Dengan gaya cerianya Pensiunan Pemilik Sekolah di Palembang ini bercerita bagaimana kerasnya kehidupan, dan diskusi pagi lewat telpon itu ditutup dengan pesan dari almarhum orang tua kami dulu dalam berjuang pada kehidupan ini seperti judul di atas, yaitu Kuat Tunggaknya apa Kuat Gagaknya.
Peribahasa Jawa “kuat tunggak opo kuat gagak” memiliki makna filosofis yang mendalam. Secara harfiah, peribahasa ini membandingkan kekuatan antara tunggak (akar atau pangkal pohon) dengan gagak (burung gagak). Dalam konteks kehidupan, peribahasa ini sering digunakan untuk menggambarkan perbandingan antara kekuatan dasar (fondasi) dan kekuatan pengaruh luar.
Kuat tunggak: Menggambarkan kekuatan yang berasal dari dasar atau fondasi yang kuat. Dalam konteks ini, bisa diartikan bahwa seseorang yang memiliki dasar yang kuat (baik itu pendidikan, nilai-nilai moral, atau karakter, nilai-nilai agama) akan lebih tangguh dalam menghadapi segala tantangan.
Kuat gagak: Menggambarkan kekuatan yang datang dari luar atau dari pengaruh eksternal. Meskipun gagak kuat, tetapi kekuatannya cenderung tidak stabil karena tidak berasal dari fondasi yang kokoh. Dalam konteks ini Gagak hanya mengandalkan kerasnya suara dan paruhnya.
Secara lebih luas, peribahasa ini mengajarkan bahwa fondasi yang kuat (baik dalam hal karakter, prinsip, atau pengetahuan) lebih penting daripada kekuatan yang hanya bergantung pada faktor eksternal. Orang yang memiliki dasar yang kuat akan lebih tahan terhadap berbagai rintangan dibandingkan dengan orang yang hanya mengandalkan kekuatan dari luar.
Berdasarkan penelusuran digital peribahasa Jawa “kuat tunggak opo kuat gagak” dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai prinsip penting dalam membangun kekuatan diri, baik dalam hal pribadi, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Berikut adalah beberapa contoh penerapan peribahasa ini:
1. Pentingnya Fondasi Pendidikan dan Karakter
Kuat tunggak dalam kehidupan sehari-hari bisa diartikan sebagai pentingnya membangun fondasi pendidikan dan karakter yang kokoh. Misalnya, seseorang yang sejak kecil dibekali dengan pendidikan yang baik, moral yang kuat, dan nilai-nilai positif, akan mampu menghadapi berbagai tantangan hidup dengan lebih baik dibandingkan dengan orang yang hanya mengandalkan keberuntungan atau pengaruh luar.
2. Keteguhan Prinsip di Tempat Kerja
Di dunia kerja, peribahasa ini bisa diartikan sebagai pentingnya membangun kompetensi dan integritas sebagai kuat tunggak; dibandingkan hanya mengandalkan relasi, koneksi, atau “gagak” (pengaruh eksternal).
3. Hubungan Sosial yang Kuat Berlandaskan Kepercayaan
Dalam hubungan sosial atau pertemanan, kuat tunggak bisa diartikan sebagai hubungan yang dibangun atas dasar saling percaya dan keterbukaan. Hubungan yang hanya mengandalkan ketenaran atau pengaruh (seperti kuat gagak) mungkin akan tampak kuat di permukaan, tetapi akan rapuh ketika diuji oleh masalah atau konflik.
4. Ketahanan Mental dalam Menghadapi Tekanan
Dalam menghadapi tekanan hidup, kuat tunggak bisa diartikan sebagai ketahanan mental yang dibangun melalui pengalaman, kesabaran, dan kemampuan untuk mengelola emosi. Seseorang yang kuat secara mental akan lebih mampu bertahan dibandingkan dengan orang yang hanya mengandalkan dukungan luar tanpa fondasi yang kuat.
5. Membangun Bisnis atau Usaha
Dalam dunia bisnis, kuat tunggak berarti membangun usaha dengan perencanaan yang matang, modal yang cukup, dan pengetahuan yang mendalam. Usaha yang hanya mengandalkan tren atau koneksi mungkin akan cepat berhasil, tetapi tidak akan bertahan lama tanpa fondasi yang kuat.
