{"id":82170,"date":"2025-11-06T02:22:25","date_gmt":"2025-11-06T02:22:25","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170"},"modified":"2025-11-06T02:22:25","modified_gmt":"2025-11-06T02:22:25","slug":"konsep-ada-sejati-dalam-filsafat-kontemporer","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170","title":{"rendered":"Konsep \u201cAda Sejati\u201d Dalam Filsafat Kontemporer"},"content":{"rendered":"<p>Oleh:<strong> Sudjarwo <\/strong><br \/>\n<em>Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung<\/em><\/p>\n<p>\u2013<\/p>\n<p>Cuaca pagi menjelang siang dihiasi mendung tebal, cuaca dingin tak berkesudahan. Namun, \u201cTidak\u201d di ruang kerja penulis. Justru diskusi hangat sedang terjadi dengan seorang dosen yang berlabel diri penguat berfikir akal sehat. Kali ini topik perbincangan ada pada wilayah \u201cAda\u201d, dengan sudut kajian filsafat manusia. Karena diskusi seperti ini hanya menhabiskan waktu dan kopi bagi mereka yang tidak paham, tetapi bagi kami diskusi ini menarik karena sering terjadi kajian lintas berfikir. Jika dibentang singkat, dan diambil sari patinya; maka diskusi tadi memiliki ringkasan seperti ini; Manusia sejak awal keberadaannya selalu dihantui pertanyaan tentang apa artinya \u201cada\u201d.<\/p>\n<p>Dalam setiap renungan, dalam setiap pergulatan dengan hidup, tersembunyi kerinduan untuk memahami sesuatu yang lebih dari sekadar bentuk dan peristiwa. Pertanyaan itu tidak pernah selesai, sebab \u201cada\u201d bukan sekadar pernyataan bahwa sesuatu eksis, melainkan misteri tentang bagaimana segala sesuatu memperoleh makna keberadaannya. Di sinilah muncul gagasan tentang \u201cAda Sejati\u201d; keberadaan yang tidak bersyarat, tidak bergantung pada apa pun, dan menjadi dasar dari segala wujud.<\/p>\n<p>Ketika manusia menatap dunia, ia melihat perubahan yang tiada henti. Segalanya muncul dan lenyap, tumbuh dan punah, datang dan pergi. Namun di balik arus perubahan itu, selalu ada intuisi bahwa sesuatu yang tetap menopang seluruh proses itu. Seperti samudra yang tenang di balik ombak, \u201cAda Sejati\u201d menjadi dasar dari setiap bentuk keberadaan, meski ia sendiri tidak berwujud. Ia bukan benda, bukan pikiran, bukan konsep, tetapi sesuatu yang memungkinkan semua itu ada. Maka, berbicara tentang \u201cAda Sejati\u201d bukanlah berbicara tentang objek yang bisa dipahami, melainkan tentang sumber yang membuat pemahaman itu mungkin.<\/p>\n<p>Manusia modern sering kali terperangkap dalam pemahaman yang terpisah antara subjek dan objek, antara diri dan dunia. Pengetahuan dianggap hanya sah jika diukur, diklasifikasi, dan dijelaskan melalui kategori yang pasti. Namun pandangan semacam itu, betapapun berguna, sering menutupi keutuhan keberadaan. Ketika budi manusia hanya bekerja sebagai alat analisis, ia memotong realitas menjadi potongan-potongan kecil yang terlepas dari makna keseluruhannya. Dalam keheningan reflektif, manusia menyadari bahwa realitas tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika pemisahan; yang dibutuhkan adalah kejernihan batin untuk mengalami keberadaan secara langsung. Di situlah jalan menuju \u201cAda Sejati\u201d dimulai: bukan melalui penjelasan, melainkan melalui penghayatan.<\/p>\n<p>Budi yang terasah adalah budi yang tidak lagi terikat oleh keserakahan, ketakutan, dan kepentingan, akan menjadi cermin bagi keberadaan. Ketika cermin itu jernih, keberadaan memantulkan dirinya tanpa distorsi. Dalam keadaan demikian, manusia tidak lagi memandang dunia sebagai kumpulan objek, tetapi sebagai kesatuan wujud yang menampakkan \u201cAda Sejati\u201d. Tidak ada lagi jarak antara yang memandang dan yang dipandang; keduanya hanyalah denyut dari keberadaan yang satu. Inilah momen ketika budi menemukan kedamaian: saat menyadari bahwa dirinya bukan pusat dunia, melainkan bagian dari aliran keberadaan yang tak terpisahkan.