{"id":76275,"date":"2024-10-28T08:59:24","date_gmt":"2024-10-28T01:59:24","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275"},"modified":"2024-10-28T08:59:24","modified_gmt":"2024-10-28T01:59:24","slug":"sandi-tama-kawedhar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275","title":{"rendered":"Sandi Tama Kawedhar"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p><em>Sandi Tama Kawedhar<\/em> adalah sebuah istilah dalam bahasa Jawa, yang dapat dipecah menjadi beberapa kata dengan makna tertentu.<\/p>\n<p>Sandi berarti kode atau rahasia. Tama berarti \u201cutama\u201d atau \u201cyang diutamakan\u201d atau bisa juga berarti \u201cbaik\u201d. Kawedhar berarti \u201cterungkap\u201d atau \u201cterbuka\u201d atau \u201cdinyatakan dengan jelas\u201d \u201cdiungkapkan\u201d.<\/p>\n<p><em>Sandi Tama Kawedhar<\/em> kurang lebih bermakna \u201crahasia yang baik atau yang utama yang akan diungkapkan \u201c. Ini bisa diartikan sebagai sesuatu yang sebelumnya tersembunyi atau disimpan dengan baik, kemudian dibuka dan dapat diketahui atau dipahami oleh banyak orang atau kalangan tertentu.<\/p>\n<p>Sayangnya, tidak ada sumber pasti yang mendokumentasikan kapan istilah <em>Sandi Tama Kawedhar<\/em> pertama kali diungkapkan, karena konsep ini biasanya terkait dengan kebijaksanaan atau filosofi Jawa yang sering diwariskan secara lisan atau melalui karya sastra klasik, seperti dalam serat atau tembang. Namun banyak dalang wayang kulit\u00a0 yang mengaitkan saat Senapati Perang akan maju ke medan perang diberi pembekalan oleh para penasihat perang dengan nasehat, dan nasehat itu diberi judul Sandi Tama Kawedhar. Sebagai contoh nasihat Prabu Kresna kepada Adipati Karna saat kembali sebagai Duta Pamungkas Pandawa, dan mereka berdua bertemu di jalan menuju pulang.<\/p>\n<p>Berdasarkan penelusuran berbagai sumber <em>Sandi Tama Kawedhar<\/em> berisi panduan dan prinsip yang mengajarkan tentang pemahaman hidup, kesadaran diri, serta harmoni dengan alam semesta. Ajaran ini sering dipecah menjadi elemen-elemen inti, yang merupakan bagian dari perjalanan spiritual individu untuk mencapai \u201cKawedhar\u201d (pencerahan).<\/p>\n<p>Berikut ini adalah beberapa elemen utama yang sering terkandung didalam ajaran ini:<\/p>\n<p>Pertama, Pengendalian Diri. Menekankan pentingnya mengendalikan hawa nafsu, emosi, dan keinginan yang bisa menyesatkan. Pengendalian diri membantu seseorang tetap berada pada jalan kebenaran dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan bijaksana.<\/p>\n<p>Kedua, Kesadaran Batin. Mengajak seseorang untuk selalu sadar akan keberadaan dirinya dalam kehidupan ini. Kesadaran batin melibatkan introspeksi mendalam, mencari makna di balik setiap peristiwa, dan merasakan kehadiran Ilahi di dalam diri sendiri.<\/p>\n<p>Ketiga, Harmoni dengan Alam. Alam semesta dilihat sebagai manifestasi dari Sang Pencipta, sehingga menjaga keseimbangan dengan alam merupakan bagian dari keharmonisan hidup. Dalam <em>Sandi tama kawedhar<\/em>, manusia dianjurkan menghormati, melestarikan, dan hidup selaras dengan alam sekitar.<\/p>\n<p>Kempat, Keikhlasan dan Ketulusan. Menjalani hidup dengan tulus dan ikhlas, tanpa berharap imbalan atau balasan, adalah salah satu nilai luhur. Dengan keikhlasan, seseorang mampu mencapai kedamaian hati dan memupuk kebahagiaan yang sejati.<\/p>\n<p>Kelima, Pencerahan Spiritual. Pencarian pencerahan ini adalah proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran, di mana seseorang dituntun untuk menemukan tama tahu \u201ccahaya\u201d dalam dirinya sendiri. Ketika telah mencapai <em>kawedhar<\/em> (pencerahan), seseorang dapat memahami makna hidup dan menemukan kedamaian sejati.<\/p>\n<p>Keenam, Bakti dan Kebajikan. Menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan berbakti pada sesama serta Sang Pencipta adalah hal penting dalam ajaran ini.<\/p>\n<p>Kebajikan dilihat sebagai langkah nyata untuk memperbaiki diri sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitar.<\/p>\n<p>Ketujuh, Penerimaan dan Kerendahan Hati. Menerima segala ketentuan hidup dengan hati yang lapang dan penuh kerendahan hati. Dalam ajaran ini, penerimaan dianggap sebagai bentuk kebijaksanaan, di mana seseorang tidak memaksakan kehendak tetapi merangkul setiap pengalaman sebagai pembelajaran.<\/p>\n<p><em>Sandi Tama Kawedhar<\/em> adalah panduan hidup yang menuntun seseorang mencapai harmoni, kedamaian, dan kesadaran diri melalui pengendalian diri, ketulusan, dan kebijaksanaan. Ajaran ini mengarahkan individu untuk menemukan makna hidup yang lebih dalam dan kedamaian batin, selaras dengan alam dan kehendak Ilahi.