{"id":78768,"date":"2025-06-16T09:27:30","date_gmt":"2025-06-16T02:27:30","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768"},"modified":"2025-06-16T09:27:30","modified_gmt":"2025-06-16T02:27:30","slug":"tetirah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768","title":{"rendered":"Tetirah"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>\u2013<\/p>\n<p>Menghubungi seorang sohib jurnalis senior untuk berbagi kabar, ternyata beliau sedang melakukan <em>\u201ctetirah\u201d<\/em> di tempat keluarga yang kebetulan tidak jauh dari tanah kelahiran beliau. Diksi ini sudah lama sekali tidak terdengar di telinga penulis, mungkin sudah lebih dari satu dekade, karena istilah ini untuk telinga orang yang berbudaya Jawa memiliki makna magis tersendiri.<\/p>\n<p>Berdasarkan penelusuran literatur digital ditemukan definisi operasional dalam konsep filosofi Jawa, menjelaskan bahwa <em>\u201ctetirah\u201d<\/em> memiliki makna yang cukup dalam, tidak hanya secara harfiah tetapi juga secara simbolik dan spiritual.<br \/>\nSecara harfiah, <em>tetirah<\/em> berarti beristirahat sejenak atau menyepi, biasanya dengan tujuan untuk memulihkan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Dalam konteks modern, <em>tetirah<\/em> sering digunakan untuk menyebut rehat dari rutinitas atau menjauh dari keramaian demi mencari ketenangan.<\/p>\n<p>Sementara dalam falsafah Jawa, <em>tetirah<\/em> mencerminkan proses introspeksi dan penjernihan batin. Ini sejalan dengan nilai-nilai spiritualitas Jawa yang menghargai kontemplasi (merenung), laku prihatin (hidup sederhana dan menahan diri), <em>manembah<\/em> (mendekatkan diri pada Tuhan). Pada pandangan filsafat Jawa, <em>tetirah<\/em> adalah momen ketika seseorang <em>\u201cmunggah kawruh\u201d<\/em> (menaikkan pengetahuan dan kesadaran), dengan cara menarik diri sejenak dari dunia luar untuk mendengar suara batinnya sendiri.<\/p>\n<p>Dalam praktiknya, <em>tetirah<\/em> bisa berupa retret ke alam (gunung, hutan, tempat sepi), <em>tapa brata<\/em> (sejenis meditasi atau lelaku spiritual), menepi ke padepokan atau pesantren, atau sekadar diam di rumah dan mengurangi interaksi sosial. Adapun tujuan utama dari <em>tetirah<\/em> dalam budaya Jawa adalah mencapai harmoni antara jagad <em>cilik<\/em> (diri) dan jagad <em>gede<\/em> (alam\/semesta), menemukan jati diri sejati <em>(sangkan paraning dumadi),<\/em> menjernihkan hati dari hawa nafsu, ego, dan kegaduhan duniawi.<\/p>\n<p>Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dikejar target, manusia kerap terjebak dalam pusaran aktivitas yang seolah-olah tanpa henti. Waktu terasa sempit, ruang terasa penuh, dan pikiran terus bergerak bahkan saat tubuh diam. Kita hidup dalam era produktivitas, di mana diam sering kali dianggap malas, dan rehat dinilai sebagai kelemahan. Namun dalam filosofi Jawa laku <em>tetirah<\/em> adalah jawabannya. <em>Tetirah<\/em> bukan sekadar istirahat akan tetapi adalah rehat yang penuh kesadaran batin; sebuah keputusan untuk menepi, bukan karena kalah atau lelah, melainkan karena sadar bahwa diri ini butuh ruang untuk kembali utuh. Dalam budaya Jawa, <em>tetirah<\/em> adalah bentuk laku proses spiritual dan emosional untuk menyelami diri, menenangkan batin, dan menemukan kembali arah hidup yang sejati.<\/p>\n<p>Hari-hari kita dipenuhi dengan kebisingan: suara mesin, notifikasi dari gawai, percakapan yang tak putus, dan tekanan dari ekspektasi luar. Kita terus bergerak, berpacu dengan waktu, mengejar target, dan memenuhi peran sebagai pekerja, anak, orang tua, pasangan, teman. Namun, pertanyaan kemudian muncul kapan terakhir kali kita duduk dalam diam dan benar-benar mendengar suara hati kita sendiri?.<\/p>\n<p><em>Tetirah<\/em> muncul sebagai bentuk jawaban atas kerinduan akan sunyi. Ia bukan eskapisme, bukan pelarian dari tanggung jawab, tapi bentuk keberanian untuk mengambil jarak. Jarak dari rutinitas, dari tekanan sosial, bahkan dari ego diri sendiri. Dalam <em>tetirah,<\/em> kita memberi waktu bagi batin untuk kembali jernih karena kita sadar, kadang justru dalam diam kita bisa melangkah paling jauh. Menggunakan istilah teman tadi \u201csedang <em>reloading\u201d;<\/em> sehingga seolah-olah kita sedang mereduksi <em>file<\/em> kehidupan yang tidak terpakai.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan yang terus mendorong kita untuk bergerak lebih cepat, <em>tetirah<\/em> mengajarkan nilai yang kontras, tetapi sangat relevan: berhenti bukan berarti kalah, dan diam bukan berarti tak berjalan. Justru dalam rehat yang sadar itulah, kita bisa menemukan kembali arah, energi, dan makna untuk melangkah lebih jauh dengan hati yang lebih tenang dan jiwa yang lebih utuh.<br \/>\nSemoga sohib yang sedang <em>tetirah<\/em> mendapatkan ketenangan batin, dan menemukan kembali jati dirinya. Oleh karena itu <em>tetirah<\/em> bukan berarti berlama-lama menjauh dari dunia; sebab kita harus sadar bahwa kita masih ada di dunia. Kita masih perlu dunia untuk menjadikannya ladang amal; kita masih di dunia karena untuk meneruskan perjalanan abadi kelak, justru kita harus melewati dunia ini. Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Menghubungi seorang sohib jurnalis senior untuk berbagi kabar, ternyata beliau sedang melakukan \u201ctetirah\u201d di tempat keluarga yang kebetulan tidak jauh dari tanah kelahiran beliau. Diksi ini sudah lama sekali tidak terdengar di telinga penulis, mungkin sudah lebih dari satu dekade, karena istilah ini untuk telinga orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-78768","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Tetirah - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tetirah - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Menghubungi seorang sohib jurnalis senior untuk berbagi kabar, ternyata beliau sedang melakukan \u201ctetirah\u201d di tempat keluarga yang kebetulan tidak jauh dari tanah kelahiran beliau. Diksi ini sudah lama sekali tidak terdengar di telinga penulis, mungkin sudah lebih dari satu dekade, karena istilah ini untuk telinga orang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-06-16T02:27:30+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768\",\"name\":\"Tetirah - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-06-16T02:27:30+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tetirah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tetirah - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Tetirah - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Menghubungi seorang sohib jurnalis senior untuk berbagi kabar, ternyata beliau sedang melakukan \u201ctetirah\u201d di tempat keluarga yang kebetulan tidak jauh dari tanah kelahiran beliau. Diksi ini sudah lama sekali tidak terdengar di telinga penulis, mungkin sudah lebih dari satu dekade, karena istilah ini untuk telinga orang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-06-16T02:27:30+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768","name":"Tetirah - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2025-06-16T02:27:30+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=78768#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tetirah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78768","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=78768"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78768\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":78770,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/78768\/revisions\/78770"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=78768"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=78768"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=78768"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}