<\/p>\n<p>\u201cAda Sejati\u201d tidak dapat dijangkau dengan kata-kata, sebab setiap bahasa selalu membatasi. Ia melampaui dualitas: bukan \u201cada\u201d dan bukan \u201ctiada\u201d dalam pengertian biasa. Ia adalah dasar dari keduanya. Dalam perenungan mendalam, manusia mungkin mengalami bahwa di balik segala perubahan dan kesementaraan, ada kediaman yang tidak terguncang. Itulah \u201cAda Sejati\u201d yaitu; keheningan yang tidak mati, kehadiran yang tak terkatakan. Dari keheningan itu, semua bentuk lahir, tumbuh, dan kembali. Maka \u201cAda Sejati\u201d bukanlah sesuatu yang jauh atau asing; ia justru paling dekat, bahkan lebih dekat dari kesadaran manusia terhadap dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Dunia modern dengan segala kebisingan dan percepatannya sering membuat manusia kehilangan kedalaman penghayatan terhadap \u201cada\u201d. Segalanya diukur dengan manfaat, efisiensi, dan kecepatan. Dalam keadaan itu, manusia menjadi makhluk yang bergerak tanpa arah, sibuk tanpa makna. Ia hidup di permukaan gelombang, tanpa sempat menyelami samudra keberadaan. Maka tugas filsafat, dan terutama tugas kesadaran manusia, adalah mengembalikan pandangan ke dasar samudra itu; ke keheningan yang memberi arti bagi semua gerak. Mengingat \u201cAda Sejati\u201d berarti kembali mengingat siapa diri kita di dalam keseluruhan ini.<\/p>\n<p>\u201cAda Sejati\u201d bukanlah sesuatu yang harus dicapai, sebab ia selalu hadir. Yang hilang hanyalah kesadaran kita akan kehadirannya. Seperti langit yang tetap biru meski tertutup awan, \u201cAda Sejati\u201d tetap ada meski kesadaran manusia tertutup oleh kabut pikiran dan emosi. Menemukannya bukan berarti menciptakan sesuatu yang baru, tetapi menyingkap tabir yang menutupi apa yang selalu ada. Proses itu membutuhkan keheningan, kesabaran, dan keterbukaan batin, yaitu sebuah sikap budi yang tidak menuntut, tidak memaksa, hanya menyadari.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, \u201cAda Sejati\u201d bukanlah konsep yang bisa dimiliki, tetapi pengalaman yang hanya bisa dihayati. Ia hadir dalam keheningan doa, dalam renungan sunyi, dalam pandangan yang jernih terhadap sesama, bahkan dalam kepasrahan menghadapi kematian. Ia adalah rahasia yang menyatukan segala sesuatu tanpa harus meniadakan perbedaan. Dalam setiap nafas, dalam setiap gerak, \u201cAda Sejati\u201d berdenyut; tak terlihat, tak terdengar, namun menjadi sumber dari seluruh keberadaan.<br \/>\n\u201cAda Sejati\u201d bukan akhir dari perjalanan, tetapi kesadaran yang menyertai setiap langkah. Ia adalah keheningan yang hidup di tengah suara, cahaya yang tersembunyi di dalam bayangan, dan keberadaan yang menjiwai segala yang tampak. Ketika manusia mampu berdiam sejenak dan menatap ke dalam dirinya sendiri dengan penuh kejernihan, ia akan menemukan bahwa \u201cAda Sejati\u201d tidak pernah pergi. Ia selalu ada, menunggu untuk dikenali, dalam setiap hembusan napas keberadaan. Ringkasnya: \u201cAda Sejati\u201d adalah keberadaan murni yang tidak terikat bentuk, sumber dari segala yang ada, dan dapat dialami hanya melalui budi yang telah jernih dalam keheningan. Semakin kita mendekat kepadaNYA, maka NYA akan semakin lari menghampiri kita. Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p><strong>Editor: Gilang Agusman<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Cuaca pagi menjelang siang dihiasi mendung tebal, cuaca dingin tak berkesudahan. Namun, \u201cTidak\u201d di ruang kerja penulis. Justru diskusi hangat sedang terjadi dengan seorang dosen yang berlabel diri penguat berfikir akal sehat. Kali ini topik perbincangan ada pada wilayah \u201cAda\u201d, dengan sudut kajian filsafat manusia. Karena [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":81034,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[15,10],"class_list":["post-82170","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-guru-besar","tag-universitas-malahayati"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Konsep \u201cAda Sejati\u201d Dalam Filsafat Kontemporer - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Konsep \u201cAda Sejati\u201d Dalam Filsafat Kontemporer - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Cuaca