PROFESOR Dr. Sudjarwo, M.S. memang telah memasuki usia kepala tujuh. Namun, soal semangat menulis dan ketajaman berpikir, banyak anak muda mungkin masih tertinggal jauh darinya.
Setiap ada persoalan sosial yang menjadi polemik, baik di daerah maupun nasional, pisau analisis sosiologisnya selalu hadir mengiris tajam. Menariknya, ketajaman itu tidak pernah terasa melukai.
Saya sering dibuat kagum. Baru saja saya berniat mengirim pesan WhatsApp untuk membahas isu yang sedang ramai, tulisannya sudah lebih dulu masuk ke redaksi Heloindonesia.com.
Kadang saya sampai berpikir, jangan-jangan beliau bukan manusia biasa, melainkan “AI” (artificial intellegence) sungguhan dalam dunia nyata, dunia literasi.
Meminjam penilaian penggiat literasi Gunawan Handoko, tulisan Guru Besar Universitas Malahayati itu setajam silet, tetapi tetap menjaga kesantunan. Kritik-kritiknya argumentatif, berbasis teori, tanpa harus menyebut nama atau jabatan pihak yang dikritik.
Bagi Prof. Sudjarwo, tampaknya bukan siapa orangnya yang penting dibedah, melainkan persoalannya. Ia bermain di wilayah konsep dan gagasan. Adab akademik selalu dikedepankan. Kritik disampaikan dengan pemikiran, bukan makian.
Penilaian itu rasanya tidak berlebihan. Lebih dari setengah abad hidup di dunia akademik telah menempa dirinya menjadi ilmuwan yang analitik sekaligus menjunjung tinggi etika.
Di Universitas Lampung (Unila), ia mendedikasikan diri selama 43 tahun sebelum melanjutkan pengabdiannya di Universitas Malahayati hingga hari ini.
Nilai-nilai itu sangat terasa saat beliau menyampaikan pidato valediktori atau pidato perpisahan sebagai guru besar dan aparatur sipil negara di Unila, di Aula K FKIP Unila pada 31 Mei 2023.Dalam pidatonya, beliau berkata:
“Ilmuwan itu akan bermakna manakala lakunya menunjukkan akhlakul karimah, karena puncak ilmu itu pada adab yang didasari etika.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Prof. Sudjarwo menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Seberat dan serumit apa pun polemik di masyarakat, ia mampu membedahnya dengan tajam tanpa membuat siapa pun merasa dipermalukan.
Energinya dalam menulis pun seperti tak pernah habis. Rasanya beliau justru gelisah jika terlalu lama menyimpan gagasan di kepala. Dari era media cetak tahun 1980-an hingga zaman media online hari ini, tulisan-tulisannya terus mengalir. Dari masa artikel masih dihargai honor lumayan hingga era “media bokek”, semangatnya tetap sama: menulis untuk mencerahkan.
Kadang saya membayangkan, Prof. Sudjarwo baru bisa menikmati secangkir teh dengan tenang setelah gagasannya terbit di media. Adrenalin menulisnya masih sanggup diadu dengan anak-anak muda.
Karya-karyanya pun tidak sedikit. Saat memasuki masa purnabakti dari Unila, beliau meluncurkan buku berjudul Legacy, yang memuat kisah perjalanan hidup sejak masa kecil, kumpulan opini di berbagai media, hingga testimoni dari sahabat, kolega, dan para jurnalis.
Selama aktif mengajar dan meneliti, Prof. Sudjarwo dikenal sangat produktif menulis buku, terutama di bidang metodologi penelitian, ilmu sosial, dan pendidikan. Ia juga pernah dipercaya bergabung dalam Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) serta tim ad hoc sertifikasi guru demi pengembangan mutu pendidikan Indonesia.
Bagi beliau, seorang akademisi dan guru besar adalah ilmuwan yang seharusnya berada di wilayah ontologi—wilayah persepsi yang bebas nilai. Sebab ketika seorang ilmuwan terlalu larut dalam wilayah epistemologi dan aksiologi, penilaian subjektif akan mudah masuk dan mengaburkan kejernihan berpikir.
Karena itu, menurut Prof. Sudjarwo, laku seorang begawan adalah berusaha tidak menyakiti orang lain sambil terus memperbaiki diri sendiri. Sebab manusia tidak pernah tahu kapan hari terakhirnya di bumi.
Dengan sederhana ia menjelaskan:
“Ontologi adalah ilmu, epistemologi adalah otak, dan aksiologi adalah hati. Melayani dengan hati, berpikir dengan otak, dan bertindak dengan ilmu, maka kita adalah profesor kehidupan.”
Seorang jurnalis senior pernah menilai Prof. Sudjarwo memiliki kemampuan menulis di atas rata-rata, dengan mata yang jeli dan rasa ingin tahu yang besar—seorang pencari makna di balik realitas.
Dan memang, warisan pemikiran yang telah beliau tinggalkan begitu banyak. Entah sudah berapa ratus doktor lahir dari bimbingannya. Entah berapa gunung skripsi, tesis, dan disertasi yang mendapatkan sentuhan tangan dinginnya. Semua itu menjadi amal ilmu yang akan terus mengalir.
Pembaca tulisan-tulisannya pun tidak terhitung jumlahnya. Banyak orang mendapatkan inspirasi, wawasan, bahkan cara pandang baru tentang kehidupan dari gagasan-gagasan yang beliau tulis.
Setelah menguasai berbagai jurus dan melihat luasnya dunia persilatan, seorang pendekar sejati justru menyadari bahwa tidak ada lagi yang perlu disombongkan. Puncak tertinggi dari sebuah perjalanan bukanlah keangkuhan, melainkan kesadaran diri dan kerendahan hati.
Terima kasih, Pak Sudjarwo, atas semua pemikiran yang telah mengalir kepada publik. Tulisan-tulisan itu bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membuka cakrawala dan dimensi kehidupan banyak orang.
Hari ini, 20 Mei 2026, Prof. Sudjarwo genap berusia 73 tahun. Tak ada hadiah istimewa yang bisa saya berikan selain doa: semoga Profesor selalu sehat, panjang umur, tetap bernas dalam berpikir, dan terus menyalakan cahaya ilmu bagi generasi berikutnya.
Selamat ulang tahun, Profesor idolaku.
Tabik puuun. ***
Prof. Dr. H. Sudjarwo, M.S. adalah guru besar tetap dalam bidang Ilmu Sosial/Pendidikan di Universitas Lampung (Unila) yang lahir di Lubuk Linggau pada 20 Mei 1953. Beliau telah memasuki masa purnabakti pada pertengahan tahun 2023 dan melanjutkan dedikasi ilmu pengetahuannya ke Universitas Malahayati.
