{"id":79075,"date":"2025-06-25T08:33:46","date_gmt":"2025-06-25T01:33:46","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075"},"modified":"2025-06-25T08:33:46","modified_gmt":"2025-06-25T01:33:46","slug":"tinta-sudah-kering-kerta-sudah-tiada-liptop-tergadai-pula","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075","title":{"rendered":"Tinta Sudah Kering, Kerta Sudah Tiada, Liptop Tergadai Pula"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>\u2013<\/p>\n<p>Pagi itu ikut mengantri di salah satu pusat layanan kendaraan, daerahnya di perbatasan kota, tepi jalan utama. Baru saja duduk ada kiriman masuk lewat piranti dalam saku, ternyata kiriman dari sahabat di Indonesia Timur; setelah dibuka-mata terbelalak\u2013karena mengirimkan potongan berita yang mewartakan adanya pejabat negara konoha diduga korupsi sebesar 220 triliun rupiah. Tidak terbayang berapa jumlah angka nol dibelakannya. Negeri ini memang unik. Kalau kita bicara soal birokrasi dan korupsi, jangan harap kita akan menemukan cerita-cerita biasa. Kita seperti menonton sinetron dengan episode tanpa akhir, di mana setiap babaknya selalu lebih dahsyat dari yang sebelumnya.<\/p>\n<p>Bisa dibayangkan berapa banyak tandatangan dibubuhkan untuk menyetujui agar uang sebesar itu keluar, dan sipenandatangan tidak benar-benar membaca isi; yang penting sudah \u201cberes\u201d; setelah amplop lewat tangan kanan. Tidak peduli apakah tinta yang untuk digunakan tandatangan sudah kering, yang penting tetap menghasilkan yang \u201cbasah\u201d.<\/p>\n<p>Bukan hanya tinta yang kering, kertas pun katanya sudah habis. tetapi, kertas habis di sini bukan berarti mereka tidak punya bahan untuk menulis, melainkan mereka tidak peduli akan isi tulisan. Di banyak kantor, laporan hanya dicetak untuk memenuhi kewajiban administratif. Soal apakah laporannya benar itu urusan belakangan. Asal ada tanda tangan dan cap basah, sudah cukup. Yang penting kan laporan sudah \u201cdicetak\u201d, entah isinya bohong atau tidak.<\/p>\n<p>Liptop yang tergadai adalah gambaran dari pejabat yang sudah kehilangan harga diri. Tapi jangan salah, harga diri itu bisa dijual dengan harga mahal; kalau yang membeli memang punya uang lebih. Liptop bukan cuma tas kerja, tapi simbol martabat. Ketika liptop sudah tergadai, itu artinya pegawai terpaksa menjual martabat mereka demi sesuap nasi dan segenggam berlian. Bayangkan hutan lindung disertifikat, itu jelas oleh pejabat; dan bukan oleh rakyat.<\/p>\n<p>Korupsi sudah seperti napas di negeri ini. Tanpa korupsi, mungkin sebagian orang akan bingung mau ngapain. Karena korupsi seolah-olah sudah jadi bagian dari kebiasaan, budaya, bahkan \u201ctradisi\u201d yang diwariskan. Dan, korupsi bukan hanya soal uang, tetapi juga soal waktu, tenaga, dan harapan yang dicuri; bagaimana tidak jika artikel ilmiah-pun ditukangi yang berujung dengan \u201cmengambil\u201d uang negara dengan cantik. Kita semua tahu pejabat suka bilang, \u201cKita sedang berjuang melawan korupsi.\u201d Tapi kenyataannya, \u201cberjuang\u201d itu biasanya berarti berjuang cari cara supaya korupsi tetap jalan dengan tertib, rapi, dan tidak ketahuan. Uang ketok palu, uang sukses, uang pengaman; semua itu adalah bahasa rahasia yang dipakai untuk menyamarkan transaksi \u201cresmi\u201d dalam proyek-proyek yang dijadikan sasaran korupsi.<\/p>\n<p>Bayangkan saja: sebuah proyek bisa \u201cjalan\u201d bukan karena kualitas dan kebutuhan, tapi karena sudah ada \u201cuang sukses\u201d yang diberikan. Kalau tidak, siap-siap proyek mandek dan pekerjaan jadi berantakan. Lebih runyam lagi jika kepentingan politik masuk pada wilayah ini; sekelas pejabat tinggi negara dengan seenaknya mengatakan \u201cuangnya sudah dibagi, dan disaksikan oleh anaknya\u201d. Seolah-olah adagium \u201cyang bayar paling mahal, dapat kontrak. Yang tidak bayar proyeknya mangkrak\u201d, ada benarnya.