pagi menjelang siang dihiasi mendung tebal, cuaca dingin tak berkesudahan. Namun, \u201cTidak\u201d di ruang kerja penulis. Justru diskusi hangat sedang terjadi dengan seorang dosen yang berlabel diri penguat berfikir akal sehat. Kali ini topik perbincangan ada pada wilayah \u201cAda\u201d, dengan sudut kajian filsafat manusia. Karena [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-06T02:22:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Gilang Agusman\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Gilang Agusman\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170\",\"name\":\"Konsep \u201cAda Sejati\u201d Dalam Filsafat Kontemporer - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"datePublished\":\"2025-11-06T02:22:25+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/a130d7607f96c8327fca71c6ba27829a\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"width\":500,\"height\":500},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Konsep \u201cAda Sejati\u201d Dalam Filsafat Kontemporer\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/a130d7607f96c8327fca71c6ba27829a\",\"name\":\"Gilang Agusman\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ca27f5471364e35564e0a33c006ca8c3600749c28b6595287914b059c394d015?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ca27f5471364e35564e0a33c006ca8c3600749c28b6595287914b059c394d015?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Gilang Agusman\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=2\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Konsep \u201cAda Sejati\u201d Dalam Filsafat Kontemporer - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Konsep \u201cAda Sejati\u201d Dalam Filsafat Kontemporer - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung \u2013 Cuaca pagi menjelang siang dihiasi mendung tebal, cuaca dingin tak berkesudahan. Namun, \u201cTidak\u201d di ruang kerja penulis. Justru diskusi hangat sedang terjadi dengan seorang dosen yang berlabel diri penguat berfikir akal sehat. Kali ini topik perbincangan ada pada wilayah \u201cAda\u201d, dengan sudut kajian filsafat manusia. Karena [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-11-06T02:22:25+00:00","og_image":[{"width":500,"height":500,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","type":"image\/png"}],"author":"Gilang Agusman","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Gilang Agusman","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170","name":"Konsep \u201cAda Sejati\u201d Dalam Filsafat Kontemporer - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","datePublished":"2025-11-06T02:22:25+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/a130d7607f96c8327fca71c6ba27829a"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","width":500,"height":500},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82170#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Konsep \u201cAda Sejati\u201d Dalam Filsafat Kontemporer"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/a130d7607f96c8327fca71c6ba27829a","name":"Gilang Agusman","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ca27f5471364e35564e0a33c006ca8c3600749c28b6595287914b059c394d015?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/ca27f5471364e35564e0a33c006ca8c3600749c28b6595287914b059c394d015?s=96&d=mm&r=g","caption":"Gilang Agusman"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=2"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82170","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=82170"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82170\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82266,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82170\/revisions\/82266"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/81034"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=82170"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=82170"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=82170"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}