{"id":82438,"date":"2025-11-24T03:59:47","date_gmt":"2025-11-24T03:59:47","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438"},"modified":"2025-11-24T04:00:31","modified_gmt":"2025-11-24T04:00:31","slug":"ketika-kekurangan-menjadi-cermin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438","title":{"rendered":"Ketika Kekurangan Menjadi Cermin"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo<\/strong><br \/>\nGuru Besar Universitas Malahayati Lampung<\/p>\n<p>\u2013<\/p>\n<p>Seperti biasa pesantren di kaki gunung itu diselimuti suara-suara lafas kitab suci; karena para santri sedang sibuk sendiri-sendiri menghafal apa yang menjadi tugasnya. Namun suasana itu mendadak terganggu dengan datangnya seorang Bapak setengah baya, yang tampak tergopoh-gopoh ingin menjumpai Mbah Yai pimpinan pesantren. Ternyata beliau sedang menghantarkan sedekah jariah kepada pesantren. Dan, anehnya beliau ini tidak mau disebut nama dan alamatnya.<\/p>\n<p>Sepulang Bapak Yang Budiman tadi; seorang santri yang selalu mendampingi Mbak Yai bertanya: \u201cMbah Yai, apa kira-kira yang mendorong Bapak tadi memberikan bantuan kepada kita, sementara beliau sendiri sebenarnya masih sangat bersahaja dilihat dari penampilannya\u201d.<\/p>\n<p>Mbah Yai menjawab sambil membenarkan kain sarungnya \u201cBegini ya Cung, ada pelajaran hikmah dari orang orang sholeh dahulu yang berkata:\u00a0<em>sugie wong mlarat mergo nrimo, sak walik<\/em>\u00a0<em>e<\/em>\u00a0<em>mlarate wong sugih iku mergo ngrangsang\u201d.<\/em>\u00a0Kemudian Sang Kiai memberikan tauziah kepada santrinya, ringkasnya sebagai berikut:<\/p>\n<p>Ungkapan\u00a0<em>\u201csugie wong mlarat mergo nrimo, mlarate<\/em>\u00a0<em>wong sugih iku mergo nggrangsang\u201d<\/em>\u00a0bahasa Jawa yang terjemahan bebasnya kira-kira demikian: Kayanya orang miskin itu karena ridho atas ketetapan takdir, sedangkan miskinnya orang kaya itu karena serakah; walaupun terjemahan itu tidak tepat betul jika ukurannya \u201crasa\u201d; namun itu semua memuat ironi mendalam tentang dua keadaan yang kerap dipertentangkan: kemiskinan dan kekayaan. Ungkapan ini bukan sekadar pernyataan moral, melainkan sebuah refleksi eksistensial yang mengundang kita melihat hakikat manusia dalam hubungannya dengan hasrat, penerimaan, dan struktur sosial yang senantiasa berubah. Dengan menempatkannya dalam konteks pemikiran kontemporer, ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai kritik atas mekanisme psikologis dan sosial yang membentuk perilaku manusia di tengah kompetisi modern.<\/p>\n<p>Dalam kerangka pemikiran masa kini, identitas seseorang tidak sekadar ditentukan oleh apa yang dimiliki, melainkan oleh relasinya dengan keinginan.\u00a0<em>Penerimaan\u2014nrimo\u2014sering<\/em>\u00a0dimaknai sebagai sikap pasrah, namun dalam pembacaan yang lebih reflektif, ia justru dapat menjadi bentuk kesadaran diri yang matang. Seorang yang hidup dalam keterbatasan sering kali dipaksa untuk menata ulang hubungan antara diri dan dunia. Ketika realitas tidak memberi banyak pilihan, kesadaran akan batas menjadi pintu bagi kebijaksanaan. Dalam konteks ini, kemiskinan dapat melahirkan kepekaan dan refleksi mendalam tentang apa yang benar-benar esensial.<\/p>\n<p>Ungkapan tersebut mengisyaratkan bahwa kemiskinan bukan semata-mata kondisi material, melainkan keadaan yang memampukan seseorang untuk menumbuhkan jarak terhadap keinginannya sendiri, sehingga lahir ketenangan batin yang mungkin tak mudah dimiliki mereka yang hidup dalam kelimpahan.<\/p>\n<p>Sebaliknya, gagasan bahwa\u00a0<em>\u201cmlarate wong sugih iku mergo nggrangsang\u201d<\/em>\u00a0menunjukkan paradoks yang semakin relevan di era konsumtif. Kekayaan tidak selalu identik dengan rasa cukup. Justru, dalam banyak situasi, kekayaan memicu hasrat yang tak pernah selesai. Ketika seseorang telah mengetahui manisnya kepemilikan, ia juga merasakan pahitnya kehilangan potensi. Rasa takut kehilangan, keinginan menambah, dan dorongan untuk mengungguli orang lain membuat kekayaan menjadi sumber kegelisahan. Dalam perspektif kontemporer, keadaan ini dapat dipahami sebagai gambaran tentang bagaimana sistem sosial dan ekonomi modern membentuk manusia untuk terus merasa kurang, sekalipun berada dalam kelimpahan. Hasrat menjadi mesin yang tak pernah berhenti, dan kekayaan, bukannya membawa ketenangan, justru bisa menjerumuskan seseorang dalam kemiskinan rasa: kemiskinan waktu, kemiskinan relasi yang tulus, bahkan kemiskinan makna.<\/p>\n<p>Ungkapan Jawa tersebut pada akhirnya berbicara tentang ketidakseimbangan. Keduanya, miskin maupun kaya, bukan soal jumlah, melainkan soal respon manusia terhadap posisinya di dunia. Dalam perspektif kontemporer, manusia modern dibentuk oleh tuntutan produktivitas dan pencapaian tanpa henti. Keinginan menjadi lebih sering disulut dari luar: iklan, standar sosial, dan kompetisi yang melekat pada struktur masyarakat. Karena itu, nggrangsang; yang juga dapat dimaknai sebagai rakus, gelisah, atau tak pernah puas, merupakan gambaran tentang identitas manusia modern yang bergantung pada validasi eksternal. Harta yang seharusnya menjadi sarana justru berubah menjadi tujuan, dan proses pencarian kekayaan menjadi labirin tanpa akhir.<\/p>\n<p>Sementara itu,\u00a0<em>nrimo<\/em>\u00a0bukan berarti menyerah pada keadaan, tetapi merupakan bentuk keberdayaan batin untuk melihat kehidupan dari lensa yang lebih jernih. Dalam pendekatan kontemporer, penerimaan adalah kemampuan untuk menyadari realitas sebagaimana adanya, tanpa terperangkap dalam ilusi tentang apa yang seharusnya dimiliki. Ia merupakan langkah pertama menuju kebebasan eksistensial, karena seseorang yang mampu berdamai dengan keterbatasan akan lebih mampu mengarahkan dirinya sesuai dengan nilai-nilai yang dipilihnya sendiri, bukan nilai yang dipaksakan oleh lingkungannya.