{"id":82511,"date":"2025-11-27T04:08:17","date_gmt":"2025-11-27T04:08:17","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511"},"modified":"2025-11-27T04:08:17","modified_gmt":"2025-11-27T04:08:17","slug":"cahaya-yang-redup-di-ujung-usia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511","title":{"rendered":"Cahaya yang Redup di Ujung Usia"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo<\/strong><br \/>\nGuru Besar Universitas Malahayati Lampung<\/p>\n<p>\u2013<\/p>\n<p>Di serambi pesantren yang mulai temaram menjelang magrib, seorang santri muda duduk bersimpuh di hadapan kiainya. Angin sore membawa aroma kayu basah, sementara lampu-lampu gantung berbohlam di mushala mulai dinyalakan. Salah satu bohlam tua berkelap-kelip, seolah berjuang mempertahankan cahayanya.<\/p>\n<p>\u201cYai,\u201d ujar sang santri pelan, menatap bohlam yang hampir padam itu, \u201cApakah manusia juga seperti lampu? Terang kalau masih kuat, tapi kalau sudah tua\u2026 tinggal menunggu diganti?\u201d<br \/>\nSang kiai tersenyum tipis. \u201cKau melihatnya seperti itu?\u201d<br \/>\n\u201cKadang rasanya begitu, Yai. Orang dihargai selama ia memberi manfaat. Tapi kalau sudah tidak mampu, dunia seperti tak peduli.\u201d Jawab Santri.<br \/>\nKiai memandang bohlam yang berkedip itu, lalu menatap santrinya dengan lembut. \u201cBanyak orang menilai manusia seperti menilai barang. Selama berguna dijaga, ketika rusak ditinggalkan. Tapi apakah itu cara kita memahami diri?\u201d<br \/>\nSantri menunduk, tampak bimbang. \u201cKalau begitu\u2026 apa nilai manusia setelah tak lagi kuat, Yai?\u201d<br \/>\nKiai menarik napas panjang. \u201cNilai manusia tidak berhenti ketika cahaya luarnya meredup. Ada cahaya lain yang tidak bergantung pada tenaga tubuh. Tapi untuk memahaminya, kau harus belajar melihat lebih dalam daripada sekadar sinar yang tampak.\u201d<\/p>\n<p>Santri mengangguk, menanti penjelasan lebih jauh. Dan, begini penjelasannya:<br \/>\nUngkapan tentang bohlam lampu yang tetap menjadi rongsokan meski dahulu pernah bersinar terang menghadirkan gambaran sederhana namun tajam mengenai perjalanan manusia. Sebuah bohlam, betapapun kuat watt-nya, betapapun terang sinarnya, pada akhirnya akan padam dan digantikan. Cahaya yang dahulu dibanggakan tak lagi menjadi perhatian ketika fungsi utamanya telah berakhir. Di balik perumpamaan ini tersimpan pertanyaan filosofis tentang nilai manusia: apakah martabat seseorang ditentukan oleh kegunaan? Apakah manusia pada akhirnya akan menjadi \u201cbarang usang\u201d ketika kekuatan dan perannya tidak lagi dibutuhkan? Atau justru nilai manusia melampaui masa produktifnya?<\/p>\n<p>Manusia, sepanjang hidupnya, mengejar arti. Ia berusaha menjadi berguna, berdaya, dan diakui. Dalam dunia yang dipenuhi ukuran kuasa, kinerja, dan kontribusi, manusia sering dilihat seperti bohlam: dihargai sepanjang ia mampu memberi terang. Banyak orang hidup dengan ketakutan besar bahwa ketika daya tubuh melemah, ketika jabatan berhenti, atau ketika kemampuan menurun, dirinya tidak lagi dianggap bernilai. Ketakutan inilah yang menjadikan perumpamaan bohlam rongsokan begitu menggigit; itulah cermin dari kekhawatiran manusia terhadap kefanaan dan kehilangan peran.<\/p>\n<p>Pandangan bahwa nilai manusia melekat pada kemampuannya adalah warisan dari cara berpikir fungsional yang memperlakukan segala sesuatu sebagai alat. Apa yang dapat bekerja dipertahankan, apa yang tak lagi berfungsi diganti. Namun ketika cara pandang ini diterapkan kepada manusia, muncul kegelisahan yang mendalam. Manusia bukan alat; ia memiliki kesadaran, pengalaman, dan kebermaknaan yang tidak dapat diperas menjadi sekadar fungsi. Namun tetap saja, dalam realitas sosial banyak manusia diperlakukan seperti bohlam: dihormati selama berdaya, dilupakan saat tak lagi bersinar.<\/p>\n<p>Perjalanan hidup manusia justru menunjukkan bahwa nilai sejati tidak terletak pada kekuasaan, produktivitas, ataupun kekuatan. Cahaya manusia bukan hanya cahaya yang ia pancarkan ke luar, tetapi juga cahaya yang ia simpan di dalam: ingatan, rasa, kehendak, cinta, dan kebijaksanaan. Ketika bohlam padam, ia hilang tanpa jejak; tetapi ketika manusia memasuki masa pensiun, ia tidak serta-merta menjadi rongsokan. Ia membawa sejarah dalam dirinya, sebuah ruang batin yang berisi pengalaman yang tidak pernah benar-benar kehilangan makna hanya karena dunia tak lagi menuntut jasanya.<\/p>\n<p>Sebaliknya, ada yang tetap tidak bisa disangkal: tubuh manusia menua, kemampuan melemah, peran berkurang. Kesadaran akan keterbatasan ini sering melahirkan perasaan hampa. Di sinilah manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, bukan sebagai pekerja, bukan sebagai penguasa, bukan sebagai pemilik fungsi tertentu, tetapi sebagai makhluk yang harus menerima bahwa hidup itu sementara. Penerimaan inilah yang menuntut kedewasaan filosofis. Karena justru ketika manusia tidak lagi memiliki penopang kekuasaan atau prestasi, ia dipaksa melihat nilai dirinya yang paling jujur.<\/p>\n<p>Nilai tersebut tidak lagi bergantung pada watt tenaga yang ia keluarkan, melainkan pada keberadaannya sebagai subjek yang dapat menghayati dan memberi makna. Perumpamaan bohlam rongsokan ingin mengingatkan bahwa jika manusia menilai dirinya semata-mata dari daya yang ia pancarkan, maka ia memang akan merasa menjadi rongsokan ketika tak lagi bersinar. Namun jika manusia menyadari bahwa nilai dirinya berasal dari keberadaannya sebagai pribadi yang mampu merasakan, memahami, dan menciptakan makna, maka masa pensiun bukanlah titik kejatuhan, melainkan tahap transformasi.