Berikut adalah ringkasan profil dan riwayat perjalanan karier beliau:
Riwayat Pendidikan
S1 / Doktorandus: Universitas Sriwijaya (1980)
S2 / M.S.: Universitas Padjadjaran (1993)
S3 / Doktor: Universitas Padjadjaran (1997) [1, 2]
Riwayat Jabatan & Kariir
Guru Besar: FKIP Universitas Lampung (dikukuhkan sebagai profesor pada tahun 2006)
Direktur: Pascasarjana Universitas Lampung
Dekan: FKIP Universitas Lampung
Ketua Program Studi: Pascasarjana Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Unila.
Peringati World Thalassemia Day, IACC Gelar Edukasi dan Skrining Thalassemia di kampus
Acara yang berlangsung dengan khidmat ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes. Kehadiran dan dukungan jajaran pimpinan institusi serta organisasi profesi menegaskan pentingnya kolaborasi edukasi kesehatan di lingkungan akademis. Turut hadir dalam agenda ini Ketua IACC Cabang Lampung, Dr. dr. Hidayat, M.Kes, Sp.PK(K), serta Wakil Rektor III yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan, M. Ricko Gunawan, M.Kes.
Langkah preventif ini dinilai sangat krusial mengingat deteksi dini merupakan salah satu kunci utama dalam memutus mata rantai penurunan penyakit Thalassemia kepada generasi penerus.
Sesi Talkshow: Pentingnya Screening Dini Thalassemia
Sebagai inti dari kegiatan edukasi, acara ini menghadirkan sesi Talkshow interaktif yang mengupas tuntas materi mengenai Thalassemia, perbedaan antara pembawa sifat (carrier) dan penderita, serta pentingnya melakukan skrining pranikah (pre-marital screening).
Diskusi edukatif ini dipandu oleh dr. Lusita, Sp.PK selaku moderator, dengan menghadirkan panel pemateri yang ahli di bidangnya, yaitu:
dr. Muhammad Nur, M.Sc., Sp.PK
dr. Mulat Muliasih, Sp.PK
Dr. dr. Hidayat, M.Kes, Sp.PK(K)
dr. Aditya, M.Biomed
Melalui pemaparan para ahli tersebut, peserta ditekankan untuk tidak hanya memahami Thalassemia secara teori, tetapi juga berani mengambil langkah nyata untuk memeriksakan status kesehatan darah mereka sejak dini melalui fasilitas skrining gratis yang disediakan di lokasi.
Selain Talk Show pada kegiatan ini juga dilakukan Screening Thalassemia kepada para mahasiswa yang hadir.
Sinergi dan Kolaborasi Kesehatan
Kegiatan ini dapat terlaksana dengan sukses berkat kolaborasi erat antara IACC Cabang Lampung dengan sejumlah organisasi profesi, lembaga kesehatan, serta instansi pendidikan, di antaranya:
Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia (ILKI)
Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI)
PT. Sarana Maju Megamedilab Sentosa,
PT. Enseval.,
PT. Sumber Mitra (Summit),
PT. Lambadefa dan Laboratorium Pramitra
Antusiasme peserta terlihat cukup tinggi sepanjang acara. Selain mendengarkan pemaparan materi yang berbobot dari para narasumber, para mahasiswa juga memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan konsultasi langsung serta mengikuti rangkaian proses skrining darah yang disediakan oleh tim medis di lokasi.
Melalui gerakan Goes to Campus ini, diharapkan kesadaran akan bahaya Thalassemia dapat terus meluas di kalangan generasi muda, sehingga angka kelahiran anak dengan Thalassemia Mayor di Indonesia dapat ditekan secara signifikan di masa depan.
Editor : Chandra Fz
Rapat Pimpinan Universitas Malahayati Bahas Baseline dan Target IKU Tahun 2026
Universitas Malahayati menggelar rapat pimpinan dalam rangka pembahasan baseline dan target Indikator Kinerja Utama (IKU) Tahun 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan rektorat, para dekan, kepala lembaga, serta kepala biro di lingkungan Universitas Malahayati.
Kegiatan rapat diawali dengan arahan dari Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan, M.Kes yang menekankan pentingnya penyusunan baseline dan target IKU sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu dan tata kelola perguruan tinggi yang berkelanjutan. Dalam arahannya, beliau menyampaikan bahwa pencapaian IKU harus menjadi komitmen bersama seluruh unit kerja guna mendukung daya saing institusi di tingkat nasional maupun internasional.
Rapat dipandu oleh Kepala Lembaga Penjamin Mutu Internal (LPMI) Universitas Malahayati, Dr. M. Arifki Zainaro, M.Kep. Dalam kegiatan tersebut, pembahasan difokuskan pada penyamaan persepsi terkait indikator capaian, evaluasi baseline tahun sebelumnya, serta strategi penetapan target IKU Universitas Malahayati tahun 2026 yang realistis dan terukur.
Penjelasan teknis mengenai mekanisme penyusunan dan pelaporan IKU disampaikan oleh Wakil LPMI, Prima Dian Furqoni, M.Kes. Beliau menjelaskan tahapan penginputan data, penyesuaian indikator pada masing-masing unit, hingga strategi monitoring dan evaluasi pencapaian target IKU secara berkala.
Melalui rapat pimpinan ini, diharapkan seluruh unit di lingkungan Universitas Malahayati dapat meningkatkan sinergi dan komitmen dalam mencapai target IKU tahun 2026 sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola universitas yang unggul dan berdaya saing.
Editor : Chandra Fz
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Sukses Gelar Yudisium Sarjana Kedokteran
BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Malahayati Bandar Lampung sukses menyelenggarakan acara Yudisium Sarjana Kedokteran untuk Program Studi Pendidikan Dokter. Acara sakral yang menandai keberhasilan akademik para mahasiswa ini berlangsung dengan khidmat di Gedung Rektorat Universitas Malahayati pada Selasa, 19 Mei 2026.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan universitas dan fungsionaris Fakultas Kedokteran, antara lain :
(WR) I: Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep, Ns., M.Kes
(WR) IV: Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes
Dekan FK: Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes
Wakil Dekan Bidang Akademik: Abdurrohman Izzudin, dr., M.Kes., Sp.J.P
Kaprodi Pendidikan Dokter: Rakhmi Rafie, dr., M.Kes
Sekprodi Pendidikan Dokter: Dr. Nita Sahara, dr., M.Kes., Sp.PA
Kaprodi Profesi Dokter: Ade Utia Detty, dr., M.Kes
Sekprodi Profesi Dokter: Anggunan, dr., M.M.
