{"id":79479,"date":"2025-08-04T14:03:03","date_gmt":"2025-08-04T07:03:03","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479"},"modified":"2025-08-04T14:03:03","modified_gmt":"2025-08-04T07:03:03","slug":"ngemperi-jagat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479","title":{"rendered":"Ngemperi Jagat"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>\u2013<\/p>\n<p>Pada saat membaca kiriman balik dari sahabat yang membaca artikel yang penulis kirim; senyum mengembang sendiri. Beliau memberi komentar halus, tetapi menohok mengenai situasi kondisi saat ini dengan bahasa Jawa \u201cMereka-mereka sepertinya mau <em>ngemperi<\/em> jagat, Prof\u201d.\u00a0 Sontak terpikir untuk menelusuri istilah lama yang sarat makna itu melalui referensi digital dan konvensional.<\/p>\n<p>Secara harfiah, \u201cjagat\u201d berarti alam semesta atau dunia. <em>\u201cdiemperi\u201d<\/em> berasal dari kata <em>emper,<\/em> semacam atap kecil yang biasanya ada di depan atau samping rumah. Namun dalam konteks ungkapan ini, <em>\u201cdiemperi\u201d<\/em> menggambarkan sesuatu yang diberi atap atau naungan, tetapi tanpa tiang atau penopang. Artinya: dunia ini seakan memiliki struktur atau perlindungan, tetapi fondasinya tak terlihat atau bahkan tak ada.<\/p>\n<p>Bila kita tarik makna itu ke dalam ranah eksistensial, ungkapan ini dapat dibaca sebagai sebuah gugatan atas keberadaan manusia di dunia yang tampak teratur, tetapi tidak memiliki dasar yang pasti atau terlihat. Kita hidup dalam jagat yang seperti \u201ctertata\u201d, ada langit dan bumi, ada hukum-hukum alam, ada budaya, agama, moral, teknologi. Namun, siapa yang menopang semua itu? Inilah persoalan mendasar yang menjadi jantung pemikiran filsafat manusia: kegelisahan tentang eksistensi.<\/p>\n<p>Salah satu krisis besar manusia modern adalah ilusi keteraturan. Kita hidup di dunia yang secara fisik dan sosial tampak terstruktur: ada hukum negara, ada sistem ekonomi, ada aturan moral, bahkan ada agama dan kepercayaan. Namun, semakin manusia mengedepankan pengetahuan ilmiah dan rasionalitas modern, semakin terasa bahwa semua struktur itu tampaknya menggantung di udara. Tidak ada yang sungguh-sungguh \u201cmenopang\u201d secara mutlak.<\/p>\n<p>\u201cJagat <em>kok diemperi\u201d<\/em> dalam konteks ini adalah ekspresi dari keheranan akan dunia yang seolah-olah punya bentuk, punya batas, punya langit dan bumi, tapi <em>tak<\/em> diketahui siapa atau apa yang menjadi tiangnya. Apakah nilai-nilai moral yang kita anut benar-benar berasal dari sesuatu yang mutlak? Atau apakah ia hanya konstruksi sosial yang <em>\u201cnempel\u201d<\/em> di <em>emper<\/em> dunia ini, sementara dinding dan tiangnya tidak pernah ada?<\/p>\n<p>Dunia modern, dengan seluruh kemajuan teknologi dan logika, seolah memberikan \u201catap\u201d\u2014perlindungan dari ketidaktahuan dan rasa takut. Namun, atap itu rapuh karena tidak lagi ditopang oleh fondasi metafisik atau moral yang kokoh.<\/p>\n<p>Nietzsche menulis tentang nihilisme, yaitu kondisi di mana manusia tidak lagi memiliki orientasi nilai yang absolut. Kita menjadi bingung tentang apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan salah. Dalam kondisi ini, \u201cJagat <em>kok diemperi\u201d<\/em> menjadi ungkapan ironi: kita telah membangun peradaban, hukum, sains, bahkan demokrasi, tetapi semuanya berdiri tanpa tiang nilai yang absolut. Kita menjadi seperti orang yang tinggal di bawah atap, tapi lupa bahwa atap itu tidak memiliki tiang, dan suatu saat bisa runtuh kapan saja. Oleh sebab itu bisa jadi orang yang tidak berbuat jahat diputuskan jahat oleh kejahatan yang dianut oleh para penjahat.<\/p>\n<p>\u201cJagat <em>kok diemperi\u201d<\/em> menjadi simbol dari dunia yang kosong secara ontologis, tapi padat secara sosial. Kita hidup dalam masyarakat yang memberi kita \u201ckeamanan\u201d melalui struktur, tetapi secara ontologis dan metafisik, kita tetap menggantung di jurang ketiadaan. Dunia tidak menjawab pertanyaan \u201cmengapa kita ada?\u201d Hanya menyediakan ruang kosong yang harus diisi sendiri oleh manusia.<\/p>\n<p>Meski banyak pemikir Barat modern cenderung menuju sekularisme atau bahkan ateisme, dalam banyak tradisi filsafat dan teologi Timur dan klasik, \u201cpenyangga dunia\u201d tidak selalu harus terlihat. Ia justru sering disadari melalui keheningan batin dan kesadaran spiritual. Kembali kepada ungkapan \u201cJagat <em>kok diemperi\u201d,<\/em> dalam kerangka spiritualitas, maknanya bisa dibalik: dunia tampak tidak berpenopang karena Tuhan sebagai penopang justru tidak terlihat, bukan karena tidak ada. Maka manusia harus memiliki iman, bukan dalam arti buta, tetapi sebagai kesadaran akan keterbatasan rasionalitas manusia dalam memahami struktur semesta.