Secara keseluruhan, implementasi peribahasa ini dalam kehidupan sehari-hari menekankan pentingnya fondasi yang kuat dalam segala hal; baik itu pendidikan, karakter, prinsip, hubungan, maupun pekerjaan. Dengan memiliki dasar yang kuat, seseorang atau sesuatu akan lebih mampu bertahan dan berkembang, meskipun ada pengaruh atau tantangan dari luar.
Tampaknya negeri ini dengan kepemimpinan baru sedang bermetamorfosis menuju kepada kekuatan “Tunggak” dalam rangka menancapkan kembali ideologi bangsa ini keseluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, walaupun tidak mengabaikan sama sekali kuatnya “Gagak” dalam bersuara. Keperkasaan yang disertai kejumawaan diri pada kondisi tertentu sangat diperlukan, sehingga jelas posisi bangsa ini ada di mana pada tataran dunia.
Harapan bangsa ini menjadi yang terbaik seperti pada masa lalu, adalah cita-cita kolektif; namun sayangnya ada banyak “tikus” yang menggerogoti dari dalam. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang kuat dan mengakar, sehingga bisa menyatu dengan kekuatan rakyat dalam mencapai cita-cita bersama mewujudkan Indonesia emas pada zamannya. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Malahayati , Habzsha Ribi Suwandi Raih Medali Emas dan Perak Ajang Indonesia Science Championship 2024
Perlombaan Indonesia Science Championship (ISC) 2024 yang diselenggarakan oleh National Science & Social Competition (@nssc.id) di Balikpapan pada 1 Oktober 2024 adalah ajang kompetisi ilmiah yang bertujuan untuk mengembangkan minat dan bakat siswa di bidang sains dan sosial.
Event ini biasanya diikuti oleh pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, dan mencakup berbagai kategori seperti fisika, kimia, biologi, dan ilmu sosial. Melalui kompetisi ini, peserta tidak hanya dapat menunjukkan kemampuan akademis mereka, tetapi juga berkesempatan untuk berinteraksi dan belajar dari sesama peserta serta para ahli di bidangnya.
Habzsha Ribi Suwandi mengucapkan rasa syukur dan bangganya dengan torehan prestasi yang diraih ini. “Alhamdulilah sangat bersyukur atas hasil maksimal dari kejuaraan lomba ini dan telah mengukir prestasi, serta membawa nama baik Universitas Malahayati,” ucapnya.
Kemudian, Habzsha menceritakan pengalamannya yang telah mengikuti lomba ini. “Lomba ini memberikan pengalaman yang berkesan, serta menambah ilmu pengetahuan yang baru untuk mengasah kemampuan diri saya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan alasan dirinya mengikuti lomba ini karena ingin mengembangkan potensi diri yang telah ia milki dan melihat tolak ukur sejauh mana ia berkembang.
Habzsha berharap kedepannya ia dapat menjuarai ajang-ajang lomba selanjutnya baik itu dibidang akademik maupun non akademik. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Selamat Hari Sumpah Pemuda “96 Tahun Sumpah Pemuda, Maju Bersama Indonesia Raya”
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Hari Sumpah Pemuda diperingati untuk mengenang peristiwa Kongres Pemuda II pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Ini adalah momen penting di mana para pemuda Indonesia dengan latar belakang budaya yang berbeda berkumpul untuk mengikrarkan persatuan demi kemerdekaan bangsa.
Berdasarkan Pedoman Peringatan Sumpah Pemuda ke-96 Tahun 2024, tema Hari Sumpah Pemuda 2024 adalah “Maju Bersama Indonesia Raya”. Makna yang ada di dalamnya memiliki pesan yang kuat tentang sinergi dan kolaborasi para pemuda di Indonesia
Tema utama ini juga memiliki beberapa sub tema antara lain sebagai berikut:
1. Pemuda Peduli Gizi anak Indonesia untuk generasi sehat dan produktif.
2. Pemuda Indonesia, Bersatu dalam Kebhinekaan Berjuang dalam Keindonesiaan.
3. Pemuda Indonesia, sehat, cerdas, kreatif, inovatif dan berkarakter.
4. Transformasi Pemuda pada Pendidikan, Kesehatan, kepemimpinan, Sosial Budaya, Teknologi, dan ekonomi sebagai Energi pemuda Majukan Indonesia.