Rohaniwan: Ustdz. Sutikno, S.Pd.I, M.Pd.I
Prosesi yudisium merupakan momen penting bagi para mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh tahapan beban studi akademik di tingkat sarjana. Dengan disandangnya gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked), para lulusan kini bersiap untuk melangkah ke tahapan berikutnya, yaitu program pendidikan profesi (koas) di rumah sakit pendidikan.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes, menyampaikan rasa bangga sekaligus menitipkan pesan mendalam bagi para yudisian.
“Gelar Sarjana Kedokteran ini adalah buah dari kerja keras dan dedikasi panjang. Namun, perjalanan belum selesai. Jadikan momentum ini sebagai pijakan untuk memasuki tahapan profesi dokter dengan integritas tinggi, terus mengasah empati, serta menjaga nama baik almamater dalam melayani masyarakat,” ujar Dr. Tessa.
Apresiasi senada juga disampaikan oleh Wakil Rektor IV Universitas Malahayati, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes. Beliau menekankan pentingnya peran lulusan kedokteran Universitas Malahayati di tengah masyarakat.
“Universitas Malahayati terus berkomitmen mendukung peningkatan kualitas mutu pendidikan, khususnya di bidang kedokteran. Kepada para lulusan, kami berharap kelak ketika resmi menjadi dokter, kalian mampu menjadi tenaga medis yang humanis, responsif terhadap perkembangan teknologi kesehatan, dan siap berkontribusi nyata bagi ketahanan kesehatan nasional,” tegas Drs. Suharman.
Di antara para peserta yang dikukuhkan pada yudisium periode ini, terdapat 5 mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FK Universitas Malahayati yang turut maju menerima selempang kelulusan dan penghargaan
Acara yang dipenuhi suasana haru dan khidmat ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustdz. Sutikno, S.Pd.I, M.Pd.I, serta dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara para lulusan baru dengan jajaran pimpinan universitas dan fakultas.
Editor : Chandra Fz
Prof. Sudjarwo, Puncak Ilmu Pengetahuan adalah Adab
PROFESOR Dr. Sudjarwo, M.S. memang telah memasuki usia kepala tujuh. Namun, soal semangat menulis dan ketajaman berpikir, banyak anak muda mungkin masih tertinggal jauh darinya.
Setiap ada persoalan sosial yang menjadi polemik, baik di daerah maupun nasional, pisau analisis sosiologisnya selalu hadir mengiris tajam. Menariknya, ketajaman itu tidak pernah terasa melukai.
Saya sering dibuat kagum. Baru saja saya berniat mengirim pesan WhatsApp untuk membahas isu yang sedang ramai, tulisannya sudah lebih dulu masuk ke redaksi Heloindonesia.com.
Kadang saya sampai berpikir, jangan-jangan beliau bukan manusia biasa, melainkan “AI” (artificial intellegence) sungguhan dalam dunia nyata, dunia literasi.
Meminjam penilaian penggiat literasi Gunawan Handoko, tulisan Guru Besar Universitas Malahayati itu setajam silet, tetapi tetap menjaga kesantunan. Kritik-kritiknya argumentatif, berbasis teori, tanpa harus menyebut nama atau jabatan pihak yang dikritik.
Bagi Prof. Sudjarwo, tampaknya bukan siapa orangnya yang penting dibedah, melainkan persoalannya. Ia bermain di wilayah konsep dan gagasan. Adab akademik selalu dikedepankan. Kritik disampaikan dengan pemikiran, bukan makian.
Penilaian itu rasanya tidak berlebihan. Lebih dari setengah abad hidup di dunia akademik telah menempa dirinya menjadi ilmuwan yang analitik sekaligus menjunjung tinggi etika.
Di Universitas Lampung (Unila), ia mendedikasikan diri selama 43 tahun sebelum melanjutkan pengabdiannya di Universitas Malahayati hingga hari ini.
Nilai-nilai itu sangat terasa saat beliau menyampaikan pidato valediktori atau pidato perpisahan sebagai guru besar dan aparatur sipil negara di Unila, di Aula K FKIP Unila pada 31 Mei 2023.Dalam pidatonya, beliau berkata:
“Ilmuwan itu akan bermakna manakala lakunya menunjukkan akhlakul karimah, karena puncak ilmu itu pada adab yang didasari etika.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Prof. Sudjarwo menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Seberat dan serumit apa pun polemik di masyarakat, ia mampu membedahnya dengan tajam tanpa membuat siapa pun merasa dipermalukan.
Energinya dalam menulis pun seperti tak pernah habis. Rasanya beliau justru gelisah jika terlalu lama menyimpan gagasan di kepala. Dari era media cetak tahun 1980-an hingga zaman media online hari ini, tulisan-tulisannya terus mengalir. Dari masa artikel masih dihargai honor lumayan hingga era “media bokek”, semangatnya tetap sama: menulis untuk mencerahkan.
Kadang saya membayangkan, Prof. Sudjarwo baru bisa menikmati secangkir teh dengan tenang setelah gagasannya terbit di media. Adrenalin menulisnya masih sanggup diadu dengan anak-anak muda.
Karya-karyanya pun tidak sedikit. Saat memasuki masa purnabakti dari Unila, beliau meluncurkan buku berjudul Legacy, yang memuat kisah perjalanan hidup sejak masa kecil, kumpulan opini di berbagai media, hingga testimoni dari sahabat, kolega, dan para jurnalis.
Selama aktif mengajar dan meneliti, Prof. Sudjarwo dikenal sangat produktif menulis buku, terutama di bidang metodologi penelitian, ilmu sosial, dan pendidikan. Ia juga pernah dipercaya bergabung dalam Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) serta tim ad hoc sertifikasi guru demi pengembangan mutu pendidikan Indonesia.
Bagi beliau, seorang akademisi dan guru besar adalah ilmuwan yang seharusnya berada di wilayah ontologi—wilayah persepsi yang bebas nilai. Sebab ketika seorang ilmuwan terlalu larut dalam wilayah epistemologi dan aksiologi, penilaian subjektif akan mudah masuk dan mengaburkan kejernihan berpikir.
Karena itu, menurut Prof. Sudjarwo, laku seorang begawan adalah berusaha tidak menyakiti orang lain sambil terus memperbaiki diri sendiri. Sebab manusia tidak pernah tahu kapan hari terakhirnya di bumi.
Dengan sederhana ia menjelaskan:
“Ontologi adalah ilmu, epistemologi adalah otak, dan aksiologi adalah hati. Melayani dengan hati, berpikir dengan otak, dan bertindak dengan ilmu, maka kita adalah profesor kehidupan.”
