{"id":73854,"date":"2024-03-05T01:54:57","date_gmt":"2024-03-05T01:54:57","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854"},"modified":"2024-03-05T01:54:57","modified_gmt":"2024-03-05T01:54:57","slug":"pecah-kongsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854","title":{"rendered":"Pecah Kongsi"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo<\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>Berdasarkan penelusuran digital ditemukan makna Pecah kongsi yaitu: merupakan frasa yang berasal dari bahasa Hokkien atau Tionghoa, yang secara harfiah berarti \u201cberpisah dengan mitra bisnis\u201d atau \u201cputus kerjasama dalam bisnis.\u201d Istilah ini umumnya digunakan untuk menggambarkan situasi di mana dua pihak yang sebelumnya bekerja sama dalam suatu usaha, memutuskan hubungan kerjasama mereka. Ada beberapa alasan umum yang dapat menyebabkan pecah kongsi terjadi. Salah satunya adalah perbedaan visi dan misi antara kedua belah pihak. Jika ada perbedaan yang signifikan dalam tujuan jangka panjang dan strategi bisnis, maka pecah kongsi bisa menjadi pilihan yang masuk akal.<\/p>\n<p>Selain itu, perbedaan pandangan terkait pengelolaan bisnis dan pengambilan keputusan juga sering menjadi penyebab pecah kongsi. Jika salah satu pihak merasa bahwa keputusan yang diambil oleh mitra bisnisnya tidak sesuai dengan harapan atau tidak menguntungkan bagi mereka, maka pecah kongsi bisa menjadi solusi yang diambil. Faktor-faktor personal juga dapat memainkan peran penting dalam pecah kongsi. Misalnya, perbedaan nilai, kepercayaan yang rusak, atau konflik pribadi bisa menjadi pemicu pecah kongsi. Ketika hubungan antarmitra bisnis tidak lagi harmonis, pecah kongsi bisa menjadi hasilnya.<\/p>\n<p>Pertanyaannya apakah Pecah Kongsi hanya berlaku di dunia Busnis. Ternyata untuk masa kini sudah meluas kemana-mana; bahkan sekarang yang sedang ramai ada pada dunia perpolitikan. Dengan alasan tidak ada teman abadi dalam berpolitik, maka pecah kongsi adalah sesuatu yang lumrah; dan tidak perlu terlalu serius menanggapinya. Bisa dibayangkan semula teman koalisi, kemudian karena ada yang diuntungkan dalam pembagian kekuasaan; maka langkah pecah kongsi adalah hal yang wajar. Apalagi disiapkan kursi bergengsi untuk negeri, walau hanya seumur jagung, namun lumayan buat obat haus selama ini akan kekuasaan.<\/p>\n<p>Demikian juga dalam satuan birokrasi; semula sahabat karib saat menggapai cita-cita bersama. Setelah berhasil apa yang dicita-citakan selama ini telah diperoleh; mulailah ada kalkulasi politik di sana. Manakala dianggap sesuatu dan atau seseorang memiliki potensi akan membahayakan \u201cdinastinya\u201d di masa depan, maka tidak ada jalan lain kecuali \u201cPecah Kongsi\u201d. Atau, bisa juga suatu sistem organisasi yang terlalu besar gerbongnya, membuat akselerasi organisasi melambat, maka person yang ada didalamnya merasa tidak nyaman lagi. Langkah yang diambil tentu \u201cpecah Kongsi\u201d, dan ini banyak dijumpai pada organisasi politik atau kemasyarakatan yang terlalu gemuk.<\/p>\n<p>Anehnya lagi dengan mengatasnamakan demokrasi maka pecah kongsi dianggap sebagai keniscayaan; oleh karena itu konflik dan integrasi sudah semacam pasangan ideal, dan bisa muncul kapan saja pada organisasi apa saja; tentu dengan medianya adalah tetap bertumpu pada Pecah Kongsi.<\/p>\n<p>Pecah kongsi jika hanya melibatkan person dampaknya tidak begitu besar; namun jika itu melibatkan atau berakibat pada sistem; maka yang akan terjadi adalah konflik yang berkepanjangan, dan tentu akan merusak. Namun, kerusakan ini sebenarnya keadaan yang didisain secara terencana, agar tampak bahwa pecah kongsinya mereka adalah sesuatu yang wajar dan harus dilakukan, karena tidak ditemukan jalan untuk bersatu.<\/p>\n<p>Pecah kongsi sebagai jalan keluar dari persoalan yang dihadapi karena ketidakadaan kesepahaman; maka bisa jadi ini melanda semua sendi kehidupan. Tidak terhindarkan juga dilembaga-lembaga bergengsi, termasuk perguruan tinggi; sekalipun lembaga yang terakhir ini sering disebut banteng moral atau penjaga moral, namun tetap saja tidak bisa menghindar dari pecah kongsi; hanya biasanya dibungkus dengan suatu kearifan dalam ucapan, sehingga di nilai dari luar, apalagi dari jauh, tampak baik-baik saja.<\/p>\n<p>Semoga semua itu dapat kita jadikan pembelajaran bahwa ditengah-tengah kebaikan itu masih ada setitik keburukan sebagai kekurangan, dan ditengah-tengah keburukan itu masih ada secercah kebaikan. Kesempurnaan itu hanya milik Yang Maha Sempurna. (SJ)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Berdasarkan penelusuran digital ditemukan makna Pecah kongsi yaitu: merupakan frasa yang berasal dari bahasa Hokkien atau Tionghoa, yang secara harfiah berarti \u201cberpisah dengan mitra bisnis\u201d atau \u201cputus kerjasama dalam bisnis.\u201d Istilah ini umumnya digunakan untuk menggambarkan situasi di mana dua pihak yang sebelumnya bekerja sama dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-73854","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pecah Kongsi - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pecah Kongsi - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Berdasarkan penelusuran digital ditemukan makna Pecah kongsi yaitu: merupakan frasa yang berasal dari bahasa Hokkien atau Tionghoa, yang secara harfiah berarti \u201cberpisah dengan mitra bisnis\u201d atau \u201cputus kerjasama dalam bisnis.\u201d Istilah ini umumnya digunakan untuk menggambarkan situasi di mana dua pihak yang sebelumnya bekerja sama dalam [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-03-05T01:54:57+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854\",\"name\":\"Pecah Kongsi - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-03-05T01:54:57+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pecah Kongsi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pecah Kongsi - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pecah Kongsi - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Berdasarkan penelusuran digital ditemukan makna Pecah kongsi yaitu: merupakan frasa yang berasal dari bahasa Hokkien atau Tionghoa, yang secara harfiah berarti \u201cberpisah dengan mitra bisnis\u201d atau \u201cputus kerjasama dalam bisnis.\u201d Istilah ini umumnya digunakan untuk menggambarkan situasi di mana dua pihak yang sebelumnya bekerja sama dalam [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2024-03-05T01:54:57+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854","name":"Pecah Kongsi - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2024-03-05T01:54:57+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=73854#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pecah Kongsi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73854","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=73854"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73854\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":73856,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/73854\/revisions\/73856"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=73854"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=73854"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=73854"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}