{"id":85412,"date":"2026-05-18T03:51:39","date_gmt":"2026-05-18T03:51:39","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412"},"modified":"2026-05-18T03:51:39","modified_gmt":"2026-05-18T03:51:39","slug":"rakyat-dolar-dan-retorika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412","title":{"rendered":"Rakyat, Dolar, dan Retorika"},"content":{"rendered":"<div class=\"post-content\">\n<div class=\"post-text\">\n<p><strong>Oleh: Sudjarwo<\/strong><\/p>\n<p><em>Guru Besar Universitas Malahayati<\/em><\/p>\n<p>Pidato seorang pemimpin seharusnya menjadi ruang penjernihan nalar publik, bukan panggung pelampiasan emosi yang mengaburkan persoalan. Ketika seorang pemimpin berbicara tanpa teks lalu menyatakan bahwa masyarakat desa tidak membutuhkan dolar, dan bahwa orang yang resah terhadap kenaikan nilai dolar hanyalah pihak yang ingin menjatuhkan pemerintah; maka yang muncul bukan sekadar kontroversi politik, melainkan persoalan serius tentang cara berpikir dalam memahami ekonomi dan demokrasi. Pernyataan semacam itu terdengar sederhana dan populis, tetapi sesungguhnya mengandung penyederhanaan yang berbahaya terhadap kenyataan ekonomi yang jauh lebih kompleks.<\/p>\n<p>Pada teori ekonomi makro, hubungan masyarakat dengan dolar tidak pernah sesempit urusan bepergian ke luar negeri atau transaksi perdagangan internasional yang hanya dilakukan pengusaha besar. Nilai tukar dolar memengaruhi harga barang impor, bahan baku industri, pupuk, energi, alat kesehatan, hingga biaya logistik.<\/p>\n<p>Ketika dolar naik dan mata uang domestik melemah, dampaknya menjalar ke hampir seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat desa yang sering dianggap jauh dari urusan ekonomi global. Petani membeli pupuk yang sebagian bahan bakunya bergantung pada impor. Nelayan membutuhkan solar dan suku cadang mesin yang harganya terpengaruh kurs. Pedagang kecil membeli barang yang distribusinya terhubung dengan biaya transportasi dan energi. Bahkan harga kebutuhan pokok dapat bergerak naik akibat tekanan nilai tukar.<\/p>\n<p>Karena itu, mengatakan masyarakat desa tidak perlu memikirkan dolar menunjukkan cara pandang yang terlalu sempit terhadap sistem ekonomi modern. Dunia saat ini saling terhubung. Ekonomi desa tidak berdiri terpisah dari ekonomi nasional, apalagi ekonomi global.<\/p>\n<p>Kenaikan dolar bukan hanya urusan elite kota atau investor pasar modal. Dampaknya bisa masuk hingga ke dapur rumah tangga sederhana melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Pemahaman dasar seperti ini justru telah menjadi pengantar umum dalam ekonomi makro yang dipelajari mahasiswa pada tahap awal pendidikan mereka.<\/p>\n<p>Masalah menjadi lebih serius ketika keresahan publik terhadap naiknya dolar dianggap sebagai upaya menjatuhkan pemerintah. Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar ketidaktepatan analisis ekonomi, melainkan kekeliruan logika berpikir. Kritik terhadap keadaan ekonomi bukan otomatis bentuk kebencian terhadap negara atau permusuhan terhadap pemerintah.<\/p>\n<p>Dalam masyarakat demokratis, kritik adalah bagian dari mekanisme pengawasan sosial. Warga berhak khawatir ketika harga naik, daya beli menurun, lapangan kerja menyempit, atau nilai mata uang melemah. Kekhawatiran itu lahir dari pengalaman hidup sehari-hari, bukan selalu dari motif politik tersembunyi.<\/p>\n<p>Sayangnya, pidato emosional sering membangun narasi hitam-putih: siapa yang mendukung dianggap patriotik, sedangkan yang mengkritik dianggap ingin merusak. Cara berpikir seperti ini merupakan kesesatan logika yang berbahaya karena memindahkan fokus dari substansi persoalan menuju penyerangan terhadap motif orang lain. Dalam logika argumentatif, hal semacam itu dikenal sebagai pengalihan isu dari isi kritik kepada karakter atau niat pengkritik. Padahal benar atau salahnya kritik seharusnya diuji melalui data, fakta, dan argumentasi, bukan melalui tuduhan bahwa pengkritik memiliki agenda politik tertentu.<\/p>\n<p>Retorika emosional memang efektif membangkitkan tepuk tangan sesaat. Kalimat-kalimat sederhana yang memihak \u201crakyat kecil\u201d terdengar menarik di telinga publik. Namun kepemimpinan tidak cukup dibangun dengan efek dramatik pidato yang disertai joged. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan membaca realitas secara jernih, terutama dalam bidang ekonomi yang menyangkut kehidupan jutaan orang. Ketika persoalan ekonomi dijelaskan dengan cara terlalu simplistis, masyarakat justru kehilangan kesempatan memahami akar masalah yang sebenarnya.<\/p>\n<p>Lebih berbahaya lagi jika pemimpin mulai membiasakan diri melihat kritik sebagai ancaman personal. Sikap seperti itu dapat melahirkan budaya anti-kritik di lingkungan kekuasaan. Para pendukung menjadi terbiasa menyerang setiap suara berbeda, sementara pejabat di sekitar pemimpin cenderung hanya menyampaikan laporan yang menyenangkan telinga. Akibatnya, pemerintah kehilangan kemampuan mendeteksi masalah sejak dini karena kritik dianggap musuh, bukan masukan.<\/p>\n<p>Padahal sejarah menunjukkan banyak negara mengalami kemunduran bukan karena terlalu banyak kritik, melainkan karena kekuasaan menolak mendengar kritik. Ketika semua keresahan publik ditafsirkan sebagai upaya menjatuhkan pemerintah, ruang dialog menjadi sempit. Masyarakat dipaksa memilih antara loyalitas mutlak atau dicap sebagai lawan. Situasi seperti ini tidak sehat bagi demokrasi maupun bagi kualitas kebijakan publik.