{"id":84496,"date":"2026-03-20T13:48:08","date_gmt":"2026-03-20T13:48:08","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496"},"modified":"2026-03-20T13:48:08","modified_gmt":"2026-03-20T13:48:08","slug":"ramadan-musim-atau-perubahan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496","title":{"rendered":"RAMADAN (Musim atau Perubahan)"},"content":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo<\/p>\n<p>Guru Besar Universitas Malahayati<\/p>\n<p>Bandar lampung ( malahayati.ac.id )<\/p>\n<p>Langit senja mulai meredup di atas halaman Pesantren. Cahaya jingga perlahan menghilang di balik pepohonan yang mengelilingi kompleks asrama. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan sore tadi. Dari masjid tua di tengah pesantren terdengar lantunan ayat suci yang dibaca para santri setelah salat Magrib. Ramadan sudah memasuki penghujungnya. Sepuluh malam terakhir mulai dijalani, dan suasana di pesantren terasa lebih hidup dari biasanya.<\/p>\n<p>Di serambi masjid, seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiai. Wajahnya tampak serius, seolah menyimpan banyak pertanyaan. Sementara itu sang kiai memegang tasbih, memandang halaman pesantren yang mulai dipenuhi santri yang berjalan membawa kitab masing-masing.<\/p>\n<p>\u201cYai,\u201d tanya santri itu pelan, \u201ckenapa setiap menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, pesantren terasa berbeda dari biasanya?\u201d<\/p>\n<p>Kiai tersenyum tipis. \u201cBerbeda bagaimana maksudmu?\u201d<\/p>\n<p>\u201cRasanya lebih hidup,\u201d jawab santri. \u201cMasjid lebih ramai. Teman-teman yang biasanya cepat mengantuk sekarang malah kuat begadang. Bahkan yang biasanya jarang terlihat di pengajian tiba-tiba datang lebih awal.\u201d<\/p>\n<p>Kiai mengangguk perlahan. \u201cItu karena mereka mulai menyadari bahwa Ramadan hampir selesai. Waktu yang tersisa sedikit, sementara harapan mereka masih banyak.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu menatap ke arah halaman pesantren yang mulai sepi. \u201cMereka berharap mendapatkan malam yang istimewa itu, ya Yai?\u201d<\/p>\n<p>\u201cBenar,\u201d jawab kiai. \u201cBanyak orang memaknai bahwa di antara sepuluh malam terakhir ada satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu mereka berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu tersenyum kecil. \u201cSaya juga melihat beberapa teman membaca kitab suci hampir setiap waktu. Seolah-olah mereka tidak ingin melewatkan satu halaman pun.\u201d<\/p>\n<p>\u201cRamadan memang punya kekuatan seperti itu,\u201d kata kiai. \u201cBulan ini mampu membangunkan hati manusia. Orang yang biasanya jarang membaca kitab suci tiba-tiba ingin menamatkannya. Orang yang jarang berdoa menjadi lebih sering menengadahkan tangan.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu tampak berpikir sejenak. Lalu ia berkata, \u201cTapi Yai, saya juga mendengar cerita dari kampung. Katanya menjelang hari raya justru banyak orang yang semakin sibuk berbelanja.\u201d<\/p>\n<p>Kiai tertawa kecil. \u201cItu juga kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMereka sibuk ke pasar, mencari pakaian baru, menyiapkan makanan untuk hari raya,\u201d lanjut santri. \u201cBahkan ada yang lebih sering pergi ke pusat perbelanjaan daripada ke masjid.\u201d<\/p>\n<p>Kiai mengangguk pelan. \u201cManusia memang memiliki banyak kesibukan. Ada yang sibuk mengejar pahala, ada yang sibuk mengejar keuntungan, dan ada pula yang sibuk mengejar kesenangan.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu kemudian bertanya, \u201cApakah itu berarti mereka salah, Yai?\u201d<\/p>\n<p>\u201cTidak selalu,\u201d jawab kiai dengan tenang. \u201cMempersiapkan kebahagiaan untuk keluarga juga bagian dari kebaikan. Namun yang perlu dijaga adalah keseimbangannya. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita melupakan tujuan Ramadan.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu menunduk sejenak. \u201cTujuan Ramadan adalah agar kita menjadi lebih baik, bukan?\u201d<\/p>\n<p>\u201cBetul,\u201d kata kiai. \u201cPuasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan kemampuan mengendalikan diri. Selama sebulan manusia belajar untuk menahan amarah, menjaga ucapan, dan memperbanyak kebaikan.\u201d<\/p>\n<p>Beberapa santri terlihat berjalan menuju masjid untuk mengikuti pengajian malam. Suara langkah mereka terdengar pelan di halaman yang mulai dipenuhi embun.<\/p>\n<p>Santri itu kembali bertanya, \u201cYai, kalau selama Ramadan orang bisa berubah menjadi lebih baik, kenapa setelah Ramadan banyak yang kembali seperti semula?\u201d<\/p>\n<p>Kiai memutar tasbih di tangannya sebelum menjawab. \u201cKarena sebagian orang menganggap Ramadan sebagai tujuan, bukan sebagai latihan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cLatihan?\u201d tanya santri dengan heran.<\/p>\n<p>\u201cYa,\u201d kata kiai. \u201cRamadan itu seperti madrasah selama satu bulan. Di dalamnya manusia belajar mengendalikan diri, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak. Namun setelah bulan itu selesai, banyak orang yang melupakan pelajaran yang sudah mereka dapatkan.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu mengangguk pelan, seolah mulai memahami.<\/p>\n<p>\u201cCoba kamu perhatikan,\u201d lanjut kiai. \u201cSelama Ramadan masjid penuh oleh orang yang ingin salat berjamaah. Kitab suci dibaca hampir setiap hari. Sedekah juga lebih sering diberikan. Tetapi setelah bulan itu berlalu, semua perlahan kembali seperti semula.