Seorang jurnalis senior pernah menilai Prof. Sudjarwo memiliki kemampuan menulis di atas rata-rata, dengan mata yang jeli dan rasa ingin tahu yang besar—seorang pencari makna di balik realitas.
Dan memang, warisan pemikiran yang telah beliau tinggalkan begitu banyak. Entah sudah berapa ratus doktor lahir dari bimbingannya. Entah berapa gunung skripsi, tesis, dan disertasi yang mendapatkan sentuhan tangan dinginnya. Semua itu menjadi amal ilmu yang akan terus mengalir.
Pembaca tulisan-tulisannya pun tidak terhitung jumlahnya. Banyak orang mendapatkan inspirasi, wawasan, bahkan cara pandang baru tentang kehidupan dari gagasan-gagasan yang beliau tulis.
Setelah menguasai berbagai jurus dan melihat luasnya dunia persilatan, seorang pendekar sejati justru menyadari bahwa tidak ada lagi yang perlu disombongkan. Puncak tertinggi dari sebuah perjalanan bukanlah keangkuhan, melainkan kesadaran diri dan kerendahan hati.
Terima kasih, Pak Sudjarwo, atas semua pemikiran yang telah mengalir kepada publik. Tulisan-tulisan itu bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membuka cakrawala dan dimensi kehidupan banyak orang.
Hari ini, 20 Mei 2026, Prof. Sudjarwo genap berusia 73 tahun. Tak ada hadiah istimewa yang bisa saya berikan selain doa: semoga Profesor selalu sehat, panjang umur, tetap bernas dalam berpikir, dan terus menyalakan cahaya ilmu bagi generasi berikutnya.
Selamat ulang tahun, Profesor idolaku.
Tabik puuun. ***
Prof. Dr. H. Sudjarwo, M.S. adalah guru besar tetap dalam bidang Ilmu Sosial/Pendidikan di Universitas Lampung (Unila) yang lahir di Lubuk Linggau pada 20 Mei 1953. Beliau telah memasuki masa purnabakti pada pertengahan tahun 2023 dan melanjutkan dedikasi ilmu pengetahuannya ke Universitas Malahayati.
Berikut adalah ringkasan profil dan riwayat perjalanan karier beliau:
Riwayat Pendidikan
S1 / Doktorandus: Universitas Sriwijaya (1980)
S2 / M.S.: Universitas Padjadjaran (1993)
S3 / Doktor: Universitas Padjadjaran (1997) [1, 2]
Riwayat Jabatan & Kariir
Guru Besar: FKIP Universitas Lampung (dikukuhkan sebagai profesor pada tahun 2006)
Direktur: Pascasarjana Universitas Lampung
Dekan: FKIP Universitas Lampung
Ketua Program Studi: Pascasarjana Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Unila.
menjelang senja
Guru Besar Universitas Malahayati
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Tanggal 20 Mei 2026 bukan sekadar angka dalam kalender. Ia hadir sebagai penanda perjalanan panjang yang kini mencapai usia tujuh puluh tahun lebih: sebuah usia yang sarat dengan pengalaman, pengujian, dan pemaknaan. Jika masa muda dahulu dipenuhi dengan ambisi dan keinginan untuk menaklukkan dunia, maka di usia ini, hidup terasa lebih seperti ruang hening untuk memahami dunia dan diri sendiri. Tidak lagi berlari, melainkan berhenti sejenak untuk melihat ke belakang, menimbang, dan kemudian menerima.
Perjalanan hidup yang telah dilalui bukanlah jalan yang rata. Ia penuh dengan onak dan duri, tikungan tajam, serta tanjakan yang melelahkan. Ada masa ketika langkah terasa ringan, seakan segala sesuatu berpihak. Namun, tidak sedikit pula saat di mana hidup terasa begitu berat, bahkan untuk sekadar melangkah satu langkah ke depan. Dalam rentang waktu yang panjang ini, saya menyadari bahwa penderitaan dan kebahagiaan bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari satu kenyataan yang sama, yaitu: kehidupan itu sendiri.
Ketika menengok ke masa lalu, luka-luka yang dulu terasa begitu dalam kini tampak berbeda. Ia tidak lagi sekadar menyakitkan, tetapi juga mengandung pelajaran yang tak ternilai. Dari kegagalan, saya belajar tentang keterbatasan diri. Dari kehilangan, saya memahami arti kehadiran. Dari kesalahan, saya mengenal pentingnya kejujuran dan kerendahan hati. Hidup, pada akhirnya, adalah guru yang keras namun jujur; ia tidak pernah memberi tanpa sekaligus menguji.
Di usia ini, saya mulai melihat bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan akhir yang harus dikejar tanpa henti. Ia bukan sesuatu yang bisa dimiliki secara permanen. Kebahagiaan datang seperti angin yang berhembus; kadang lembut, kadang tak terasa, dan sering kali pergi tanpa peringatan. Dulu, saya mungkin terlalu sibuk mencarinya di tempat-tempat yang jauh, dalam pencapaian besar atau pengakuan dari orang lain. Kini, saya justru menemukannya dalam hal-hal sederhana: keheningan pagi, tawa kecil bersama anak anak yang kini sudah dewasa, makan berdua di luar bersama istri, diskusi seru dengan para cucu; itu semua lebih dari sekadar rasa cukup.
Waktu, yang dahulu terasa begitu luas, kini terasa semakin terbatas. Hari-hari tidak lagi berlalu tanpa makna; setiap detik memiliki bobotnya sendiri. Kesadaran akan keterbatasan ini menghadirkan perspektif baru. Bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita mengisi waktu yang ada. Ada keinginan yang semakin kuat untuk tidak menyia-nyiakan sisa perjalanan ini, bukan dengan mengejar lebih banyak, tetapi dengan menjalani lebih dalam dan berbagi lebih banyak.
Kematian, yang dulu mungkin terasa sebagai sesuatu yang jauh dan menakutkan, kini hadir sebagai kenyataan yang tak terelakkan. Ia bukan lagi bayangan gelap yang harus dihindari, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang wajar. Dalam kesadaran ini, muncul suatu bentuk penerimaan yang perlahan menenangkan. Bahwa pada akhirnya, setiap perjalanan pasti memiliki titik akhir. Dan mungkin, yang terpenting bukanlah kapan hari akhir itu datang, melainkan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menyambut kehadirannya.
Refleksi ini juga membawa saya kembali pada hubungan dengan sesama. Ada begitu banyak wajah yang pernah hadir dalam hidup; sebagian masih ada, namun kebanyakan dari mereka telah berpulang. Setiap pertemuan meninggalkan jejak, setiap perpisahan menyisakan cerita. Dalam perjalanan ini, tidak semua hubungan berjalan mulus. Ada kesalahpahaman, ada luka yang mungkin belum sepenuhnya sembuh. Namun, di usia ini, muncul kesadaran bahwa memaafkan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kebebasan. Melepaskan beban masa lalu justru membuat langkah menjadi lebih ringan.
