{"id":71853,"date":"2023-09-12T09:05:13","date_gmt":"2023-09-12T02:05:13","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853"},"modified":"2023-09-20T01:32:41","modified_gmt":"2023-09-20T01:32:41","slug":"jejak-itu-bernama-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853","title":{"rendered":"Jejak Itu Bernama Sejarah"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo<\/strong><br \/>\n<em><strong>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/strong><\/em><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>Sahdan negara Hastinapura memiliki Putra Mahkota bernama Raden Sarojakesuma (versi Surakarta) atau Lesmana Mandrakumara (versi Yogjakarta). Putra mahkota ini, sesungguhnya bukan putra kandung\u00a0 Prabu Duryudana dan Dewi Banowati. Waktu Banowati hamil, Duryodana curiga ini mesti ada sesuatu. Pasalnya, meski Banowati sudah nikah ternyata ia masih membuka hati dengan sang mantan \u201cArjuna\u201d hingga dia hamil, buah nafsunya dengan Arjuna.<\/p>\n<p>Duryudana berkata, jika anak yang lahir kelak adalah perempuan itu adalah putri Arjuna.\u00a0 Banowati akan diusir dari Hastina. Jika anak yang lahir laki-laki, maka itu adalah putranya (Duryudana). Ternyata lahir anak perempuan. Banowati panik. Karena takut diusir, ia\u00a0 lalu minta tolong Kresna dengan cara bayinya ditukar dengan anak genderuwo yang diubah mukanya jadi manusia.<\/p>\n<p>Di saat yang hampir bersamaan salah seorang istri Arjuna yaitu Dewi Manuhara melahirkan putri yang diberi nama Endang Pergiwa. Anak Banowati diberikan Kresna kepada Manuhara agar diakui sebagai anak kembarnya. Anak Banowati tersebut diberi nama Endang Pergiwati. Anak tukaran genderuwo tadi diberi nama Lesmana Mandrakumara. Wataknya cengeng dan idiot,\u00a0<em>looser<\/em>. Saat ia minta kawin dan gagal terus.<\/p>\n<p>Dalam jagad pewayangan diceritakan gagal meminang Pergiwa-Pergiwati karena kalah sama Gatotkaca, gagal sama Sitisundari karena kalah sama Abimanyu, gagal meminang Titisari karena kalah sama Irawan.<br \/>\nNamun,\u00a0 Sang Putra Mahkota selalu dilindungi oleh Maha Prabu Raja Hastina, meminta apapun diberi, bahkan dalam cerita carangan atau buatan dalang, membuat partai-pun dibuatkan. Dan, harus selalu jadi ketua, sementara sang ayah jadi penasihat. Apa pun kegiatan harus meriah dan kelihatan wah.<\/p>\n<p>Sarojokesumo digadang-gadang sebagai pengganti Sang Raja. Namun nasib berkata beda karena setiap ada sayembara apapun, putra mahkota selalu kalah. Putra Mahkota dikecewakan untuk kesekian kalinya, saat pemilihan Senapati Pendamping dalam Perang Baratayudha, dalam cerita\u00a0<em>Abimanyu Gugur<\/em>, ternyata Patih Sengkuni yang pamannya sendiri menggagalkan pencalonannya dengan alasan \u201cmasih terlalu muda\u201d.<\/p>\n<p>Menyakitkan hati itu karena semua rekam jejak Sarojokesuma terekam dengan baik di dunia ingatan para penggemar wayang, sehingga seolah-olah pelaku ini tidak pernah ada baiknya sama sekali selama hidupnya. Jadi jika ada dalang yang berusaha menyimpangkan sejarah termasuk sejarah Sang Raja, maka ramai-ramai para penggemarnya akan protes. Sejarah yang dibuat sendiri oleh para dalang tadi, saat ini terekam dengan baik di dunia maya melalui piranti yang ada.<\/p>\n<p>Kisah wayang itu bak sebuah cerita sejarah. Sebagai cerita, ia bisa saja memiliki kesejajaran dengan peristiwa di dunia nyata, baik era dulu maupun zaman kiwari.<\/p>\n<p>Dalam zaman yang makin maju\u2013yakni ketika jejak peristiwa lampau yang pernah tertulis dan tersebar di dunia maya dengan gampang bisa ditemukenali kembali \u2014 sejarah seolah mudah datang kembali ke hadapan kita. Ternyata sejarah yang tercatat di dunia maya kapan saja bisa diputar ulang. Cerita masa lampau terkait huru-hara, intrik, atau pengkhianatan dengan mudah bisa dihadirkan kembali. Persis zaman dulu kita memutar kaset dengan\u00a0<em>tape recorder<\/em>.