5. Wujudkan pemuda yang maju, mandiri dan profesional.
Selamat Hari Sumpah Pemuda! Teruskan semangat persatuan dan kesatuan untuk Indonesia yang lebih baik. Pemuda adalah kekuatan bangsa. Jadilah inspirasi, tebarkan semangat, dan songsong Generasi Emas Indonesia 2045! “96 Tahun Sumpah Pemuda, Maju Bersama Indonesia Raya”
Sandi Tama Kawedhar
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Sandi Tama Kawedhar adalah sebuah istilah dalam bahasa Jawa, yang dapat dipecah menjadi beberapa kata dengan makna tertentu.
Sandi berarti kode atau rahasia. Tama berarti “utama” atau “yang diutamakan” atau bisa juga berarti “baik”. Kawedhar berarti “terungkap” atau “terbuka” atau “dinyatakan dengan jelas” “diungkapkan”.
Sandi Tama Kawedhar kurang lebih bermakna “rahasia yang baik atau yang utama yang akan diungkapkan “. Ini bisa diartikan sebagai sesuatu yang sebelumnya tersembunyi atau disimpan dengan baik, kemudian dibuka dan dapat diketahui atau dipahami oleh banyak orang atau kalangan tertentu.
Sayangnya, tidak ada sumber pasti yang mendokumentasikan kapan istilah Sandi Tama Kawedhar pertama kali diungkapkan, karena konsep ini biasanya terkait dengan kebijaksanaan atau filosofi Jawa yang sering diwariskan secara lisan atau melalui karya sastra klasik, seperti dalam serat atau tembang. Namun banyak dalang wayang kulit yang mengaitkan saat Senapati Perang akan maju ke medan perang diberi pembekalan oleh para penasihat perang dengan nasehat, dan nasehat itu diberi judul Sandi Tama Kawedhar. Sebagai contoh nasihat Prabu Kresna kepada Adipati Karna saat kembali sebagai Duta Pamungkas Pandawa, dan mereka berdua bertemu di jalan menuju pulang.
Berdasarkan penelusuran berbagai sumber Sandi Tama Kawedhar berisi panduan dan prinsip yang mengajarkan tentang pemahaman hidup, kesadaran diri, serta harmoni dengan alam semesta. Ajaran ini sering dipecah menjadi elemen-elemen inti, yang merupakan bagian dari perjalanan spiritual individu untuk mencapai “Kawedhar” (pencerahan).
Berikut ini adalah beberapa elemen utama yang sering terkandung didalam ajaran ini:
Pertama, Pengendalian Diri. Menekankan pentingnya mengendalikan hawa nafsu, emosi, dan keinginan yang bisa menyesatkan. Pengendalian diri membantu seseorang tetap berada pada jalan kebenaran dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan bijaksana.
Kedua, Kesadaran Batin. Mengajak seseorang untuk selalu sadar akan keberadaan dirinya dalam kehidupan ini. Kesadaran batin melibatkan introspeksi mendalam, mencari makna di balik setiap peristiwa, dan merasakan kehadiran Ilahi di dalam diri sendiri.
Ketiga, Harmoni dengan Alam. Alam semesta dilihat sebagai manifestasi dari Sang Pencipta, sehingga menjaga keseimbangan dengan alam merupakan bagian dari keharmonisan hidup. Dalam Sandi tama kawedhar, manusia dianjurkan menghormati, melestarikan, dan hidup selaras dengan alam sekitar.
Kempat, Keikhlasan dan Ketulusan. Menjalani hidup dengan tulus dan ikhlas, tanpa berharap imbalan atau balasan, adalah salah satu nilai luhur. Dengan keikhlasan, seseorang mampu mencapai kedamaian hati dan memupuk kebahagiaan yang sejati.