Saya juga mulai memahami bahwa hidup tidak harus selalu diukur dengan pencapaian besar. Dunia sering kali menilai keberhasilan dari apa yang tampak: jabatan, kekayaan, atau pengakuan. Namun, dalam keheningan refleksi, saya menemukan bahwa makna hidup sering kali tersembunyi dalam hal-hal yang tidak terlihat. Menjadi pribadi yang jujur, yang berusaha berbuat baik kepada sesama mahluk, meskipun tidak selalu dihargai, menurut saya itu adalah bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.
Usia tujuh puluh lebih ini membawa saya pada kesederhanaan yang lebih dalam. Keinginan untuk memiliki semakin berkurang, digantikan oleh keinginan untuk memahami. Hidup tidak lagi tentang mengumpulkan, tetapi tentang melepaskan. Melepaskan ambisi yang tidak lagi relevan, melepaskan beban yang tidak perlu, dan bahkan melepaskan ego yang selama ini tanpa sadar mengikat. Dalam proses inilah, saya menemukan kedamaian yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.
Menjelang senja kehidupan, ada dorongan untuk merapikan segala sesuatu. Bukan hanya hal-hal yang tampak, tetapi juga yang tersembunyi dalam hati. Ada keinginan untuk berdamai dengan masa lalu, untuk mengakui kesalahan tanpa harus tenggelam dalam penyesalan, dan untuk menerima diri apa adanya. Proses ini tidak selalu mudah, tetapi terasa perlu; seperti menyiapkan diri untuk perjalanan panjang yang akan datang.
Akhirnya, ulang tahun kali ini bukanlah sekadar peringatan bertambahnya usia. Ia adalah momen perenungan yang mendalam, sebuah titik di mana kehidupan dilihat dengan kejernihan yang mungkin tidak dimiliki di masa lalu. Dalam keheningan ini, saya menyadari bahwa hidup tidak pernah benar-benar sempurna, tetapi selalu memiliki makna bagi mereka yang mau melihatnya. Dan, ketika saat itu benar-benar tiba, ketika kehidupan mencapai ujungnya, saya berharap dapat menyambutnya dengan ketenangan. Bukan karena tidak ada ketakutan, tetapi karena telah belajar menerima. Bukan karena tidak ada penyesalan, tetapi karena telah berusaha menjalani hidup dengan sepenuh hati. Dalam kesadaran itu, senja tidak lagi terasa sebagai akhir yang menakutkan, melainkan sebagai bagian indah dari menuju perjalanan abadi. Jika diri larut dalam fana yang sunyi, Lenyaplah aku, tinggallah Dia Yang Abadi. Jika hijab tersingkap di ujung perjalanan, Hamba dan Tuhan menyatu dalam pengenalan. Salam Keabadian (R-1)
Sinergi OJK dan Prodi manajemen Universitas Malahayati Gelar Kuliah Umum : Sosialisasi Pasar Modal Terpadu 2026 untuk Cetak Investor Muda Cerdas
BANDAR LAMPUNG, ( malahayati.ac.id ) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama dengan Universitas Malahayati Lampung sukses menyelenggarakan Kuliah Umum berskala besar dengan tajuk “Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2026”. Acara yang bertempat di Gedung Graha Bintang, Universitas Malahayati ini menjadi momentum penting dalam memperkuat literasi keuangan dan investasi legal di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa universitas malahayati di Provinsi Lampung, Selasa (19/5/2026).
Acara bergengsi ini dihadiri langsung oleh jajaran petinggi OJK Pusat dan daerah, pimpinan Self Regulatory Organization (SRO), pejabat pemerintah daerah, serta jajaran pimpinan rektorat Universitas Malahayati.
Kuliah umum ini dibuka dengan sambutan hangat dari Rektor Universitas Malahayati melalui during, Bapak Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H. Beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kepercayaan OJK dalam menempatkan program edukasi terpadu ini di kampus Universitas Malahayati. Menurutnya, pemahaman mengenai pasar modal sangat krusial agar mahasiswa tidak terjebak dalam investasi ilegal atau pinjaman online ilegal yang marak di era digital.
Kehadiran jajaran pimpinan universitas juga mempertegas komitmen institusi dalam mendukung penuh kegiatan ini. Tampak hadir mendampingi rektor, Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes. Yang membidangi fungsi akademik, serta ketua PMB Romy J Utama, SE., M.Sos, Sinergi rektorat ini menegaskan bahwa edukasi literasi keuangan telah menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi mahasiswa di luar kelas.
Turut memberikan dukungan moral, Wakil Gubernur Lampung, Ibu dr. Jihan Nurlela, M.M., yang diwakili oleh Dr.Drs Sulpakar.,M.M, beliau mengapresiasi langkah kolaboratif antara otoritas keuangan dan dunia pendidikan tinggi ini demi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis investor domestik yang cerdas.
Sebagai pembicara kunci (keynote speech), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK RI, Bapak Hasan Fawzi, memaparkan arah kebijakan OJK dalam menjaga stabilitas dan transparansi pasar modal. Beliau menekankan bahwa mahasiswa adalah aset strategis yang akan menjadi motor penggerak utama pasar modal Indonesia di masa depan.
“Mahasiswa bukan lagi sekadar penonton di industri keuangan, melainkan aset strategis yang akan menjadi motor penggerak utama pasar modal Indonesia di masa depan. Lewat pemahaman literasi keuangan yang matang sejak di bangku kuliah, generasi muda di Lampung diharapkan mampu mengambil peran aktif, berinvestasi dengan cerdas, dan membentengi diri dari risiko investasi ilegal di era digital ini.”
Untuk memberikan pemahaman teknis yang mendalam, sesi diskusi panel dipandu oleh Euis Mufahamah, S.E., M.Ak. (Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati). Diskusi ini mengupas tuntas ekosistem pasar modal bersama empat narasumber utama:
Bapak Reynant Hadi (Kepala Divisi Hukum PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia / IDClear)
Bapak M. Mukhtar (Kepala Divisi Pengawasan Pengelolaan Investasi 1.2 OJK)
Ibu Nur Harjantie (Kepala Pengembangan Wilayah Area 1 PT Bursa Efek Indonesia / IDX)
Bapak Fitriyanto (Kepala Divisi Pengawasan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia / KSEI)
Para pakar menjelaskan secara runut rantai bisnis pasar modal—mulai dari tempat bertransaksi (IDX), lembaga pembukuan dan penyimpanan aset (KSEI), hingga lembaga yang menjamin penyelesaian transaksi (IDClear), serta bagaimana OJK menjalankan fungsi pengawasan ketat demi melindungi hak investor.