<\/p>\n<p>Korupsi memang mengalir deras ke kantong segelintir orang, tetapi yang menanggung beban adalah jutaan orang. Kalau ditanya, \u201cApa yang bisa kita lakukan?\u201d jawabannya memang sulit, tapi tidak mustahil. Paling tidak kita bisa memulai dari hal kecil: jangan ikut-ikutan menerima suap, jangan diam saat melihat penyimpangan, dan dukung mereka yang berani bersuara.<\/p>\n<p>Negeri ini masih punya harapan; tetapi harapan itu tidak datang dari tinta yang kering, kertas yang habis, atau liptop yang tergadai. Harapan itu datang dari kita semua yang masih punya nyali dan hati nurani. Persoalannya apakah masih ada keberanian untuk menyatakan sikap hati nurani. Tentu jawabannya tidak sesederhana membalikkan telapak tangan. Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Pagi itu ikut mengantri di salah satu pusat layanan kendaraan, daerahnya di perbatasan kota, tepi jalan utama. Baru saja duduk ada kiriman masuk lewat piranti dalam saku, ternyata kiriman dari sahabat di Indonesia Timur; setelah dibuka-mata terbelalak\u2013karena mengirimkan potongan berita yang mewartakan adanya pejabat negara konoha [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-79075","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Tinta Sudah Kering, Kerta Sudah Tiada, Liptop Tergadai Pula - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tinta Sudah Kering, Kerta Sudah Tiada, Liptop Tergadai Pula - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Pagi itu ikut mengantri di salah satu pusat layanan kendaraan, daerahnya di perbatasan kota, tepi jalan utama. Baru saja duduk ada kiriman masuk lewat piranti dalam saku, ternyata kiriman dari sahabat di Indonesia Timur; setelah dibuka-mata terbelalak\u2013karena mengirimkan potongan berita yang mewartakan adanya pejabat negara konoha [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-06-25T01:33:46+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075\",\"name\":\"Tinta Sudah Kering, Kerta Sudah Tiada, Liptop Tergadai Pula - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-06-25T01:33:46+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tinta Sudah Kering, Kerta Sudah Tiada, Liptop Tergadai Pula\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tinta Sudah Kering, Kerta Sudah Tiada, Liptop Tergadai Pula - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Tinta Sudah Kering, Kerta Sudah Tiada, Liptop Tergadai Pula - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Pagi itu ikut mengantri di salah satu pusat layanan kendaraan, daerahnya di perbatasan kota, tepi jalan utama. Baru saja duduk ada kiriman masuk lewat piranti dalam saku, ternyata kiriman dari sahabat di Indonesia Timur; setelah dibuka-mata terbelalak\u2013karena mengirimkan potongan berita yang mewartakan adanya pejabat negara konoha [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-06-25T01:33:46+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075","name":"Tinta Sudah Kering, Kerta Sudah Tiada, Liptop Tergadai Pula - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2025-06-25T01:33:46+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79075#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tinta Sudah Kering, Kerta Sudah Tiada, Liptop Tergadai Pula"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79075","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=79075"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79075\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":79100,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79075\/revisions\/79100"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=79075"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=79075"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=79075"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}