{"id":73708,"date":"2024-02-05T02:10:48","date_gmt":"2024-02-05T02:10:48","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708"},"modified":"2024-02-05T02:10:48","modified_gmt":"2024-02-05T02:10:48","slug":"racun-kuasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708","title":{"rendered":"Racun Kuasa"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo<\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>Kisah ini menceritakan intrik politik di Negeri Astina setela meninggalnya Prabu Pandu Dewanata. Mayoritas rakyatAstina, menghendaki para satria Pandawa untuk melanjutkan pemerintahan Astina. Maka, Adipati Drestarata sebagai <em>caretaker<\/em> pemerintahan, memerintahkan Patih Sengkuni untuk merayakan pergantian pemerintahan di padang Bale Sigolo-golo. Namun, Duryudana, satria Kurawa anak Adipati Drestarata, tidak legawa memberikan kekuasaan ke para satria Pandawa. Ia pun berkoalisi dengan Patih Sengkuni menyusun siasat jahat untuk menggagalkan dan merebut tahta dari Pandawa. Satu-satunya cara, Bima dan saudara\u2013saudaranya harus dibunuh.<\/p>\n<p>Maka, Patih Sengkuni menyuruh kontraktor ahli bahan peledak yang bernama Purucona untuk mendesain tempat perhelatan akbar tersebut dengan bahan\u2013bahan yang gampang meledak dan mudah terbakar. Ketika malam penobatan tiba, di tengah eforia dan pesta pora, kebakaran hebat melanda. Esok paginya bala Kurawa menemukan lima sosok mayat pria dan satu wanita. Mereka menyimpulkan mayat\u2013mayat itu adalah lima bersaudara Pandawa, termasuk Raden Puntadewa yang disiapkan menjadi raja, dan Ibunda meraka Dewi Kunti.<\/p>\n<p>Dengan kematian Pandawa, Kurawa mengklaim sebagai penerus sah kepemimpinan Astina. Mereka lalu melantik Duryudana sebagai raja menggantikan Puntadewa. Padahal Pandawa dan Kunti selamat dari amuk api, berkat campur tangan Batara Antaboga. Dewa penguasa dasar bumi ini menggagalkan konspirasi jahat Kurawa dengan menciptakan terowongan menuju perut bumi. Lima mayat yang hangus dilalap api tidak lain adalah para sudra, pengemis dan gelandangan, yang menumpang berteduh di padepokan Pandawa di Bale Sigolo-golo pada malam menjelang kejadian. Kebaikan hati Kunti menolong mereka telah berbuah keselamatan bagi Pandawa dan masa depan politik mereka.<\/p>\n<p>Apa yang ingin disampaikan oleh pembawa cerita dalam episode di atas: ternyata intrik politik keji itu selalu ada dalam perebutan tahta atau kekuasaan. Dan, kebenaran pesan dapat kita telusuri dalam sejarah negeri ini. Tidak ada satu pun kerajaan yang terbebas dari intrik perebutan kekuasaan. Yang membedakan hanyalah cara atau metodenya.<\/p>\n<p>Banyak kita jumpai justru keberimbangan kekuasaan menjadi persoalan sentral, sehingga pemaksaan akan terjadinya keseimbangan seolah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan. Atau sebaliknya untuk menunjukkan akan besarnya kekuasaan, maka dapat berbuat apa saja, sekalipun akan menjadikan ketidakseimbangan terjadi. Namun,\u00a0 secara garis besar perebutan kekuasaan itu ada beberapa pola; pola pertama, dengan pola berdarah-darah. Pola ini bisa dibilang pola tradisional. Sebab, cara pemberontakan adalah cara yang ditempuh oleh para leluhur kita dahulu. Namun demikian, pola ini sekarang tetap dipakai, walaupun itu sebagai langkah terakhir. Cara ini juga dikenal dengan istilah \u201cpengalihan kekuasaan secara paksa\u201d. Pola ini muncul karena ada pihak yang tidak terima dengan sistem yang ada seperti garis turun, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Pola kedua, dengan cara licik berlindung pada kekuasaan atau penguasa. Hukum yang berlaku adalah menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Cara kedua ini tampilan luarnya bagus, namun isinya tidak bisa kita simpulkan akan sama dengan luarnya.