Selain dihadiri secara tatap muka oleh 1500 mahasiswa Universitas Malahayati yang memadati Graha Bintang, sosialisasi ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal resmi YouTube Otoritas Jasa Keuangan (OJKTV). Jangkauan digital ini disiapkan agar edukasi dapat diakses oleh masyarakat umum di seluruh penjuru tanah air.
Acara yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 12.00 WIB ini ditutup dengan sesi interaktif. Para peserta yang mengikuti kegiatan hingga akhir dan menyelesaikan post test berhak mendapatkan fasilitas berupa E-Certificate, suvenir eksklusif, serta berbagai hadiah menarik dari panitia sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif mereka, kemudian acara di tutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama .
Editor : Chandra fz
MAHASISWA DAN ALUMNI AKUNTANSI UNIVERSITAS MALAHAYATI GELAR BAKTI SOSIAL UNTUK PENYANDANG DISABILITAS
Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati bersama Ikatan Alumni Akuntansi melaksanakan kegiatan bakti sosial bertema “Satu Hari Bersama, Sejuta Cerita Bermakna” di UPTD Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas (PRSPD), Senin (11/5/2026).
Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian sosial sivitas akademika Universitas Malahayati terhadap masyarakat, khususnya para penyandang disabilitas. Selain sebagai ajang berbagi, kegiatan tersebut juga bertujuan menumbuhkan rasa empati, solidaritas, dan semangat pengabdian kepada masyarakat di kalangan mahasiswa dan alumni.
Acara berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai dengan rangkaian kegiatan berupa kunjungan kasih, penyaluran donasi, serta interaksi bersama para penghuni UPTD PRSPD. Bantuan yang disalurkan berupa perlengkapan kebutuhan mandi, peralatan sekolah, serta kegiatan makan bersama sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan dengan para penyandang disabilitas. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terlihat sepanjang kegiatan berlangsung.
Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati, Muhammad Luthfi, S.E., M.Si, menyampaikan bahwa kegiatan bakti sosial ini merupakan bagian dari implementasi nilai-nilai kemanusiaan yang perlu ditanamkan kepada mahasiswa sejak dini.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan pentingnya rasa peduli dan berbagi kepada sesama. Tidak hanya berorientasi pada akademik, mahasiswa juga harus memiliki kepekaan sosial dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan bakti sosial ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari dosen, alumni, mahasiswa, peserta binaan, hingga pendamping. Berdasarkan data panitia, jumlah partisipan terdiri atas 12 dosen, 30 alumni, 100 mahasiswa, 34 peserta, dan 4 pendamping.
Ketua Ikatan Alumni Akuntansi, Jhon Piranda, S.E, juga mengapresiasi antusiasme seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara alumni dan mahasiswa menjadi langkah positif dalam memperkuat hubungan kekeluargaan sekaligus meningkatkan kontribusi sosial institusi pendidikan kepada masyarakat.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati berharap dapat terus menghadirkan program-program sosial yang bermanfaat serta memperkuat nilai kepedulian dan pengabdian di lingkungan akademik.
Editor : Chandra Fz
Rakyat, Dolar, dan Retorika
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Pidato seorang pemimpin seharusnya menjadi ruang penjernihan nalar publik, bukan panggung pelampiasan emosi yang mengaburkan persoalan. Ketika seorang pemimpin berbicara tanpa teks lalu menyatakan bahwa masyarakat desa tidak membutuhkan dolar, dan bahwa orang yang resah terhadap kenaikan nilai dolar hanyalah pihak yang ingin menjatuhkan pemerintah; maka yang muncul bukan sekadar kontroversi politik, melainkan persoalan serius tentang cara berpikir dalam memahami ekonomi dan demokrasi. Pernyataan semacam itu terdengar sederhana dan populis, tetapi sesungguhnya mengandung penyederhanaan yang berbahaya terhadap kenyataan ekonomi yang jauh lebih kompleks.
Pada teori ekonomi makro, hubungan masyarakat dengan dolar tidak pernah sesempit urusan bepergian ke luar negeri atau transaksi perdagangan internasional yang hanya dilakukan pengusaha besar. Nilai tukar dolar memengaruhi harga barang impor, bahan baku industri, pupuk, energi, alat kesehatan, hingga biaya logistik.
Ketika dolar naik dan mata uang domestik melemah, dampaknya menjalar ke hampir seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat desa yang sering dianggap jauh dari urusan ekonomi global. Petani membeli pupuk yang sebagian bahan bakunya bergantung pada impor. Nelayan membutuhkan solar dan suku cadang mesin yang harganya terpengaruh kurs. Pedagang kecil membeli barang yang distribusinya terhubung dengan biaya transportasi dan energi. Bahkan harga kebutuhan pokok dapat bergerak naik akibat tekanan nilai tukar.
Karena itu, mengatakan masyarakat desa tidak perlu memikirkan dolar menunjukkan cara pandang yang terlalu sempit terhadap sistem ekonomi modern. Dunia saat ini saling terhubung. Ekonomi desa tidak berdiri terpisah dari ekonomi nasional, apalagi ekonomi global.
Kenaikan dolar bukan hanya urusan elite kota atau investor pasar modal. Dampaknya bisa masuk hingga ke dapur rumah tangga sederhana melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Pemahaman dasar seperti ini justru telah menjadi pengantar umum dalam ekonomi makro yang dipelajari mahasiswa pada tahap awal pendidikan mereka.
Masalah menjadi lebih serius ketika keresahan publik terhadap naiknya dolar dianggap sebagai upaya menjatuhkan pemerintah. Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar ketidaktepatan analisis ekonomi, melainkan kekeliruan logika berpikir. Kritik terhadap keadaan ekonomi bukan otomatis bentuk kebencian terhadap negara atau permusuhan terhadap pemerintah.
Dalam masyarakat demokratis, kritik adalah bagian dari mekanisme pengawasan sosial. Warga berhak khawatir ketika harga naik, daya beli menurun, lapangan kerja menyempit, atau nilai mata uang melemah. Kekhawatiran itu lahir dari pengalaman hidup sehari-hari, bukan selalu dari motif politik tersembunyi.
Sayangnya, pidato emosional sering membangun narasi hitam-putih: siapa yang mendukung dianggap patriotik, sedangkan yang mengkritik dianggap ingin merusak. Cara berpikir seperti ini merupakan kesesatan logika yang berbahaya karena memindahkan fokus dari substansi persoalan menuju penyerangan terhadap motif orang lain. Dalam logika argumentatif, hal semacam itu dikenal sebagai pengalihan isu dari isi kritik kepada karakter atau niat pengkritik. Padahal benar atau salahnya kritik seharusnya diuji melalui data, fakta, dan argumentasi, bukan melalui tuduhan bahwa pengkritik memiliki agenda politik tertentu.