<\/p>\n<p>Namun, posisi ini tidak boleh dimaknai sebagai glorifikasi kemiskinan atau penghakiman terhadap kekayaan. Ungkapan tersebut lebih tepat dibaca sebagai kritik terhadap pola pikir yang sering menyertai dua keadaan tersebut. Dalam masyarakat kontemporer yang plural dan dinamis, manusia tidak lagi dipandang semata sebagai makhluk yang terikat pada kondisi sosialnya, tetapi sebagai individu yang memiliki refleksi, kesadaran, dan kapasitas untuk menentukan sikap. Baik miskin maupun kaya, manusia tetap memiliki kebebasan untuk menata hubungan dengan dunia, menata keinginan, dan menata dirinya sendiri.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, ungkapan tersebut mengajak kita meninjau kembali struktur keinginan dalam diri kita. Apakah kita hidup dengan menerima realitas sambil bergerak memperbaiki keadaan, atau apakah kita hidup dalam keinginan tanpa batas yang membuat kita terus merasa kurang? Pertanyaan itu penting dalam dunia yang semakin kompetitif, di mana ukuran keberhasilan mudah sekali didistorsi menjadi sekadar angka atau harta. Dengan membaca ungkapan tersebut dalam kacamata filsafat kontemporer, kita diingatkan bahwa manusia modern membutuhkan keseimbangan: bukan menolak harta, tetapi tidak diperbudak olehnya; bukan memuja kemiskinan, tetapi belajar merawat ruang batin agar tetap jernih. Sebab pada akhirnya, kebebasan dan ketenangan bukan muncul dari banyak atau sedikitnya yang kita miliki, tetapi dari bagaimana kita memahami dan mengolah makna dari apa yang kita miliki. Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p>Editor : fadly kr<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Seperti biasa pesantren di kaki gunung itu diselimuti suara-suara lafas kitab suci; karena para santri sedang sibuk sendiri-sendiri menghafal apa yang menjadi tugasnya. Namun suasana itu mendadak terganggu dengan datangnya seorang Bapak setengah baya, yang tampak tergopoh-gopoh ingin menjumpai Mbah Yai pimpinan pesantren. Ternyata beliau sedang menghantarkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":81034,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[15,10],"class_list":["post-82438","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-guru-besar","tag-universitas-malahayati"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ketika Kekurangan Menjadi Cermin - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketika Kekurangan Menjadi Cermin - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Seperti biasa pesantren di kaki gunung itu diselimuti suara-suara lafas kitab suci; karena para santri sedang sibuk sendiri-sendiri menghafal apa yang menjadi tugasnya. Namun suasana itu mendadak terganggu dengan datangnya seorang Bapak setengah baya, yang tampak tergopoh-gopoh ingin menjumpai Mbah Yai pimpinan pesantren. Ternyata beliau sedang menghantarkan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-24T03:59:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-24T04:00:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438\",\"name\":\"Ketika Kekurangan Menjadi Cermin - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"datePublished\":\"2025-11-24T03:59:47+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-24T04:00:31+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"width\":500,\"height\":500},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketika Kekurangan Menjadi Cermin\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketika Kekurangan Menjadi Cermin - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ketika Kekurangan Menjadi Cermin - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Seperti biasa pesantren di kaki gunung itu diselimuti suara-suara lafas kitab suci; karena para santri sedang sibuk sendiri-sendiri menghafal apa yang menjadi tugasnya. Namun suasana itu mendadak terganggu dengan datangnya seorang Bapak setengah baya, yang tampak tergopoh-gopoh ingin menjumpai Mbah Yai pimpinan pesantren. Ternyata beliau sedang menghantarkan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-11-24T03:59:47+00:00","article_modified_time":"2025-11-24T04:00:31+00:00","og_image":[{"width":500,"height":500,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","type":"image\/png"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438","name":"Ketika Kekurangan Menjadi Cermin - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","datePublished":"2025-11-24T03:59:47+00:00","dateModified":"2025-11-24T04:00:31+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","width":500,"height":500},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82438#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketika Kekurangan Menjadi Cermin"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82438","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=82438"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82438\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82442,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82438\/revisions\/82442"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/81034"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=82438"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=82438"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=82438"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}