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu menghela napas kecil. \u201cMasjid kembali sepi, ya Yai.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBegitulah sering terjadi,\u201d jawab kiai.<\/p>\n<p>Santri itu menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. \u201cBerarti ujian sebenarnya justru datang setelah Ramadan selesai.\u201d<\/p>\n<p>Kiai tersenyum. \u201cKamu mulai mengerti.\u201d<\/p>\n<p>\u201cJika seseorang hanya rajin beribadah selama Ramadan, tetapi kembali pada kebiasaan lama setelahnya, berarti Ramadan belum benar-benar mengubah dirinya.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan, \u201cSaya ingin Ramadan tahun ini tidak berlalu begitu saja, Yai.\u201d<\/p>\n<p>\u201cBagus,\u201d kata kiai. \u201cKeinginan itu adalah langkah awal.\u201d<\/p>\n<p>\u201cTapi bagaimana cara menjaga semangat itu setelah Ramadan?\u201d tanya santri.<\/p>\n<p>Kiai menjawab dengan lembut, \u201cMulailah dari hal-hal kecil. Jika selama Ramadan kamu terbiasa membaca beberapa halaman kitab suci setiap hari, cobalah mempertahankannya walaupun tidak sebanyak sebelumnya. Jika kamu terbiasa salat berjamaah di masjid, jangan langsung meninggalkannya.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu mengangguk mantap.<\/p>\n<p>\u201cPerubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan konsisten,\u201d lanjut kiai.<\/p>\n<p>Suasana malam semakin tenang. Dari dalam masjid terdengar suara santri yang mulai membaca kitab bersama-sama.<\/p>\n<p>Santri itu berdiri perlahan. \u201cTerima kasih, Yai. Saya akan mencoba menjaga pelajaran Ramadan, bukan hanya selama bulan ini.\u201d<\/p>\n<p>Kiai tersenyum sambil terus memutar tasbih di tangannya.<\/p>\n<p>\u201cPergilah ke masjid,\u201d katanya. \u201cMalam masih panjang. Gunakan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.\u201d<\/p>\n<p>Santri itu berjalan menuju masjid bersama teman-temannya. Sementara itu sang kiai tetap duduk di serambi, memandang langit Ramadan yang tenang.<\/p>\n<p>Dalam hatinya ia berharap para santri tidak hanya menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga mampu menjaga cahaya Ramadan dalam kehidupan mereka setelah bulan suci itu berlalu.<\/p>\n<p>Salam Lailatul Qadar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) Langit senja mulai meredup di atas halaman Pesantren. Cahaya jingga perlahan menghilang di balik pepohonan yang mengelilingi kompleks asrama. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan sore tadi. Dari masjid tua di tengah pesantren terdengar lantunan ayat suci yang dibaca para [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":83993,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-84496","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>RAMADAN (Musim atau Perubahan) - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"RAMADAN (Musim atau Perubahan) - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) Langit senja mulai meredup di atas halaman Pesantren. Cahaya jingga perlahan menghilang di balik pepohonan yang mengelilingi kompleks asrama. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan sore tadi. Dari masjid tua di tengah pesantren terdengar lantunan ayat suci yang dibaca para [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-03-20T13:48:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"688\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"375\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496\",\"name\":\"RAMADAN (Musim atau Perubahan) - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"datePublished\":\"2026-03-20T13:48:08+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"width\":688,\"height\":375},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"RAMADAN (Musim atau Perubahan)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"RAMADAN (Musim atau Perubahan) - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"RAMADAN (Musim atau Perubahan) - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) Langit senja mulai meredup di atas halaman Pesantren. Cahaya jingga perlahan menghilang di balik pepohonan yang mengelilingi kompleks asrama. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan sore tadi. Dari masjid tua di tengah pesantren terdengar lantunan ayat suci yang dibaca para [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2026-03-20T13:48:08+00:00","og_image":[{"width":688,"height":375,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496","name":"RAMADAN (Musim atau Perubahan) - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","datePublished":"2026-03-20T13:48:08+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","width":688,"height":375},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=84496#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"RAMADAN (Musim atau Perubahan)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84496","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=84496"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84496\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":84498,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/84496\/revisions\/84498"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/83993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=84496"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=84496"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=84496"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}