Retorika emosional memang efektif membangkitkan tepuk tangan sesaat. Kalimat-kalimat sederhana yang memihak “rakyat kecil” terdengar menarik di telinga publik. Namun kepemimpinan tidak cukup dibangun dengan efek dramatik pidato yang disertai joged. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan membaca realitas secara jernih, terutama dalam bidang ekonomi yang menyangkut kehidupan jutaan orang. Ketika persoalan ekonomi dijelaskan dengan cara terlalu simplistis, masyarakat justru kehilangan kesempatan memahami akar masalah yang sebenarnya.
Lebih berbahaya lagi jika pemimpin mulai membiasakan diri melihat kritik sebagai ancaman personal. Sikap seperti itu dapat melahirkan budaya anti-kritik di lingkungan kekuasaan. Para pendukung menjadi terbiasa menyerang setiap suara berbeda, sementara pejabat di sekitar pemimpin cenderung hanya menyampaikan laporan yang menyenangkan telinga. Akibatnya, pemerintah kehilangan kemampuan mendeteksi masalah sejak dini karena kritik dianggap musuh, bukan masukan.
Padahal sejarah menunjukkan banyak negara mengalami kemunduran bukan karena terlalu banyak kritik, melainkan karena kekuasaan menolak mendengar kritik. Ketika semua keresahan publik ditafsirkan sebagai upaya menjatuhkan pemerintah, ruang dialog menjadi sempit. Masyarakat dipaksa memilih antara loyalitas mutlak atau dicap sebagai lawan. Situasi seperti ini tidak sehat bagi demokrasi maupun bagi kualitas kebijakan publik.
Pemimpin yang matang seharusnya mampu membedakan antara serangan politik dan kritik rasional. Tidak semua orang yang mempertanyakan kebijakan ekonomi memiliki niat buruk. Banyak warga hanya ingin hidup lebih stabil, harga tidak melonjak, dan masa depan terasa lebih pasti. Bahkan, kritik keras sekalipun dapat menjadi cermin penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi diri. Dalam demokrasi, pemimpin bukan sosok yang harus selalu dipuji, melainkan pelayan publik yang wajib siap diuji oleh pendapat rakyatnya sendiri.
Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan pidato yang menyederhanakan masalah atau memancing emosi massa, melainkan penjelasan yang jujur dan berbasis pengetahuan. Pemimpin perlu menghadirkan ketenangan melalui argumentasi yang rasional, bukan dengan menuduh pihak yang resah sebagai musuh negara. Kemampuan berbicara tanpa teks mungkin dapat menunjukkan spontanitas, tetapi spontanitas tanpa kedalaman pemahaman dapat melahirkan pernyataan yang menyesatkan publik.
Pada akhirnya, kualitas sebuah kepemimpinan tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara atau seberapa sering ia disoraki pendukungnya. Kualitas kepemimpinan diukur dari kemampuan memahami persoalan secara utuh, menerima kritik dengan kepala dingin, dan menjelaskan keadaan kepada rakyat dengan kejujuran intelektual. Sebab dalam negara demokratis, kritik bukan ancaman bagi pemerintah. Justru ketidakmampuan menerima kritiklah yang sering menjadi ancaman terbesar bagi kehancuran pemerintahan itu sendiri.
Negara Takut pada Cerminnya Sendiri
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Ada sesuatu yang rapuh dalam sebuah kekuasaan ketika ia mulai takut pada cerita. Ketakutan itu biasanya tidak lahir dari senjata, pemberontakan, atau ancaman nyata terhadap negara, melainkan justru dari karya seni, film, sastra, dan suara-suara kecil yang berusaha memperlihatkan kenyataan sebagaimana adanya.
Sebuah film tentang pesta babi, tanah, dan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang pembangunan bisa mendadak dianggap berbahaya. Ia dihadang, ditolak, dipersulit, bahkan sebelum masyarakat diberi kesempatan untuk menontonnya. Padahal yang sebenarnya sedang dihadapi bukanlah film itu sendiri, melainkan pantulan wajah kekuasaan di depan cermin.
Pembangunan telah lama dijadikan agama baru dalam kehidupan modern. Segala sesuatu diukur dari kecepatan pertumbuhan ekonomi, jumlah investasi, dan besarnya proyek yang berhasil dibangun. Jalan tol dianggap simbol peradaban. Gedung pencakar langit dipuja sebagai bukti kemajuan. Kawasan industri dipromosikan sebagai masa depan bangsa. Dalam logika seperti ini, manusia perlahan kehilangan tempatnya. Yang penting bukan lagi apakah rakyat hidup dengan bermartabat, melainkan apakah grafik ekonomi terus bergerak naik.
Masalahnya, pembangunan sering bekerja seperti kolonialisme dengan bahasa yang lebih halus. Dulu tanah dirampas atas nama penjajahan; sekarang tanah diambil atas nama investasi. Dulu rakyat dipaksa tunduk dengan senjata; sekarang mereka ditekan dengan regulasi dan propaganda tentang kemajuan. Dulu eksploitasi dilakukan secara terang-terangan; sekarang ia dibungkus dengan pidato tentang kesejahteraan nasional. Yang berubah hanyalah cara dan istilah. Kekerasannya tetap sama.
Di banyak tempat, masyarakat kecil dipaksa meninggalkan ruang hidupnya demi proyek-proyek besar yang tidak pernah benar-benar mereka pahami. Hutan dibuka bukan karena kebutuhan rakyat, tetapi karena kerakusan modal. Laut direklamasi bukan demi nelayan, melainkan demi kota-kota elit yang hanya bisa dinikmati segelintir orang. Kampung digusur bukan karena masyarakat tidak penting, tetapi karena tanah mereka lebih berharga dibanding keberadaan mereka sendiri. Ironinya, semua itu dilakukan sambil mengucapkan kata “demi rakyat”.
Inilah bentuk paling licik dari pembangunan modern: ia tidak datang sebagai penindas yang kasar, tetapi sebagai penyelamat. Ia berbicara tentang masa depan sambil perlahan mencabut manusia dari akar kehidupannya. Ia menjanjikan kemajuan sambil memiskinkan makna hidup masyarakat yang terdampak.
Ketika rakyat menolak, mereka dicap anti-pembangunan. Ketika mereka melawan, mereka dianggap penghambat negara. Padahal yang mereka pertahankan bukan sekadar tanah atau rumah, melainkan hak untuk tetap menjadi manusia di tengah mesin ekonomi yang semakin brutal.