Kelima, Pencerahan Spiritual. Pencarian pencerahan ini adalah proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran, di mana seseorang dituntun untuk menemukan tama tahu “cahaya” dalam dirinya sendiri. Ketika telah mencapai kawedhar (pencerahan), seseorang dapat memahami makna hidup dan menemukan kedamaian sejati.
Keenam, Bakti dan Kebajikan. Menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan berbakti pada sesama serta Sang Pencipta adalah hal penting dalam ajaran ini.
Kebajikan dilihat sebagai langkah nyata untuk memperbaiki diri sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
Ketujuh, Penerimaan dan Kerendahan Hati. Menerima segala ketentuan hidup dengan hati yang lapang dan penuh kerendahan hati. Dalam ajaran ini, penerimaan dianggap sebagai bentuk kebijaksanaan, di mana seseorang tidak memaksakan kehendak tetapi merangkul setiap pengalaman sebagai pembelajaran.
Sandi Tama Kawedhar adalah panduan hidup yang menuntun seseorang mencapai harmoni, kedamaian, dan kesadaran diri melalui pengendalian diri, ketulusan, dan kebijaksanaan. Ajaran ini mengarahkan individu untuk menemukan makna hidup yang lebih dalam dan kedamaian batin, selaras dengan alam dan kehendak Ilahi.
Apa yang dilakukan Presiden Prabowo kepada para menterinya di Lembah Tidar adalah salah satu bentuk dari Sandi Tama Kawedhar versi Prabowo Subianto sebelum melaksanakan tugas. Pesan dalam bentuk oral dan keteladanan dilakukan dalam menyamakan persepsi; sehingga pesan utama yang selama ini ada pada “angan” presiden, diejawantahkan melalui kegiatan tersebut. Tinggal bagaimana para menterinya menangkap, menyerap, dan melaksanakan aspirasi sang presiden; tentu ini sangat personal banget.
Mengevaluasi proses dan hasil tidak dapat kita lakukan hari ini, namun harus seturut perjalanan waktu serta moment yang ada dalam perjalanan kepemerintahan kabinet. Manakala dalam prosesnya ditemukan hal yang positif seyogianya disusun materi kurikulum dan ditunjuk lembaga penyelenggaranya, serta diwajibkan kepada kepala daerah terpilih untuk mengikuti kegiatan “bela negara” ini; agar tertanam semangat kejuangan untuk mendahulukan kepentingan negaranya dari pada pribadinya.
Sebagai rakyat kita hanya bisa berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini. Semoga Tuhan memberikan kemudahan pada setiap urusan yang ada.
Kita sudah lelah dengan adanya saling hujat, bahkan seolah-olah semua yang tidak sesuai dengan kemauan kita adalah musuh kita. Semoga dengan Sandi Tama yang telah diwedhar oleh Presiden Prabowo kepada para pembantunya akan berdampak terciptanya kesejukan dan kesantunan dalam berperilaku memimpin negeri ini. Salam Waras. (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Calon Bokek, Pilkada Jadi Siapa Memainkan Siapa
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Siang itu gerah, temperatur pengukur suhu mencapai 33 derajat Celcius. Teriknya bukan main, namun semua itu tidak menyurutkan untuk menyimak hotnya “permainan” yang sedang “bermain” di media sosial, diantaranya media yang kita baca ini.
Berita yang lagi ikut naik suhunya seperti cuaca siang itu didominasi berita-berita pemilihan umum daerah. Ternyata, ada pasangan calon yang terkesan “main-main”. Uji wong Palembang, telanjur, asal idak bae.
Ada juga yang terkesan sedang memainkan “mainan” kesana-kemari hingga akhirnya sulit dilihat siapa sesungguhnya yang memainkan siapa.
Pascatiarapnya touke, ada calon yang terkesan setengah hati dalam arena “permainan” ini. Mungkin, sudah bukan ketua partai lagi dan pasangannya pas-pasan, maka dalam bermainpun terkesan main-main ya asal idak bae itu tadi.
Mau mundur sudah tidak mungkin, mau laju kencang “bensin” tidak cukup, maka ya sudahlah teruskan saja, istilah bahasa Sundanya kumaha engke yang terjemahan bebasnya bagaimana nanti.
