{"id":84256,"date":"2026-03-11T05:22:24","date_gmt":"2026-03-11T05:22:24","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256"},"modified":"2026-03-11T05:22:24","modified_gmt":"2026-03-11T05:22:24","slug":"diantara-cukup-dan-tenang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256","title":{"rendered":"Diantara Cukup dan Tenang"},"content":{"rendered":"<p><strong>Oleh: Sudjarwo, <\/strong><\/p>\n<p><strong>Guru Besar Universitas Malahayati Lampung<\/strong><\/p>\n<p>Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) \u2013 Selepas sholat subuh di suatu pesantren; seorang santri muda mendekati Kiai di serambi pondok, dan berkata: \u201cYai, kenapa saya merasa selalu kurang, padahal kebutuhan sudah tercukupi?\u201d tanya santri muda tadi. Suaranya lirih, seolah takut mengganggu ketenangan pagi yang masih diselimuti embun.<br \/>\nSang kiai tidak segera menjawab. Ia memandang halaman pesantren yang masih lengang, lalu berkata pelan, \u201cNak, yang sering kurang itu bukan hidupmu, melainkan ukuranmu tentang hidup.\u201d Santri itu mengangkat wajahnya. \u201cBukankah cukup berarti punya banyak, Yai?\u201d. \u201cTidak selalu,\u201d jawab sang kiai, sambil tersenyum tipis. \u201cBanyak belum tentu cukup, dan sedikit belum tentu kurang. Cukup itu bukan urusan angka, melainkan urusan hati. Kalau hatimu gaduh, sebanyak apa pun yang kau punya tak akan terasa cukup. Tapi kalau hatimu tenang, yang sedikit pun bisa terasa lapang.\u201d<\/p>\n<p>Percakapan itu berhenti, tetapi maknanya tidak. Ia justru membuka pintu bagi pertanyaan yang lebih besar tentang cara manusia modern memahami hidup. Di balik dialog sederhana di pondok pesantren, tersembunyi kritik halus terhadap logika zaman yang menilai keberhasilan dari akumulasi dan kecepatan. Dunia kontemporer membentuk kesadaran bahwa hidup yang baik adalah hidup yang senantiasa bertambah: harta harus meningkat, prestasi harus naik, dan pengalaman harus semakin beragam. Namun ironisnya, di tengah kelimpahan tersebut, rasa cukup justru semakin sulit ditemukan.<\/p>\n<p>Filsafat kontemporer membaca fenomena ini sebagai krisis makna. Manusia tidak kekurangan pilihan, tetapi kehilangan orientasi.<\/p>\n<p>\u201cCukup\u201d dan \u201ckurang\u201d tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan riil, melainkan oleh perbandingan tanpa henti. Media, teknologi, dan budaya kompetisi menjadikan hidup sebagai etalase pencapaian. Dalam situasi seperti ini, rasa kurang tidak muncul karena ketiadaan, tetapi karena kesadaran yang terus digeser untuk menginginkan lebih. Akibatnya, manusia hidup dalam keadaan tidak pernah tiba, selalu menuju, tetapi jarang berhenti.<\/p>\n<p>Pernyataan bahwa banyak belum tentu cukup dan sedikit belum tentu kurang menantang asumsi dasar tersebut. Ia mengingatkan bahwa cukup adalah pengalaman eksistensial, bukan kondisi material semata. Dalam filsafat kontemporer, pengalaman hidup tidak dipahami sebagai fakta objektif yang berdiri sendiri, melainkan sebagai hasil interaksi antara dunia dan kesadaran. Dua orang dapat berada dalam kondisi yang sama, tetapi menghayatinya secara berbeda. Perbedaan itu terletak pada cara memaknai, bukan pada jumlah yang dimiliki.<\/p>\n<p>Dari sini, ajakan untuk tidak mengejar hidup senang, melainkan hidup tenang, menjadi relevan. Hidup senang sering kali dipahami sebagai rangkaian kepuasan instan: terpenuhinya keinginan, tercapainya target, atau diperolehnya pengakuan. Namun kesenangan bersifat rapuh. Ia bergantung pada kondisi eksternal yang mudah berubah dan selalu menuntut pengulangan. Ketika kesenangan dijadikan tujuan utama, manusia akan terjebak dalam siklus hasrat yang tidak pernah selesai. Begitu satu keinginan terpenuhi, keinginan lain segera menggantikannya.<\/p>\n<p>Hidup tenang tidak berarti hidup tanpa masalah atau tanpa ambisi. Ketenangan adalah sikap batin yang memungkinkan manusia menghadapi kenyataan tanpa terus-menerus dilanda kegelisahan. Ia lahir dari kesadaran akan batas: batas kemampuan, batas keinginan, dan batas kontrol manusia atas hidupnya. Filsafat kontemporer memandang pengakuan terhadap batas ini sebagai bentuk kebijaksanaan. Dengan menyadari bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan, manusia justru memperoleh kebebasan batin.<\/p>\n<p>Dalam kerangka ini, mengajari hati untuk bersabar dan bersyukur dalam segala hal menjadi latihan etis yang penting. Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan kemampuan menunda reaksi dan memberi ruang bagi refleksi. Di dunia yang serba cepat, kesabaran sering disalahpahami sebagai ketertinggalan. Padahal, tanpa kesabaran, manusia mudah terjebak dalam keputusan impulsif dan penilaian dangkal. Kesabaran memungkinkan manusia melihat proses sebagai bagian dari makna hidup, bukan sekadar hambatan menuju tujuan.