{"id":74558,"date":"2024-05-27T02:35:11","date_gmt":"2024-05-27T02:35:11","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558"},"modified":"2024-05-27T02:35:11","modified_gmt":"2024-05-27T02:35:11","slug":"sanepa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558","title":{"rendered":"Sanepa"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>Sanepa (biasa dibaca sanepo) merupakan bentuk gaya bahasa dalam kesusatraan Jawa yang berfungsi untuk menyampaikan sindiran secara halus. Berdasarkan penelusuran digital, ditemukan makna \u201csanepo\u201d dalam bahasa Jawa merujuk pada bahasa kiasan atau ungkapan yang tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui perumpamaan, sindiran, atau simbol. Makna sanepa biasanya memerlukan penafsiran lebih lanjut untuk memahami maksud sebenarnya yang ingin disampaikan oleh pembicara. Dalam budaya Jawa, sanepa sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, karya sastra, maupun dalam tradisi lisan seperti wayang dan tembang.<\/p>\n<p>Penggunaan sanepo dapat berfungsi sebagai cara untuk menyampaikan kritik atau nasihat secara halus agar tidak menyinggung perasaan orang lain secara langsung. Selain itu, sanepo juga bisa menjadi bentuk penghormatan, kebijaksanaan, dan kearifan lokal dalam komunikasi antarindividu maupun dalam masyarakat luas.<br \/>\nContoh sanepo adalah peribahasa atau pepatah Jawa seperti \u201cngunduh wohing pakarti\u201d yang berarti \u201cmemetik hasil dari perbuatan sendiri\u201d. Kalimat ini tidak menyatakan secara eksplisit perbuatan baik atau buruk, tetapi mengandung makna bahwa setiap tindakan akan membawa konsekuensi yang harus diterima oleh pelakunya.<\/p>\n<p>Penjelasan lebih lanjut mengatakan aanepa merupakan salah satu bentuk seni berbahasa yang sangat dihargai dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai karya sastra.<\/p>\n<p>Berikut adalah beberapa aspek lain dari sanepa yang memberikan penjelasan lebih mendalam tentang maknanya. Pertama, simbolisme dan perumpamaan. Maksudnya,\u00a0 sanepa sering menggunakan simbol atau perumpamaan untuk menyampaikan pesan. Misalnya, dalam cerita wayang, tokoh-tokoh dan peristiwa sering merupakan simbol dari nilai-nilai moral atau sosial tertentu, seperti Sengkuni untuk mewakili mereka yang suka adu domba, Bimasena untuk mewakili mereka yang berjiwa kesatria, dan lain sebagainya.<\/p>\n<p>Kedua, kearifan lokal.\u00a0 Sanepa mencerminkan kearifan lokal masyarakat (Jawa) yang mengutamakan kesopanan dan keharmonisan dalam berkomunikasi. Melalui sanepo, seseorang dapat menyampaikan kritik atau nasihat dengan cara yang lebih halus dan tidak langsung, sehingga lebih bisa diterima dan didengar oleh pihak lain yang dimaksud.<\/p>\n<p>Ketiga, pembelajaran dan pendidikan. Dalam konteks pendidikan, sanepa digunakan sebagai alat untuk mengajarkan nilai-nilai dan kebijaksanaan kepada generasi muda. Cerita-cerita rakyat, mitos, dan legenda yang mengandung sanepo sering digunakan untuk menyampaikan pesan moral. Contoh, cerita Joko Tingkir untuk menanamkan nilai-nilai kejuangan, dan sebagainya.<\/p>\n<p>Pertanyaan tersisa, masih efektifkah sanepa digunakan pada saat ini dalam rangka menemukenali dan melestarikan budaya para leluhur, umumnya pada masyarakat Nusantara? Jawabannya tentu sangat sulit sekali mengingat perubahan nilai, dan budaya saat ini sedang berlangsung begitu cepat akselerasinya.<\/p>\n<p>Sebagai contoh ungkapan\u00a0 \u201cngono yo ngono..ning ojo ngono\u201d. Secara harfiah dapat diterjemahkan menjadi \u201cbegitu ya begitu, tapi jangan begitu.\u201d Namun, untuk memahami makna ungkapan ini dengan lebih dalam, kita perlu melihat konteks budaya dan makna kiasan yang ada di baliknya.<\/p>\n<p>Secara lebih rinci, ungkapan ini mengandung makna sebagai berikut. Pertama, pengakuan situasi. \u201cNgono yo ngono\u201d berarti mengakui bahwa suatu tindakan atau keadaan memang benar atau bisa dimaklumi dalam konteks tertentu.<\/p>\n<p>Kedua, peringatan atau batasan moral. \u201cNing ojo ngono\u201d berarti \u201ctetapi jangan begitu\u201d. Ini maksudnya memberikan peringatan atau batasan bahwa meskipun tindakan tersebut dapat dimaklumi, sebaiknya jangan dilakukan dengan cara yang berlebihan, merugikan, atau tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku.<\/p>\n<p>Pada konteks kedua ini lebih kepada kepatutan yang saat ini sudah tergerus oleh sifat hedonis, ingin menang sendiri, mencari selamat sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana pupusnya harapan orang tua kepada anak untuk sekolah manakala pejabatnya mengatakan pendidikan tinggi itu kebutuhan tersier; oleh sebab itu harganya mahal. Seolah-olah negara tidak mau hadir ditengah rakyatnya; dan ini menciderai nilai-nilai yang hidup ditengah masyarakat. Secara tersirat hal tersebut ingin mengatakan ..\u201dkalau miskin gak usah kuliah\u201d\u2026.<\/p>\n<p>Meminjam istilah H.Oma Irama itu, terlalu, jika sanepa di atas digunakan pada konteks ini akan berubah menjadi \u201csilakan begitu, walaupun memang harus begitu\u201d. Oleh sebab itu, tidak salah jika orang bijak memberikan sanepa sebagai ssindiran yang sangat tajam dan menghunjam yang berujar: \u201cDi dunia ini ada tiga golongan yang tidak bisa di lawan, yaitu orang kaya, penguasa, dan\u00a0 orang gila.