{"id":82907,"date":"2025-12-08T07:18:36","date_gmt":"2025-12-08T07:18:36","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907"},"modified":"2025-12-08T07:18:36","modified_gmt":"2025-12-08T07:18:36","slug":"ujung-ujungnyo-samo-bae","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907","title":{"rendered":"Ujung-Ujungnyo Samo Bae"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo<\/strong><br \/>\nGuru Besar Universitas Malahayati Lampung<\/p>\n<p>\u2013<\/p>\n<p>Pagi itu, dua sahabat yang punya kebiasaan minum kopi di warung Bi Cik pinggir jalan berjumpa; mulailah \u201ckelakar Palembang\u201d mereka berdua dimulai;\u00a0<em>\u201cApo kau dak raso,<\/em>\u00a0<em>perasoan ku tiap ganti pemimpin, ujung-ujung nyo samo<\/em>\u00a0<em>bae,<\/em>\u201d ujar Beni sambil mengaduk kopi encer setengah gelas, maklum kuli panggul ini belum dapat uang masuk.<br \/>\n\u201cO<em>eee..teraso<\/em>\u00a0Yung,\u201d balas Yusri,\u00a0<em>nyengir<\/em>\u00a0pahit. \u201cWaktu kampanye\u00a0<em>bae cak<\/em>\u00a0hebat\u00a0<em>nian ngomongnyo.<\/em>\u00a0Janji ini, janji itu. Tapi sudah duduk di kursi,\u00a0<em>dak kejingokan jugo bedanyo samo<\/em>\u00a0yang\u00a0<em>lamo.\u201d<\/em><br \/>\nBeni ngangguk pelan.\u00a0<em>\u201cKito ni<\/em>\u00a0berharap\u00a0<em>jugo sebenernyo. Siapo<\/em>\u00a0tau\u00a0<em>ado<\/em>\u00a0angin baru,\u00a0<em>ado<\/em>\u00a0perubahan. Tapi\u00a0<em>kenyatoannyo,<\/em>\u00a0jalan berlubang tetap\u00a0<em>bae<\/em>\u00a0lubang,\u00a0<em>ngantri<\/em>\u00a0solar masih\u00a0<em>mak la,<\/em>\u00a0harga\u00a0<em>segalo mecem kebutuan edup<\/em>\u00a0makin\u00a0<em>naek bae,<\/em>\u00a0pelayanan masih\u00a0<em>cak<\/em>\u00a0dulu\u00a0<em>tu la.\u201d<\/em><br \/>\nYusri mendesah. \u201cKadang kito ni dak tau lagi harus percaya\u00a0<em>samo siapo.<\/em>\u00a0Masyarakat\u00a0<em>ni<\/em>\u00a0jauh lebih maju pikiran\u00a0<em>nyo,<\/em>\u00a0tapi\u00a0<em>sistemnyo<\/em>\u00a0tetap\u00a0<em>samo. Dak cak<\/em>\u00a0bergerak,\u201d Beni tersenyum getir.\u00a0<em>\u201cYo<\/em>\u00a0sudah, Yung.\u00a0<em>Kito<\/em>\u00a0cuman\u00a0<em>pacak mbahas bae.<\/em>\u00a0Tapi hati\u00a0<em>kecik<\/em>\u00a0tetap berharap, walau sering kecewa.\u201d<br \/>\n\u201cBener, Ben. Hidup\u00a0<em>ni<\/em>\u00a0harus\u00a0<em>ado<\/em>\u00a0harapan\u00a0<em>jugo,<\/em>\u00a0walau ujung-ujung\u00a0<em>nyo<\/em>\u00a0kadang\u2026\u00a0<em>samo bae, cak lamo tu la\u201d<\/em><\/p>\n<p>Ungkapan\u00a0<em>\u201cujung-ujung nyo samo bae\u201d<\/em>\u00a0dalam bahasa Palembang mengandung kritik sosial yang tajam terhadap dinamika pergantian pemimpin yang tidak menghasilkan perubahan berarti. Dalam masyarakat yang mengalami siklus pergantian kekuasaan, baik pada tingkat lokal maupun nasional, ungkapan ini menjadi penanda kekecewaan kolektif ketika harapan akan perbaikan terhalang oleh pola lama yang terus berulang. Dari sudut pandang sosiologi kontemporer, ungkapan ini bukan hanya ekspresi frustrasi, tetapi juga cermin atas relasi kuasa, struktur sosial, dan budaya politik yang memengaruhi cara masyarakat menilai legitimasi dan efektivitas pemimpin.<\/p>\n<p>Dalam kerangka teori struktur dan agensi, kondisi\u00a0<em>\u201csamo bae\u201d<\/em>\u00a0muncul ketika struktur kekuasaan yang mengakar begitu kuat sehingga pergantian individu tidak mampu mengubah arah kebijakan, pola interaksi, atau nilai yang mendasari pengambilan keputusan. Pemimpin baru sering kali masuk ke dalam sistem yang sudah mapan, di mana norma, kepentingan, serta jaringan sosial-politik telah terbentuk dan saling mengikat. Ketika seorang pemimpin berusaha melakukan perubahan, ia kerap berhadapan dengan resistensi struktural yang membuat agenda pembaruan menjadi sulit diwujudkan. Pada akhirnya, meski wajah berganti, pola kekuasaan tetap berjalan seperti sebelumnya. Di sini, masyarakat menangkap bahwa perubahan hanya terjadi