<\/p>\n<p>Jika jagat memang <em>diemperi,<\/em> maka tugas manusia bukan mengeluh atau menyangkal, melainkan mendirikan tiang sendiri: melalui etika, cinta kasih, keberanian, kejujuran, dan kesetiaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dalam konteks ini, esensi manusia bukan menunggu penopang eksternal, tapi menjadi penopang bagi sesamanya dan dunia. Oleh sebab itu \u201cJagat <em>kok diemperi\u201d<\/em> adalah bentuk gugatan, keheranan, dan ajakan untuk berpikir. Ia menyentuh pertanyaan terdalam dalam hidup manusia: siapa yang menopang semua ini? Dan apa makna dari keteraturan semu yang kita hidupi?<\/p>\n<p>Tulisan ini tidak memberikan jawaban pasti, sebagaimana filsafat tidak pernah selesai. Tapi setidaknya, ungkapan sederhana dari budaya Jawa ini telah membawa kita pada refleksi mendalam tentang siapa kita, mengapa kita di sini, dan bagaimana kita seharusnya hidup di dunia yang menggantung ini. Dan, kemana kita akan berlabuh terakhir. Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Pada saat membaca kiriman balik dari sahabat yang membaca artikel yang penulis kirim; senyum mengembang sendiri. Beliau memberi komentar halus, tetapi menohok mengenai situasi kondisi saat ini dengan bahasa Jawa \u201cMereka-mereka sepertinya mau ngemperi jagat, Prof\u201d.\u00a0 Sontak terpikir untuk menelusuri istilah lama yang sarat makna itu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-79479","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ngemperi Jagat - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ngemperi Jagat - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Pada saat membaca kiriman balik dari sahabat yang membaca artikel yang penulis kirim; senyum mengembang sendiri. Beliau memberi komentar halus, tetapi menohok mengenai situasi kondisi saat ini dengan bahasa Jawa \u201cMereka-mereka sepertinya mau ngemperi jagat, Prof\u201d.\u00a0 Sontak terpikir untuk menelusuri istilah lama yang sarat makna itu [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-08-04T07:03:03+00:00\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Raden Mas Agung Suryokusumo\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479\",\"name\":\"Ngemperi Jagat - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"datePublished\":\"2025-08-04T07:03:03+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ngemperi Jagat\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3\",\"name\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Raden Mas Agung Suryokusumo\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ngemperi Jagat - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ngemperi Jagat - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Pada saat membaca kiriman balik dari sahabat yang membaca artikel yang penulis kirim; senyum mengembang sendiri. Beliau memberi komentar halus, tetapi menohok mengenai situasi kondisi saat ini dengan bahasa Jawa \u201cMereka-mereka sepertinya mau ngemperi jagat, Prof\u201d.\u00a0 Sontak terpikir untuk menelusuri istilah lama yang sarat makna itu [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-08-04T07:03:03+00:00","author":"Raden Mas Agung Suryokusumo","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Raden Mas Agung Suryokusumo","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479","name":"Ngemperi Jagat - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"datePublished":"2025-08-04T07:03:03+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=79479#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ngemperi Jagat"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/ce266ed315ddc7865287ac60b749d6c3","name":"Raden Mas Agung Suryokusumo","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/dcf0adf007f5042d2c37c45d3322b2b18a2a7cdf7057da4556df8a0d6721a035?s=96&d=mm&r=g","caption":"Raden Mas Agung Suryokusumo"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79479","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=79479"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79479\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":79490,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/79479\/revisions\/79490"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=79479"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=79479"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=79479"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}