<\/p>\n<p>Kalau ketiga konteks tadi disejajarkan, maka betapa tidak enaknya pada kesejajaran ketiga. Namun tampaknya itu yang ingin dimaksud oleh pembuat sanepo tadi, yaitu mensejajarkan orang kaya yang lalim, penguasa yang dholim itu sama dan sebangun dengan orang gila.<\/p>\n<p>Pada akhirnya negara tidak salah jika akan menjadi pengekspor tenaga kerja keluar negara lain karena negaranya tidak mampu mengurus dan menghidupi rakyatnya. Dengan bangganya mereka diberi label \u201csanepa\u201d sebagai \u201cpahlawan devisa\u201d padahal mereka bekerja pada sector informal dinegara lain dengan diberi label sanepa keren \u201casisten trumah tangga\u201d. Itupun saat ingin pulang ke negerinya sendiri harus berhadapan dengan kadal-kadal yang siap mengadali semua barang bawaan yang mereka kumpulkan bertahun-tahun dengan nilai tak seberapa.<\/p>\n<p>\u201cJika zaman penjajah sekolah negeri bukan untuk anak pribumi, setelah merdeka sekolah\u00a0 bukan untuk anak miskin\u201d.\u00a0 Luarbiasa memang sanep di negeri ini. Itu pun dibela oleh menterinya mengatakan bahwa uang kuliah tunggal hanya untuk mahasiswa baru. Bayangkan jika ada anak dari satu keluarga masuk fakultas tertentu dengan biaya pertama di atas seratus juta, dengan biaya setiap semesternya duapuluh lima juta. Apakah rasional jika ini dikenakan kepada mereka yang berpenghasilan rata-rata lima juta perbulan dengan jumlah keluarga lima orang dalam satu rumah tangga.<\/p>\n<p>Pertanyaannya, apa yang mau dijual untuk bayar uang kuliah? Keanehan itu semakin menjadi-jadi jika dikaitkan dengan adanya perguruan tinggi yang tidak menaikkan biaya kuliahnya. Peristiwa ini sebenarnya suatu sanepa untuk menterinya, ternyata ada lembaga yang dipimpinnya berbeda pendapat dengan dirinya.<\/p>\n<p>Ini adalah bentuk <em>mbalelo<\/em> terhadap sang menteri. Dan, jika pertanda ini diterjemahkan dalam bahasa verbal \u201cyang tidak paham siapa\u201d. Konsep <em>mbalelo<\/em> memang sudah sejak lama dikenal pada budaya nusantara khususnya Jawa, dan itu adalah bentuk penentangan terhadap kekuasaan yang dirasakan tidak adil oleh warganya.<\/p>\n<p>Sebenarnya kalau kita mau jujur bahwa menterinya tidak salah, karena dia tidak begitu paham dengan pengelolaan perguruan tinggi. Yang bermasalah adalah yang mengangkat menteri. Sebab bagaimanapun ahlinya seorang sopir truk gandengan, namun tetap saja dia mengalami kesulitan jika harus menjadi pilot pesawat terbang. Semoga sanepa ini menjadikan kita paham; karena kegagalpahaman kita selama ini disebabkan oleh ketidakmampuan kita menangkap apa dibalik mengapa.<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Sanepa (biasa dibaca sanepo) merupakan bentuk gaya bahasa dalam kesusatraan Jawa yang berfungsi untuk menyampaikan sindiran secara halus. Berdasarkan penelusuran digital, ditemukan makna \u201csanepo\u201d dalam bahasa Jawa merujuk pada bahasa kiasan atau ungkapan yang tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui perumpamaan, sindiran, atau simbol. Makna sanepa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-74558","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sanepa - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sanepa - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Sanepa (biasa dibaca sanepo) merupakan bentuk gaya bahasa dalam kesusatraan Jawa yang berfungsi untuk menyampaikan sindiran secara halus. Berdasarkan penelusuran digital, ditemukan makna \u201csanepo\u201d dalam bahasa Jawa merujuk pada bahasa kiasan atau ungkapan yang tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui perumpamaan, sindiran, atau simbol. Makna sanepa [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-05-27T02:35:11+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558\",\"name\":\"Sanepa - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-05-27T02:35:11+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sanepa\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sanepa - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sanepa - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Sanepa (biasa dibaca sanepo) merupakan bentuk gaya bahasa dalam kesusatraan Jawa yang berfungsi untuk menyampaikan sindiran secara halus. Berdasarkan penelusuran digital, ditemukan makna \u201csanepo\u201d dalam bahasa Jawa merujuk pada bahasa kiasan atau ungkapan yang tidak disampaikan secara langsung, melainkan melalui perumpamaan, sindiran, atau simbol. Makna sanepa [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2024-05-27T02:35:11+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558","name":"Sanepa - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2024-05-27T02:35:11+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=74558#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sanepa"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74558","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=74558"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74558\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":74595,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/74558\/revisions\/74595"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=74558"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=74558"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=74558"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}