<\/p>\n<p>Pola ketiga, dengan menyelenggarakan pemilihan umum. Tentu cara ini lebih modern dalam tampilannya, karena mengedepankan asas jujur, adil, dan bermartabat. Namun seiring perjalanan waktu, cara ketiga ini sering juga disusupi dengan pola-pola kedua, bahkan bisa berujung cara pertama:\u00a0 manakala ada nafsu serakah ingin berkuasa sepanjang masa seperti yang pernah dipertontonkan oleh beberapa raja masa lampau. Apalagi jika pemikiran yang ada di kepala \u201cDinasti dibangun atas nama cinta kepada keturunan, trah yang agung harus terus dipertahankan\u201d. Tentu saja akan berakibat memunculkan potensi perpecahan. Berarti ini kembali ke pola satu.<\/p>\n<p>Pertanyaan yang tersisa adalah mengapa atas nama kekuasaan kita harus selalu \u201ccongkrah\u201d (ribut, bertengkar) sesama keluarga. Ternyata kekuasaan itu ibarat racun: jika sedikit mungkin menjadi obat, namun jika overdosis maka menjadi petaka.<\/p>\n<p>Apakah ini merupakan pembenaran tesis dari aman Romawi yang menyatakan bahwa segenggam kekuasan itu lebih berharga dari pada sejuta kebenaran?\u00a0 Entahlah. Penulis menyerahkkan jawabannya kepada pembaca. Sebab, mabuk kekuasan dan mabuk betulan bedanya tipis-tipis saja. Bisa jadi peringatan orang-orang dulu yang mengatakan \u201ckekuasaan bisa membuat mata terbuka hati tertutup, dan yang lebih celaka mata dan hati semua tertutup\u201d itu benar adanya.<\/p>\n<p>Salam waras. (SJ)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Kisah ini menceritakan intrik politik di Negeri Astina setela meninggalnya Prabu Pandu Dewanata. Mayoritas rakyatAstina, menghendaki para satria Pandawa untuk melanjutkan pemerintahan Astina. Maka, Adipati Drestarata sebagai caretaker pemerintahan, memerintahkan Patih Sengkuni untuk merayakan pergantian pemerintahan di padang Bale Sigolo-golo. Namun, Duryudana, satria Kurawa anak Adipati [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-73708","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Racun Kuasa - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Racun Kuasa - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Kisah ini menceritakan intrik politik di Negeri Astina setela meninggalnya Prabu Pandu Dewanata. Mayoritas rakyatAstina, menghendaki para satria Pandawa untuk melanjutkan pemerintahan Astina. Maka, Adipati Drestarata sebagai caretaker pemerintahan, memerintahkan Patih Sengkuni untuk merayakan pergantian pemerintahan di padang Bale Sigolo-golo. Namun, Duryudana, satria Kurawa anak Adipati [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-02-05T02:10:48+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708\",\"name\":\"Racun Kuasa - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-02-05T02:10:48+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Racun Kuasa\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Racun Kuasa - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Racun Kuasa - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Kisah ini menceritakan intrik politik di Negeri Astina setela meninggalnya Prabu Pandu Dewanata. Mayoritas rakyatAstina, menghendaki para satria Pandawa untuk melanjutkan pemerintahan Astina. Maka, Adipati Drestarata sebagai caretaker pemerintahan, memerintahkan Patih Sengkuni untuk merayakan pergantian pemerintahan di padang Bale Sigolo-golo. Namun, Duryudana, satria Kurawa anak Adipati [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2024-02-05T02:10:48+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708","name":"Racun Kuasa - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2024-02-05T02:10:48+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73708#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Racun Kuasa"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73708","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=73708"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73708\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73736,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73708\/revisions\/73736"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=73708"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=73708"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=73708"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}