{"id":85062,"date":"2026-04-22T07:56:11","date_gmt":"2026-04-22T07:56:11","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062"},"modified":"2026-04-22T07:56:11","modified_gmt":"2026-04-22T07:56:11","slug":"ketika-kritik-menjadi-ancaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062","title":{"rendered":"Ketika Kritik Menjadi Ancaman"},"content":{"rendered":"<p>Bandar Lampung <strong>( malahayati.ac.id )<\/strong> &#8211; AKIBATNYA, ruang-ruang dialog mulai menyempit. Diskusi yang sebelumnya terbuka menjadi penuh kehati-hatian. Orangorang mulai mempertimbangkan bukan hanya apa yang benar, tetapi juga apa yang aman untuk dikatakan. Dalam situasi seperti ini, kejujuran menjadi barang langka. Yang tersisa hanyalah percakapan yang dangkal, yang tidak benar-benar menyentuh inti persoalan. Dalam jangka panjang, kondisi ini melemahkan kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis. Lebih jauh lagi, pembungkaman kritik menciptakan jarak antara kekuasaan dan realitas. Tanpa kritik, kekuasaan kehilangan akses terhadap umpan balik yang jujur. Ia hanya mendengar suara-suara yang menguatkan dirinya. Dalam kondisi seperti ini, kesalahan menjadi sulit dikenali. Bahkan ketika kesalahan itu jelas, tidak ada mekanisme yang cukup kuat untuk mengoreksinya. Kekuasaan kemudian terjebak dalam lingkaran yang menyesatkan, di mana ia terus memperkuat keyakinannya sendiri tanpa pernah diuji.<\/p>\n<p>Ada ironi yang muncul dari situasi ini. Kekuasaan yang menolak kritik sering kali mengklaim dirinya sebagai penjaga kebaikan. Ia membangun citra sebagai sesuatu yang tidak boleh diragukan. Namun, klaim semacam ini justru menunjukkan kerentanan. Kebaikan yang sejati tidak takut pada pertanyaan. Ia tidak membutuhkan perlindungan dari kritik, karena ia terbuka terhadap kemungkinan bahwa dirinya tidak sempurna. Ketika sesuatu tidak boleh dipertanyakan, ada alasan untuk meragukan kekuatannya. Dalam pemahaman yang lebih luas, kebebasan berpikir adalah bagian tak terpisahkan dari hakikat manusia. Manusia tidak hanya hidup untuk mengikuti, tetapi juga untuk memahami. Mereka memiliki kemampuan untuk bertanya, menganalisis, dan menciptakan makna. Kemampuan ini adalah sumber dari kemajuan. Tanpa kebebasan berpikir, manusia akan terjebak dalam pola yang stagnan, menerima segala sesuatu tanpa pemahaman yang mendalam. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya merugikan individu, tetapi juga menghambat perkembangan masyarakat secara keseluruhan.<\/p>\n<p>Namun, kebebasan berpikir bukanlah sesuatu yang dapat bertahan tanpa usaha. Ia membutuhkan ruang, dan ruang itu harus dijaga. Ketika ruang tersebut mulai menyempit, diperlukan kesadaran untuk mempertahankannya. Kesadaran ini tidak selalu mudah muncul, terutama dalam kondisi di mana tekanan untuk diam sangat kuat. Banyak orang memilih untuk menyesuaikan diri, bukan karena mereka setuju, tetapi karena mereka ingin merasa aman. Pilihan untuk diam sering kali dipahami sebagai bentuk kebijaksanaan. Dalam beberapa situasi, memang benar bahwa diam bisa menjadi strategi untuk menghindari konflik yang tidak perlu. Namun, ketika diam menjadi kebiasaan yang dipaksakan, ia kehilangan maknanya. Ia bukan lagi pilihan, melainkan keterpaksaan. Dalam kondisi seperti ini, diam justru menjadi bagian dari masalah, karena ia memungkinkan ketidakadilan terus berlangsung tanpa perlawanan.<\/p>\n<p>Di sisi lain, mereka yang memilih untuk tetap bersuara menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tekanan yang mereka hadapi bisa datang dari berbagai arah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun, keberanian mereka memiliki arti yang penting. Mereka menunjukkan bahwa masih ada ruang untuk perbedaan, bahwa tidak semua suara dapat dibungkam. Dalam banyak kasus, perubahan besar justru dimulai dari keberanian individu-individu seperti ini. Sejarah memberikan banyak pelajaran tentang hal ini. Dalam berbagai periode, upaya pembungkaman selalu diikuti oleh munculnya bentuk-bentuk perlawanan. Perlawanan ini tidak selalu berbentuk konfrontasi terbuka. Ia bisa hadir dalam bentuk tulisan, seni, atau bahkan percakapan kecil yang perlahan menyebar. Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan memiliki sifat yang sulit untuk dihancurkan. Ia mungkin ditekan, tetapi selalu mencari jalan untuk bertahan. Kesunyian yang dipaksakan pada akhirnya hanya menciptakan ilusi keteraturan. Di permukaan, semuanya tampak tenang. Tidak ada konflik yang terlihat, tidak ada perdebatan yang terbuka. Namun, di bawah permukaan, terdapat dinamika yang terus bergerak. Ketidakpuasan, pertanyaan, dan keresahan tetap ada, menunggu saat yang tepat untuk muncul. Ketika tekanan mencapai titik tertentu, semua itu bisa muncul dengan kekuatan yang tidak terduga.