{"id":78475,"date":"2025-05-26T09:06:12","date_gmt":"2025-05-26T02:06:12","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475"},"modified":"2025-05-26T09:06:12","modified_gmt":"2025-05-26T02:06:12","slug":"remuk-njero","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475","title":{"rendered":"Remuk Njero"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>&#8211;<\/p>\n<p>Malam mendekati larut di komplek perumahan yang asri itu, tampak dari kejauhan seorang kakek sedang duduk sendiri di teras rumahnya. Beliau memandang jauh ke depan, entah apa yang dilihatnya. Sejurus kemudian penulis menghampiri beliau dan menegur sang kakek, \u201cBapak belum tidur, tumben biasanya hari begini sudah gelap rumah\u201d. Kakek menjawab tampak sekenanya \u201cEntah kenapa beberapa malam ini aku sulit tidur\u201d. Akhirnya kami berbincang, karena beliau dikenal warga sebagai orang yang sangat menjunjung tinggi sopan santun, maka bahasa yang digunakanpun menggunakan <em>\u201ckromo inggil\u201d;<\/em> yaitu tataran bahasa jawa halus yang dipakai untuk lapisan masyarakat tertentu.<\/p>\n<p>Dari hasil perbincangan yang panjang lebar itu, ternyata sang kakek ini sebenarnya sedang \u201cremuk <em>njero\u201d,<\/em> dan beliau menutup perbincangan dengan kalimat \u201cSaya tinggal menunggu akhir dari perjalanan takdir\u201d. Saat bubar berbincang, jadi ingat istilah remuk <em>njero<\/em> dalam percaturan keseharian orang Jawa.<\/p>\n<p>Dalam budaya Jawa, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cermin dari perasaan, nilai, dan cara pandang hidup. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Jawa sering kali sarat makna dan mengandung filosofi yang dalam. Salah satu ungkapan yang memiliki daya ungkap emosional luar biasa adalah remuk <em>njero, <\/em>yang secara harfiah berarti \u201chancur di dalam.\u201d Ungkapan ini menggambarkan kondisi seseorang yang mengalami luka batin, penderitaan emosional yang dalam, namun tidak ditampakkan secara lahiriah.<\/p>\n<p>Ungkapan remuk <em>njero <\/em>seringkali digunakan untuk menyatakan perasaan kecewa, sedih, atau terluka secara psikologis dan emosional, namun tetap menjaga ketenangan di permukaan. Hal ini mencerminkan nilai budaya Jawa yang menjunjung tinggi sikap <em>ngempet<\/em> (menahan diri), sabar, dan tata krama dalam menyikapi masalah. Orang Jawa diajarkan untuk tidak mudah menumpahkan emosi, apalagi di hadapan umum. Mereka lebih memilih untuk menyembunyikan luka dan kesedihan mereka, menjaga harmoni sosial dan menghindari konflik langsung. Namun di balik sikap yang terlihat tenang itu, ada kemungkinan besar seseorang sedang menanggung beban emosional yang sangat berat. Itulah yang disebut dengan remuk <em>njero.<\/em> Seseorang bisa saja tersenyum, bersikap ramah, bahkan tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa, padahal di dalam dirinya sedang terjadi kehancuran emosional yang tidak kasatmata.<\/p>\n<p>Dari sudut pandang psikologi, kondisi remuk <em>njero<\/em> bisa dikaitkan dengan fenomena <em>emotional suppression<\/em> atau penekanan emosi. Seseorang yang terlalu sering memendam perasaan, terutama perasaan negatif seperti marah, kecewa, dan sedih, dapat mengalami tekanan batin yang sangat berat. Jika dibiarkan tanpa saluran ekspresi yang sehat, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, bahkan trauma.<\/p>\n<p>Di sinilah pentingnya pemahaman terhadap kesehatan mental dalam budaya yang menekankan ketenangan dan ketertiban. Ketika seseorang merasa bahwa menunjukkan kesedihan atau penderitaan dianggap sebagai kelemahan, ia akan memilih untuk menyimpan semuanya di dalam hati. Sayangnya, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengolah emosi yang kuat secara mandiri. Banyak dari mereka akhirnya merasa terjebak, kesepian, dan tak berdaya.<\/p>\n<p>Remuk <em>njero<\/em> bisa menjadi titik balik atau alarm bahwa seseorang membutuhkan perhatian lebih. Ini bukan tentang kelemahan atau ketidakmampuan mengatasi masalah, melainkan tentang pentingnya memiliki ruang untuk berbicara, untuk didengar, dan untuk sembuh. Dalam masyarakat yang semakin terbuka terhadap isu kesehatan mental, penting bagi kita untuk menciptakan ruang yang aman bagi siapa pun yang sedang mengalami kondisi ini.