<\/p>\n<p>Apa yang dilakukan Presiden Prabowo kepada para menterinya di Lembah Tidar adalah salah satu bentuk dari <em>Sandi Tama Kawedhar<\/em> versi Prabowo Subianto sebelum melaksanakan tugas. Pesan dalam bentuk oral dan keteladanan dilakukan dalam menyamakan persepsi; sehingga pesan utama yang selama ini ada pada \u201cangan\u201d presiden, diejawantahkan melalui kegiatan tersebut. Tinggal bagaimana para menterinya menangkap, menyerap, dan melaksanakan aspirasi sang presiden; tentu ini sangat personal banget.<\/p>\n<p>Mengevaluasi proses dan hasil tidak dapat kita lakukan hari ini, namun harus seturut perjalanan waktu serta moment yang ada dalam perjalanan kepemerintahan kabinet. Manakala dalam prosesnya ditemukan hal yang positif seyogianya disusun materi kurikulum dan ditunjuk lembaga penyelenggaranya, serta diwajibkan kepada kepala daerah terpilih untuk mengikuti kegiatan \u201cbela negara\u201d ini; agar tertanam semangat kejuangan untuk mendahulukan kepentingan negaranya dari pada pribadinya.<\/p>\n<p>Sebagai rakyat kita hanya bisa berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini. Semoga Tuhan memberikan kemudahan pada setiap urusan yang ada.<\/p>\n<p>Kita sudah lelah dengan adanya saling hujat, bahkan seolah-olah semua yang tidak sesuai dengan kemauan kita adalah musuh kita. Semoga dengan Sandi Tama yang telah diwedhar oleh Presiden Prabowo kepada para pembantunya akan berdampak terciptanya kesejukan dan kesantunan dalam berperilaku memimpin negeri ini. Salam Waras. (SJ)<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Sandi Tama Kawedhar adalah sebuah istilah dalam bahasa Jawa, yang dapat dipecah menjadi beberapa kata dengan makna tertentu. Sandi berarti kode atau rahasia. Tama berarti \u201cutama\u201d atau \u201cyang diutamakan\u201d atau bisa juga berarti \u201cbaik\u201d. Kawedhar berarti \u201cterungkap\u201d atau \u201cterbuka\u201d atau \u201cdinyatakan dengan jelas\u201d \u201cdiungkapkan\u201d. Sandi Tama [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-76275","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sandi Tama Kawedhar - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sandi Tama Kawedhar - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Sandi Tama Kawedhar adalah sebuah istilah dalam bahasa Jawa, yang dapat dipecah menjadi beberapa kata dengan makna tertentu. Sandi berarti kode atau rahasia. Tama berarti \u201cutama\u201d atau \u201cyang diutamakan\u201d atau bisa juga berarti \u201cbaik\u201d. Kawedhar berarti \u201cterungkap\u201d atau \u201cterbuka\u201d atau \u201cdinyatakan dengan jelas\u201d \u201cdiungkapkan\u201d. Sandi Tama [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2024-10-28T01:59:24+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275\",\"name\":\"Sandi Tama Kawedhar - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2024-10-28T01:59:24+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sandi Tama Kawedhar\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sandi Tama Kawedhar - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sandi Tama Kawedhar - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Sandi Tama Kawedhar adalah sebuah istilah dalam bahasa Jawa, yang dapat dipecah menjadi beberapa kata dengan makna tertentu. Sandi berarti kode atau rahasia. Tama berarti \u201cutama\u201d atau \u201cyang diutamakan\u201d atau bisa juga berarti \u201cbaik\u201d. Kawedhar berarti \u201cterungkap\u201d atau \u201cterbuka\u201d atau \u201cdinyatakan dengan jelas\u201d \u201cdiungkapkan\u201d. Sandi Tama [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2024-10-28T01:59:24+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275","name":"Sandi Tama Kawedhar - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2024-10-28T01:59:24+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=76275#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sandi Tama Kawedhar"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/76275","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=76275"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/76275\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":76288,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/76275\/revisions\/76288"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=76275"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=76275"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=76275"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}