<\/p>\n<p>Dalam konteks ini, penting untuk memahami bahwa kekuasaan bukanlah tujuan akhir. Ia adalah alat, dan seperti alat lainnya, ia harus digunakan dengan bijak. Kekuasaan yang bijak adalah kekuasaan yang mampu mendengarkan. Ia tidak hanya mendengar suara yang menyenangkan, tetapi juga suara yang mengganggu. Ia memahami bahwa dalam kritik terdapat potensi untuk perbaikan. Sebaliknya, kekuasaan yang menutup diri dari kritik sedang menyiapkan jalan menuju stagnasi. Ia mungkin terlihat kuat di permukaan, tetapi sebenarnya rapuh. Kekuatan yang sejati tidak terletak pada kemampuan untuk membungkam, melainkan pada kemampuan untuk bertahan dalam dialog. Dialog membutuhkan keberanian, karena ia membuka kemungkinan untuk berubah. Namun, tanpa perubahan, tidak ada perkembangan. Masyarakat juga memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ini. Kebebasan tidak hanya diberikan; ia harus dipertahankan. Ini berarti bahwa setiap individu perlu memiliki kesadaran akan pentingnya berpikir secara kritis. Mereka perlu berani bertanya, berani meragukan, dan berani mencari kebenaran. Tentu saja, ini bukan hal yang mudah. Namun, tanpa keberanian ini, kebebasan akan perlahan menghilang. Keberanian tidak selalu harus besar. Ia bisa dimulai dari hal-hal kecil: dari keberanian untuk menyampaikan pendapat, untuk berdiskusi, atau untuk tidak menerima sesuatu begitu saja. Hal-hal kecil ini, jika dilakukan secara konsisten, dapat menciptakan perubahan yang besar. Mereka membangun budaya yang menghargai kebebasan berpikir.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, pertarungan antara kebebasan dan pembungkaman adalah pertarungan yang terus berlangsung. Ia tidak pernah benar-benar selesai, karena ia merupakan bagian dari dinamika kehidupan manusia. Setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda, tetapi prinsip dasarnya tetap sama: apakah manusia akan memilih untuk berpikir dan berbicara, atau memilih untuk diam. Dalam keheningan yang dipaksakan, selalu ada suara yang tidak dapat sepenuhnya dibungkam. Suara itu mungkin kecil, mungkin lemah, tetapi ia tetap ada. Ia adalah suara hati nurani, yang terus mengingatkan bahwa kebenaran tidak pernah benar-benar bisa ditutup. Selama suara itu masih ada, harapan juga masih ada. Karena pada akhirnya, kekuasaan yang menolak kritik bukanlah kekuasaan yang kuat, melainkan kekuasaan yang takut. Dan ketakutan, betapapun besar, tidak pernah bisa menjadi fondasi yang kokoh. Ia hanya menciptakan bayang-bayang yang suatu saat akan memudar. Ketika cahaya keberanian kembali muncul, bayangbayang itu akan menghilang, dan manusia akan kembali menemukan ruang untuk berpikir, untuk bertanya, dan untuk hidup sebagai makhluk yang merdeka. Salam Waras !<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) &#8211; AKIBATNYA, ruang-ruang dialog mulai menyempit. Diskusi yang sebelumnya terbuka menjadi penuh kehati-hatian. Orangorang mulai mempertimbangkan bukan hanya apa yang benar, tetapi juga apa yang aman untuk dikatakan. Dalam situasi seperti ini, kejujuran menjadi barang langka. Yang tersisa hanyalah percakapan yang dangkal, yang tidak benar-benar menyentuh inti persoalan. Dalam jangka [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":83993,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-85062","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ketika Kritik Menjadi Ancaman - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ketika Kritik Menjadi Ancaman - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) &#8211; AKIBATNYA, ruang-ruang dialog mulai menyempit. Diskusi yang sebelumnya terbuka menjadi penuh kehati-hatian. Orangorang mulai mempertimbangkan bukan hanya apa yang benar, tetapi juga apa yang aman untuk dikatakan. Dalam situasi seperti ini, kejujuran menjadi barang langka. Yang tersisa hanyalah percakapan yang dangkal, yang tidak benar-benar menyentuh inti persoalan. Dalam jangka [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-22T07:56:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"688\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"375\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062\",\"name\":\"Ketika Kritik Menjadi Ancaman - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"datePublished\":\"2026-04-22T07:56:11+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"width\":688,\"height\":375},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ketika Kritik Menjadi Ancaman\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ketika Kritik Menjadi Ancaman - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ketika Kritik Menjadi Ancaman - Universitas Malahayati","og_description":"Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) &#8211; AKIBATNYA, ruang-ruang dialog mulai menyempit. Diskusi yang sebelumnya terbuka menjadi penuh kehati-hatian. Orangorang mulai mempertimbangkan bukan hanya apa yang benar, tetapi juga apa yang aman untuk dikatakan. Dalam situasi seperti ini, kejujuran menjadi barang langka. Yang tersisa hanyalah percakapan yang dangkal, yang tidak benar-benar menyentuh inti persoalan. Dalam jangka [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2026-04-22T07:56:11+00:00","og_image":[{"width":688,"height":375,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062","name":"Ketika Kritik Menjadi Ancaman - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","datePublished":"2026-04-22T07:56:11+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","width":688,"height":375},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85062#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ketika Kritik Menjadi Ancaman"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85062","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=85062"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85062\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85064,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85062\/revisions\/85064"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/83993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=85062"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=85062"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=85062"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}