{"id":78047,"date":"2025-04-06T09:32:52","date_gmt":"2025-04-06T02:32:52","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047"},"modified":"2025-04-09T09:34:51","modified_gmt":"2025-04-09T02:34:51","slug":"sumeleh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047","title":{"rendered":"&#8220;Sumeleh&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>Beberapa hari lalu ada seorang <em>\u201cpiyantun ngayojokarto hadiningrat\u201d<\/em>\u00a0 yang sudah cukup lama kenal dan tinggal di daerah ini; pada kesempatan itu beliau mengirimkan satu vidio yang berisi bagaimana sikap hidup <em>\u201csumeleh\u201d<\/em> dalam budaya Jawa. Tentu saja media itu sering diputar untuk merenungkan apa esensi pesan yang disampaikan; terutama yang berkaitan dengan pengenalan pandangan hidup sekaligus pandangan batin akan ciptaan Yang Maha Kuasa.<\/p>\n<p>Menarik untuk dicermati apa itu <em>sumeleh<\/em> dalam pemahaman filsafat manusia. Berdasarkan penelusuran digital ditemukan penjelasan esensial sebagai berikut: dalam filsafat manusia (Jawa), <em>\u201csumeleh\u201d<\/em> adalah konsep penting yang menggambarkan sikap pasrah dengan penuh kesadaran dan ketulusan kepada kehendak Tuhan (Gusti Allah), tanpa kehilangan semangat hidup atau tanggung jawab pribadi.<\/p>\n<p>Secara etimologis dan filosofis, <em>sumeleh<\/em> berasal dari kata dasar <em>seleh<\/em> yang berarti \u201cmeletakkan\u201d atau \u201cmenyerahkan\u201d. Maka <em>sumeleh<\/em> dapat dimaknai sebagai meletakkan diri dalam kepasrahan total kepada kehendak Ilahi, namun tetap berusaha dengan ikhlas dan tidak terikat hasil.<\/p>\n<p>Dengan demikian, esensi dari <em>sumeleh<\/em> adalah: pasrah aktif \u2013 bukan menyerah tanpa usaha, tapi berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Oleh sebab itu dalam pandangan filsafat Jawa, konsep tawakal lekat dengan kesadaran rasa (rasa sejati). Salah satu cirinya adalah mewujudkan <em>inner peace<\/em> (ketenangan batin) \u2013 orang yang <em>sumeleh<\/em> tidak mudah galau, tidak larut dalam kekhawatiran, karena percaya semua sudah dalam kendali Tuhan. Oleh karenanya diperlukan sikap rendah hati \u2013 mengakui keterbatasan diri di hadapan yang Maha Kuasa.<\/p>\n<p>Konsep <em>sumeleh<\/em> dalam filsafat Jawa memang tidak berdiri sendiri\u2014ia erat kaitannya dengan prinsip-prinsip lain seperti <em>nerima, legawa,<\/em> dan <em>eling<\/em> lan <em>waspada.<\/em> Semuanya saling mendukung dan membentuk satu kesatuan nilai hidup yang dalam.<\/p>\n<p>Hubungan <em>sumeleh<\/em> dengan <em>nerima, legawa,<\/em> serta <em>eling lan waspada<\/em> adalah: <em>nerima (nrimo ing pandum)<\/em> \u2013 menerima dengan ikhlas apa yang diberikan oleh Tuhan. <em>Nerima<\/em> adalah pondasi dari <em>sumeleh.<\/em> Orang yang <em>nerima<\/em> tidak protes terhadap nasib atau takdir, tetapi menerimanya sebagai bagian dari kehendak Ilahi. Tetapi bukan berarti pasif\u2014ia tetap berusaha, hanya saja hatinya tidak <em>ngoyo<\/em> dan tidak serakah. Hubungannya dengan <em>sumeleh<\/em> adalah: orang tidak bisa <em>sumeleh<\/em> kalau belum bisa <em>nerima. Sumeleh<\/em> lahir dari hati yang <em>nerima.<\/em><\/p>\n<p>Sementara <em>legawa<\/em> (ikhlas lahir batin) \u2013 melepaskan dengan lapang dada. <em>Legawa<\/em> adalah kemampuan untuk tidak terikat, termasuk terhadap hasil, orang lain, bahkan ego sendiri. Oleh karena itu dalam hidup, kita harus siap menerima kehilangan, kegagalan, atau perlakuan tidak adil tanpa dendam. Hubungannya dengan <em>sumeleh: sumeleh<\/em> butuh <em>legawa<\/em> agar tidak terbebani oleh kekecewaan atau penyesalan. Dengan <em>legawa,<\/em> kita bisa menyerahkan segala sesuatu dengan ringan.<\/p>\n<p>Sedangkan <em>eling lan<\/em> waspada \u2013 selalu ingat pada Tuhan dan waspada terhadap godaan duniawi. Penjelasannya <em>eling<\/em> berarti sadar\u2014bahwa hidup ini fana, bahwa kita hidup dalam skenario Tuhan. Waspada artinya hati-hati, waspada terhadap hawa nafsu, ambisi berlebih, dan ego.<\/p>\n<p>Hubungannya dengan <em>sumeleh:<\/em> agar bisa <em>sumeleh,<\/em> seseorang harus punya kesadaran spiritual <em>(eling)<\/em> dan tidak lengah dalam hidup (waspada). Tanpa ini, <em>sumeleh<\/em> bisa jadi sekadar alasan untuk malas atau pasrah buta.