<br \/>\nPada masa ketika produktivitas tak lagi menjadi pusat hidup, manusia dapat menemukan bentuk cahaya lain: cahaya kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman pahit dan manis, cahaya yang tidak mengharuskan tubuh kuat atau peran besar, melainkan muncul dari kedalaman refleksi. Cahaya ini tidak menyinari ruangan seperti bohlam, tetapi menyinari batin; baik batin sendiri maupun batin orang lain melalui cerita, empati, dan kehadiran. Cahaya ini tidak padam sebagaimana padamnya alat, karena ia bukan barang, melainkan bagian dari perjalanan manusia menuju pemahaman yang lebih utuh tentang dirinya.<\/p>\n<p>Dengan demikian, ungkapan tentang bohlam rongsokan sebenarnya merupakan undangan untuk merenungkan kembali bagaimana manusia menilai dirinya. Jika manusia menggantungkan martabat pada kekuasaan atau kekuatan, ia akan berakhir seperti bohlam: usang dan dibuang. Namun jika ia memahami bahwa dirinya memiliki nilai yang tidak ditentukan oleh fungsi, maka masa surut dalam hidup bukanlah kehancuran, melainkan kesempatan untuk menegaskan kemanusiaan yang lebih mendalam.<\/p>\n<p>Manusia tidak dilahirkan sebagai alat, dan karena itu ia tidak berakhir sebagai rongsokan. Selama manusia mampu mengingat, mengenang, mencinta, memaknai, dan memberi pengaruh dalam keheningan sekalipun, ia tetap memiliki cahaya. Cahaya itu mungkin tidak lagi menyilaukan seperti masa muda atau masa puncak karier, tetapi ia adalah cahaya yang lebih tenang; cahaya yang justru menunjukan hakikat manusia sebagai makhluk yang melampaui kegunaan. Manusia yang tidak sekadar bersinar; tetapi manusia yang berarti. Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p>Editor : Fadly KR<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Di serambi pesantren yang mulai temaram menjelang magrib, seorang santri muda duduk bersimpuh di hadapan kiainya. Angin sore membawa aroma kayu basah, sementara lampu-lampu gantung berbohlam di mushala mulai dinyalakan. Salah satu bohlam tua berkelap-kelip, seolah berjuang mempertahankan cahayanya. \u201cYai,\u201d ujar sang santri pelan, menatap bohlam yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":81034,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[15,10],"class_list":["post-82511","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","tag-guru-besar","tag-universitas-malahayati"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Cahaya yang Redup di Ujung Usia - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cahaya yang Redup di Ujung Usia - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Di serambi pesantren yang mulai temaram menjelang magrib, seorang santri muda duduk bersimpuh di hadapan kiainya. Angin sore membawa aroma kayu basah, sementara lampu-lampu gantung berbohlam di mushala mulai dinyalakan. Salah satu bohlam tua berkelap-kelip, seolah berjuang mempertahankan cahayanya. \u201cYai,\u201d ujar sang santri pelan, menatap bohlam yang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-27T04:08:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511\",\"name\":\"Cahaya yang Redup di Ujung Usia - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"datePublished\":\"2025-11-27T04:08:17+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"width\":500,\"height\":500},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cahaya yang Redup di Ujung Usia\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cahaya yang Redup di Ujung Usia - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Cahaya yang Redup di Ujung Usia - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Di serambi pesantren yang mulai temaram menjelang magrib, seorang santri muda duduk bersimpuh di hadapan kiainya. Angin sore membawa aroma kayu basah, sementara lampu-lampu gantung berbohlam di mushala mulai dinyalakan. Salah satu bohlam tua berkelap-kelip, seolah berjuang mempertahankan cahayanya. \u201cYai,\u201d ujar sang santri pelan, menatap bohlam yang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-11-27T04:08:17+00:00","og_image":[{"width":500,"height":500,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","type":"image\/png"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511","name":"Cahaya yang Redup di Ujung Usia - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","datePublished":"2025-11-27T04:08:17+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","width":500,"height":500},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82511#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cahaya yang Redup di Ujung Usia"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82511","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=82511"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82511\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82512,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82511\/revisions\/82512"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/81034"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=82511"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=82511"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=82511"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}