{"id":77359,"date":"2025-02-05T08:44:38","date_gmt":"2025-02-05T01:44:38","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359"},"modified":"2025-02-05T08:44:38","modified_gmt":"2025-02-05T01:44:38","slug":"kalau-yang-tahu-pada-nggak-mau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359","title":{"rendered":"Kalau yang Tahu, Pada Nggak Mau"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>Beberapa waktu yang lalu tim dosen program studi pascarajana mengantarkan mahasiswa ke lapangan untuk melakukan Pembelajaran Lapangan atau PBL di wilayah perbatasan kota dengan salah satu kabupaten tetangga. Sejumlah dosen menjadi pendamping mahasiswa untuk menemukenali persoalan kesehatan pada masyarakat, dengan diantar oleh kepala dusun dan pendamping kesehatan masyarakat.<\/p>\n<p>Dalam perjalanan, salah seorang pimpinan lembaga berkomentar saat berdiskusi yang kaitan dengan persoalan pembangunan bangsa. Beliau berkata \u201cKita banyak memiliki orang pandai, alumni dari perguruan tinggi pemerintahan dalam negeri, tetapi mereka tidak suka tampil mengambil alih pimpinan tertinggi melalui pemilihan untuk daerahnya\u201d.<\/p>\n<p>Tatkala disesak apa sebenarnya alasan mereka tidak mau tampil itu, ternyata jawabannya sederhana \u201cKarena yang bersangkutan mengetahui persis persoalan yang ada di dalam pemerintahan, dan persoalan itu tidak mudah untuk diselesaikan, justru kebanyakan yang ada menunda masalah, atau bisa jadi masalahnya dipelihara\u201d.<\/p>\n<p>Jawaban-jawaban cerdas dan akademis itu menjadi renungan yang dalam, karena jika dirunut secara sistematis, kebanyakan orang-orang pandai dan mengetahui persoalan daerah itu lebih memilih untuk berada di zona nyaman, dengan meniti karier berjenjang saja, tanpa harus berpeluh-peluh mengikuti pola pemilihan pimpinan (daerah). Dengan kata lain mereka yang tampil dalam pemilihan itu sebenarnya orang yang tidak paham akan persoalan kepemerintahan, hanya bermodal <em>\u201cnekat\u201d,<\/em> mereka maju ikut kontestasi pemilihan. Sementara jargon \u201cUntuk memperbaiki, membangun, meneruskan\u201d itu adalah konsumsi politik kepemiluan saja. Karena begitu didesak apa yang akan diperbaiki, apa yang akan dibangun, dan apa yang akan diteruskan; yang keluar adalah jawaban diplomatis untuk menghindar dari debat, karena jika sampai debat akan tampak \u201cketidakpahamannya\u201d akan persoalan. Hal ini terbukti ada wilayah daerah yang tidak tersentuh perbaikan jalan, sekalipun sudah entah berapa kali ganti pimpinan daerah.<\/p>\n<p>Analogi ini tentu tidak selamanya benar, akan tetapi dapat dijadikan referensi pemikiran bersama, karena banyak fakta menunjukkan ada pimpinan daerah yang hanya mengandalkan sekretaris daerahnya jika berkaitan dengan kepemerintahan, sementara yang bersangkutan hanya berfikir bagaimana mengembalikan modal saat maju berkontestasi, dan melaju lagi di periode berikutnya. Bisa juga bagaimana ada keluarganya yang bisa didorong untuk maju menggantikannya. Sehingga otaknya dipenuhi dengan strategi pemenangan dan pelanggengan kekuasaan, bukan memikirkan nasib dari yang dipimpinannya. Jika ada kepala daerah yang berpikir <em>full<\/em> untuk daerahnya semata-mata sebagai pengabdian dan mencari amal sholeh untuk kepentingan akhiratnya, itu berarti berkah dari Tuhan untuk daerah itu. Sayangnya yang namanya berkah itu tidak banyak; justru yang ditemukan pimpinan daerah memfasilitasi personal untuk ritual keagamaan sebagian tokoh agar dapat dijadikan <em>vote getter<\/em> bagi keberlangsungan kepemimpinannya ke depan.<\/p>\n<p>Kondisi \u201cKalau tahu pasti tidak mau\u201d akan terasa manakala pencalonan mengalami kekalahan karena banyak dipecundangi. Hal ini sangat kentara pada waktu kontestasi politik yang baru berlalu. Banyak diantara mereka yang mengalami kekalahan merasa \u201cdi luar dugaannya\u201d; hal ini jika dikalkulasi dengan dana, tenaga, dan pendukung yang ada. Mereka tidak menyadari \u201cfaktor keberuntungan\u201d itu ternyata tidak hanya pada nasib baik saja, akan tetapi juga ada faktor lain, termasuk diantaranya \u201ctingkat penghianatan pendukung\u201d. Karena mereka yang mengetahui bagaimana lika-liku perjalanan kepemilihan, onak dan duri perjalanan, serta faktor \u201cX\u201d yang lain; dari awal sudah berhitung \u201cmaju\u201d atau \u201ctidak\u201d. Di sini tampaknya kecerdasan intelektual saja tidak cukup, tetapi harus didukung oleh kecerdasan emosional, dan kemampuan \u201cmembaca\u201d lapangan dengan jeli itu sangat diperlukan, bahkan bisa jadi intuisi juga ikut memberi kontribusi.