<\/p>\n<p>Salah satu sumber mengatakan, sejarah adalah peristiwa atau kejadian yang terjadi pada masa lalu yang dipelajari dan diselidiki untuk menjadi acuan serta pedoman kehidupan masa mendatang. Menurut etimologi atau asal katanya, sejarah berasal dari bahasa Arab, yakni\u00a0<em>syajarotun<\/em>, yang artinya pohon. Ilmu sejarah mempelajari tentang peristiwa masa lalu melalui artefak, manuskrip, maupun peninggalan lainnya dalam sejarah Indonesia, dunia, zaman kuno, hingga modern. Ilmu sejarah tak hanya mencakup aspek budaya, namun juga ekonomi, geografi, sosial, politik, bahasa, agama, pariwisata, militer, bahkan teknologi.<\/p>\n<p>Kalau mengacu kepada pendapat di atas berarti rekam jejak yang terpateri dalam era digital seperti sekarang ini, menjadi \u201carsip hidup\u201d yang kapan saja bisa dibuka, dan ini ada pada wilayah ontologi. Sementara akan digunakan untuk tujuan apa dan gunanya untuk apa, menjadi wilayah epistemologi dan aksiologi. Ternyata pada kedua wilayah disebut terakhir-lah Sang Begawan di atas berada, sehingga tidak dapat menghindar dari rekam sejarah yang pernah dibuatnya pada masa lalu.<\/p>\n<p>Mari kita posisikan peristiwa sejarah di atas sebagai referensi; dengan kata lain sebenarnya setiap hari, setiap saat kita sedang membuat sejarah, paling tidak sejarah diri kita sendiri. Bisa jadi sejarah itu \u201ctertulis\u201d karena bersinggungan dengan orang lain, lembaga, atau peristiwa. Menjadi dahsyat saat ini sejarah itu terekam sebagai fakta pada dunia maya, yang sampai kapanpun akan tersimpan sebagai arsip kehidupan kita dan atau bersama orang lain.<\/p>\n<p>Rekam jejak itu sendiri dalam rekamannya masih netral, menjadi tidak netral manakala di baca atau diputar ulang karena tujuan dan kegunaan tertentu. Dan, ini yang sekarang terjadi di dunia maya: banyak kita jumpai tampilan-tampilan satir yang satu dengan yang lain saling ejek, bahkan dengan editan tertentu, semua seolah menjadi hiburan yang tidak menghibur.<\/p>\n<p>Namun, seorang wartawan yang berpengalaman pada harian terkemuka di daerah ini menulis pada artikel\u00a0<em>Nuansa<\/em>-nya yang terbit 9 September 2023; menyatakan bahwa tak satu pun mereka menyentuh kebutuhan masyarakat bawah paling dasar. Dan itu tidak terasa mereka sedang mengukir sejarah ketidakpedulian akan kepentingan hakiki dari para calon pemilihnya, mereka sibuk akan kepentingan sendiri. Justru mereka mempertontonkan parodi lucu yang tidak lucu, sehingga melukai bahkan bisa jadi menciderai. Ibarat orang sudah siap akan duduk, kemudian seketika kursi yang mau diduduki ditarik, dan justru orang lain yang duduk. Bagaimana sejarah menulisnya, tinggal kita pandang dari sudut mana.<\/p>\n<p>Pada satu literatur tertulis: \u201cSejarah ditulis oleh para pemenang\u201d. Ini merupakan sebuah ungkapan yang sering didengungkan dan diamin-ni oleh banyak orang\u2014mungkin oleh kita juga. Ungkapan tersebut masih menjadi misteri siapa yang pertama kali menggaungkannya, entah Winston Churchill, entah Napoleon Bonaparte.<\/p>\n<p>Makna dari ungkapan tersebut mengacu pada kenyataan bahwa versi sejarah yang sering\u00a0 kita baca atau pelajari cenderung dipengaruhi oleh sudut pandang (perspektif), kepentingan, dan narasi para pihak yang berhasil atau menang dalam suatu konflik, pertempuran, atau peristiwa penting. Dengan bahasa lain, sejarah memang sering kali ditulis oleh pihak yang berhasil meraih kemenangan dalam suatu konflik, seperti pemenang perang, penjajah, atau kelompok yang memegang kekuasaan politik.