{"id":83133,"date":"2025-12-23T06:55:05","date_gmt":"2025-12-23T06:55:05","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133"},"modified":"2025-12-23T06:55:05","modified_gmt":"2025-12-23T06:55:05","slug":"belajar-berdamai-dengan-kenyataan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133","title":{"rendered":"Belajar Berdamai dengan Kenyataan"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo<\/strong><br \/>\nGuru Besar Universitas Malahayati Lampung<\/p>\n<p>\u2013<\/p>\n<p>Di serambi pesantren yang tenang, selepas salat Subuh, seorang santri duduk bersila dengan wajah gelisah. Angin pagi menggerakkan dedaunan, sementara sang Kiai menyesap teh hangat di hadapannya.<\/p>\n<p>\u201cYai,\u201d kata sang santri pelan, \u201cmengapa hidup sering tidak berjalan seperti yang saya harapkan? Saya sudah berusaha, berdoa, dan merencanakan secara matang, tetapi hasilnya selalu berbeda.\u201d<\/p>\n<p>Sang kiai tersenyum tipis sambil menggeser duduknya. \u201cNak, apakah kau datang ke Pesantren ini dengan membawa semua keinginanmu sendiri?\u201d<\/p>\n<p>Santri itu terdiam sejenak. \u201cSaya datang dengan harapan menjadi orang yang lebih baik,\u201d jawabnya ragu.<\/p>\n<p>\u201cDan apakah semua harapanmu itu terpenuhi dengan mudah?\u201d tanya sang kiai lagi.<\/p>\n<p>\u201cTidak, Yai. Banyak yang terasa berat. Terkadang saya ingin pulang, kadang saya bertanya-tanya apakah jalan ini benar.\u201d<\/p>\n<p>Sang kiai meletakkan cangkirnya. \u201cSejatinya di situlah pelajaran dimulai. Manusia sering mengira hidup adalah tempat menagih keinginan. Padahal hidup adalah ruang untuk menerima pelajaran. Tidak semua yang kau inginkan perlu terjadi agar kau bertumbuh.\u201d<\/p>\n<p>Santri menunduk. \u201cJadi, saya tidak boleh berharap?\u201d<\/p>\n<p>\u201cBoleh,\u201d jawab sang Kiai lembut. \u201cNamun jangan menggantungkan hatimu sepenuhnya pada harapan. Harapan yang terlalu kuat bisa membuatmu menolak kenyataan. Padahal, kenyataan itulah yang sedang membentukmu; bahkan kaum sufi mengatakan kenyataan itu adalah utusan Allah untukmu\u201d<\/p>\n<p>\u201cLalu apa yang harus saya lakukan, Yai?\u201d tanya santri.<\/p>\n<p>\u201cTerimalah apa yang telah terjadi dengan lapang dada,\u201d kata sang kiai. \u201cBukan berarti berhenti berusaha, tetapi berhenti memusuhi hidup. Dari penerimaan, maka lahirlah ketenangan. Dari ketenanganlah, akan lahir kebijaksanaan.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu mengangguk perlahan. Di antara keheningan pagi dan lantunan ayat yang samar terdengar dari kejauhan, ia mulai memahami bahwa tidak semua keinginan harus terwujud, tetapi setiap kejadian selalu membawa makna bagi mereka yang bersedia menerimanya.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan seperti saat ini; yang serba bergerak cepat, manusia sering hidup dengan daftar keinginan yang panjang. Keinginan itu disusun dari harapan sosial, tuntutan pribadi, dan gambaran ideal tentang masa depan yang terus diproduksi oleh lingkungan sekitar.<\/p>\n<p>Sejak usia muda, seseorang diajarkan untuk merencanakan hidup secara rinci: apa yang harus dicapai, kapan harus berhasil, dan bagaimana kebahagiaan seharusnya terlihat. Namun, realitas tidak pernah sepenuhnya patuh pada rencana manusia. Di sinilah muncul ketegangan mendasar antara apa yang diinginkan dan apa yang sungguh terjadi.<\/p>\n<p>Filsafat kontemporer melihat ketegangan ini bukan sebagai kesalahan hidup, melainkan sebagai kondisi dasar manusia. Hidup tidak pernah netral; ia selalu mengandung ketidakpastian.<\/p>\n<p>Ketika seseorang menggantungkan makna hidup sepenuhnya pada terpenuhinya keinginan, maka hidup menjadi rapuh. Setiap kegagalan kecil dapat terasa seperti runtuhnya seluruh makna.<\/p>\n<p>Harapan yang berlebihan justru sering melahirkan kekecewaan yang mendalam, bukan karena dunia kejam, tetapi karena manusia memaksakan dunia agar sesuai dengan kehendaknya.<\/p>\n<p>Keinginan pada dasarnya bukanlah sesuatu yang salah. Ia memberi arah dan energi. Namun, masalah muncul ketika keinginan berubah menjadi tuntutan mutlak. Pada titik itu, manusia berhenti melihat kenyataan sebagaimana adanya. Ia hanya melihat kekurangan: apa yang belum tercapai, apa yang tidak sesuai rencana, dan apa yang seharusnya terjadi tetapi tidak terjadi.<\/p>\n<p>Cara pandang ini membuat manusia terasing dari hidupnya sendiri. Ia hadir secara fisik, tetapi pikirannya selalu berada di masa depan yang diidealkan atau masa lalu yang disesali.<\/p>\n<p>Menerima segala yang sudah terjadi bukan berarti menyerah atau menjadi pasif. Penerimaan dalam pengertian filosofis justru menuntut kesadaran yang aktif. Ia mengajak manusia untuk mengakui kenyataan tanpa penyangkalan, tanpa memperindah, dan tanpa mengutuk secara berlebihan.<\/p>\n<p>Dengan penerimaan, seseorang berhenti berperang dengan kenyataan. Energi yang sebelumnya habis untuk menolak dan menyalahkan dapat dialihkan untuk memahami dan merespons secara lebih bijak.<\/p>\n<p>Dalam dunia kontemporer, penerimaan menjadi sikap yang semakin relevan. Informasi yang berlimpah membuat manusia terus membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Media sosial, misalnya, menciptakan ilusi bahwa semua orang mencapai apa yang mereka inginkan. Akibatnya, kegagalan pribadi terasa semakin menyakitkan.