<\/p>\n<p>Sebagai contoh, ada seorang birokrat memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni, bergelar doktor sungguh-sungguh karena kuliah sungguh-sungguh, pangkat dan pengalaman sangat mumpuni, pernah menjabat berbagai jabatan penting dari yang paling rendah sampaai yang paling tinggi untuk level daerah, peluang untuk maju ke jenjang karier tertinggi ada. Namun begitu yang bersangkutan mengetahui bahwa finalisasi jabatan itu dipilih oleh suatu aturan pemilihan yang didominasi oleh keinginan yang akan menggunakan; dengan sertamerta yang bersangkutan \u201cmenghindar diri\u201d untuk tidak masuk pada kontestasi pemilihan jabatan, tentu dengan cara yang sangat elegan, karena yang bersangkutan paham jika nekat ikut masuk, maka hanya akan mendapatkan \u201cmalu\u201d saja. Ternyata kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosionalnya mampu membaca situasi dengan baik dan benar.<\/p>\n<p>Pertanyaan lanjut apa yang akan terjadi pada negeri ini jika para orang pandai tidak mau ambil kesempatan karena dari jauh mereka sudah tahu bahwa kesempatan itu bukan untuknya. Bisa jadi mereka akan lebih nyaman menjadi warga dunia, dibandingkan jadi warga negara. Kalau ini yang terjadi maka diaspora Indonesia makin banyak adanya. Wallahuaklam wisawab. Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Beberapa waktu yang lalu tim dosen program studi pascarajana mengantarkan mahasiswa ke lapangan untuk melakukan Pembelajaran Lapangan atau PBL di wilayah perbatasan kota dengan salah satu kabupaten tetangga. Sejumlah dosen menjadi pendamping mahasiswa untuk menemukenali persoalan kesehatan pada masyarakat, dengan diantar oleh kepala dusun dan pendamping [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-77359","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Kalau yang Tahu, Pada Nggak Mau - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kalau yang Tahu, Pada Nggak Mau - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Beberapa waktu yang lalu tim dosen program studi pascarajana mengantarkan mahasiswa ke lapangan untuk melakukan Pembelajaran Lapangan atau PBL di wilayah perbatasan kota dengan salah satu kabupaten tetangga. Sejumlah dosen menjadi pendamping mahasiswa untuk menemukenali persoalan kesehatan pada masyarakat, dengan diantar oleh kepala dusun dan pendamping [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-02-05T01:44:38+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359\",\"name\":\"Kalau yang Tahu, Pada Nggak Mau - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-02-05T01:44:38+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kalau yang Tahu, Pada Nggak Mau\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kalau yang Tahu, Pada Nggak Mau - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Kalau yang Tahu, Pada Nggak Mau - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Beberapa waktu yang lalu tim dosen program studi pascarajana mengantarkan mahasiswa ke lapangan untuk melakukan Pembelajaran Lapangan atau PBL di wilayah perbatasan kota dengan salah satu kabupaten tetangga. Sejumlah dosen menjadi pendamping mahasiswa untuk menemukenali persoalan kesehatan pada masyarakat, dengan diantar oleh kepala dusun dan pendamping [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-02-05T01:44:38+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359","name":"Kalau yang Tahu, Pada Nggak Mau - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2025-02-05T01:44:38+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=77359#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kalau yang Tahu, Pada Nggak Mau"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/77359","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=77359"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/77359\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":77360,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/77359\/revisions\/77360"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=77359"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=77359"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=77359"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}