<\/p>\n<p>Budaya Jawa yang penuh dengan nuansa kesantunan dan harmoni telah membentuk karakter masyarakat yang kuat dalam menghadapi kesulitan. Namun, kekuatan tersebut kadang menjadi pedang bermata dua. Sikap menahan perasaan atau <em>ngempet<\/em> sering kali menyebabkan seseorang merasa sendirian dalam penderitaannya. Orang-orang sekitar pun tidak menyadari bahwa seseorang yang tampak baik-baik saja sebenarnya sedang berjuang keras melawan luka batinnya.<\/p>\n<p>Dalam konteks ini, ungkapan remuk <em>njero<\/em> seharusnya menjadi pengingat bahwa tidak semua penderitaan terlihat di permukaan. Kita perlu lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita. Terkadang, satu senyuman yang kita lihat bukanlah tanda kebahagiaan, tetapi cara seseorang menyembunyikan kesedihannya. Kita juga perlu merefleksikan bagaimana budaya bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menjaga tata krama dan kesopanan tetap penting, tetapi mengungkapkan perasaan secara sehat juga tak kalah pentingnya. Budaya harus menjadi alat untuk membebaskan, bukan mengekang. Maka, saat seseorang merasa remuk <em>njero,<\/em> seharusnya ada ruang bagi mereka untuk bicara, untuk didengarkan, dan untuk ditolong.<\/p>\n<p>Remuk <em>njero<\/em> bukan hanya ungkapan yang menggambarkan kesedihan, melainkan juga mencerminkan sisi terdalam dari jiwa manusia. Dalam budaya Jawa, ungkapan ini menjadi simbol kekuatan dalam kelembutan, keteguhan dalam diam. Marilah kita lebih peka, lebih peduli, dan lebih terbuka terhadap penderitaan yang tidak kasatmata seperti ini. Karena bisa jadi, orang yang paling sering tersenyum adalah orang yang hatinya paling remuk <em>njero. <\/em>Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Malam mendekati larut di komplek perumahan yang asri itu, tampak dari kejauhan seorang kakek sedang duduk sendiri di teras rumahnya. Beliau memandang jauh ke depan, entah apa yang dilihatnya. Sejurus kemudian penulis menghampiri beliau dan menegur sang kakek, \u201cBapak belum tidur, tumben biasanya hari begini sudah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-78475","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Remuk Njero - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Remuk Njero - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Malam mendekati larut di komplek perumahan yang asri itu, tampak dari kejauhan seorang kakek sedang duduk sendiri di teras rumahnya. Beliau memandang jauh ke depan, entah apa yang dilihatnya. Sejurus kemudian penulis menghampiri beliau dan menegur sang kakek, \u201cBapak belum tidur, tumben biasanya hari begini sudah [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-05-26T02:06:12+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475\",\"name\":\"Remuk Njero - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-05-26T02:06:12+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Remuk Njero\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Remuk Njero - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Remuk Njero - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung &#8211; Malam mendekati larut di komplek perumahan yang asri itu, tampak dari kejauhan seorang kakek sedang duduk sendiri di teras rumahnya. Beliau memandang jauh ke depan, entah apa yang dilihatnya. Sejurus kemudian penulis menghampiri beliau dan menegur sang kakek, \u201cBapak belum tidur, tumben biasanya hari begini sudah [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-05-26T02:06:12+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475","name":"Remuk Njero - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2025-05-26T02:06:12+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78475#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Remuk Njero"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78475","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=78475"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78475\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":78480,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78475\/revisions\/78480"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=78475"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=78475"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=78475"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}