pada permukaan, sementara inti masalah tetap bertahan<\/p>\n<p>Di sisi lain, budaya politik juga memainkan peran penting dalam mempertahankan keadaan \u201csamo bae\u201d. Dalam banyak komunitas, terdapat kebiasaan untuk melihat pemimpin sebagai figur simbolik yang memiliki jarak dengan masyarakat. Akibatnya, partisipasi publik tidak berkembang menjadi tekanan sosial yang kuat untuk mendorong reformasi. Tanpa pengawasan dari masyarakat, pemimpin cenderung mengikuti pola birokrasi yang sudah ada, memastikan bahwa status quo tetap aman. Inilah yang menyebabkan berulangnya siklus kekecewaan, di mana masyarakat berharap pemimpin baru dapat membawa angin segar, tetapi realitas politik justru menempatkan mereka dalam pusaran kepentingan lama yang sulit diubah.<\/p>\n<p>Dari perspektif sosiologi kritis, ungkapan itu juga menggambarkan bagaimana ideologi dominan bekerja meredam potensi perubahan. Ketika masyarakat dikondisikan untuk menerima keadaan sebagai sesuatu yang \u201cmemang sudah begini dari dulu\u201d, maka kritik sosial menjadi tumpul. Pola pikir seperti ini dikenal sebagai hegemoni, yaitu ketika nilai-nilai sistemik diterima begitu saja sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, yang \u201cwajar\u201d tersebut sebenarnya merupakan hasil dari distribusi kuasa yang tidak merata. Dengan demikian, \u201cujung-ujung\u00a0<em>nyo samo bae\u201d<\/em>\u00a0bukan sekadar keluhan, tetapi tanda bahwa hegemoni telah bekerja hingga membuat masyarakat pasrah terhadap stagnasi.<br \/>\nSelain itu, fenomena tersebut dapat dilihat melalui teori reproduksi sosial, di mana institusi terus mewariskan pola dan kebiasaan dari satu generasi pemimpin ke generasi berikutnya. Dalam birokrasi yang kaku, pola kerja, prioritas kebijakan, dan relasi antar-elite diwariskan secara informal melalui mekanisme sosialisasi internal. Pemimpin baru belajar dari pemimpin lama, mengikuti jejak yang dianggap aman, dan akhirnya meneruskan praktik yang sudah terbukti bertahan. Di wilayah-wilayah tertentu, termasuk di banyak daerah Indonesia, wajar jika muncul kesimpulan bahwa pergantian pemimpin hanyalah pergantian kursi, bukan pergantian cara berpikir. Di sinilah ungkapan itu menemukan relevansinya dalam realitas sosial.<\/p>\n<p>Namun, situasi ini tidak sepenuhnya tanpa perlawanan. Dalam sosiologi kontemporer, masyarakat modern menunjukkan kecenderungan untuk semakin kritis, terutama melalui media digital. Ruang publik virtual menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengekspresikan ketidakpuasan dan menuntut akuntabilitas. Walau demikian, suara-suara ini sering kali terpecah atau tidak terorganisasi, sehingga tidak selalu mampu mengganggu struktur kekuasaan secara signifikan. Fenomena ini menguatkan paradoks: kritik semakin lantang, tetapi perubahan tetap lambat; harapan semakin besar, tetapi hasilnya\u00a0<em>\u201csamo bae\u201d.<\/em>\u00a0Paradoks inilah yang memperkuat makna ungkapan tersebut dalam konteks jaman sekarang.<\/p>\n<p>Dalam analisis yang lebih reflektif, ungkapan itu sebetulnya menggambarkan dilema sosial antara keinginan kolektif untuk berubah dan keterikatan pada kenyamanan struktur lama. Masyarakat menginginkan pemimpin yang tegas, inovatif, dan responsif, tetapi dalam praktiknya tekanan sosial untuk mempertahankan harmoni dan menghindari konflik sering kali lebih dominan. Hal ini menciptakan budaya kompromi yang ekstrem, di mana perubahan radikal dipandang sebagai ancaman, bukan solusi. Ketika budaya ini menguasai ruang publik, pemimpin baru pun akhirnya menyesuaikan diri demi menghindari gesekan sosial maupun politik.