<\/p>\n<p>Dalam situasi ini, menerima apa yang telah terjadi menjadi bentuk perlawanan yang sunyi terhadap tekanan untuk selalu sempurna. Ia menegaskan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh kesesuaian dengan standar eksternal, melainkan oleh kejujuran dalam menjalani pengalaman sendiri.<\/p>\n<p>Menerima tidak sama dengan membenarkan semua hal yang terjadi. Ada peristiwa yang memang menyakitkan, tidak adil, dan sulit dipahami. Filsafat kontemporer tidak meminta manusia untuk memaknai penderitaan secara instan atau memaksakan optimisme kosong.<\/p>\n<p>Yang ditekankan adalah keberanian untuk tetap hadir bersama pengalaman tersebut, tanpa melarikan diri ke dalam penyesalan atau harapan yang tidak realistis. Dari kehadiran inilah muncul kemungkinan makna yang lebih dalam, bukan makna yang dipaksakan, tetapi yang tumbuh perlahan.<\/p>\n<p>Ketika seseorang berhenti mengharapkan semua terjadi sesuai keinginannya, ia mulai membuka ruang bagi kebebasan batin. Hidup tidak lagi dipandang sebagai proyek yang harus sempurna, melainkan sebagai proses yang terus berlangsung.<\/p>\n<p>Dalam proses itu, kegagalan tidak selalu berarti akhir, dan keberhasilan tidak selalu berarti kepenuhan. Yang penting adalah bagaimana seseorang menanggapi setiap peristiwa dengan kesadaran dan tanggung jawab.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, menerima segala yang sudah terjadi bukanlah sikap pesimis, melainkan bentuk kedewasaan eksistensial. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak berkuasa atas segalanya, tetapi tetap memiliki kebebasan untuk memilih sikap.<\/p>\n<p>Di tengah dunia yang tidak selalu ramah dan tidak pernah sepenuhnya dapat dikendalikan, penerimaan menjadi cara untuk tetap hidup secara utuh. Dengan berhenti menuntut hidup agar selalu sesuai keinginan, manusia justru menemukan ketenangan yang lebih jujur, dan dari sanalah kemungkinan kebijaksanaan akan muncul. Salam Waras (SJ)<\/p>\n<p>Editor : Fadly KR<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Di serambi pesantren yang tenang, selepas salat Subuh, seorang santri duduk bersila dengan wajah gelisah. Angin pagi menggerakkan dedaunan, sementara sang Kiai menyesap teh hangat di hadapannya. \u201cYai,\u201d kata sang santri pelan, \u201cmengapa hidup sering tidak berjalan seperti yang saya harapkan? Saya sudah berusaha, berdoa, dan merencanakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":81034,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-83133","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Belajar Berdamai dengan Kenyataan - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Belajar Berdamai dengan Kenyataan - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Di serambi pesantren yang tenang, selepas salat Subuh, seorang santri duduk bersila dengan wajah gelisah. Angin pagi menggerakkan dedaunan, sementara sang Kiai menyesap teh hangat di hadapannya. \u201cYai,\u201d kata sang santri pelan, \u201cmengapa hidup sering tidak berjalan seperti yang saya harapkan? Saya sudah berusaha, berdoa, dan merencanakan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-12-23T06:55:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"500\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133\",\"name\":\"Belajar Berdamai dengan Kenyataan - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"datePublished\":\"2025-12-23T06:55:05+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png\",\"width\":500,\"height\":500},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Belajar Berdamai dengan Kenyataan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Belajar Berdamai dengan Kenyataan - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Belajar Berdamai dengan Kenyataan - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Lampung \u2013 Di serambi pesantren yang tenang, selepas salat Subuh, seorang santri duduk bersila dengan wajah gelisah. Angin pagi menggerakkan dedaunan, sementara sang Kiai menyesap teh hangat di hadapannya. \u201cYai,\u201d kata sang santri pelan, \u201cmengapa hidup sering tidak berjalan seperti yang saya harapkan? Saya sudah berusaha, berdoa, dan merencanakan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2025-12-23T06:55:05+00:00","og_image":[{"width":500,"height":500,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","type":"image\/png"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133","name":"Belajar Berdamai dengan Kenyataan - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","datePublished":"2025-12-23T06:55:05+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/jarwo.png","width":500,"height":500},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=83133#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Belajar Berdamai dengan Kenyataan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/83133","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=83133"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/83133\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":83136,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/83133\/revisions\/83136"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/81034"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=83133"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=83133"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=83133"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}