{"id":84139,"date":"2026-03-02T06:12:56","date_gmt":"2026-03-02T06:12:56","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139"},"modified":"2026-03-02T06:21:26","modified_gmt":"2026-03-02T06:21:26","slug":"dialog-imaginer-sebelum-kepulangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139","title":{"rendered":"DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo<\/p>\n<p>Guru Besar Universitas Malahayati<\/p>\n<p>Ruangan itu hening, seolah waktu menahan napasnya sendiri. Cahaya redup menggantung di langit-langit, dan detak yang tersisa berdentang pelan seperti lonceng jauh di lembah tak terlihat. Di antara bayang dan napas yang menipis, hadir sebuah percakapan yang tak terdengar oleh telinga dunia; percakapan antara yang datang untuk menjemput dan yang bersiap untuk pulang.<\/p>\n<p>\u201cAku tahu kau ada,\u201d bisik manusia itu dalam batinnya, tanpa suara, tanpa gerak bibir. \u201cSejak beberapa hari lalu, udara terasa berbeda. Ada dingin yang tak berasal dari angin.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku selalu ada,\u201d jawab malaikat pencabut nyawa, lembut tanpa mengguncang. \u201cBukan untuk menakutkan, melainkan untuk menuntun. Setiap yang bernapas telah dijanjikan akan dipertemukan denganku.\u201d<\/p>\n<p>\u201cApakah ini saatnya?\u201d tanya manusia itu. Ada gemetar di antara pasrah dan ragu.<\/p>\n<p>\u201cWaktu bukan milikmu, dan bukan pula milikku,\u201d sahut sang malaikat. \u201cIa adalah titipan yang kini kembali kepada Pemiliknya. Saatnya telah sampai sebagaimana tertulis, tidak lebih cepat, tidak pula terlambat.\u201d<\/p>\n<p>Manusia itu terdiam. Ingatan berkelindan seperti lembaran-lembaran yang tersibak angin. Wajah-wajah yang dicintai, tawa yang pernah mengisi ruang makan, tangis yang pecah di sudut malam, doa-doa yang kadang khusyuk, kadang tergesa. \u201cAku belum selesai,\u201d gumamnya. \u201cMasih ada yang ingin kupeluk lebih lama. Masih ada maaf yang belum sempat kuucapkan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTak ada manusia yang merasa benar-benar selesai,\u201d jawab malaikat itu. \u201cKehidupan di dunia adalah persinggahan. Ia tak dirancang untuk lengkap, melainkan untuk menguji dan membentuk. Yang kau sebut belum selesai, sering kali adalah kerinduan untuk menunda perpisahan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTapi aku takut,\u201d suara itu kini lebih jujur. \u201cTakut pada gelap. Takut pada pengadilan atas segala yang telah kulakukan. Ada hari-hari ketika aku lalai. Ada kata-kata yang menyakiti. Ada kesempatan berbuat baik yang kulewatkan. Ada dosa yang kulakukan\u201d<\/p>\n<p>Keheningan mengembang, namun bukan keheningan yang kosong. \u201cTakut adalah tanda bahwa hatimu masih hidup,\u201d kata malaikat itu. \u201cNamun ingatlah, rahmat lebih luas daripada kesalahan. Pintu ampunan tak tertutup selama napas masih ada. Bahkan kini, di detik-detik terakhirmu, penyesalan yang tulus memiliki cahaya.\u201d<\/p>\n<p>Manusia itu merasakan sesuatu meluruh dari dadanya; bukan sakit, melainkan beban. \u201cApakah semua akan diperlihatkan?\u201d tanyanya lirih.<\/p>\n<p>\u201cSemua yang kau tanam akan kau lihat tumbuhnya,\u201d jawab Sang Penjemput. \u201cKebaikan sekecil apa pun tak akan hilang, sebagaimana keburukan sekecil apa pun tak akan tersembunyi. Tetapi keadilan tak pernah berdiri tanpa kasih.\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku sering mengira hidup ini panjang,\u201d lanjut manusia itu. \u201cAku menunda-nunda perubahan. Kukira esok selalu tersedia untuk ku.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBegitulah manusia belajar tentang waktu,\u201d balas malaikat. \u201cIa terasa luas saat dijalani, namun tampak singkat ketika dikenang. Banyak yang baru memahami arti satu hari ketika hari-harinya hampir habis.\u201d<\/p>\n<p>Ada desir halus, seperti tirai yang bergeser. Tubuh di tempat tidur itu semakin lemah, tetapi kesadarannya justru terasa terang. \u201cApakah perpisahan ini menyakitkan?\u201d pertanyaan itu meluncur seperti anak kecil yang takut pada malam.<\/p>\n<p>\u201cBagi yang hatinya terpaut hanya pada dunia, perpisahan terasa seperti direnggut,\u201d ujar malaikat dengan tenang. \u201cNamun bagi yang memandang dunia sebagai ladang, ia adalah musim panen. Rasa yang kau alami akan sepadan dengan apa yang memenuhi hatimu.\u201d<\/p>\n<p>Manusia itu mencoba menimbang hatinya sendiri. Ada cinta pada keluarga, ada bangga pada pencapaian, ada sesal atas kesalahan, dan ada rindu pada kedamaian yang lebih dalam dari sekadar istirahat. \u201cJika aku diberi satu kesempatan lagi,\u201d katanya, \u201caku ingin lebih banyak bersyukur dan lebih sedikit mengeluh. Lebih cepat meminta maaf dan lebih ringan memberi.\u201d<\/p>\n<p>\u201cSetiap jiwa memiliki kesempatan saat waktunya berjalan,\u201d jawab malaikat. \u201cKini kesempatanmu berubah bentuk. Bukan lagi untuk menambah amal, melainkan untuk menyerahkan hasilnya.