<\/p>\n<p>Mereka memiliki kecenderungan untuk menggambarkan peristiwa tersebut sesuai dengan perspektif dan kepentingan mereka sendiri. Tetapi jangan lupa itu dahulu, sekarang rekam jejak bisa ditulis siapa saja kemudian disimpan didunia maya, yang bisa dibuka kapan saja oleh siapa saja, tidak harus kalah atau menunggu menang.<\/p>\n<p>Manusia memang makhluk unik, semua perbuatannya adalah sejarahnya, diamnya-pun juga merupakan sejarah baginya. Oleh sebab itu, mari kita merekamkan jejak kita kepada perbuatan baik, sebab berbuat salah-pun itu adalah sejarah. Paling tidak adalah sejarah kesalahan yang pernah kita perbuat saat hidup. (SJ)<\/p>\n<p>Selamat ngopi pagi!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Sahdan negara Hastinapura memiliki Putra Mahkota bernama Raden Sarojakesuma (versi Surakarta) atau Lesmana Mandrakumara (versi Yogjakarta). Putra mahkota ini, sesungguhnya bukan putra kandung\u00a0 Prabu Duryudana dan Dewi Banowati. Waktu Banowati hamil, Duryodana curiga ini mesti ada sesuatu. Pasalnya, meski Banowati sudah nikah ternyata ia masih membuka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-71853","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Jejak Itu Bernama Sejarah - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Jejak Itu Bernama Sejarah - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Sahdan negara Hastinapura memiliki Putra Mahkota bernama Raden Sarojakesuma (versi Surakarta) atau Lesmana Mandrakumara (versi Yogjakarta). Putra mahkota ini, sesungguhnya bukan putra kandung\u00a0 Prabu Duryudana dan Dewi Banowati. Waktu Banowati hamil, Duryodana curiga ini mesti ada sesuatu. Pasalnya, meski Banowati sudah nikah ternyata ia masih membuka [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-09-12T02:05:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-09-20T01:32:41+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853\",\"name\":\"Jejak Itu Bernama Sejarah - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2023-09-12T02:05:13+00:00\",\"dateModified\":\"2023-09-20T01:32:41+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Jejak Itu Bernama Sejarah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Jejak Itu Bernama Sejarah - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Jejak Itu Bernama Sejarah - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Sahdan negara Hastinapura memiliki Putra Mahkota bernama Raden Sarojakesuma (versi Surakarta) atau Lesmana Mandrakumara (versi Yogjakarta). Putra mahkota ini, sesungguhnya bukan putra kandung\u00a0 Prabu Duryudana dan Dewi Banowati. Waktu Banowati hamil, Duryodana curiga ini mesti ada sesuatu. Pasalnya, meski Banowati sudah nikah ternyata ia masih membuka [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2023-09-12T02:05:13+00:00","article_modified_time":"2023-09-20T01:32:41+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853","name":"Jejak Itu Bernama Sejarah - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2023-09-12T02:05:13+00:00","dateModified":"2023-09-20T01:32:41+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=71853#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Jejak Itu Bernama Sejarah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/71853","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=71853"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/71853\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":71981,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/71853\/revisions\/71981"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=71853"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=71853"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=71853"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}