{"id":75281,"date":"2024-08-14T02:03:50","date_gmt":"2024-08-14T02:03:50","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281"},"modified":"2024-08-14T02:03:50","modified_gmt":"2024-08-14T02:03:50","slug":"lebih-gilo-dari-wong-gilo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281","title":{"rendered":"Lebih Gilo dari Wong Gilo"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>Pagi menjelang siang di penghulu hari itu sudah menjadi kebiasaan untuk memuliakan hari penuh berkah ini. Ada sejumlah ritual keagamaan yang sunah untuk dilakukan, diantaranya melakukan ritual mandi jumat. Namun entah mengapa hari itu agak sedikit malas untuk beranjak dari kursi \u201cpelamunan\u201d tempat mencari inspirasi; mendadak dawai media sosial berbunyi pertanda ada pesan masuk, ternyata benar berita dari yunior sesama Sumatera Selatan mengirimkan berita dengan aksen <em>Plembang.<\/em> Sayang pesan itu tidak untuk dipublikasikan, karena kami berdiskusi tentang negeri yang sedang tidak baik-baik ini lewat media dan ditutup dengan kata kunci seperti judul di atas.<\/p>\n<p>Sebelum lebih jauh membahas kata kunci <em>\u201cgilo\u201d;<\/em> sebaiknya kita beri batasan terlebih dahulu; berdasarkan penelusuran digital istilah ini dalam bahasa Palembang memiliki makna yang agak sedikit berbeda dengan \u201cgila\u201d dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Palembang, kata <em>\u201cgilo\u201d<\/em> bisa berarti \u201caneh\u201d atau \u201ckonyol.\u201d Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang dianggap tidak biasa atau lucu dengan cara yang sedikit berlebihan. Misalnya, jika seseorang melakukan tindakan yang aneh atau membuat orang lain tertawa karena kelucuannya, orang tersebut bisa disebut <em>\u201cgilo.\u201d<\/em> Kata ini juga bisa digunakan dalam konteks bercanda antara teman-teman.<\/p>\n<p>Filosofi kata <em>\u201cgilo\u201d<\/em> dalam bahasa Palembang mencerminkan pandangan masyarakat terhadap perilaku yang dianggap diluar kebiasaan atau norma. Dalam penggunaannya, kata ini sering mengandung unsur keheranan dan humor, serta menggambarkan reaksi spontan terhadap sesuatu yang dianggap tidak biasa atau absurd.<\/p>\n<p>Secara budaya, penggunaan kata <em>\u201cgilo\u201d<\/em> dapat menunjukkan toleransi dan penerimaan terhadap keunikan individu. Dalam konteks sosial, menyebut seseorang <em>\u201cgilo\u201d<\/em> bukanlah sebuah penghinaan, melainkan lebih kepada pengakuan atas perilaku yang lucu atau aneh dengan nada yang ringan dan tanpa maksud merendahkan.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan sehari-hari, kata <em>\u201cgilo\u201d<\/em> sering digunakan untuk meredakan ketegangan atau sebagai bagian dari interaksi sosial yang hangat. Ini mencerminkan cara masyarakat Palembang menggunakan humor dan keceriaan sebagai alat untuk mempererat hubungan sosial dan mengatasi situasi yang mungkin menimbulkan kebingungan atau ketidaknyamanan.<br \/>\nMeskipun dalam banyak konteks kata <em>\u201cgilo\u201d<\/em> dalam bahasa Palembang digunakan dengan nada bercanda dan humor, kata ini juga bisa memiliki konotasi negatif tergantung pada cara dan konteks penggunaannya.<\/p>\n<p>Dalam konteks yang lebih serius atau marah, <em>\u201cgilo\u201d<\/em> bisa digunakan untuk mengejek atau mengkritik seseorang yang dianggap berperilaku tidak masuk akal, tidak pantas, atau terlalu berlebihan. Ketika diucapkan dengan intonasi yang tajam atau dalam situasi yang tegang, kata ini bisa menunjukkan ketidaksetujuan atau rasa tidak hormat terhadap perilaku seseorang.<\/p>\n<p>Misalnya, jika seseorang bertindak dengan cara yang dianggap mengganggu atau merugikan orang lain, kata <em>\u201cgilo\u201d<\/em> bisa diucapkan dengan nada yang menunjukkan ketidakpuasan atau rasa jengkel. Dalam situasi seperti ini, kata tersebut bisa dianggap sebagai sindiran atau bahkan hinaan.<\/p>\n<p>Secara keseluruhan, meskipun <em>\u201cgilo\u201d<\/em> sering kali digunakan dalam konteks yang ringan dan humoris, konteks, intonasi, dan situasi bisa mengubah maknanya menjadi sesuatu yang lebih negatif atau kritis. Karena diksi \u201cgilo\u201d berada pada wilayah ontologi, maka akan berubah \u201crasa bahasa\u201d nya jika masuk ke wilayah epistemologi dan aksiologi.<\/p>\n<p>Sebagai contoh jika kata ini masuk dalam ranah kekuasaan, maka kata <em>\u201cgilo\u201d<\/em> seringkali dipakai untuk menyoroti sesuatu yang dianggap luar biasa atau tidak biasa dari seorang pemimpin atau orang yang berkuasa. Baik itu dalam bentuk kekaguman, keheranan, maupun kritik, tergantung pada bagaimana orang tersebut memandang tindakan atau otoritas yang dimaksud.