{"id":78075,"date":"2025-04-14T08:45:36","date_gmt":"2025-04-14T01:45:36","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075"},"modified":"2025-04-14T08:45:36","modified_gmt":"2025-04-14T01:45:36","slug":"membakar-suratnya-sendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075","title":{"rendered":"Membakar Suratnya Sendiri"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>Beberapa waktu lalu saat turun dari kegiatan ritual subuh di mushala, berbincang dengan sesama jamaah dengan topik \u201cikhlas\u201d. Tentu saja karena beragam pengetahuan dan kedalaman masing-masing pemahaman yang berbeda; maka pendefinisian tentang ikhlas ini beragam. Saat sampai di rumah, lanjut untuk menelusuri makna ikhlas yang sesungguhnya itu seperti apa. Hasil penelusuran digital ditemukan uraian yang sangat menarik jika dilihat dari konsep filsafat.<\/p>\n<p>Imam Al-Ghazali merumuskan tentang ikhlas dengan suatu simbol \u2014 \u201cseperti orang yang membakar suratnya sendiri setelah mengirimkannya, agar tak ada yang tahu selain Sang Maha Mengetahui dan tujuan surat itu dilayangkan\u201d \u2014 adalah simbolis dan penuh makna batin. Bisa dibayangkan seseorang menulis surat untuk seseorang yang dicintainya. Setelah dikirimkan, kemudian salinan surat itu dibakar, agar tak ada yang tahu isi surat itu \u2014 hanya si pengirim dan si penerima.<\/p>\n<p>Jika konteks ini disimbolkan kepada kita saat berdo\u2019a maka, surat itu adalah amal perbuatan atau do\u2019a, dan si penerima adalah Tuhan. Maka, membakar surat sama dengan menghapus jejak niat untuk dipuji, diingat, atau dihargai oleh siapa pun, selain Tuhan. Jika kita maknai secara filosofis, berarti kita sedang menutup ruang ego. Maknanya, jika kita menyimpan salinan surat (amal), bisa jadi kita ingin membanggakannya di masa depan \u2014 entah pada orang lain, atau pada diri sendiri. Oleh karena itu Imam Ghazali mengajarkan: \u201clepaskan semua itu. Jangan mengklaim kebaikanmu\u201d.<\/p>\n<p>Hal ini juga menunjukkan bahwa kita dapat melampaui kesadaran sosial; maksudnya dunia sosial penuh dengan pujian, validasi, suka\/tidak suka \u2014 tapi ikhlas itu berlaku di ruang batin, sunyi dari keramaian. Dengan kata lain saat kita \u201cmembakar surat\u201d, berarti kita menutup pintu dari keinginan dinilai oleh siapa pun kecuali \u201cDia\u201d.<\/p>\n<p>Hal ini juga menunjukkan totalitas ketulusan; maksudnya Ikhlas itu bukan setengah-setengah. Membakar surat berarti juga kita tidak menyisakan bukti, tidak ingin diakui \u2014 bahkan oleh diri kita sendiri. Oleh sebab itu pada posisi ini kita harus hati hati, bisa jadi dimana kita beranggapan bahkan berucap bahwa \u201caku telah ikhlas\u201d; itupun bisa jadi jebakan ego, sekaligus sesungguhnya menunjukkan ketidakihlasan.<\/p>\n<p>Lebih jauh para sufi mengatakan bahwa ikhlas itu makna spiritualnya: mengandung laku fana (lenyapnya aku) \u2014 bahwa dalam amal sejati, \u201caku tak penting, yang penting adalah Dia\u201d. Oleh karena itu ada ungkapan sufi yang terkenal mengatakan :\u201dYa Allah, aku berbuat bukan karena aku mulia, tapi karena Engkau pantas menerima segalanya.\u201d<\/p>\n<p>Oleh sebab itu jika kita refleksikan dengan sejumlah pertanyaan: apakah kita benar-benar rela berbuat baik tanpa disadari siapa pun termasuk diri kita?. Bisakah kita tetap berbuat baik walau tak pernah ada yang tahu, mengingat, atau membalas?. Tentu jawabannya sangat subyektif dan sangat personal.<\/p>\n<p>Salah satu nukilan tentang ini adalah satu pernyataan sufi dari Abu Yazid al-Bistami yang mengatakan \u201corang yang masih melihat dirinya ikhlas, sejatinya belum ikhlas.\u201d Yang maknanya: selama masih merasa bahwa \u201cakulah yang ikhlas\u201d, itu berarti masih ada aku di sana. Ikhlas sejati adalah saat kau beramal dan bahkan lupa bahwa dirinya telah beramal. Dengan kata lain amal yang ikhlas adalah amal yang tak diketahui siapa pun, bahkan oleh diri sendiri.<\/p>\n<p>Oleh karenanya, dalam jalan sufi, seseorang tidak mengejar ikhlas, karena jika kita mengejarnya, berarti kita masih mengejar sesuatu. Sementara yang kita kejar adalah <em>mahabbah<\/em> (cinta) kepada Allah. Dari cinta yang tulus, muncullah amal yang ikhlas \u2014 tanpa dipaksa, tanpa dibuat-buat. Oleh karenanya R\u0101bi\u02bfah al-\u02bfAdawiyyah berkata \u201cAku menyembah-Mu bukan karena takut neraka, dan bukan juga karena ingin surga, tapi karena aku mencintai-Mu.\u201d<\/p>\n<p>Ikhlas adalah keadaan batin yang hanya bisa diraih lewat cinta, kehancuran ego, dan kesadaran bahwa tiada daya selain dari-Nya. Oleh karena itu \u201camalmu bukan milikmu. Bila kau anggap itu milikmu, maka kau telah mengotorinya.\u201d Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Beberapa waktu lalu saat turun dari kegiatan ritual subuh di mushala, berbincang dengan sesama jamaah dengan topik \u201cikhlas\u201d. Tentu saja karena beragam pengetahuan dan kedalaman masing-masing pemahaman yang berbeda; maka pendefinisian tentang ikhlas ini beragam. Saat sampai di rumah, lanjut untuk menelusuri makna ikhlas yang sesungguhnya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-78075","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Membakar Suratnya Sendiri - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Membakar Suratnya Sendiri - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Beberapa waktu lalu saat turun dari kegiatan ritual subuh di mushala, berbincang dengan sesama jamaah dengan topik \u201cikhlas\u201d. Tentu saja karena beragam pengetahuan dan kedalaman masing-masing pemahaman yang berbeda; maka pendefinisian tentang ikhlas ini beragam. Saat sampai di rumah, lanjut untuk menelusuri makna ikhlas yang sesungguhnya [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-04-14T01:45:36+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075\",\"name\":\"Membakar Suratnya Sendiri - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-04-14T01:45:36+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Membakar Suratnya Sendiri\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Membakar Suratnya Sendiri - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Membakar Suratnya Sendiri - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Beberapa waktu lalu saat turun dari kegiatan ritual subuh di mushala, berbincang dengan sesama jamaah dengan topik \u201cikhlas\u201d. Tentu saja karena beragam pengetahuan dan kedalaman masing-masing pemahaman yang berbeda; maka pendefinisian tentang ikhlas ini beragam. Saat sampai di rumah, lanjut untuk menelusuri makna ikhlas yang sesungguhnya [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-04-14T01:45:36+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075","name":"Membakar Suratnya Sendiri - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2025-04-14T01:45:36+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78075#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Membakar Suratnya Sendiri"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78075","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=78075"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78075\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":78092,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78075\/revisions\/78092"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=78075"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=78075"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=78075"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}