Ada juga calon yang digoreng perkara ijazahnya. Anehnya yang bersangkutan tenang-tenang saja terkesan tungguk ko hagamu yang terjemahan bebasnya puaskan maumu. Atau, memang iya ya? Pokoknya saling mainlah.
Akar rumput dan para “radio canting” malah sepertinya yang terkesan sudah kebakaran, namun dahan di atas adem ayem ditiup angin sepoi-sepoi. Seolah-olah terbaca “mau jadi hayo, gak juga gak apa-apa karena sudah pernah ngerasain kursi itu.”
Ada lagi calon yang terkesan menunggu “muntahan” lawan. Calon ini tidak banyak bersosialisasi, namun selalu mengirim utusan untuk memonitor jika ada pihak lawan berkampanye.
Setelah usai kubu sebelah beracara, baru pendekatan personel dilakukan, dan memberikan alternatif pilihan. Kesan calon “gak modal” ini lebih mengandalkan jaringan kekerabatan, dan atau pertemanan.
Beda lagi yang lainnya, kerjanya mengintip kelemahan lawan untuk menghantam balik. Seperti main petak umpet, tidak mau meninggalkan sarang, namun begitu ada peluang langsung teriak paling kencang.
Lagi lagi, mereka semua bermain sambil main-main. Dan, sekarang, ada media yang mereka jadikan sarana untuk dijadikan senjata. Bermodal buzzer dengan sedikit dana dan pulsa, maka konten dimainkan.
Cerita adu gagasan, adu konsep, tampaknya itu hanya untuk memuaskan kameramen saat shooting saja. Di alam nyata, meminjam istilah almarhum Brury Marantika, “Aku begini, kau begitu … sama saja.”
Sama-sama tidak serius karena banyak faktor yang berkelindan di sana. Tentu saja hal seperti ini yang dirugikan adalah para “radio canting” (tim penggembira/tim sukses) karena jualannya tidak layak jual.
Merekapun banyak tidak dapat celah untuk mendapatkan cuan, karena para calon sudah amat sangat paham dengan kelakuan mereka. Terlepas dari, calonnya sendiri modalnya pas-pasan atau memang pelit.
Pada masa lalu, ada broker kebon yang menjadi pundi-pundi, sehingga para radio canting pesta pora berkuah-kuah hingga mulutnya cemang-cemong. Dengan kata lain, sang calon pada masa lalu masih bisa mereka “goreng” sampai perut buncit.
Musim sudah berganti, para calon hanya bisa mengajak para radio cantingnya berjuang dulu bersama dan menjanjikan enaknya jika sudah terpilih kelak. Apalagi, pundi-pundinya dalam pengawasan istri, ada kalkulasinya.
Para tim sukses yang dulu yang sudah ketagihan menikmati enaknya uang kebon tak terlihat lagi. Mereka sepertinya hanya mengintip dan berusaha merapat pada kelompok yang kelihatan bakal menang.
Rakyat juga sudah mengerti, mereka tak lagi menelan bulat-bulat seribu janji yang begitu mudah muncrat dari para calon ketika kampanye. Bermain api dengan janji, tampaknya sudah tidak laku lagi pada musim pilkada saat ini.
Adu spanduk juga sudah kalah dengan gawai modern masa kini. Tinggal bagaimana memelihara ahli pembuat konten untuk berkreatif di media masa. Sayangnya media masa juga memiliki hukum algoritmanya sendiri.
Akhirnya, siapa memainkan siapa. Namun, bagi pemilih saat ini, mereka tidak hanya butuh uang tapi juga butuh masa depan. Jangan sampai, para calon dan radio canting membuat makin muak para pemilih.
Yang paling menakutkan pada hari pemilihan, mereka ogah datang ke bilik suara pada 27 November nanti. Sesungguhnya, mereka kunci dari semua permain para pemburu kekuasaan.
Jangan sampai, kepercayaan rakyat yang sudah menipis malah hilang dan itu tentu saja sangat membahayakan negeri ini di masa depan. Selamat berpesta demokrasi secara fair dan rasional, jangan tipu-tipu kami lagi. Paham! Salam Waras. (SJ)
Editor: Gilang Agusman