<\/p>\n<p>Sebagai contoh orang Palembang jika melihat orang yang sangat bernafsu ingin memangku banyak jabatan, maka pada umumnya mereka akan megatakannya dengan <em>\u201cgilo<\/em> jabatan\u201d. Dalam konteks bahasa Palembang, \u201carti <em>gilo<\/em> jabatan\u201d merujuk pada seseorang yang sangat berambisi atau terobsesi dengan jabatan, sehingga ingin berada pada banyak posisi. Istilah ini sering digunakan secara negatif untuk menggambarkan individu yang sangat menginginkan kekuasaan atau status hingga mereka rela melakukan apa saja untuk mencapainya. Maknawi yang terkandung disini berarti \u201cgila\u201d atau \u201csangat terobsesi,\u201d sehingga <em>\u201cgilo<\/em> jabatan\u201d bisa diartikan sebagai \u201cgila jabatan.\u201d<\/p>\n<p>Namun demikian jangan terkejut jika kita berada di tengah-tengah <em>\u201cwong Plembang\u201d<\/em> mendengar perkataan <em>\u201cgilo\u201d<\/em> dalam percakapan mereka yang diucapkan sambil tertawa terbahak-bahak; karena bisa jadi itu kegirangan yang amat sangat, bisa juga mengumpat dengan cara satir terhadap sesuatu yang diluar kebiasaan, atau memang sedang terperanjat (bahasa Palembang: <em>tekanjat),<\/em> melihat keanehan dari sesuatu.<\/p>\n<p>Ternyata ketakjuban akan sesuatu bisa juga diberi label <em>\u201cgilo\u201d<\/em> oleh orang Palembang yang terkenal humoris; sebagai bukti tidak ada <em>\u201cwong Plembang\u201d<\/em> yang tidak punya pekerjaan atau menganggur, karena setiap ditanya mau pergi kemana jawabannya <em>\u201cado gawe\u201d.<\/em> Akan tetapi bisa juga karena ketidaksukaan terhadap perilaku orang lain yang menurut mereka menyimpang dari norma umumnya, maka mereka akan berucap \u201clebih <em>gilo<\/em> dari <em>wong gilo\u201d. <\/em>Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Pagi menjelang siang di penghulu hari itu sudah menjadi kebiasaan untuk memuliakan hari penuh berkah ini. Ada sejumlah ritual keagamaan yang sunah untuk dilakukan, diantaranya melakukan ritual mandi jumat. Namun entah mengapa hari itu agak sedikit malas untuk beranjak dari kursi \u201cpelamunan\u201d tempat mencari inspirasi; mendadak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-75281","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Lebih Gilo dari Wong Gilo - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Lebih Gilo dari Wong Gilo - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Pagi menjelang siang di penghulu hari itu sudah menjadi kebiasaan untuk memuliakan hari penuh berkah ini. Ada sejumlah ritual keagamaan yang sunah untuk dilakukan, diantaranya melakukan ritual mandi jumat. Namun entah mengapa hari itu agak sedikit malas untuk beranjak dari kursi \u201cpelamunan\u201d tempat mencari inspirasi; mendadak [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-08-14T02:03:50+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281\",\"name\":\"Lebih Gilo dari Wong Gilo - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-08-14T02:03:50+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Lebih Gilo dari Wong Gilo\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Lebih Gilo dari Wong Gilo - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Lebih Gilo dari Wong Gilo - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Pagi menjelang siang di penghulu hari itu sudah menjadi kebiasaan untuk memuliakan hari penuh berkah ini. Ada sejumlah ritual keagamaan yang sunah untuk dilakukan, diantaranya melakukan ritual mandi jumat. Namun entah mengapa hari itu agak sedikit malas untuk beranjak dari kursi \u201cpelamunan\u201d tempat mencari inspirasi; mendadak [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2024-08-14T02:03:50+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281","name":"Lebih Gilo dari Wong Gilo - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2024-08-14T02:03:50+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=75281#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Lebih Gilo dari Wong Gilo"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75281","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=75281"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75281\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":75308,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/75281\/revisions\/75308"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=75281"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=75281"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=75281"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}