Karena itu karya seni yang jujur menjadi ancaman. Film yang memperlihatkan sisi gelap pembangunan dianggap berbahaya bukan karena ia berbohong, tetapi justru karena ia terlalu dekat dengan kenyataan. Kekuasaan selalu nyaman dengan pujian, tetapi gelisah terhadap kejujuran. Sebab kejujuran memiliki kemampuan menghancurkan ilusi yang selama ini dipelihara secara sistematis. Film, sastra, dan musik yang kritis bukan sekadar produk budaya, melainkan ruang kesaksian bagi mereka yang selama ini dipaksa diam.
Ketika sebuah film dihadang di berbagai tempat, yang sebenarnya sedang dipertontonkan bukan kekuatan negara, melainkan kelemahannya. Negara yang percaya diri tidak takut pada kritik. Negara yang sehat tidak alergi pada karya seni. Hanya kekuasaan yang rapuh yang sibuk membungkam suara-suara berbeda karena takut kehilangan kendali atas narasi. Ketakutan semacam ini menunjukkan bahwa pembangunan telah berubah menjadi doktrin yang tidak boleh disentuh oleh pertanyaan moral.
Lebih menyedihkan lagi, masyarakat perlahan diajarkan untuk menerima pembungkaman itu sebagai sesuatu yang normal. Kita dibiasakan hidup dalam situasi di mana kritik dianggap ancaman, perbedaan dianggap gangguan, dan kesenian harus tunduk pada selera kekuasaan. Padahal, kebudayaan seharusnya menjadi ruang paling bebas bagi manusia untuk mempertanyakan dunia di sekitarnya. Jika seni sudah tidak boleh bicara tentang penderitaan rakyat, lalu untuk apa seni dibiarkan hidup?
Pembangunan tanpa kritik hanya akan melahirkan kesombongan kolektif. Negara merasa dirinya selalu benar. Investor merasa memiliki legitimasi moral untuk mengambil apa pun yang mereka inginkan. Elite politik sibuk merayakan keberhasilan proyek sambil menutup mata terhadap kerusakan sosial yang ditinggalkan. Di titik itu pembangunan berubah menjadi monster yang tidak lagi mengenal batas. Ia menelan apa saja yang menghalangi lajunya, termasuk manusia itu sendiri.
Monster ini memakan segalanya: hutan, sungai, gunung, kampung, bahkan ingatan manusia. Ia menciptakan kota-kota modern yang dingin dan asing, tempat manusia hidup berdampingan tetapi saling terasing. Ia menghasilkan pertumbuhan ekonomi sekaligus kehampaan spiritual. Kita hidup di zaman ketika gedung semakin tinggi, tetapi empati semakin rendah. Kemajuan teknologi melesat, tetapi rasa kemanusiaan tertinggal jauh di belakang.
Paling berbahaya dari semua ini adalah hilangnya kemampuan masyarakat untuk marah. Kita terlalu sering dipaksa percaya bahwa penderitaan adalah harga yang wajar untuk kemajuan. Bahwa penggusuran adalah konsekuensi pembangunan. Bahwa kerusakan lingkungan hanyalah efek samping industrialisasi. Sedikit demi sedikit nurani publik dipatahkan hingga ketidakadilan terasa biasa. Ketika rakyat mulai terbiasa melihat ketimpangan tanpa rasa terganggu, saat itulah kemanusiaan sedang mengalami krisis paling dalam.
Di sinilah karya seni memiliki peran yang tidak tergantikan. Ia mengembalikan rasa tidak nyaman yang sengaja dihilangkan oleh propaganda pembangunan. Ia memaksa masyarakat melihat luka yang selama ini disembunyikan di balik baliho kemajuan. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap proyek besar selalu ada manusia-manusia kecil yang suaranya sengaja dikecilkan. Seni menghidupkan kembali empati yang perlahan mati di tengah hiruk-pikuk pertumbuhan ekonomi.
Sebab sebuah bangsa tidak runtuh ketika ekonominya melemah. Sebuah bangsa runtuh ketika ia kehilangan keberanian untuk mendengar kebenaran tentang dirinya sendiri. Dan ketika negara mulai takut pada film, takut pada kritik, takut pada cerita rakyatnya sendiri, mungkin yang sedang krisis bukan keamanan nasional, melainkan moral kekuasaan itu sendiri. Semoga negeri ini masih banyak yang waras untuk menjadikan Indonesia lebih baik lagi; atau apakah benar yang dikatakan teman jurnalis senior di negeri ini , bahwa kita sudah masuk pada era Orde Baru Plus Plus. Entahlah.
Mahasiswa Universitas Malahayati Ukir Prestasi di Ajang Putri Pariwisata Indonesia Lampung 2026
BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Universitas Malahayati kembali bangga atas pencapaian salah satu mahasiswanya di tingkat provinsi. Nova Alicia, mahasiswi program studi Ilmu Hukum, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih gelar 4th Runner Up Putri Pariwisata Indonesia Lampung 2026.
Pencapaian ini dikukuhkan dalam malam penganugerahan yang berlangsung pada 3 Mei 2026. Nova berhasil menyisihkan puluhan peserta lainnya melalui serangkaian seleksi ketat yang menguji wawasan, kepribadian, serta visi dalam pengembangan pariwisata daerah.
Keberhasilan Nova Alicia merupakan bukti nyata dari kualitas mahasiswa Universitas Malahayati yang mampu bersaing di luar bidang akademik murni. Sebagai mahasiswi Hukum, Nova menunjukkan bahwa penguasaan komunikasi dan pemahaman regulasi dapat menjadi aset penting dalam mempromosikan pariwisata yang berkelanjutan.
Pihak penyelenggara dari El John Pageants memberikan apresiasi tinggi atas dedikasi Nova selama masa karantina. Sertifikat penghargaan tersebut ditandatangani langsung oleh Regional Director Ali Bakrie dan Ketua Yayasan EL JOHN Indonesia, Martinus Johnnie Sugiarto.
Gelar ini membawa tanggung jawab bagi Nova untuk menjadi duta yang memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi wisata Provinsi Lampung kepada masyarakat luas. Melalui pengalaman ini, diharapkan terbentuk pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap berkontribusi bagi kemajuan daerah.
Pencapaian ini juga menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika Universitas Malahayati untuk terus mendukung mahasiswa dalam mengeksplorasi potensi diri dan mengharumkan nama almamater di berbagai ajang bergengsi, baik di tingkat regional maupun nasional.
Selamat kepada Nova Alicia atas prestasi yang membanggakan ini!
Editor : Chandra fz