<\/p>\n<p><em>Sumeleh<\/em> = <em>Nerima<\/em> + Legawa + <em>Eling<\/em> + Waspada. Keempatnya adalah laku batin yang menuntun seseorang menuju ketenangan jiwa, kebijaksanaan, dan harmoni dengan alam dan Tuhan. Namun bukan berarti <em>sumeleh<\/em> adalah hasil jumlah dari keempat unsur; tetapi lebih kepada terintegrasinya antarunsur keempat hal tadi diberi nama <em>sumeleh.<\/em><\/p>\n<p>Oleh karena itu, sangat salah dalam pandangan filsafat jika konsep di atas dipahamkan sebagai <em>\u201cklenik\u201d,<\/em> dan itu menunjukkan kedangkalan sekaligus kesesatan berfikir.<\/p>\n<p>Pertanyaannya adalah bagaimana membumikan <em>sumeleh<\/em> itu dalam laku sehari-hari. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan mendadak atau seketika; akan tetapi lebih kepada proses mengendapnya rasa berserah kepada yang Maha Kuasa saat manembah melalui syariat yang diajarkan agama secara sempurna dan sungguh-sungguh. Di sini posisi shalat kita itu dalam pandangan filsafat adalah tiang agama, dan manakala shalatnya khusuk, maka sejatinya kita sudah sumeleh kepada kodratnya Alloh Sang Maha Pencipta. Tentu pendapat ini masih sangat debateble jika dikaji dari berbagai disiplin ilmu, dan itu sah-sah saja, akan tetapi dengan catatan \u201ctidak perlu merasa benar sendiri\u201d. Karena kebenaran pada wilayah filsafat berbeda dengan wilayahnya ilmu pengetahuan. Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Beberapa hari lalu ada seorang \u201cpiyantun ngayojokarto hadiningrat\u201d\u00a0 yang sudah cukup lama kenal dan tinggal di daerah ini; pada kesempatan itu beliau mengirimkan satu vidio yang berisi bagaimana sikap hidup \u201csumeleh\u201d dalam budaya Jawa. Tentu saja media itu sering diputar untuk merenungkan apa esensi pesan yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-78047","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>&quot;Sumeleh&quot; - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"&quot;Sumeleh&quot; - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Beberapa hari lalu ada seorang \u201cpiyantun ngayojokarto hadiningrat\u201d\u00a0 yang sudah cukup lama kenal dan tinggal di daerah ini; pada kesempatan itu beliau mengirimkan satu vidio yang berisi bagaimana sikap hidup \u201csumeleh\u201d dalam budaya Jawa. Tentu saja media itu sering diputar untuk merenungkan apa esensi pesan yang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-04-06T02:32:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-04-09T02:34:51+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047\",\"name\":\"\\\"Sumeleh\\\" - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-04-06T02:32:52+00:00\",\"dateModified\":\"2025-04-09T02:34:51+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"&#8220;Sumeleh&#8221;\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"\"Sumeleh\" - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"\"Sumeleh\" - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Beberapa hari lalu ada seorang \u201cpiyantun ngayojokarto hadiningrat\u201d\u00a0 yang sudah cukup lama kenal dan tinggal di daerah ini; pada kesempatan itu beliau mengirimkan satu vidio yang berisi bagaimana sikap hidup \u201csumeleh\u201d dalam budaya Jawa. Tentu saja media itu sering diputar untuk merenungkan apa esensi pesan yang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-04-06T02:32:52+00:00","article_modified_time":"2025-04-09T02:34:51+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047","name":"\"Sumeleh\" - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2025-04-06T02:32:52+00:00","dateModified":"2025-04-09T02:34:51+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78047#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"&#8220;Sumeleh&#8221;"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78047","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=78047"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78047\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":78049,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78047\/revisions\/78049"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=78047"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=78047"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=78047"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}