<\/p>\n<p>Pemimpin yang matang seharusnya mampu membedakan antara serangan politik dan kritik rasional. Tidak semua orang yang mempertanyakan kebijakan ekonomi memiliki niat buruk. Banyak warga hanya ingin hidup lebih stabil, harga tidak melonjak, dan masa depan terasa lebih pasti. Bahkan, kritik keras sekalipun dapat menjadi cermin penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi diri. Dalam demokrasi, pemimpin bukan sosok yang harus selalu dipuji, melainkan pelayan publik yang wajib siap diuji oleh pendapat rakyatnya sendiri.<\/p>\n<p>Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan pidato yang menyederhanakan masalah atau memancing emosi massa, melainkan penjelasan yang jujur dan berbasis pengetahuan. Pemimpin perlu menghadirkan ketenangan melalui argumentasi yang rasional, bukan dengan menuduh pihak yang resah sebagai musuh negara. Kemampuan berbicara tanpa teks mungkin dapat menunjukkan spontanitas, tetapi spontanitas tanpa kedalaman pemahaman dapat melahirkan pernyataan yang menyesatkan publik.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, kualitas sebuah kepemimpinan tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara atau seberapa sering ia disoraki pendukungnya. Kualitas kepemimpinan diukur dari kemampuan memahami persoalan secara utuh, menerima kritik dengan kepala dingin, dan menjelaskan keadaan kepada rakyat dengan kejujuran intelektual. Sebab dalam negara demokratis, kritik bukan ancaman bagi pemerintah. Justru ketidakmampuan menerima kritiklah yang sering menjadi ancaman terbesar bagi kehancuran pemerintahan itu sendiri.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Pidato seorang pemimpin seharusnya menjadi ruang penjernihan nalar publik, bukan panggung pelampiasan emosi yang mengaburkan persoalan. Ketika seorang pemimpin berbicara tanpa teks lalu menyatakan bahwa masyarakat desa tidak membutuhkan dolar, dan bahwa orang yang resah terhadap kenaikan nilai dolar hanyalah pihak yang ingin menjatuhkan pemerintah; maka yang muncul bukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":83993,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-85412","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Rakyat, Dolar, dan Retorika - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Rakyat, Dolar, dan Retorika - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Pidato seorang pemimpin seharusnya menjadi ruang penjernihan nalar publik, bukan panggung pelampiasan emosi yang mengaburkan persoalan. Ketika seorang pemimpin berbicara tanpa teks lalu menyatakan bahwa masyarakat desa tidak membutuhkan dolar, dan bahwa orang yang resah terhadap kenaikan nilai dolar hanyalah pihak yang ingin menjatuhkan pemerintah; maka yang muncul bukan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-18T03:51:39+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"688\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"375\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412\",\"name\":\"Rakyat, Dolar, dan Retorika - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"datePublished\":\"2026-05-18T03:51:39+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"width\":688,\"height\":375},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Rakyat, Dolar, dan Retorika\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Rakyat, Dolar, dan Retorika - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Rakyat, Dolar, dan Retorika - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh: Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Pidato seorang pemimpin seharusnya menjadi ruang penjernihan nalar publik, bukan panggung pelampiasan emosi yang mengaburkan persoalan. Ketika seorang pemimpin berbicara tanpa teks lalu menyatakan bahwa masyarakat desa tidak membutuhkan dolar, dan bahwa orang yang resah terhadap kenaikan nilai dolar hanyalah pihak yang ingin menjatuhkan pemerintah; maka yang muncul bukan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2026-05-18T03:51:39+00:00","og_image":[{"width":688,"height":375,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412","name":"Rakyat, Dolar, dan Retorika - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","datePublished":"2026-05-18T03:51:39+00:00","author":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","width":688,"height":375},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85412#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Rakyat, Dolar, dan Retorika"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85412","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=85412"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85412\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85414,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85412\/revisions\/85414"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/83993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=85412"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=85412"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=85412"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}