\u201d<\/p>\n<p>\u201cApakah mereka akan baik-baik saja?\u201d tanya manusia itu, memikirkan yang akan ditinggalkan.<\/p>\n<p>\u201cSetiap jiwa memiliki jalannya sendiri,\u201d sahut sang malaikat. \u201cSebagaimana kau dijaga sepanjang hidupmu, mereka pun dalam penjagaan yang sama. Kepergianmu adalah bagian dari kisah mereka, sebagaimana kepergian orang-orang sebelum ini pernah membentuk dirimu.\u201d<\/p>\n<p>Napas itu semakin tipis, seperti benang yang hampir putus. Namun di ambang itu, ada kejernihan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. \u201cAku siap,\u201d ucap manusia itu akhirnya. Bukan tanpa sedih, tetapi tanpa penolakan.<\/p>\n<p>\u201cBerserahlah,\u201d bisik malaikat pencabut nyawa. \u201cLepaskan sebagaimana daun melepaskan dirinya dari dahan saat musimnya tiba. Engkau tak sedang menuju ketiadaan, melainkan berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain.\u201d<\/p>\n<p>Detik terakhir tiba bukan dengan dentuman, melainkan dengan kelembutan yang tak terlukiskan. Di dunia, mungkin hanya terdengar helaan napas panjang yang terhenti. Namun di balik tabir, sebuah perjalanan dimulai.<\/p>\n<p>Percakapan itu usai, tetapi maknanya tinggal bagi siapa pun yang masih bernapas. Bahwa kematian bukan sekadar akhir yang menakutkan, melainkan cermin yang memantulkan cara kita menjalani hidup. Di ambang sunyi yang terakhir, manusia tak lagi membawa harta atau gelar, hanya jejak amal dan keadaan hati. Dan di sana, di antara takut dan harap, setiap jiwa akhirnya belajar bahwa hidup adalah kesempatan yang terlalu berharga untuk ditunda-tunda. \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0648\u0652\u062a \u0630\u064e\u0627\u0626\u0650\u0642\u064e\u0629\u064f \u0646\u064e\u0641\u0652\u0633\u064d \u0643\u064f\u0644\u064f\u0651 (Kullu nafsin \u017c\u0101&#8217;iqatul-maut).<\/p>\n<p>Salam Ramadan<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Ruangan itu hening, seolah waktu menahan napasnya sendiri. Cahaya redup menggantung di langit-langit, dan detak yang tersisa berdentang pelan seperti lonceng jauh di lembah tak terlihat. Di antara bayang dan napas yang menipis, hadir sebuah percakapan yang tak terdengar oleh telinga dunia; percakapan antara yang datang untuk menjemput dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":83993,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-84139","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Ruangan itu hening, seolah waktu menahan napasnya sendiri. Cahaya redup menggantung di langit-langit, dan detak yang tersisa berdentang pelan seperti lonceng jauh di lembah tak terlihat. Di antara bayang dan napas yang menipis, hadir sebuah percakapan yang tak terdengar oleh telinga dunia; percakapan antara yang datang untuk menjemput dan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-02T06:12:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-03-02T06:21:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"688\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"375\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139\",\"name\":\"DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"datePublished\":\"2026-03-02T06:12:56+00:00\",\"dateModified\":\"2026-03-02T06:21:26+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"width\":688,\"height\":375},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Ruangan itu hening, seolah waktu menahan napasnya sendiri. Cahaya redup menggantung di langit-langit, dan detak yang tersisa berdentang pelan seperti lonceng jauh di lembah tak terlihat. Di antara bayang dan napas yang menipis, hadir sebuah percakapan yang tak terdengar oleh telinga dunia; percakapan antara yang datang untuk menjemput dan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2026-03-02T06:12:56+00:00","article_modified_time":"2026-03-02T06:21:26+00:00","og_image":[{"width":688,"height":375,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139","name":"DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","datePublished":"2026-03-02T06:12:56+00:00","dateModified":"2026-03-02T06:21:26+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","width":688,"height":375},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84139#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84139","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=84139"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84139\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84141,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84139\/revisions\/84141"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/83993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=84139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=84139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=84139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}