<\/p>\n<p>Rasa syukur, di sisi lain, adalah bentuk penerimaan aktif terhadap kehidupan. Bersyukur bukan berarti menutup mata terhadap penderitaan atau ketidakadilan, tetapi mengakui bahwa hidup selalu mengandung nilai, bahkan dalam keterbatasan. Filsafat kontemporer melihat rasa syukur sebagai cara manusia berdamai dengan ketidaksempurnaan. Dengan bersyukur, manusia berhenti menunda kebahagiaan ke masa depan dan mulai hadir di saat ini. Kehadiran inilah yang menjadi dasar ketenangan.<\/p>\n<p>Filsafat kontemporer menegaskan bahwa makna tidak selalu ditemukan, tetapi sering kali diciptakan melalui sikap. Dengan prasangka baik, manusia tidak mengubah fakta, tetapi mengubah cara berelasi dengan fakta tersebut. Hal ini memberi ruang bagi ketenangan, karena manusia tidak lagi memaksa hidup untuk selalu sesuai dengan keinginannya. Ia belajar menerima bahwa hidup memiliki logikanya sendiri yang tidak selalu dapat dipahami secara instan.<br \/>\nPada akhirnya, dialog antara kiai dan santri itu mencerminkan pencarian manusia kontemporer secara umum. Di tengah dunia yang bising, cepat, dan kompetitif, manusia merindukan kesederhanaan makna. Ia lelah mengejar kesenangan yang tidak pernah benar-benar memuaskan. Yang dibutuhkan bukan tambahan, melainkan penataan ulang orientasi hidup. Bukan hidup yang paling senang, tetapi hidup yang paling tenang.<br \/>\nSalam Ramadan (R-1)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati Lampung Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) \u2013 Selepas sholat subuh di suatu pesantren; seorang santri muda mendekati Kiai di serambi pondok, dan berkata: \u201cYai, kenapa saya merasa selalu kurang, padahal kebutuhan sudah tercukupi?\u201d tanya santri muda tadi. Suaranya lirih, seolah takut mengganggu ketenangan pagi yang masih diselimuti embun. Sang kiai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":83993,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-84256","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Diantara Cukup dan Tenang - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Diantara Cukup dan Tenang - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati Lampung Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) \u2013 Selepas sholat subuh di suatu pesantren; seorang santri muda mendekati Kiai di serambi pondok, dan berkata: \u201cYai, kenapa saya merasa selalu kurang, padahal kebutuhan sudah tercukupi?\u201d tanya santri muda tadi. Suaranya lirih, seolah takut mengganggu ketenangan pagi yang masih diselimuti embun. Sang kiai [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-11T05:22:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"688\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"375\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256\",\"name\":\"Diantara Cukup dan Tenang - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"datePublished\":\"2026-03-11T05:22:24+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"width\":688,\"height\":375},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Diantara Cukup dan Tenang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Diantara Cukup dan Tenang - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Diantara Cukup dan Tenang - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo, Guru Besar Universitas Malahayati Lampung Bandar Lampung ( malahayati.ac.id) \u2013 Selepas sholat subuh di suatu pesantren; seorang santri muda mendekati Kiai di serambi pondok, dan berkata: \u201cYai, kenapa saya merasa selalu kurang, padahal kebutuhan sudah tercukupi?\u201d tanya santri muda tadi. Suaranya lirih, seolah takut mengganggu ketenangan pagi yang masih diselimuti embun. Sang kiai [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2026-03-11T05:22:24+00:00","og_image":[{"width":688,"height":375,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256","name":"Diantara Cukup dan Tenang - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","datePublished":"2026-03-11T05:22:24+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","width":688,"height":375},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84256#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Diantara Cukup dan Tenang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84256","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=84256"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84256\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84258,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84256\/revisions\/84258"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/83993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=84256"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=84256"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=84256"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}