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, \u201cujung-ujung\u00a0<em>nyo samo bae\u201d<\/em>\u00a0merupakan refleksi mendalam mengenai siklus kekuasaan dalam masyarakat. Ungkapan ini mengajak kita melihat bahwa perubahan itu sebenarnya tidak cukup hanya dengan mengganti figur. Perubahan yang substansial membutuhkan revitalisasi struktur, budaya politik, serta pola interaksi antara masyarakat dan pemimpin. Selama struktur tetap kaku dan budaya politik tidak mendukung transformasi, pergantian pemimpin akan terus memunculkan kekecewaan yang sama. Ungkapan itu, walau sederhana, menjadi suara kolektif yang mengingatkan bahwa perubahan sejati tidak sekadar soal wajah baru, tetapi juga tentang sistem baru yang memungkinkan harapan baru benar-benar diwujudkan. Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p>Editor : Fadly KR<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Pagi itu, dua sahabat yang punya kebiasaan minum kopi di warung Bi Cik pinggir jalan berjumpa; mulailah \u201ckelakar Palembang\u201d mereka berdua dimulai;\u00a0\u201cApo kau dak raso,\u00a0perasoan ku tiap ganti pemimpin, ujung-ujung nyo samo\u00a0bae,\u201d ujar Beni sambil mengaduk kopi encer setengah gelas, maklum kuli panggul ini belum dapat uang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":81034,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-82907","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ujung-Ujungnyo Samo Bae - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ujung-Ujungnyo Samo Bae - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Pagi itu, dua sahabat yang punya kebiasaan minum kopi di warung Bi Cik pinggir jalan berjumpa; mulailah \u201ckelakar Palembang\u201d mereka berdua dimulai;\u00a0\u201cApo kau dak raso,\u00a0perasoan ku tiap ganti pemimpin, ujung-ujung nyo samo\u00a0bae,\u201d ujar Beni sambil mengaduk kopi encer setengah gelas, maklum kuli panggul ini belum dapat uang [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-12-08T07:18:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907\",\"name\":\"Ujung-Ujungnyo Samo Bae - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"datePublished\":\"2025-12-08T07:18:36+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"width\":500,\"height\":500},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ujung-Ujungnyo Samo Bae\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ujung-Ujungnyo Samo Bae - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ujung-Ujungnyo Samo Bae - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Pagi itu, dua sahabat yang punya kebiasaan minum kopi di warung Bi Cik pinggir jalan berjumpa; mulailah \u201ckelakar Palembang\u201d mereka berdua dimulai;\u00a0\u201cApo kau dak raso,\u00a0perasoan ku tiap ganti pemimpin, ujung-ujung nyo samo\u00a0bae,\u201d ujar Beni sambil mengaduk kopi encer setengah gelas, maklum kuli panggul ini belum dapat uang [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-12-08T07:18:36+00:00","og_image":[{"width":500,"height":500,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","type":"image\/png"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907","name":"Ujung-Ujungnyo Samo Bae - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","datePublished":"2025-12-08T07:18:36+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","width":500,"height":500},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=82907#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ujung-Ujungnyo Samo Bae"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82907","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=82907"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82907\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":82911,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/82907\/revisions\/82911"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/81034"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=82907"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=82907"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=82907"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}